Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 5. Aroma Pengkhianatan

Cengkeraman tangan Andito di rahang Gea terasa sedingin es namun sekuat jepitan baja. Gea bisa merasakan deru napas pria itu yang memburu di permukaan kulit wajahnya. Di dalam ruangan luas yang kedap suara itu, keheningan mendadak terasa mencekam. Detak jantung Gea bertalu begitu keras di dalam dadanya, seolah-olah Andito bisa mendengarnya dengan jelas.

"Saya... saya tidak bertemu siapa pun," jawab Gea dengan suara bergetar, mencoba mempertahankan kebohongannya di depan sang iblis. "Restoran di bawah sangat ramai, Andito. Saya harus mengantre lama di dekat meja kasir dan beberapa orang pria berjas sempat berdesakan di dekat saya. Mungkin aroma parfum mereka menempel di pakaian saya."

Andito tidak melepaskan cengkeramannya. Pria itu justru menyipitkan mata elangnya, menatap lurus ke dalam manik mata kecokelatan Gea. Ia mencari kilatan kebohongan, keraguan, atau ketakutan. Sebagai seorang pemimpin mafia yang terbiasa menghadapi interogasi dan pengkhianatan, Andito tahu persis bagaimana membaca mikro-ekspresi manusia.

"Kau pintar merangkai cerita, Gea," bisik Andito, suaranya terdengar sangat rendah dan berbahaya. "Tapi kau lupa satu hal. Aku tahu setiap gerak-gerikmu. Aku tahu kapasitas restoran itu di jam makan siang, dan aku tahu bau ketakutan."

Andito melepaskan cengkeraman tangannya dengan sentakan pelan, membuat Gea terhuyung mundur satu langkah. Pria itu kemudian berbalik, berjalan santai menuju meja kerjanya yang megah, lalu menekan tombol interkom di atas meja.

"Leo, masuk," perintah Andito singkat.

Hanya dalam hitungan detik, pintu kayu jati besar itu terbuka. Leo, pria berbadan tegap dengan tatapan mata yang dingin tanpa ekspresi, melangkah masuk dan membungkuk hormat di depan Andito.

"Periksa rekaman CCTV luar gedung dan restoran bistro di seberang jalan untuk jam satu siang ini. Cari tahu siapa yang duduk atau berinteraksi dengan sekretaris baruku," ujar Andito tanpa mengalihkan pandangannya dari Gea.

"Baik, Bos. Akan segera saya laksanakan," jawab Leo patuh. Ia melirik Gea sekilas dengan tatapan penuh peringatan sebelum berbalik dan keluar dari ruangan.

Mendengar perintah itu, seluruh persendian Gea rasanya meloloskan diri. Lututnya lemas. Jika Leo memeriksa CCTV itu, identitas Rayhan Dirgantara akan langsung terbongkar. Andito akan tahu bahwa Gea sedang bernegosiasi dengan musuh bebuyutannya. Konsekuensinya tidak hanya akan menghancurkan dirinya, tetapi juga keselamatan ibu dan adiknya yang berada di bawah ancaman pria ini.

Gea harus bertindak cepat. Ia tidak boleh membiarkan rasa takut melumpuhkan akal sehatnya.

"Kenapa Anda begitu paranoid, Andito?" tanya Gea, sengaja menaikkan nada suaranya untuk menutupi kepanikan yang mendalam. Ia melangkah maju, menantang tatapan pria itu. "Anda bilang Anda menginginkan saya karena saya berbeda, karena saya memiliki harga diri. Tapi sekarang, Anda memperlakukan saya seperti seorang tahanan perang. Anda mempromosikan saya hanya untuk mengurung saya di ruangan ini, dan sekarang Anda memata-matai setiap langkah saya!"

Andito menghentikan gerakannya yang hendak mengambil gelas kristal. Ia menegakkan tubuh, menatap Gea dengan binar ketertarikan yang aneh yang kembali muncul di matanya. "Aku tidak paranoid, Gea. Aku hanya menjaga apa yang sudah menjadi milikku. Di duniaku, kelengahan sekecil apa pun bisa berujung pada kematian."

"Saya bukan milik Anda!" seru Gea, air mata kemarahan mulai menggenang di pelupuk matanya. "Perjanjian kita semalam adalah saya bersedia menjadi wanita Anda secara status untuk melindungi keluarga saya, tetapi Anda tidak boleh menyentuh saya secara paksa ataupun mengontrol kebebasan dasar saya. Jika Anda melanggar kesepakatan itu sekarang dengan menuduh saya yang tidak-tidak, maka saya tidak punya alasan lagi untuk bertahan di sini."

Gea berjalan cepat menuju mejanya, menyambar tas kecilnya, dan berbalik menuju pintu keluar. Ini adalah gertakan kedua yang sangat berisiko. Ia bertaruh pada ego dan obsesi Andito terhadap dirinya.

Namun, sebelum tangan Gea sempat menyentuh gagang pintu, sebuah tangan kekar sudah mencengkeram pergelangan tangannya dari belakang dan memutar tubuhnya dengan kasar hingga punggungnya membentur permukaan pintu kayu yang keras.

Brak!

Andito mengunci tubuh Gea di antara kedua lengan kokohnya yang bertumpu pada pintu. Jarak mereka kembali terkikis habis. Napas Andito yang memburu terasa hangat di kening Gea. Tatapan mata pria itu tidak lagi dingin, melainkan sarat akan gairah kemarahan dan kepemilikan yang sangat pekat.

"Kau pikir kau bisa berjalan keluar dari pintu ini begitu saja setelah mengancamku, Gea?" bisik Andito, suaranya bergetar menahan emosi. "Aku bisa menghancurkan dunia kecilmu dalam satu kedipan mata jika aku mau. Jangan pernah menguji batas kesabaranku."

Gea mendongak, menatap langsung ke dalam mata sang serigala. Meskipun jantungnya berdegup kencang karena ketakutan, ia menolak untuk menundukkan kepalanya lagi. "Kalau begitu lakukan, Andito. Lenyapkan saya sekarang jika Anda memang tidak bisa memercayai saya. Tapi ingat, Anda tidak akan pernah mendapatkan apa yang Anda inginkan dari saya. Anda hanya akan mendapatkan tubuh tanpa jiwa."

Keheningan kembali melanda ruangan itu selama beberapa detik yang terasa berjalan sangat lambat. Andito menatap bibir merah menyala Gea, lalu beralih ke mata kecokelatan gadis itu yang memancarkan keberanian yang luar biasa. Cengkeraman tangan Andito pada pergelangan tangan Gea perlahan mengendur. Pria itu mengembuskan napas panjang, mencoba meredam gejolak amarah di dalam dadanya.

Untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Andito Pramana, ada seorang wanita yang mampu membuatnya menahan diri.

"Kau benar-benar racun yang mematikan, Gea," bisik Andito dengan senyuman miring yang kembali terukir di wajah tampannya. Ia menjauhkan tubuhnya, memberi Gea ruang untuk bernapas. Pria itu kemudian berjalan kembali ke mejanya dan menekan tombol interkom lagi.

"Leo, batalkan perintahku yang tadi. Fokus kembali pada pengiriman logistik di Pelabuhan Utara," ujar Andito.

"Dimengerti, Bos," terdengar suara Leo dari seberang garis.

Gea mengembuskan napas yang sejak tadi ditahannya dalam-dalam. Jantungnya berangsur-angsur normal kembali, meski ia tahu ini hanyalah kemenangan kecil sementara. Ia berhasil menyelamatkan Rayhan dan dirinya untuk saat ini, namun permainan catur yang sesungguhnya baru saja dimulai. Sekarang ia tahu bahwa Andito sangat memperhatikan detail aroma dan gerak-geriknya, yang berarti ia harus ekstra hati-hati jika ingin menjadi mata-mata untuk Rayhan.

"Kembalilah ke mejamu, Sekretaris Gea," kata Andito, suaranya kembali berubah menjadi formal dan dingin seolah konfrontasi menegangkan baru saja tidak terjadi. "Kita memiliki berkas audit dari Ares Investment yang harus kau periksa sebelum jam pulang kantor."

Gea mengangguk pelan, berjalan menuju mejanya dengan langkah yang mulai stabil. Ia duduk di kursinya, menyalakan layar komputer, dan mulai membuka dokumen-dokumen keuangan yang diberikan. Namun, di bawah meja, jemarinya meremas tas kecilnya tempat flashdisk rahasia itu berada.

Ia berada di dalam labirin intrik yang sangat berbahaya. Di satu sisi ada Andito, iblis posesif yang mengurungnya dengan kekuasaan penuh. Di sisi lain ada Rayhan, pengusaha saingan yang menawarkan kebebasan namun dengan syarat yang bisa merenggut nyawanya. Gea tahu, salah satu langkah saja, ia akan hancur berkeping-keping.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel