Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Sensasi

Erwin naik ke atas tempat tidur dan berbaring lalu Helen mau melepaskan pelukan tetapi Erwin memegang dan menarik pelan tangan Helen. Helen terkejut dan berada di atas badan Erwin lalu secara tidak sengaja bibirnya menempel di bibir Erwin dan Erwin melihat terus Helen. Erwin dan Helen saling melihat agak lama. Erwin tidak ingin menyiakan kesempatan tersebut maka Erwin mencium bibir Helen dan Helen merasa tidak menyangka lalu Erwin melepaskan kedua tangan Helen dan memeluk Helen. Erwin merasa sensasi luar biasa di dalam bibirnya karena bertautan dengan bibir Helen dan memang hal tersebut yang selama ini diinginkan Erwin. Seketika Helen melepaskan pelukan Erwin dan menjauh dari Erwin lalu berjalan keluar dari kamar dengan mengeluarkan air mata dan Erwin melihat kepergian Helen. Erwin bangun dan duduk. Helen berada di ruang tamu dan berhenti berjalan lalu menangis dan mengingat kejadian baru saja dengan merasa menyesal.

"Seharusnya tadi gue tidak membantu korban untuk berbaring. Seharusnya gue pulang saja" pikir Helen.

Erwin berada di samping Helen dan berhenti mendorong kursi roda.

"Pasti tadi ciuman pertama kamu sehingga kamu merasa menyesal. Reaksi wajah kamu menunjukkan penyesalan"

Helen menoleh dan melihat Erwin dengan marah.

"Berhentilah menangis"

Erwin mau menghapus air mata Helen dan Helen segera menghindar.

"Kenapa kamu bersikap begitu? Niat aku baik. Apa salah jika ciuman pertama kamu aku ambil? Sebentar lagi kita pasutri" kata Erwin dengan mengerutkan dahi.

Helen mengepalkan tangan kanannya dan semakin marah. Ingin rasanya Helen menampar pipi Erwin tetapi percuma. Dirinya berada di pihak lemah maka Helen berlari pergi.

"Tentu saja menurut lelaki ciuman pertama tidak berarti. Kenapa ciuman pertama gue dengan lelaki yang tidak diharapkan gue bahkan lelaki asing?" pikir Helen.

Helen berada di luar rumah Erwin dan berhenti berlari.

"Korban juga semakin mencium bibir gue dengan sengaja!" pikir Helen marah.

"Kenapa Helen harus menyesal? Akhirnya gue yang akan mencium dia, bukan? Gue akan menjadi suami Helen" pikir Erwin dengan merasa tidak mengerti.

Erwin berpikir sebentar.

"Apa Helen sudah memiliki pacar sehingga berharap pacarnya yang mencium?" pikir Erwin menebak.

Erwin merasa tidak senang dan akhirnya cemburu. Pukul 20.30. Helen sampai di rumah lalu bertemu papa dan mamanya. Beliau tanya tentang Erwin dan Helen menjawab dengan enggan lalu berjalan menuju kamar dan masuk. Helen memikirkan perkataan kedua orang tuanya baru saja.

"Helen, coba kamu terbuka dengan Erwin. Sepertinya Erwin lelaki yang baik dan nantinya bisa peduli dengan kamu" kata mamanya.

"Papa melihat ketulusan dari wajah Erwin ketika Erwin meminta kamu di hadapan papa dan mama" kata papanya melanjutkan.

"Papa dan mama salah" pikir Helen dengan merasa sedih.

Helen marah kepada Erwin.

"Andai papa dan mama tahu bahwa kesopanan korban tidak ada sedikitpun bahkan korban adalah lelaki pemaksa" pikir lagi Helen.

Handphone Helen berbunyi dan Helen mengambil handphone dari dalam tasnya lalu melihat layar handphone dan menerima telepon.

"Martin"

"Nona" panggil Martin dengan tersenyum.

"Martin, aku lelah dengan semuanya" pikir Helen dengan merasa sedih.

"Kenapa memangnya dengan kamu sehingga belum istirahat?"

"Aku belum mengantuk" kata Helen dengan berusaha ceria.

"Di mana sekarang kamu?"

"Di dalam kamar"

"Aku tidak pernah mendengar cerita kamu tentang waktu kuliahnya"

"Aku tetap kuliah. Aku sengaja tidak menceritakan kepada kamu karena aku sudah diantarkan saudara sepupu aku" kata Helen berbohong.

"Tania?"

"Benar"

"Tentang Tania aku tidak pernah tahu dan melihat. Aku tidak kenal Tania"

"Aku mengerti. Tentu saja. Aku baru menyadari bahwa aku salah tanya tentang Tania kepada kamu karena Tania mahasiswi baru dan berbeda fakultas dengan kamu"

"Tidak apa apa. Apa kamu sudah makan?"

"Sudah. Bagaimana dengan kamu?"

"Aku tidak pernah terlambat makan"

"Kamu memang memiliki waktu makan tepat"

Martin tertawa pelan hanya sebentar.

"Pokoknya jika kamu membutuhkan aku maka jangan segan telepon aku bahkan tentang menjemput dan mengantar ke kampus"

"Baiklah"

"Apa besok kamu memiliki waktu luang?"

Helen berpikir sebentar.

"Ada. Pukul 19.00"

"Apa malam? Apa yakin kamu bisa? Jangan memaksakan jika kamu tidak bisa malam. Aku yang akan mengikuti waktu kamu"

"Aku menyatakan bisa"

"Siap, Nona" kata Martin dengan tersenyum.

Pukul 22.30. Helen berbaring di atas tempat tidur dan memikirkan Martin. Helen juga membandingkan Martin dan Erwin.

"Martin lembut" pikir Helen pelan.

Keesokan harinya. Pukul 18.55. Helen sampai di taman dan menunggu Martin. Tidak membutuhkan waktu lama untuk Helen menunggu karena Martin sudah datang. Martin tersenyum ceria melihat Helen dan duduk di sebelah Helen. Helen merasa damai bersama Martin sehingga bisa dengan mudah menyunggingkan senyum terindah Helen.

"Ternyata kamu datang awal juga padahal rencana aku yang ingin menunggu kamu"

"Sikap kamu manis, Martin" pikir Helen dengan tersanjung.

"Jika begitu hari ini aku yang menentukan tempat kita kencan"

"Sangat boleh" kata Martin dengan tersenyum.

Martin dan Helen makan di rumah makan lalu menonton bioskop tetapi justru Martin dan Helen tidak fokus dengan film melainkan sibuk saling melihat. Martin memegang dan menggenggam tangan Helen. Sekali lagi Helen merasakan kelembutan Martin ketika menggenggam tangannya. Erat tetapi tidak menyakitkan tangan Helen.

"Martin, genggaman kamu..." pikir Helen.

Helen semakin terbuai dengan sifat Martin yang membuat dirinya bahagia. Helen membalas genggaman tangan Martin dengan senyum terindah Helen. Helen tidak bisa konsentrasi menonton film karena berada di dekat Martin bahkan jarak mereka hanya beberapa inci walaupun terdapat sekat antara kursi satu dengan kursi lain. Pukul 21.30. Martin dan Helen sampai di gang rumah lalu Martin berhenti menyetir dan mereka saling melihat.

"Apa yang akan dikatakan kamu kepada orang tua kamu? Kamu pulang sangat malam"

Helen berpikir sebentar.

"Jangan khawatir. Aku akan mengatakan bahwa aku kerja tugas bersama teman"

"Apa besok kamu ada kuliah?"

Helen menggeleng.

"Kenapa?"

"Aku tanya. Mungkin aku bisa mengantarkan kamu"

"..."

"Helen"

Helen melihat Martin.

"Kenapa kamu murung?"

Helen menggeleng pelan lalu Martin berdekatan dengan Helen dan memegang dagu Helen. Martin dan Helen saling melihat.

"Bolehkah aku merasakan bibir mungil kamu?" tanya Martin pelan.

Seketika Helen memeluk Martin lalu Martin dan Helen berciuman.

"Setiap hal yang dilakukan Martin terhadap gue, setiap sentuhan Martin terasa lembut" pikir Helen.

Helen merasakan setiap gerakan lembut bibir Martin di dalam bibirnya dan Helen belum mau melepaskan. Martin melepaskan dagu Helen dan memeluk Helen dengan rasa ingin memiliki.

"Tidak seperti korban. Terasa menekan dan memaksakan. Martin sangat sempurna. Gue semakin mencintai Martin. Kenapa takdir hidup gue harus bersama korban? Bukankah Martin yang selalu bisa membahagiakan gue dan tahu cara menyesuaikan dengan keadaan gue?" pikir Helen.

Martin dan Helen saling melihat. Martin merasa bahagia dan melihat Helen pun juga.

"Gue ingin memiliki Martin. Tolonglah gue. Keadaan, bantu gue lepas dari korban. Jodohkan gue dengan Martin" pikir Helen.

Martin dan Helen berhenti berciuman. Helen masih merasakan sentuhan Martin di bibirnya. Ternyata salah satu jari Martin menelusuri bibir Helen dan memandang dengan tatapan yang tidak bisa dimengerti Helen. Sentuhan Martin sangat lembut sehingga memberikan sensasi tersendiri dalam diri Helen. Martin tersenyum dan Helen jadi merasa malu sehingga menunduk lalu Martin berhenti menelusuri dan melihat Helen. Martin melepaskan bibir Helen dan mengelus rambut Helen dengan pelan.

"Hati hati. Biarkan aku melihat kepergian kamu" kata Martin pelan.

Helen mengangkat kepalanya lalu melihat Martin dan mengangguk pelan. Martin dan Helen melepaskan pelukan. Helen keluar dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam gang dan Martin melihat kepergian Helen hingga tidak terlihat lagi. Martin menyetir mobil dan memiliki rencana untuk hari esok.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel