Bab 5. Kamu Satu-satunya Asisten Privatku
Mendapati perkataan Dokter Vega, Alberto langsung mengernyitkan dahi karena ia merasa bingung. Ia langsung berkata. “Aku memang sudah jadi asisten Dokter Vega sekarang.”
“Maksudku, asisten privatku yang tugasnya lebih dari asisten biasa dan kau akan mendapatkan hadiah yang lebih sesuai kinerjamu. Kalau kinerjamu dapat membuatku puas, kau akan mendapat hadiah lebih. Apalagi kalau kinerjamu sangat membuatku puas, kau akan mendapat hadiah yang sangat banyak,” ucap Dokter Vega dengan nada manja.
Tiba-tiba saja, mereka mendengar seseorang berdeham. “Maaf!”
Suara itu langsung membuat mereka menoleh ke arah suara dan mendapati seorang pria yang mengenakan seragam dari sekolahnya berada di dekat mereka. Pria itu terlihat mirip dengan Dokter Rudy.
Mulai dari matanya, hidungnya, hingga rambutnya. Yang berbeda hanyalah ia mengenakan kacamata dan badannya gemuk.
“Saya, Brian yang akan jadi asisten Dokter Vega.” Ia memperkenalkan dirinya.
Mendengar pernyataan itu, mata Alberto langsung melotot karena ia merasa kaget. Baru saja ia ditawari menjadi asisten Dokter Vega, tapi kini sudah ada orang lain yang mengaku akan menjadi asisten Dokter Vega.
“Bagaimana ini? Siapa asisten Dokter Vega sebenarnya?” pikir Alberto.
Alberto langsung bertanya kepada Dokter Vega. “Dokter, bukannya tadi aku yang akan jadi asistenmu, Dokter Vega?”
Dokter Vega ingin menjawab dan menerangkan, tapi Brian sudah berkata terlebih dahulu. “Dokter Chico bilang kepadaku bahwa, aku yang akan menjadi asisten Dokter Vega. Bukan kamu.”
“Tapi, tadi Dokter Chico dan Dokter Vega bilang kepadaku bahwa, aku yang akan menjadi asistennya. Dokter Vega dan Dokter Chico sendiri yang menawarkan kepadaku. Terus, mengapa kamu menjadi asistennya?” tanya Alberto dengan bingung.
“Maaf, Brian! Kamu nggak menjadi asisten saya.” Dokter Vega langsung menyela pembicaraan dan meminta maaf. Setelahnya, Dokter Vega menceritakan mengenai yang sebenarnya terjadi.
“Tapi, saya disuruh Dokter Chico tadi,” keluh Brian, karena ia takut disalahkan oleh Dokter Chico.
“Saya sudah bilang masalah ini tadi dengan Dokter Chico dan Dokter Chico mengizinkan saya untuk memilih Alberto sebagai asisten saya.”
“Terus, nanti saya jadi asisten siapa?” Brian benar-benar tidak tahu ia akan menjadi asisten siapa.
“Saya nggak tahu. Lebih baik kamu tanya Dokter Chico!” Dokter Vega memberikan saran.
“Ehem!” Suara berdeham yang berat seperti suara Dokter Chico tiba-tiba terdengar dan membuat mereka menoleh. Mereka mendapati Dokter Chico berada di belakang mereka.
Dokter Chico langsung menegur mereka. “Ada apa ini ribut-ribut dan masih di sini?”
“Ayo! Sebentar lagi operasi akan dimulai!” Dokter Chico menyemangati mereka.
“Maaf, Dokter Chico! Yang jadi asistennya Dokter Vega itu siapa, ya? Saya benar-benar bingung.” Alberto menggaruk kepalanya, karena ia merasa bingung.
“Kamu Alberto,” jawab Dokter Chico.
“Terus, dia jadi asisten siapa?” Alberto menanyakan mengenai posisi Brian, karena ia merasa kasihan dengan Brian yang tidak tahu akan menjadi asisten siapa.
Dokter Chico langsung mengambil list nama-nama mahasiswa kedokteran dan dokter yang akan membimbing mereka. Ia melihat Brian yang baru saja ditambahkan menjadi asisten Dokter Rudy di mana Dokter Rudy akan mempunyai dua asisten.
“Dia jadi asisten Dokter Rudy.” Dokter Chico memberitahu.
“Brian, kamu ke ruangan Dokter Rudy sekarang. Dia pasti sudah menunggumu di sana,” perintah Dokter Chico.
“Tapi, Dok. Saya inginnya dengan Dokter Vega. Bukan dengan Dokter Rudy,” keluh Brian dengan nada manja yang membuat Alberto semakin jijik dengan tingkah Brian yang manja, karena Brian malas bekerja dengan Dokter Rudy.
“Tapi sudah keputusannya seperti itu, Brian,” ucap Dokter Chico dengan tegas.
“Tapi…” Brian ingin menolak dan mengelak. Ia juga ingin membujuk Dokter Chico agar ia bekerja dengan Dokter Vega, tapi tingkah Brian membuat Dokter Chico emosi.
Mukanya langsung memerah dan ia langsung berkata dengan kesal. “Kamu ini pilih-pilih banget jadi anak magang!”
“Kalau kamu masih menolak, saya kasih kamu nilai jelek!” ancam Dokter Chico.
“Ampun, Dok!” ucap Brian memohon ampun.
“Baik. Saya ke ruangan Dokter Rudy sekarang.” Akhirnya, Brian menerima. Bukan karena ia memang menerima, tapi ia merasa bahwa, ia harus mengalah.
Ia langsung membalikkan badannya. Lalu, ia mengembuskan napasnya dengan berat dan memutar kedua bola matanya
Ia mengambil tasnya dan berjalan pergi dengan malas. Ia benar-benar malas bekerja dengan Dokter Rudy.
Saat di dekat Alberto, badannya langsung berusaha untuk menyenggol tubuh Alberto agar badan Alberto tidak steril dan Alberto juga diusir dari tempat itu tapi untungnya respon dan reflek Alberto yang bagus langsung membuat badan Alberto menghindar dari tubuh Brian sehingga tubuh Brian tidak mengenai tubuhnya. Ia juga langsung berbisik kepada Alberto. “Awas saja kamu!”
“Lihat saja nanti! Aku akan buatmu menyesal,” ancam Brian.
“Dasar, Gigolo yang nggak bisa apa-apa dan hanya bisa memberi penis saja!” ejeknya.
“Kau ini nggak pantas berada di sini. Kau bisa berada di situ juga karena memberi penis kepada Dokter Vega. Kalau tidak, mana mungkin?” ejeknya lagi.
Alberto hanya tersenyum miring. Dalam hatinya, ia berkata dengan percaya diri. “Kau belum tahu saja kemampuanku seperti apa. Aku ini benar-benar pintar, Brian!”
“Kita lihat saja nanti siapa yang lebih pintar di antara kita! Aku yakin bahwa, aku akan lebih pintar darimu, Brian. Akan aku tunjukkan kemampuanku dan kecerdasanku di depanmu nanti!” tekadnya dalam hati.
Tak lama kemudian, Brian pergi ke luar dari ruangan itu sembari ia membanting pintu dengan kencang karena ia merasa sangat kesal. Ia merasa kesal dengan Alberto yang telah berlaku curang.
Ia juga merasa iri dengan semua privilege yang Alberto miliki. Menurutnya, Alberto tidak memiliki semua privilege itu tapi ia yang mendapati semua privilege itu.
***
Setelahnya, Dokter Vega, Alberto, Dokter Chico, dan para perawat yang membantu mereka beristirahat. Mereka memilih untuk duduk di lantai di pojok ruangan dengan kepala mereka yang disenderkan ke tembok karena merasa sangat lelah.
Di saat itu, Dokter Vega datang membawakan sebotol air minum dingin untuk Alberto. Ia langsung memberikan air itu kepada Alberto. “Alberto, ini ada air untuk kamu!”
“Terima kasih!” Alberto berterima kasih dan menerima air tersebut. Setelahnya, Alberto membuka air tersebut dan mencuci wajahnya dengan air itu.
“Kenapa, Sayang?” tanya Dokter Vega dengan manja.
“Nggak apa-apa.” Alberto menggelengkan kepalanya.
“Kok airnya nggak diminum?” tanya Dokter Vega lagi, karena ia ingin tahu alasannya.
“Capai banget. Pusing banget. Benar-benar nggak nyangka, tadi kita hampir gagal. Untung saja berhasil!” keluh Alberto.
“Ya. Tenang saja! Pasti berhasil,” ucap Dokter Vega.
“Kalau dia mati, bagaimana?” tanya Alberto dengan bingung.
“Nggak, lah! Aku dan Dokter Chico sudah berpengalaman,” ucap Dokter Vega meyakinkan yang membuat Alberto tenang dan ia baru bisa minum air putih.
“Oh ya, tadi ada apa, Sayang? Kok Brian sampai kayak gitu?” bisik Dokter Vega.
Alberto langsung terkekeh dan berkata. “Ia iri aku jadi asistenmu, Sayang. Dia inginnya dia yang jadi asistenmu. Bukan aku!”
“Memang, dia bisikkin apa ke kamu?” tanya Dokter Vega dengan penasaran. Alberto langsung memberitahu mengenai kata-kata yang dibisikkan Brian tadi ke Dokter Vega.
“Parah banget! Kalau sampai ada yang nge-bully aku, bilang aku, ya! Aku akan beri mereka pelajaran,” ucap Dokter Vega.
“Biarin saja, lah! Buat apa coba memberi pelajaran ke mereka?” tanya Alberto dengan bingung.
“Biar mereka tahu kalau mereka nggak boleh macam-macam sama kamu dan mereka nggak bisa macam-macam sama kamu, Sayang. Karena kamu itu my only private assistant yang benar-benar aku sayang banget kayak udah ke pacar aku,” ucap Dokter Vega.
“Terima kasih!” Alberto langsung berterima kasih dan tersenyum.
Alberto merasa senang, karena mendengar ada orang yang mau membela dan menolongnya jika ia di-bully. Di saat itu, Dokter Vega langsung memeluk Alberto dan mencium pipi dan bibir Alberto.
