Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 4. Meja Nomor 9

Detak jarum jam dinding di ruangan Andito terasa berdentang lebih keras di telinga Gea. Pukul dua belas lewat empat puluh lima menit. Tinggal lima belas menit lagi menuju waktu yang ditentukan oleh pengirim pesan misterius itu. Gea berpura-pura sibuk mengetik di komputer barunya, memasukkan data manifes kapal logistik dari Pelabuhan Utara yang tadi dibawa oleh Marco. Namun, fokusnya sama sekali tidak ada pada angka-angka di layar. Matanya terus melirik ke arah meja besar di seberang ruangan.

Andito sedang menerima telepon penting. Pria itu berdiri menghadap jendela kaca raksasa, berbicara dalam bahasa Rusia dengan nada suara yang rendah dan penuh penekanan. Ekspresi wajahnya mengeras, mengisyaratkan ada masalah serius dalam jalur penyelundupan atau bisnis legalnya di Eropa Timur.

Ini adalah kesempatan emas.

"Andito," panggil Gea pelan setelah pria itu menurunkan ponsel dari telinganya.

Andito membalikkan badan. Tatapan matanya masih menyisakan sisa kemarahan dari panggilan telepon tadi, membuat auranya terasa berkali-kali lipat lebih mengintimidasi. "Ada apa?"

"Saya ingin turun ke bawah untuk makan siang. Perut saya agak perih," ujar Gea, mencoba menata ekspresi wajahnya agar terlihat sealami mungkin. Ia sengaja menyentuh ulu hatinya untuk mendukung kebohongannya.

Andito menyipitkan mata. Ia berjalan mendekati meja Gea, meletakkan kedua tangannya di atas meja kayu mahal itu, lalu condong ke depan hingga wajah mereka berdekatan. "Makan siang? Aku bisa meminta restoran bintang lima di bawah untuk mengantarkan makanan apa pun yang kau inginkan langsung ke meja ini, Gea. Kau tidak perlu keluar."

Jantung Gea berdegup kencang, namun ia menahan diri agar tidak mundur. "Saya butuh udara segar, Andito. Berada di ruangan tertutup ini semalaman dan seharian membuat kepala saya pusing. Lagipula, Anda bilang Anda menghargai profesionalitas saya. Saya hanya mengambil hak jam istirahat saya."

Andito menatap Gea selama beberapa detik yang terasa sangat menyiksa. Pria itu seperti sedang menguliti isi kepala Gea mencari kebohongan. Namun, akhirnya ia menegakkan tubuh dan mengembuskan napas pendek. "Tiga puluh menit, Gea. Jika dalam tiga puluh menit kau belum kembali ke ruangan ini, aku akan mengirim Leo untuk menjemputmu. Dan kau tahu cara Leo menjemput orang tidak pernah menggunakan kata-kata manis."

"Tiga puluh menit sudah cukup. Terima kasih," sahut Gea. Ia segera mengambil tas kecilnya dan melangkah keluar dari ruangan dengan ritme konstan, menahan diri agar tidak terlihat seperti orang yang sedang melarikan diri.

------------------------------

Restoran bawah tanah di seberang gedung kantor adalah sebuah tempat makan bergaya bistro klasik yang remang-remang. Tempat ini biasanya digunakan oleh para eksekutif muda untuk pertemuan rahasia karena posisinya yang agak tersembunyi dan sekat antarmejanya yang tinggi.

Gea melangkah masuk, memindai sekeliling dengan waspada. Matanya mencari nomor meja. Di sudut paling belakang, di bawah temaram lampu gantung tembaga, ia melihat papan kayu kecil bertuliskan angka sembilan. Di sana, duduk seorang pria berjas abu-abu rapi yang sedang membaca koran finansial.

Begitu Gea mendekat, pria itu menurunkan korannya. Gea tersentak kecil. Pria itu memiliki wajah yang sangat tampan dengan rahang tegas, namun senyumannya terasa jauh lebih hangat dan bersahabat jika dibandingkan dengan senyuman miring Andito yang mematikan.

"Silakan duduk, Sekretaris Gea," sapa pria itu dengan suara bariton yang ramah.

Gea duduk di kursi seberangnya, namun ia tidak menurunkan kewaspadaannya. "Siapa Anda? Dan bagaimana Anda bisa mendapatkan nomor ponsel saya?"

Pria itu terkekeh pelan, lalu mengulurkan tangannya di atas meja. "Nama saya Rayhan Dirgantara. Saya adalah Wakil CEO dari Dirgantara Group, saingan utama Pramana Investment di dunia bisnis legal. Dan mengenai nomor ponselmu... di kota ini, jika kau memiliki uang dan koneksi yang tepat, tidak ada rahasia yang tidak bisa dibeli."

Gea mengabaikan uluran tangan itu, membuat Rayhan menarik tangannya kembali sambil tersenyum maklum. "Anda bilang dalam pesan bahwa Anda tahu apa yang Andito lakukan pada saya. Apa maksudnya?"

Rayhan memajukan tubuhnya, menurunkan volume suaranya menjadi bisikan yang serius. "Andito Pramana bukan hanya seorang pengusaha, Gea. Kau pasti sudah tahu itu setelah semalam menginap di penthousenya. Dia adalah ketua dari klan mafia terbesar yang menguasai jalur penyelundupan hitam di Asia Tenggara. Dia mengincar setiap hal yang menarik perhatiannya, dan saat ini, hal itu adalah kau."

Rayhan mengambil sebuah amplop cokelat tebal dari dalam tasnya dan menggesernya ke hadapan Gea. "Aku tahu kau dijebak. Aku tahu dia mengancam keselamatan ibumu di rumah sakit dan pendidikan adikmu. Andito selalu menggunakan cara kotor itu untuk menundukkan orang."

Gea menatap amplop itu dengan ragu. "Apa ini?"

"Itu adalah tiket penerbangan ke Swiss untuk ibu dan adikmu, lengkap dengan jaminan perawatan medis terbaik di rumah sakit Zurich serta surat transfer kuliah untuk adikmu di sana," ujar Rayhan, matanya memancarkan kesungguhan. "Di Swiss, Andito tidak memiliki kuasa penuh karena wilayah itu berada di bawah pengawasan interpol yang ketat. Keluargamu akan aman di sana."

Napas Gea tertahan. Ini adalah hal yang paling ia butuhkan. Jika keluarganya berada di luar jangkauan Andito, maka pria itu tidak lagi memiliki kartu as untuk mengancamnya. Ia akan bebas.

"Mengapa Anda melakukan ini, Pak Rayhan? Anda tidak mengenal saya. Tidak ada makan siang gratis di dunia ini, apalagi dari seorang pengusaha besar seperti Anda," tanya Gea, mencoba berpikir logis di tengah tawaran yang begitu menggiurkan.

Rayhan tersenyum, kilatan tajam muncul di matanya. "Kau cerdas, Gea. Tentu saja ada harganya. Aku ingin kau menjadi mata-mataku di dalam ruangan Andito. Sebagai Sekretaris Finansial Pribadi yang baru, kau memiliki akses ke seluruh dokumen mutasi keuangan dan manifes logistik miliknya. Berikan aku salinan data ilegalnya. Aku akan menggunakannya untuk menghancurkan kerajaan bisnis hitamnya, dan sebagai gantinya, kau dan keluargamu akan mendapatkan kebebasan serta perlindungan penuh seumur hidup dariku."

Gea terdiam. Kepalanya berdenyut kencang. Di satu sisi, ini adalah jalan keluar yang ia cari—cara untuk menyelamatkan keluarganya sekaligus membalas perbuatan Andito. Namun di sisi lain, mengkhianati seorang mafia kelas wahid seperti Andito adalah tindakan bunuh diri. Jika ia ketahuan, Andito tidak akan ragu untuk mengulitinya hidup-hidup.

Gea melirik jam tangannya. Dua puluh menit sudah berlalu. Ia harus segera kembali sebelum Andito mengirim Leo.

"Saya butuh waktu untuk berpikir," ujar Gea sambil menggeser kembali amplop cokelat itu ke arah Rayhan. "Saya tidak bisa mengambil keputusan sebesar ini dalam hitungan menit."

Rayhan mengangguk paham, ia mengambil kembali amplop itu. "Aku mengerti. Tapi ingat, waktu tidak berpihak padamu, Gea. Semakin lama kau menunda, semakin dalam Andito akan menarikmu ke dalam dunianya hingga kau tidak akan bisa lepas lagi. Hubungi aku jika kau sudah siap."

Gea bangkit dari kursinya dan bergegas keluar dari restoran. Ia berjalan cepat menyeberangi jalanan membelah trotoar, kembali masuk ke dalam gedung pencakar langit milik Andito.

Tepat pada menit ke dua puluh sembilan, Gea mendorong pintu ruangan CEO di lantai empat puluh. Ia terengah-engah kecil. Di dalam ruangan, Andito sudah tidak lagi memegang ponselnya. Pria itu berdiri tepat di depan pintu, seolah memang sedang menunggu kedatangannya dengan jam tangan yang terus diperhatikannya.

Andito menatap Gea dari atas ke bawah, menyadari napas gadis itu yang memburu. Pria itu maju satu langkah, lalu mengulurkan tangannya untuk merapikan sehelai rambut Gea yang berantakan karena angin di luar.

"Dua puluh sembilan menit. Kau tepat waktu, Gea," bisik Andito, suaranya terdengar lembut namun getaran di dalamnya membuat Gea merinding. Andito tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke leher Gea, menghirup aroma tubuh gadis itu dalam-dalam, membuat Gea membeku di tempat.

Andito menjauhkan wajahnya, dan seketika itu juga, senyuman miring di wajahnya lenyap, digantikan oleh tatapan mata elang yang luar biasa dingin dan mematikan.

"Aroma parfum maskulin bermerek Tom Ford, bercampur dengan aroma kopi bistro seberang jalan," ujar Andito dengan suara yang sangat rendah, seperti seringai serigala yang telah menemukan jejak pengkhianatan. "Kau baru saja bertemu dengan seorang pria, Gea. Dan pria itu... bukan aku."

Seluruh darah di tubuh Gea rasanya tumpah ke lantai. Bagaimana mungkin pria ini bisa tahu hanya dari bau pakaiannya?

Andito mencengkeram rahang Gea dengan satu tangan, tidak sampai mematahkan namun cukup kuat untuk membuat Gea tidak bisa bergerak. Mata gelapnya menatap lurus ke dalam manik mata Gea yang ketakutan. "Katakan padaku, wanitaku... siapa pria bodoh yang sedang mencoba menggali kuburannya sendiri dengan menyentuh milik Andito Pramana?"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel