Bab 2. Tolong Bantu Saya!
Alberto masih terdiam di posisinya. Matanya masih melotot dan menatap ke arah Dokter Vega dan pria itu berjalan.
Hal itu ukan karena ia jatuh cinta dengan Dokter Vega, tapi ia merasa sangat kaget karena ia langsung diancam oleh pria yang tak dikenal itu. Dalam hatinya, ia langsung bertanya. “Siapa pria itu? Aku tak mengenalinya.”
Ia mencoba untuk mengingat-ingat pria itu. Mungkin ia pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya, tapi setelah sekian lama ia mengingat-ingat, ia merasa sangat yakin bahwa, ia tidak pernah bertemu dengan pria itu.
“Aku rasa, aku tak pernah bertemu dengan pria itu,” pikir Alberto lagi.
Di saat itu, tiba-tiba saja sebuah tepukan kencang yang tak tahu dari mana arahnya mendarat ke pundak Alberto. Tepukan itu membuat Alberto langsung menoleh dan ia mendapati seorang pria tambun yang mengenakan jas dokter berada di sebelahnya.
Pria itu berkulit putih. Hidungnya mancung.
Rambutnya hitam dan seperti biasa belum disisir karena ia punya manajemen waktu yang sangat buruk dengan alasan yang sangat sering ia ucapkan yaitu sangat sibuk. Pria itu adalah Dokter Victor, dokter yang menjadi sahabatnya dan dekat dengannya selama Alberto magang selain Dokter Chico.
“Memang, ya, pesona Dokter Vega itu sangat…” Mata Dokter Victor tidak bisa lepas dari wanita itu.
Tatapannya sangat liar seperti harimau yang kelaparan membuat Alberto langsung bergidik. Ia ingin segera menghindar dan sembunyi dari sahabatnya.
Tetapi di sisi lain, ia merasa bingung dengan sahabatnya yang bisa berubah drastis dari yang biasanya kalem menjadi seliar itu hanya karena Dokter Vega. Hal itu yang membuat kernyitan di dahinya muncul.
Ia langsung bertanya dengan sopan. “Sangat apa, Dok?”
“Sangat cantik dan sangat menggairahkan.” ucapnya dengan nada sensual.
Dari kedatangan Dokter Vega menghampiri Alberto, Dokter Victor telah membayangkan malam yang indah apabila ia berhubungan badan dengan Dokter Vega. Ia membayangkan bahwa, ia akan mencoba berbagai macam gaya dan ia akan menemukan berbagai macam rasa yang tidak akan ia temukan sebelumnya.
“Ah!” Ia menggeleng kepalanya, karena ia harus sadar. Tak lama kemudian, air liur menetes yang membasahi dagu dan kerah kemejanya.
Melihat tingkah Dokter Victor yang sangat aneh, Alberto semakin mengernyitkan dahi karena ia merasa bingung. Ia langsung menepuk bahu Dokter Victor sembari bertanya. “Dokter! Dokter kenapa, sih, Dok?”
“Aku benar-benar nggak menyangka bahwa, pria perjaka kita akan jatuh cinta dengan Dokter Vega. Akhirnya!” Ia berkata dengan kencang yang membuat semua orang di ruangan itu melihat ke arah mereka. Lalu, ia melanjutkan dengan tawa yang kencang.
“Dokter, baik-baik saja, kan?” Alberto takut ada hal buruk yang menimpa Dokter Victor sehingga sahabatnya menjadi gila seperti itu.
“Aku baik-baik saja, Alberto. Tentu saja!” ucapnya sembari menepuk pundak Alberto berulang kali dengan kencang yang membuat Alberto kesakitan.
“Dokter Vega cocok denganmu. Semoga saja ia jodohmu!” ucap Dokter Victor dengan penuh harap.
“Semangat, Bro! Cinta itu harus diperjuangkan. Nggak cuman dipendam!” Dokter Victor menyemangati Alberto.
“Kamu pasti bisa mendapatkan cinta dari Dokter Vega.” Dokter Victor berkata dengan yakin.
“Alberto cocok, kan, dengan Dokter Vega?” tanya Dokter Victor dengan suara kencang kepada semua pengunjung yang ada di kafetaria itu.
“Cocok,” ucap yang lainnya.
Tetapi, di saat itu, ada satu pria yang berteriak. “Nggak cocok! Cocoknya sama aku!”
Pria itu langsung berdiri dan berjalan ke arah Alberto dengan gagah. Matanya yang sipit dengan kedua irisnya yang berwarna cokelat menatap tajam ke arah Alberto.
Rambutnya cepak berwarna cokelat dan pendek tertiup angin. Tubuhnya kekar, atletis, dan berotot.
Ia langsung bertanya kepada Alberto dengan nada ketus. “Kamu mau jadi cowoknya Dokter Vega?”
Alberto masih kaget. Matanya masih melotot.
Jantungnya masih berdebar tidak karuan dan nafasnya masih tidak teratur. Ia benar-benar tidak menyangka, jika aksi sahabatnya akan mengundang reaksi seperti ini.
Ia belum menjawab pertanyaan itu. Tetapi bagi pria itu, Alberto telah menjawab pertanyaannya dengan jawaban bahwa, Alberto ingin menjadi cowoknya Dokter Vega.
“Nggak usah ngimpi!” ejeknya dengan suara yang kencang.
Tak lama kemudian, tangan kanannya langsung menarik kerah baju Alberto dan tangan kirinya langsung mencekik leher Alberto.
Ia langsung mengejek. “Kalau kamu mau jadi cowoknya Dokter Vega, duel dulu sama gue! Paling nanti di-bully nangis.”
“Anak magang sok banget mau sama Dokter Vega. Kamu tuh nggak pantas!” ejeknya lagi.
“Yang pantas tuh gue! Gue itu dokter!” teriaknya sembari ia menarik bagian bajunya untuk menunjukkan gelar yang tertera di bagian bajunya.
Alberto melihat namanya. Beliau adalah Dokter Rudy.
Di saat itu, Alberto hanya bisa meminta maaf. “Maaf, Dok!”
“Apa? Maaf?! Nggak ada maaf!” marah Dokter Rudy sembari ia mengencangkan cekikan ke leher Alberto.
“Lihat! Sekarang saja nggak ada yang bisa tolongin kamu.”
Memang, tidak ada yang menolong Alberto di saat itu. Semuanya hanya terdiam dan menyaksikan, karena mereka merasa sangat kaget melihat tingkah dokter Rudy yang terkenal sangat marah bisa menjadi sangat marah dan mencekik Alberto.
“Paling bentar lagi kamu mati! Nggak ada manusia yang bisa tahan napas lama tuh!”
Di saat itu, Alberto mendengar suara langkah kaki seseorang berlari ke arahnya dari kejauhan dan memanggil namanya berulang kali. “Alberto! Alberto!”
Ia berharap orang itu akan menolong Alberto.
***
Sementara itu, Dokter Vega -sedang sibuk- mencari Alberto, karena ada kasus yang harus ia konsultasikan dengan Alberto karena Alberto yang meracik obat untuk pasiennya kemarin. Ia berlarian mengelilingi gedung rumah sakit sembari memanggil nama Alberto.
“Alberto! Alberto!”
Setiap ia bertemu orang, ia selalu bertanya. “Ketemu atau ngelihat Alberto?”
Dari orang-orang itu, terkadang mereka tidak tahu dan terkadang ia hanya mendapatkan sedikit petunjuk dari beberapa orang itu. Petunjuk-petunjuk itu yang mengantarkan Dokter Vega berlari ke kafetaria.
Sesampainya di kafetaria, ia melihat Dokter Rudy sedang mencekik Alberto yang mukanya telah pucat dan telah kesulitan bernafas. Ia langsung berlari dengan cepat dan memerintahkan Dokter Rudy untuk melepaskan cekikan itu. “Lepasin!”
“Nggak,” bantah Dokter Rudy.
“Hei! Aku laporin kamu ke HR, ya, biar kamu dipecat!” ancam dokter Vega yang membuat Dokter Rudy langsung menengok ke arahnya, karena ia merasa orang itu adalah orang penting yang dapat mengancam karirnya.
Tak lama kemudian, ia mendapati Dokter Vega di belakangnya. Ia langsung melepaskan cekikan itu dan berkata dengan santai. “Kita hanya sedang berdrama saja, Dokter. Ini hanya untuk pentas seni!”
Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena ia merasa kikuk. Setelahnya, ia bertanya. “Ya, kan, Alberto?”
Alberto menggelengkan kepalanya sembari ia batuk.
“Kalau cuman drama, nggak akan sampai pucat dan akan sampai batuk. Nggak usah bohong!” marah Dokter Vega.
“Lagi pula, kenapa, sih, harus sampai dicekik begitu?” marah Dokter Vega lagi. Dokter Vega masih tidak mengerti alasan Dokter Rudy mencekik Alberto.
“Ya, habisnya…” Dokter Rudy ingin menjelaskan alasannya, tapi Dokter Vega sudah memotong ucapannya terlebih dahulu.
“Apapun itu alasannya tetap harus diselesaikan secara baik-baik! Bukannya pakai kekerasan dengan dicekik seperti itu!” marah Dokter Vega lagi.
“Baik. Maaf, Dokter!” Dokter Rudy langsung meminta maaf kepada Dokter Vega.
“Kamu minta maafnya ke dia. Bukan ke aku!” ucap Dokter Vega dengan tegas.
“Maafin saya! Saya nggak bermaksud seperti itu.” Dokter Rudy langsung meminta maaf kepada Alberto.
“Nggak bermaksud? Terus, maksudmu apa?” tanya Dokter Vega dengan ketus, karena ia kesal melihat tingkah Dokter Rudy yang menyebalkan.
“Maaf!” Dokter Rudy meminta maaf lagi.
Di saat itu, Dokter Vega melihat nametag Alberto yang bertuliskan data diri Alberto. Ia langsung bertanya. “Oh ya, kamu Alberto yang magang di bagian farmasi?”
“Ya. Saya Alberto, Dokter Vega.” Alberto mengiyakan.
“Sini! Bantu saya!” perintah Dokter Vega.
“Bantu apa, Dokter?” tanya Alberto dengan bingung sembari mengernyitkan dahi.
“Bantu saja, lah!” perintah Dokter Vega lagi sembari berjalan pergi meninggalkan tempat itu.
“Baik, Dokter.” Alberto hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan mengikuti Dokter Vega.
Setelah berjalan menjauhi mereka, Dokter Vega langsung mengambil sapu tangan dan mengusap keringat Alberto yang bercucuran karena tadi dicekik. Ia merasakan badan Alberto yang telah mendingin.
Dokter Vega berkomentar. “Kasihan, kamu! Sampai pucat dan dingin begini badannya.”
Saat mereka berada di dekat vending machine yang berisi minuman, Dokter Vega langsung membeli dua botol air putih dan ia memberikan satu botol ke Alberto. “Nih! Buat kamu! Kasihan! Pasti kamu haus.”
Mendapat pemberian itu, Alberto langsung menerima dan berterima kasih. “Terima kasih, Dok!”
“Sama-sama.” Vega membuka botol minuman dan meminum air yang ada di botol itu.
Tidak lama kemudian, mereka telah sampai di depan ruangan Dokter Vega. Dokter Vega langsung membuka pintu dan mengajak Alberto masuk. “Ayo! Masuk!”
Itu adalah pertama kalinya Alberto masuk ke ruangan Dokter Vega. Ruangan Dokter Vega tidak ada bedanya seperti ruangan dokter pada umumnya.
Ada bed, kursi, dan meja untuk konsultasi. Setelah Alberto masuk, ia langsung mempersilakan Alberto duduk. “Duduk, Alberto!”
Alberto langsung mengambil kursi dan duduk. Di saat itu, Vega mengunci pintu.
Alberto heard the sound of the door being locked. That made Alberto immediately look in the direction of the voice.
"Is the door locked, Vega?" Alberto frowned because he was confused and couldn't believe Vega would lock the door.
"Yes, biar privat. Ini masalah privasi. Nggak semua orang bisa masuk ke sini!" Vega immediately put the key into her skirt pocket.
Then, Vega walked towards the chair with sexy steps and looked at Alberto wildly.
“Oh ya, kamu ngerasain panas nggak?” tanya Dokter Vega.
“Panas?” tanya Alberto dengan bingung, karena justru ia malah kedinginan. Ia sampai memeluk tubuhnya, karena ia merasa kedinginan.
“Ya. Panas banget, ya!” keluh Dokter Vega sembari ia melepas jas dokternya dan kemeja. Lalu, ia menaruh jas dokternya dan kemeja di atas kursi menyisakan kaus dalam transparan dan bra sport berwarna kulit yang terlihat.
“Nggak, Dok. Saya malah merasakan kedinginan.”
“Ah! Kamu nggak usah malu-malu. Kalau mau lepas pakaianmu juga boleh,” ucap Dokter Vega.
“Nggak, Dok. Saya benar-benar kedinginan,” keluh Alberto.
Vega langsung mengambil folder yang ada di meja. Lalu, ia berdiskusi kepada Alberto mengenai kasus yang harus ia diskusikan.
Setelah selesai berdiskusi, ia meminta tolong kepada Alberto. “Oh ya, terus kamu tolong tiduran dulu di sini, dong!”
“Ngapain, Dok?” Alberto merasa bingung dengan permintaan tolong Dokter Vega tersebut, karena ia diminta untuk tiduran. Baginya, tidak ada gunanya, apabila ia tiduran.
“Tiduran! Tadi saya minta tolong kamu tiduran.” Dokter Vega menjelaskan tujuannya.
“Baik, Dok.” Alberto menganggukkan kepalanya.
Ia langsung menuruti perintah Dokter Vega. Ia langsung naik ke atas bed dan tiduran.
"Please call me "Vega" when we're alone! However, if there are not only us there, please call me "Doctor Vega." asked Vega.
"Okay, Vega."
Vega langsung mendekat ke arah Alberto. Setelah di dekat Alberto, ia langsung bertanya. “Kalau sekarang sudah panas?”
“Maksudnya, Dok?” Alberto masih tidak paham dengan maksud Vega.
“Kamu sudah siap melayani saya?” Vega mendekatkan tubuhnya ke arah Alberto.
