Bab 4. Jadi Asistenku, Please!
Mereka mendapati seorang pria yang mengenakan jas dokter berdiri di depan pintu. Pria itu memiliki kulit yang cokelat dan hidung yang mancung.
Pria itu memiliki rambut coklat dan ikal. Dia adalah Dokter Chico. Saat itu, matanya sipit dengan dua iris coklat melotot melihat Dokter Vega dan Alberto ada di ruangan itu.
Terlebih, Alberto berada di atas bed dengan posisi tangannya yang masih terikat borgol. Selain itu, pakaian Dokter Vega dan Alberto pun kurang rapi.
Padahal, biasanya pakaian Dokter Vega selalu rapi. Ia langsung berkata dalam hati. “Pantas saja, Dokter Vega lama membuka pintu! Mereka pasti telah have sex.”
Ia ingin tertawa, karena ia merasa yakin bahwa, Alberto sudah melepaskan keperjakaan dengan Dokter Vega yang menggairahkan. Tetapi ia mencoba untuk menahan tawa dan tersenyum, karena ia merasa tidak enak untuk tertawa di saat itu dan ia mencoba untuk menghargai Alberto dan Dokter Vega.
Namun, ekspresi Alberto yang menatap Dokter Chico dengan tatapan bingung membuat Dokter Chico semakin tidak bisa menahan tawanya karena terasa lucu untuknya. Di saat itu, Dokter Chico langsung bertanya.
“Habis ngapain, Alberto? Kok ada di sini? Bukannya di ruangan farmasi?”
Mendapati pertanyaan itu, Alberto langsung melirik ke kiri dan ke kanan karena tidak mungkin ia menjawab bahwa, ia telah melakukan hal yang aneh dengan Dokter Vega. Bisa-bisa Dokter Chico akan mengira Alberto telah melakukan hal yang tidak-tidak.
Sementara itu, dengan tenang Dokter Vega langsung menjawab. “Alberto sakit tadi. Makanya, aku cek dan obati dulu.”
“Oh. Sakit apa sampai ngebuka pintunya lama banget?” sindir Dokter Chico.
Di saat itu, Alberto merasa tubuhnya lemas, jantungnya berdebar tidak karuan, dan nafasnya tidak beraturan. Alberto langsung memegang dadanya dan menjawab. “Sakit jantung, Dok! Sesak!”
“Oh. Sakit jantung kenapa?” Dokter Chico mengernyitkan dahi, karena ia merasa bingung.
“Jatuh cinta? Wajar, Alberto, namanya, kalau itu!” ledek Dokter Chico.
“Itu bukan sakit. Itu memang fitrahnya cowok,” ledek Dokter Chico lagi.
“Ah! Dia hanya kelelahan bekerja saja.” Dokter Vega mengalihkan topik.
“Di sini, lingkungan kerjanya capai. Dia nggak terbiasa.”
Dokter Chico langsung tertawa, karena ia tahu Dokter Vega sedang berusaha mengalihkan topik. Ia langsung bertanya. “Gimana tadi? Enak?”
“Ah, Dokter Chico! Suka bercanda saja!” ucap Dokter Vega dengan santai sembari menepuk pundak Dokter Chico.
“Enak nggak?” Dokter Chico mengulangi pertanyaannya.
“Ya. Begitu, lah! Perjaka,” ucap Dokter Vega dengan nada santai.
Sementara itu, Alberto melirik ke arah Dokter Vega dan Dokter Chico bergantian dengan tatapan bingung karena ia tidak mengerti maksud perkataan mereka.
Di saat itu, Dokter Chico langsung mengalihkan perbincangan dengan mengajak Dokter Vega operasi. “Ayo, Dokter Vega! Kita mulai operasinya.”
“Sebentar!” Borgol yang ada pada tangan Alberto baru bisa lepas.
“Ayo, Dokter Chico!” Dokter Vega menerima ajakan Dokter Chico.
“Dan untuk Alberto, bisa langsung ke instalasi farmasi. Sekarang sudah jam 06.30.” Perkataan Dokter Chico langsung membuat mata Alberto melotot, karena ia merasa sangat kaget.
Ia tidak menyangka, jika jam sudah menunjukkan pukul 06.30. Ia harus masuk pukul 06.45, tapi jarak antara ruangan Dokter Vega dan instalasi farmasi agak jauh dan ditempuh dalam waktu 15 menit.
Jadi, ia harus segera ke instalasi farmasi, jika ia tidak ingin telat dan dihukum oleh seniornya. Ia langsung berdiri dan bertanya. “06.30?”
“Ya, 06.30.” Dokter Chico menganggukkan kepalanya.
“Baik, Dok. Kalau begitu, saya izin pamit!” Alberto langsung izin pergi meninggalkan mereka.
“Oke.” Setelah diizinkan, Alberto berjalan ke luar dari kamar Vega dengan langkah yang sangat cepat seperti orang berlari.
“Kalau begitu juga, mari kita ke ruang operasi sekarang!” ajak Dokter Vega.
Dokter Vega dan Dokter Chico pergi meninggalkan ruangan itu ke ruangan operasi. Saat berjalan ke ruangan operasi, Dokter Chico memberitahu. “Oh ya, Dokter Vega. Ada anak baru yang juga magang dari Universitas Alpha!”
“Namanya Brian. Dia akan jadi asistenmu.”
“Nggak mau. Aku nggak mau pakai asisten,” tolak Dokter Vega.
“Tapi semua dokter pakai asisten, Dokter Vega. Biar dokternya nggak kecapaian, kecuali dokter terbang saja.” Dokter Chico menjelaskan.
“Kalau begitu, aku maunya Alberto yang jadi asistenku.” Dokter Vega memutuskan, karena ia hanya ingin Alberto yang menjadi asistennya. Ia hanya percaya dengan kemampuan Alberto.
“Tapi, dia magang di bagian farmasi, Vega. Dia bukan mahasiswa kedokteran. Jadi, dia nggak bisa jadi asistenmu.” Dokter Chico menjelaskan lagi.
Mendengar perkataan itu, Dokter Vega langsung menghentikan langkahnya dan menatap Dokter Chico dengan tajam. Ia langsung bertanya dengan ketus. “Memangnya, nggak boleh, kalau aku mau pilih Alberto? Boleh, kan?”
“Lagi pula, punya asisten atau nggak itu hak setiap dokter. Nggak wajib juga!” marah Dokter Vega. Muka Vega merah padam.
“Tapi, kami takut Dokter Vega kelelahan nantinya.” Dokter Chico menjelaskan ketakutan tim rumah sakit.
“Selama ini, aku nggak pernah kelelahan dan aku baik-baik saja tanpa asisten. Jadi, mengapa harus ada asisten?” marah Dokter Vega lagi.
“Aku datang dan kerja profesional. Aku nggak pernah izin dan ambil cuti, karena lagi sakit. Aku ambil cuti, karena itu memang hakku!”
“Terus, nanti Brian gimana?” tanya Dokter Chico dengan bingung, karena ia tidak tahu Brian akan ditempatkan menjadi asisten siapa nantinya.
“Ya, dia bisa sama dokter lain. Nggak harus sama aku,” komentar Dokter Vega.
“Selama ini juga, Dokter Chico suka minta tolong Alberto, kan? Jadi mengapa aku nggak boleh selama baik-baik saja?” tanya Dokter Vega.
“Sedangkan Dokter Chico boleh dan dokter-dokter lain boleh. Kenapa?” protes Dokter Vega.
Ia tahu Dokter Chico suka meminta tolong Alberto, karena Dokter Chico suka bercerita kepadanya. Tidak hanya Dokter Chico sebetulnya. Dokter-dokter lain pun suka meminta tolong kepada itu dan mereka memang suka bercerita.
Mendengar perkataan itu, Dokter Chico langsung menghela napas panjang. Ia tidak bisa lagi berdebat dengan Dokter Vega.
Ia hanya bisa menurut dan mengikuti perkataan Vega. Karena itu, ia berkata. “Kalau memang seperti itu, ya sudah! Asal Alberto setuju, kamu boleh menjadikan Alberto menjadi asistennya.”
Di saat itu, Dokter Vega yang kebetulan berpapasan dengan Alberto yang sedang berjalan ke instalasi farmasi langsung memanggil Alberto. “Alberto!”
Panggilan itu langsung membuat Alberto menoleh dan membalikkan badan. Lalu, ia bertanya. “Ada apa, Dokter?”
“Begini. Dokter Vega ingin menjadikanmu asisten. Kamu mau, Alberto?” Dokter Chico menawarkan.
Mendapat penawaran itu, Alberto langsung berpikir mengenai cara terbaik untuk menjawab. Ia mau, tapi ia magang di bagian farmasi dan ia punya kewajiban di sana. Tidak mungkin, ia bertanya. “Memangnya, boleh?”
Karena kalau tidak boleh, pasti ia tidak akan ditawarkan. Karena itu, ia menjawab. “Sebenarnya, saya mau tapi saya magang di bagian farmasi dan tugas saya di sana. Saya takut tidak ke-handle mengenai tugas saya di farmasi.”
“Kalau mau saya menjadi asisten, paling nanti saya seperti biasa membantu Dokter Chico dan Dokter Vega. Bagaimana?” Alberto menawarkan pilihan.
“Langsung saja! Mau atau tidak! Nggak usah banyak berbasa-basi!” ucap Dokter Vega dengan kesal, karena Alberto tidak to the point menurutnya.
“Bukan begitu. Masalahnya, memang seperti itu kondisinya. Kalau ditanya seperti itu, jelas saya mau!” ucap Alberto.
“Oke. Kalau begitu, kamu mau tapi kondisinya seperti itu, ya?” tanya Dokter Chico.
“Ya, Dok.” Alberto menganggukkan kepalanya.
“Kalau begitu, bantu saya sekarang!” perintah Dokter Vega.
“Maaf, Dok! Saya belum izin ke instalasi farmasi. Nanti saya izin dulu, baru saya ke sini!” Alberto meminta maaf.
“Kalau begitu, aku tunggu di depan ruang operasi!” Dokter Vega memutuskan.
Alberto melanjutkan perjalanannya ke instalasi farmasi. Sesampainya di sana, ia langsung izin kepada Bapak John (seniornya). “Bapak John, aku izin pergi ke depan ruang operasi dulu, ya! Aku dipanggil Dokter Vega.”
“Oh. Sekalian tolong bawain ini ke ruang operasi, Alberto!” perintah Pak John sembari memberikan obat-obatan, suntikan, dan infusan yang harus Alberto bawa ke ruang operasi.
“Baik.” Alberto langsung menerima dan pergi ke ruang operasi. Sesampainya di ruang operasi, ia langsung memberikan obat-obat itu kepada perawat.
Di saat itu, Dokter Vega langsung memerintahkan. “Tolong bawain barang-barang ini juga, ya, Alberto!”
“Baik.” Alberto menganggukkan kepalanya dan melakukan perintahnya.
“Terima kasih, Sayang!” Dokter Vega memberikan kecupan lembut pada pipi Alberto.
“Nanti kalau kamu tolongin aku lagi, aku kasih hadiah, deh!” bisik Dokter Vega dengan nada sensual sembari tangannya meraba-raba dada Alberto dan berjalan ke arah penis Alberto.
Mendengar perkataan itu, mata Alberto langsung melotot karena ia merasa sangat kaget. Kernyitan di dahinya pun muncul.
Ia langsung bertanya. “Hadiah? Hadiah apa?”
“Hadiah yang kamu inginin,” jawab Dokter Vega dengan nada manja.
“Uang?” tanya Alberto, karena Alberto ingin uang.
Dokter Vega langsung tertawa, karena ia menertawakan kepolosan Alberto. Dalam hatinya, ia berkata. “Alberto! Alberto! Polos sekali kamu.”
Ia langsung menatap Alberto dengan tatapan liar. “Hadiah yang lebih dari itu. Hadiah yang kamu inginin, saling memberi, dan dapat membuat masing-masing dari kita sangat bahagia.”
“Karena itu, just be my assistant, Honey!” pinta Dokter Vega dengan nada manja.
“Kamu mau, kan, Sayang?” tanya Dokter Vega.
