Bab 3. Ciuman Pertama
Tubuh Vega hampir mencium Alberto. Sontak Alberto berusaha untuk menghindar dengan memundurkan tubuhnya dan ia bertanya. “Maksudnya, Dok?”
Di saat itu, Vega langsung menggelengkan kepalanya dan tertawa. Melihat tingkah Vega yang aneh, Alberto semakin mengernyitkan dahinya karena ia merasa bingung.
“Alberto! Alberto! Kamu ini lucu banget,” komentar Vega, karena ia merasa remaja seusia Alberto pasti tahu dengan maksud tindakannya.
Ia merasa sangat yakin bahwa, Alberto pasti pernah berhubungan badan dengan wanita lain karena umumnya remaja seusia Alberto sudah melepaskan kesuciannya. Paling tidak, Alberto pasti pernah bermimpi basah karena mimpi basah adalah fitrah laki-laki.
“Jadi, masa Alberto tidak tahu? Pasti Alberto hanya berpura-pura tidak tahu saja! Dia ini sangat lucu,” ucap Vega dalam hati sembari jari-jarinya berjalan dengan pelan menyentuh bibir Alberto.
“Kamu itu sudah tiduran. Artinya, kamu sudah siap menjadi santapanku,” ucap Vega lagi dalam hati sembari ia membiarkan tangannya menyentuh titik-titik sensitif Alberto yang membuat Alberto merasa geli sehingga ia tidak bisa diam dan berkata. “Aw! Aw!”
“Dokter!” Mata Alberto melotot, karena ia merasa sangat kaget.
Jantung Alberto berdetak tidak karuan. Telapak tangannya mendingin dan gemetar langsung digenggam oleh Vega.
“Jangan, Dokter!” ucap Alberto saat jari-jari Vega sampai ke dada Alberto. Lalu, jari-jari itu menyelinap masuk dan hendak membuka pakaian Alberto.
“Jangan apa, Sayang?” tanya Vega dengan manja dan nada sensual.
Tak lama kemudian, ia memberikan sebuah ciuman pada bibir Alberto dengan lembut. Ia ingin menjilati bibir Alberto, tapi Alberto malah berusaha memalingkan wajahnya dan tangannya mendorong tubuh Alberto dengan lembut.
Vega langsung terkekeh melihat tingkah Alberto. “Oh ya, aku lupa cara melepaskan keperjakaan dari seorang pria dengan baik.”
Vega langsung mengambil borgol dan memborgol kaki dan tangan Alberto. Alberto langsung berkomentar. “Jangan, Dok!”
“Jangan apa?” Vega mengulangi pertanyaannya.
“Jangan seperti itu, Dok!” pinta Alberto.
“Maksudmu, jangan malu-malu?” tanya Vega sembari ia mengernyitkan dahi. Lalu, ia menaikkan alisnya satu.
Ia berpura-pura bahwa, ia bingung. Padahal, ia paham maksud Alberto.
Ia langsung menaiki tangga dan tiduran di atas Alberto. Sontak, Alberto ingin berteriak. “Dokter!”
“Lepaskan aku!” pintanya.
Vega langsung mengacungkan telunjuk dan menaruhnya di depan bibir Alberto. “Hush! Jangan bicara seperti itu!”
“Kesannya kau seperti diperkosa saja,” komentar Vega.
“Aku memang mau diperkosa, kan?” tanya Alberto dengan bingung, karena ia merasa yakin bahwa, Vega hendak memperkosanya. Jika Vega tidak hendak memperkosanya, untuk apa Vega tidur di atasnya saat itu?
“Tidak ada ranjang di sini. Aku ingin tidur. Jadi, aku tidur di atasmu saja,” ucap Vega dengan santai sembari membelai dada Alberto.
“Itu artinya kau mau memperkosaku,” ucap Alberto dengan yakin.
Jari-jari pada tangan kanan Vega berjalan menyusuri bibir Alberto ke penis Alberto yang masih tertutupi oleh celana, sementara jari-jari pada tangan kiri Vega berjalan menyusuri dada Alberto dan menyentuh titik-titik sensitif pada dada Alberto. Jari-jari pada tangan kanannya langsung berjalan masuk ke dalam celana dan mendapati penis Alberto yang masih lurus tanpa urat yang muncul sedikit pun.
Ia langsung tersenyum, karena merasa senang. Ia akan menjadi wanita pertama yang akan melepaskan keperjakaan Alberto.
Ia langsung berkomentar dalam hati. “Masih lurus! Pantas saja seperti ini.”
Penis Alberto telah berdiri dan membesar karena tidak ada laki-laki yang bisa menahan godaan sekuat dan senikmat itu. Vega langsung memijat-mijat penis.
“Hei! Kita akan melepaskan ini bersama-sama dengan cara yang halus,” bisik Vega.
“Kau ingin melepaskan ini dengan cara yang halus seperti di film-film dewasa, kan? Bukan dengan cara yang kasar?” Vega memastikan yang hanya dijawab dengan anggukkan kepala Alberto, karena Alberto telah pasrah di bawah Vega.
“Aku tidak akan memaksamu untuk melepaskannya. Kau boleh menolak, jika kau mau,” bisik Vega lagi di telinga Alberto.
Lalu, ia menjilati telinga Alberto. Tubuh Alberto langsung menggeliat dan ia berkomentar. “Dokter, aku geli, Dok.”
“Hei! Panggil Vega saja, kalau sudah di ranjang!” pinta Vega.
“Kita sedang berdua sekarang. Tidak ada orang selain kita.” Vega menjelaskan.
“Jadi, mengapa kau memanggilku Dokter?” tanya Vega.
“Lagi pula, hubungan kita di ranjang bukan lagi hubungan pekerjaan tapi hubungan intim yang lebih dari itu. Hubungan saling menikmati dan saling memberi yang kita dambakan.” Vega menjelaskan lagi.
Alberto mengernyitkan dahi, karena ia benar-benar tidak mengerti dengan semua maksud perkataan Vega. Ia langsung bertanya. “Maksudnya, Vega?”
Vega langsung tertawa sembari ia menggoyangkan pinggulnya. Setelah puas tertawa, ia langsung berkata. “Kamu kayak nggak pernah saja sebelumnya!”
“Aku memang nggak pernah seperti ini sebelumnya, Vega.” Alberto berkata dengan nada datar.
“Alah! Remaja seusiamu sudah pasti pernah merasakan ini!” bantah Vega.
“Tapi, aku nggak pernah, Vega. Aku berani bersumpah!” ucap Alberto.
“Tadi saja itu ciuman pertamaku,” komentar Alberto.
Vega langsung tersenyum dan tertawa dengan penuh kemenangan. Ia merasa senang, karena ia menjadi wanita pertama yang mencium bibir Alberto yang ranum dan lembut.
“Pantas saja bibirnya masih polos! Belum ada bekas ciuman di bibirnya,” ucap Vega dalam hati.
“Aku kira, dia sudah pernah ciuman dengan wanita lain sebelumnya. Ternyata, aku adalah wanita pertama yang mencium bibirnya,” ucap Vega lagi dalam hati.
Ia langsung menyarankan. “Kalau begitu, kamu harus menikmatinya!”
“Ini sangat nikmat!” komentar Vega yang sedang merasakan kenikmatan, meskipun lubangnya belum diisi oleh penis Alberto.
“Aku yakin, kau pasti ketagihan. Teman-teman seusiamu pasti pernah merasakan hal ini.” Vega berkata dengan penuh keyakinan.
Alberto hanya diam saja sembari ia berpikir mengenai cara untuk kabur. Ia melihat ke arah sekeliling sembari ia memerhatikan potensi untuk kabur, tapi tidak ada potensi untuknya kabur.
Di saat itu, Vega bertanya. “Jadi gimana sekarang? Sudah hangat atau masih dingin?”
Pertanyaan itu menyadarkan Alberto mengenai tubuhnya yang telah menghangat. Ia langsung menjawab. “Sudah hangat.”
Otaknya berpikir keras mengenai alasan mengapa tubuhnya bisa menjadi hangat.
“Kok bisa hangat, ya? Padahal, sebelumnya tubuhku merasa dingin?” Itulah yang ia pikirkan.
“Kita nggak akan ngapa-ngapain di sini. Hanya seperti ini saja untuk membuat tubuhmu hangat, karena aku kasihan tubuhmu kedinginan.” Vega menjelaskan tujuan yang akan mereka lakukan.
Vega merasa yakin, jika ia tidak akan bisa menikmati tubuh Alberto saat itu dengan sekali bertemu seperti yang biasa ia lakukan terhadap orang yang ia cintai. Ia merasa bahwa, ia butuh proses agar Alberto siap melepaskan keperjakaannya dan mereka dapat menikmati momen itu bersama.
Ia tidak ingin hanya dirinya yang merasa nikmat dan senang, tapi Alberto merasa kesakitan dan trauma. Ia takut jika ia memaksa Alberto, Alberto akan melaporkan ke HR dan ia akan dipecat dari rumah sakit itu.
Tentunya kalau sudah seperti itu, namanya akan tercoreng. Bukan tidak mungkin, jika gelarnya bisa saja dicabut hanya karena itu.
“Terima kasih, Vega!” Alberto berterima kasih, karena ia merasa Vega peduli dengannya. Padahal, ia sempat berpikir dan menduga hal yang tidak-tidak.
“Jadi, mumpung kita lagi berdua, ayo ceritakan pengalamnmu selama magang di sini! Aku tidak sabar untuk mendengarnya,” pinta Vega dengan antusias.
Matanya pun terlihat benar-benar antusias, tapi hanya dijawab oleh Alberto dengan perkataan. “Ya. Seperti biasa, Vega.”
“Apanya yang seperti biasa?” Vega berpura-pura bingung.
“Ini yang biasa?” Vega menggoyang pinggulnya lagi.
“Ya. Pekerjaannya. Hanya seperti itu saja!” Alberto menjelaskan maksud perkataannya.
“Oh ya, katanya kamu ribut kemarin dengan Dokter Bernardo? Ada apa?” tanya Vega dengan penasaran, karena ia ingin mendengar dari sisi Alberto setelah kemarin ia mendengar dari sisi Dokter Bernardo yang menjelek-jelekkan Alberto.
“Ya. Begitu, lah, Dok!” jawab Alberto dengan malas.
Ia benar-benar malas untuk mengingat dan membahas masalah itu, karena ia merasa yakin Vega pasti akan bersikap seperti para seniornya di rumah sakit itu yang menyalahkannya kecuali Dokter Victor. Selain itu, ia merasa tidak enak untuk bercerita dengan Vega, orang yang baru saja ia kenal.
“Begitu gimana?” tanya Vega lagi.
Vega berusaha memancing Alberto bicara. Pertanyaan Vega membuat Alberto menceritakan masalah yang terjadi kemarin.
Selesai mendengar cerita Alberto, Vega berkomentar. “Padahal, itu salah dokter Bernardo, ya! Dia yang salah menuliskan resep.”
“Kenapa jadi dia salahin kamu? Kamu kan cuman baca resep saja? Harusnya dia itu lebih teliti,” komentar Vega lagi.
Alberto merasa senang, karena ada orang yang memihak kepadanya selain Dokter Victor. Ia merasa Vega dapat dijadikan teman curhat.
“Ya, tapi begitu, lah, Vega!” ucap Alberto dengan malas.
“Aku lagi yang disalahin. Aku ini cuman anak magang,” keluh Alberto.
“Terus, gimana?” tanya Vega dengan penasaran.
“Ya, untungnya aku nggak disuruh ganti biayanya. Padahal, tadinya aku disuruh gantiin. Kalau aku disuruh gantiin, aku nggak punya uangnya karena mahal banget,” cerita Alberto.
***
Alberto memang sempat dimarahi dan dimaki-maki oleh Dokter Bernardo di depan semua orang di rumah sakit kemarin. “Tolol! Bego! Bodoh!”
“Kau harus mengantikan kerugian ini. Kerugian ini sangat mahal!” marah Dokter Bernardo.
Lalu, Dokter Bernardo menyebutkan kerugian yang harus Alberto tanggung. Alberto hanya bisa menundukkan kepala dan meminta maaf. “Maaf, Dok!”
***
“Kok dia begitu, ya?” tanya Vega dengan bingung.
“Nggak tahu, lah!” komentar Alberto lagi dengan malas.
“Mentang-mentang dokter senior dan sudah tua jadi seperti itu. Harusnya, dia tidak seperti itu,” komentar Vega.
“Ya. Begitu, lah!”
“Kalau sama Dokter Rudy tadi kenapa?” tanya Vega dengan bingung.
Alberto ingin menceritakan, tapi di saat itu ia mendengar suara langkah kaki dengan cepat dan teriakan memanggil nama Vega. “Dokter Vega! Dokter Vega!”
“Vega, ada yang manggil,” ucap Alberto.
“Siapa?” Vega mengernyitkan dahi, karena ia belum mendengar suara panggilan yang memanggil namanya.
“Ada. Aku dengar,” ucap Alberto.
“Jadi, ayo lepasin! Nanti aneh kalau dilihat orang seperti ini,” bujuk Alberto yang membuat Vega langsung bangkit dari posisinya diikuti dengan Alberto yang bangkit.
Lalu, Vega mengenakan pakaiannya dan jas dokternya lagi dengan cepat. Di saat itu, mereka mendengar ketukan pintu dengan cepat dan suara memanggil nama Vega.
“Dokter Vega! Dokter Vega!”
Setelahnya, Vega melepaskan borgol yang ada pada kaki dan tangan Alberto. Tetapi, borgol itu agak sulit dibuka.
Sementara, orang yang telah menunggu di depan ruangan Dokter Vega sudah tidak sabar untuk bertemu Dokter Vega karena ada hal penting yang harus cepat ditangani.
Ia langsung berkata. “Dokter, kalau sampai hitungan ketiga, dokter nggak buka pintunya, aku yang buka, ya!”
Di saat itu, Alberto merasa sangat panik. Mukanya pucat dan jantungnya tidak beraturan.
Ia langsung bertanya. “Bagaimana ini, Vega? Aku harus sembunyi di mana?”
“Ya. Cari, lah, tempat untuk sembunyi!” pinta Dokter Vega.
Matanya melihat sekeliling untuk mencari tempat di mana ia harus bersembunyi, tapi ia tidak menemukannya. Karena itu, ia mengeluh. “Nggak ada, Vega.”
“Ya. Kamu cari cara, lah! Gimana caranya?” ucap Vega, karena ia tidak memikirkan hal itu akan terjadi.
Tidak lama kemudian, mereka mendengar suara pintu yang dibuka dengan cara didobrak yang membuat mereka melihat ke arah pintu. Vega langsung bertanya dalam hati. “Siapa yang masuk?”
