Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Jalan Hidup

"Benar. Kurang lebih pukul 19.00. Lampu warna warni. Saya pesan di ruang VIP ya?"

"Baik, Pak. Apa ada lagi?"

"Sudah. Terima kasih"

"Baik"

Martin mengakhiri telepon dan tersenyum senang.

"Helen, bersamalah dengan aku" pikir Martin.

Martin tersenyum.

"Sebagai istri" pikir lagi Martin.

Handphone Martin berbunyi dan Martin melihat layar handphone.

"Kamu dipikirkan aku dan sekarang telepon aku" pikir Martin dengan tersenyum.

Martin menerima telepon.

"Martin, apa sekarang kita bisa bertemu?"

"Bukankah kamu masih kuliah? Ada apa? Apa hal mendesak?"

"Aku ingin bicara sesuatu"

"Kebetulan aku juga. Sesuai dengan kesepakatan kita kemarin. Pukul 19.00 saja. Aku tidak ingin kamu bolos kuliah"

"Baiklah"

"Nanti aku jemput di depan gang rumah kamu"

"Baiklah"

Martin dan Helen mengakhiri telepon.

"Apa yang ingin dikatakan kamu kepada aku? Apa perkataan cinta?" pikir Martin.

Martin merasa senang.

"Kamu sungguh manis untuk aku" pikir lagi Martin.

Helen memikirkan Martin dengan merasa sedih. Pukul 13.00. Helen datang ke rumah Erwin karena disuruh Erwin melewati kedua orang tuanya lalu satpam mempersilahkan Helen masuk dan Helen berjalan masuk hingga di ruang tamu. Helen menunggu dan akhirnya Erwin datang lalu berada di depan Helen dan Helen melihat Erwin.

"Besok kita pergi bersama untuk fitting baju pengantin"

"..."

"Papa dan mama kamu memang berkata bahwa semua terserah aku tetapi aku tidak setuju. Pernikahan adalah tentang kita walaupun kamu tidak ingin bersama aku. Pernikahan hanya sekali seumur hidup dan sakral jadi aku minta kerja sama dari kamu untuk mau ikut andil dalam mengurus pernikahan kita"

Helen tidak fokus dengan ucapan Erwin karena sibuk dengan pikiran tentang kejadian kemarin. Helen juga jadi merasa malu dan melihat ke arah lain lalu Erwin merasa heran dan berpikir.

"Kenapa kamu malu?"

"..."

Erwin melihat terus Helen dengan mencari tahu penyebab Helen malu secara mendadak.

"Kamu tidak bisa melihat aku" pikir Erwin.

Erwin berpikir keras.

"Apa karena kejadian ciuman tersebut?" pikir Erwin.

Seketika Erwin juga malu sendiri tetapi berusaha dihilangkan.

"Kamu bersikap biasa saja. Hal tersebut sudah biasa. Jika kamu mau maka aku bisa memberikan kembali ciuman untuk kamu"

Helen mengerutkan dahi dan menatap Erwin dengan merasa tidak senang.

"Gue jadi salah bicara padahal sebenarnya ciuman tersebut bukan hal biasa untuk gue justru berkesan karena gue merasakan ciuman dari perempuan yang gue cinta" pikir Erwin.

Erwin berusaha mencairkan suasana.

"Kenapa kamu harus sebal? Sebentar lagi kita menjadi pasutri" kata Erwin dengan merasa bingung.

Helen berdiri dan berjalan keluar dengan merasa sebal lalu Erwin memikirkan perkataan dirinya kepada Helen dan mengerti penyebab Helen merasa sebal.

"Gue memang salah bicara" pikir Erwin pelan.

"Korban sangat menyebalkan. Bagaimana bisa korban berani bicara hal tersebut? Jangan hanya karena akan menjadi suami gue. Gue tidak mengharapkan loe" pikir Helen dengan merasa semakin sebal.

Pukul 19.00. Helen berjalan hingga di depan gang rumah dan melihat Martin sudah menunggu lalu Martin merasa senang dan Helen semakin miris. Helen ragu untuk mengatakan semuanya kepada Martin. Martin membukakan pintu mobil untuk Helen dan Helen berdiri di hadapan Martin lalu melihat terus dengan tatapan yang tidak bisa dimengerti Martin dan Martin menyuruh Helen masuk.

"Nona, silahkan masuk" kata Martin.

Martin mempersilahkan Helen dengan sikap menganggap Helen sebagai putri yang akan diantarkan pangeran menikmati dunia secara bersama tetapi Helen tidak masuk lalu Martin merasa heran dengan sikap Helen dan berpikir. Martin tahu ada yang tidak beres dengan Helen maka Martin menutup pintu mobil.

"Baiklah. Kamu bicara saja"

"..."

Martin melihat terus Helen dengan perasaan semakin tidak enak. Pasti ada sesuatu dengan Helen.

"Martin" panggil Helen pelan.

Martin melihat Helen dengan seksama.

"Aku tidak bisa lagi bersama kamu"

"..."

"Aku tidak bisa lagi kencan dengan kamu" kata Helen pelan.

Martin menarik napas hanya sebentar dan menerawang lalu berpikir keras dan akhirnya melihat Helen.

"Kenapa?"

"Aku akan menikah dengan..."

Martin merasa tegang.

"...korban" lanjut Helen pelan.

Martin melihat terus Helen dengan tatapan tidak rela.

"Keluarga korban meminta pertanggungjawaban aku dengan menyuruh membayar semua biaya perawatan korban selama di rumah sakit dan orang tua aku tidak mampu membayar karena uang untuk biaya masuk kuliah aku dan SPP adik aku. Akhirnya korban mengatakan tidak perlu membayar dengan syarat menjadi istrinya. Korban akan membebaskan aku dari pembayaran tersebut jika aku bersedia menjadi istri korban" kata Helen pelan.

".."

"Aku tidak bisa berbuat apa pun. Aku belum bekerja. Mohon mengerti keadaan aku"

"Baiklah. Mana undangan pernikahan kamu? Kenapa kamu tidak memberikan kepada aku?"

"..."

"Apa kamu tidak ingin mengundang aku?"

"Undangan belum jadi. Aku hanya akan pengucapan janji tanpa resepsi karena aku tidak berkenan" kata Helen pelan.

"Jika sudah jadi maka beri salah satu undangan kamu kepada aku"

Helen tidak bisa menjawab dan melihat sekilas raut wajah sedih Martin. Martin dan Helen saling diam cukup lama.

"Pulanglah. Kamu sangat gundah" kata Martin pelan.

"..."

"Pergilah"

"Martin, aku minta maaf. Aku juga sangat tidak menginginkan hal tersebut. Aku ingin memiliki jalan hidup bersama kamu. Aku tahu bahwa kamu kecewa kepada aku" pikir Helen sedih.

Helen berjalan pergi dengan pelan dan mengeluarkan air mata. Martin masuk ke dalam mobil dan menyetir mobil dengan memikirkan semua perkataan Helen kepada dirinya. Helen berhenti berjalan dan menangis. Hari terus berlanjut. Helen berusaha tegar dan menerima setengah mati jalan hidupnya bersama Erwin tetapi bukan berarti Helen bisa bicara dengan Erwin. Helen masih enggan bicara dengan Erwin sehingga hanya berbicara dengan orang tua Erwin. Papa Erwin memiliki ketertarikan tersendiri dengan Helen sehingga semakin setuju menjadikan Helen sebagai menantu.

"Lihat calon istri kamu, Erwin" kata papanya dengan tersenyum.

Erwin melihat terus Helen yang saling bicara dengan mamanya.

"Terpancar dari hati bahwa lembut" lanjut papanya dengan merasa bangga.

"Kenapa kamu masih tidak mau bicara kepada aku?" pikir Erwin.

Erwin merasa sebal karena ada perbedaan sikap Helen antara dirinya dengan kedua orang tuanya. Erwin sudah mulai bisa berjalan tetapi sesekali memakai tongkat. Setiap Erwin ingin naik ke atas tempat tidur maka menyuruh Helen karena Erwin masih merasa sakit. Helen membantu Erwin seperti hari tersebut. Helen menurut Erwin yang menyuruh dirinya membantu naik ke atas tempat. Erwin naik ke atas tempat tidur dan duduk dengan bersandar lalu Helen meletakkan tongkat Erwin di dekat tempat tidur dan Erwin tidak ingin melihat Helen karena masih merasa sebal dengan sikap Helen terhadap dirinya.

"Kamu pulang saja. Aku sudah mau istirahat"

Helen mau berjalan pergi.

"Hati hati di jalan"

Helen berpura tidak mendengar sehingga pergi begitu saja dari kamar Erwin dan Erwin melihat ke arah pintu kamar.

"Apa yang dipikirkan kamu tentang aku sehingga kamu tidak mau bicara sekalipun kepada aku? Kamu terlihat benci aku. Apa salah aku?" pikir Erwin.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel