Pustaka
Bahasa Indonesia

My Obsessive Doctor (ID)

92.0K · Tamat
Anizz Suranizz
72
Bab
255
View
9.0
Rating

Ringkasan

Alberto melakukan praktik kerja lapangan di Rege Hospital. Di sana, tepatnya saat ia makan di kafetaria rumah sakit, ia bertemu dengan Vega yang merupakan seorang dokter terkenal dan pintar. Vega berusaha untuk merayu dan mengejar cinta Alberto. Ia juga berusaha untuk mengajak Alberto melakukan hubungan seks, tapi Alberto yang masih perjaka tidak paham. Apa yang akan terjadi selanjutnya?

RomansaMetropolitanDokterDewasaPerselingkuhanRevengeOne-night StandCinta Pada Pandangan PertamaWanita Cantik

Bab 1. Pertemuan Pertama

Hari itu, seorang pria berjalan memasuki Rege Hospital. Pria itu bertubuh tinggi, kurus. Kulitnya putih.

Rambutnya cokelat dan pendek. Hidungnya mancung. Ia adalah Alberto Cala biasa dipanggil Alberto. Di Rege Hospital, ia hanya magang dan ia bukan pegawai di sana.

Rege Hospital adalah rumah sakit yang Alberto telah pilih sebelumnya. Alberto melangkah dengan sangat yakin dan penuh semangat.

Alberto sangat berharap nantinya di sana ia akan mendapatkan banyak ilmu baru dari dokter-dokter dan pekerja-pekerja farmasi di sana. Pagi itu, ia langsung buru-buru pergi ke kafetaria rumah sakit sebelum ia pergi ke instalasi farmasi karena ia jarang bisa makan saat istirahat.

Hal ini dikarenakan keseharian para pegawai dan anak magang di Rege Hospital sangat sibuk. Jadi, terkadang para pegawai dan anak magang pun harus melewati waktu istirahat dan hanya bisa makan saat mereka sudah pulang.

Sesampainya Alberto di kafetaria rumah sakit, ia melihat suasana saat itu sedang sepi dan tidak ada orang yang membeli makanan atau menyantap makanan di tempat itu.

Hanya penjual-penjual makanan yang baru saja membuka gerainya. Tak jauh dari gerai tersebut terdapat banyak meja dan kursi untuk duduk. Alberto langsung melangkah ke tempat jajanan favoritnya dan membeli makanan di sana.

Setelahnya, Alberto mencari kursi terdekat dan makan di sana sendirian. Di saat itu, tiba-tiba saja seorang wanita yang mengenakan pakaian yang sangat ketat berjalan mendekat ke arahnya.

Pakaian itu berupa kemeja lengan pendek berwarna biru dan celana panjang berwarna hitam. Tetapi, sayangnya lekukan tubuhnya tertutupi oleh jas putih yang khusus dipakai oleh dokter berjalan mendekat ke arahnya. Dari hal tersebut, Alberto dapat menebak apabila wanita itu adalah dokter.

Dari jalannya yang cepat, ia dapat menebak bahwa, dokter tersebut adalah dokter penting di rumah sakit tersebut ataupun dokter bedah karena biasanya hanya dua dokter tersebut yang jalannya cepat. Tangannya yang putih dan lembut memegang telepon sembari ia berkata.

“Halo!”

“Ya. Tolong persiapkan dulu!”

“Resepnya sudah saya kirim, ya!”

Saat ia di dekat Alberto, ia langsung menaruh teleponnya di tasnya. Matanya sipit dengan kedua irisnya berwarna biru fokus tertuju kepada Alberto. Alberto menduga bahwa, ada hal penting yang harus wanita itu katakan kepadanya.

Mungkin menyangkut mengenai pekerjaan magangnya sebagai tenaga farmasi di sana. Yang jelas, ia harus bersiap-siap apabila dirinya nanti ditegur habis-habisan oleh dokter Bernardo (dokter senior di rumah sakit Rege) seperti kemarin.

Padahal, dokter Bernardo sendiri yang salah menuliskan resep. Alberto hanya membaca resep yang dituliskan, meracik obat, dan memberikan obat sesuai yang ada pada resep dokter Bernardo. Tetapi Alberto yang malah dimarahi habis-habisan, karena obat tersebut salah.

Entah, lah! Alberto pusing.

Ia juga tidak tahu pasti mengenai jabatan dokter tersebut dan apakah ia dokter spesialis ataupun dokter umum, tapi yang jelas ia adalah seorang dokter. Gaya berjalan dokter itu sangat elegan yang menunjukkan kaki-kaki jenjangnya. Wanita itu memiliki blonde long wavy hair dan kulit putih yang mulus.

Dokter itu mengenakan kacamata dengan frame kotak berwarna hitam yang menurut Alberto mengganggu kecantikannya. Ingin sekali Alberto melepas kacamata itu dari wanita tersebut. Tatapannya yang penuh selidik dan berisi membuat Alberto menilai bahwa, wanita tersebut adalah seorang dokter yang pintar. Tingginya kurang lebih 180 cm.

Setelah di dekat Alberto, dokter tersebut langsung tersenyum kepada Alberto yang membuat Alberto tersenyum kembali ke arahnya. Senyumannya yang manis membuat ia terlihat tambah cantik di mata Alberto.

“Hai!” sapanya dengan ramah.

“Hai!” sapa Alberto kembali dengan ramah.

“Aku boleh makan di sini?” Dokter tersebut meminta izin kepada Alberto, karena mungkin saja ia tidak diizinkan untuk duduk di sebelahnya.

“Boleh. Santai saja!” jawab Alberto dengan santai.

Setelahnya, wanita tersebut mengambil kursi di depan Alberto dan duduk di kursi tersebut dengan elegan. Lalu, ia menyilangkan kakinya dengan seksi.

Tiba-tiba saja, wanita tersebut mengajukan tangannya untuk berjabat tangan dengan Alberto dikarenakan ia ingin berkenalan dengan Alberto. Alberto langsung mengernyitkan dahi, karena ia merasa bingung dengan tingkah wanita tersebut yang tiba-tiba.

Tetapi setelahnya ia paham bahwa, wanita tersebut ingin berjabat tangan dengannya. Karena itu, ia langsung menjabat tangan wanita tersebut dengan perasaan agak malu.

Ia merasa malu, karena ia merasa dirinya hanya seorang anak yang sedang melakukan magang saja di sana dan ia bukan seorang dokter. Memang di Rumah Sakit Rege, ada diskriminasi perlakuan terhadap pegawai di tempat itu dengan orang-orang yang hanya magang dan bukan pegawai di tempat itu.

Posisi Alberto di tempat tersebut hanyalah seperti pembantu saja. Kalau diibaratkan dalam kasta atau tahta, posisinya adalah posisi yang paling rendah. Jadi tidak heran jika banyak orang yang menghina, merendahkan, dan mengejek Alberto. Dokter tersebut langsung paham dengan perasaan malu Alberto.

“Aku Vega.” Wanita tersebut mengenalkan dirinya dengan ramah.

“Siapa nama kamu?” Dokter Vega kembali bertanya.

“Aku, Alberto.” Alberto menyebutkan namanya sembari menundukkan kepalanya.

Setelahnya, ia menatap mata dokter Vega. Mereka berjabat tangan. Lalu, mereka lanjut menyantap makanan mereka.

“Kamu anak magang, ya?” tebak dokter Vega, karena ia tahu dari gerak-gerik Alberto.

“Ya, Dok.” Alberto langsung menganggukkan kepalanya. Ia sama sekali tidak berani menatap Vega, kecuali menatap secara diam-diam. Karena memang

“Magang dari kapan?” Dokter Vega menanyakan waktu kapan Alberto mulai melakukan magang di tempat itu.

“Dari bulan Februari kemarin,” jawab Alberto.

“Sampai kapan?” tanya Dokter Vega dengan penasaran.

“Sampai bulan Maret,” jawab Alberto ringkas.

“Ngomong-ngomong, aku dokter di sini. Ini nomer teleponku!” Dokter Vega langsung memberikan kartu namanya.

Alberto langsung menerimanya dan ia menaruhnya di sakunya, karena mungkin saja nanti Alberto ada perlu dengan Dokter Vega. Memang, posisi Alberto dekat dengan dokter. Jadi, tentu saja ia perlu berkomunikasi dengan dokter.

“Hubungi aku jika ada perlu!” perintahnya yang membuat Alberto langsung menganggukkan kepalanya.

“Baik, Dok.” Ia tidak bisa berkata apa-apa selain “Baik”. Yang jelas, Alberto tahu bahwa, dokter Vega hanya mau dihubungi saat ia sedang ada perlu.

“Kalau kamu, boleh aku minta nomor teleponmu?” Dokter Vega meminta nomor telepon Alberto dengan ramah.

“Boleh, Dok.” Alberto menyebutkan nomor teleponnya.

“Oh ya, kamu tinggal di mana?” Alberto menyebutkan alamatnya.

“Oh. Di situ!” Dokter Vega mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Lumayan jauh dari sini!” komentar dokter Vega.

“Kalau, Dokter?” Alberto kembali bertanya.

“Rumah saya jauh dari sini.” Setelahnya, Dokter Vega menyebutkan alamatnya.

“Baik, Dok.”

“Gimana? Magang di sini enak enggak?” Dokter Vega menanyakan pendapat Alberto, karena ia ingin dengar sendiri langsung dari Alberto.

Pertanyaan tersebut langsung membuat Alberto melihat ke kiri dan ke kanan, karena ia tidak akan berani dan tidak bisa untuk menyatakan hal tersebut apabila sedang banyak orang. Setelahnya, ia melihat tempat tersebut yang sedang ramai oleh para senior Alberto.

Padahal, sebelumnya tempat itu sepi. Alberto sampai bertanya dalam hati. “Kok sekarang bisa ramai? Padahal, tadi sepi.”

“Mungkin, mereka ingin makan juga,” komentar Alberto dalam hati. Kondisi itu langsung membuat Alberto menutup mulutnya rapat-rapat dan otaknya berpikir mengenai cara yang tepat untuk menjawab pertanyaan Vega.

“Aku harus menjawab apa?” pikir Alberto.

Alberto langsung menjawab dengan cara diplomasi. “Ya. Begitu, lah, Dok! Namanya juga anak magang.”

“Maksudnya?” Dokter Vega langsung mengernyitkan dahi, karena ia merasa bingung dengan perkataan Alberto.

Matanya menatap Alberto dengan tajam, karena ia ingin tahu lebih dalam dan ia ingin mengamati ekspresi Alberto. Tatapan Vega membuat Alberto merasa tidak nyaman, karena ia berbohong.

“Ya. Begitu, lah, Dok!” Mata Alberto melirik ke kiri dan ke kanan. Matanya berusaha menghindar dari tatapan Vega, tapi Vega tetap menatap tajam ke arah Alberto.

“Susah saya jelasinnya!” Alberto merasa kesulitan untuk mengatakan hal yang ingin ia katakan.

“Saya paham, kok. Kamu pasti susah sampaiinya. Nanti kamu cerita lagi saja di chat,” pintanya.

Setelahnya, mereka melanjutkan makan mereka hingga Dokter Vega selesai makan terlebih dahulu dibandingkan Alberto.

“Saya pergi ke ruang operasi dulu, ya! Saya harus operasi lagi.” Dokter Vega meminta izin untuk meninggalkan Alberto.

“Baik, Dok.” Alberto menganggukkan kepalanya.

Tidak lama kemudian, Dokter Vega berdiri dan hendak berjalan pergi dari Alberto. Saat ia di dekat Alberto, ia langsung berbisik dengan nada sensual. “Nanti kapan-kapan kamu ikut saya, ya!”

“Ngapain, Dok?” tanya Alberto dengan bingung.

“Ya. Bantu-bantu saya!” bisik Dokter Vega dengan nada sensual sembari menatap mata Alberto dengan tatapan liar.

“Baik, Dok.” Alberto menganggukkan kepalanya lagi.

Tidak lama kemudian, seorang pria -yang berdiri tak jauh dari mereka- langsung mengancam Alberto. “Lihat saja, Alberto! Aku akan buat perhitungan denganmu.”

Ketika Dokter Vega berbalik dan mendekat ke arah pria itu, pria itu langsung tersenyum. Ia langsung berkata dengan ramah. “Mari ikut saya, Dokter Vega!”

“Oke.”