Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 6. Sandi yang Terkunci

Lembaran angka di layar monitor Gea bergerak naik seiring guliran jemarinya pada tetikus. Sebagai sekretaris finansial pribadi yang baru, ia disuguhi baris-baris data yang sekilas tampak seperti laporan investasi biasa. Namun, sebagai seorang lulusan terbaik akuntansi, Gea bisa melihat pola yang tidak wajar. Ares Investment bukan sekadar tempat pencucian uang. Perusahaan cangkang ini adalah jantung dari seluruh pendanaan operasional klan Andito di Asia Tenggara.

Di seberang ruangan, Andito sedang sibuk memeriksa beberapa berkas cetak. Pria itu tampak tenang, namun atmosfer protektif di sekelilingnya tetap terasa pekat. Setiap kali Gea menggeser posisi duduk atau menghela napas terlalu panjang, sepasang mata elang itu akan melirik sekilas dari balik tumpukan dokumennya.

Andito tidak pernah benar-benar melepaskan pandangannya.

Gea memfokuskan kembali matanya ke layar. Ia menemukan sebuah folder terenkripsi berkode ‘Project Fenrir’. Saat ia mencoba membukanya, sebuah kotak dialog muncul di layar, meminta kombinasi sandi alfanumerik delapan digit dengan sistem keamanan biometrik berlapis.

“Jangan mencoba membobolnya jika kau tidak ingin sistem mengunci seluruh komputer ini, Gea,” suara berat Andito mendadak memecah kesunyian, membuat Gea tersentak di kursinya.

Andito sudah berdiri di dekat meja Gea tanpa menimbulkan suara langkah kaki sedikit pun. Pria itu mencondongkan tubuhnya, menumpu satu tangan di sandaran kursi Gea, sementara tangan lainnya bergerak di atas meja, mengambil cangkir kopi hitamnya yang mulai mendingin.

"Apa itu Project Fenrir?" tanya Gea, mencoba menekan rasa gugupnya dan bersikap penasaran secara alami.

Andito tersenyum miring, seulas senyuman yang selalu berhasil membuat bulu kuduk Gea merinding. "Itu adalah cetak biru masa depan klan ini. Sesuatu yang jika jatuh ke tangan orang yang salah, bisa memicu perang terbuka di jalanan Jakarta. Termasuk ke tangan teman barumu di restoran bistro tadi siang."

Jantung Gea mencelos. Andito masih membahas insiden makan siang itu dengan cara yang sangat halus namun menusuk. Pria itu tidak bodoh; meski ia membatalkan perintah Leo untuk memeriksa CCTV, bukan berarti ia melupakan kecurigaannya begitu saja. Andito sedang memberi tahu Gea bahwa ia mengetahui batasan permainan mereka.

"Saya hanya menjalankan tugas saya sebagai analis," sahut Gea datar, mengalihkan pandangan kembali ke layar komputer. "Jika Anda tidak memercayai saya dengan berkas ini, Anda bisa menguncinya dari pelayan pusat."

Andito terkekeh rendah. "Aku memercayaimu, Gea. Tapi aku tidak memercayai orang-orang di sekitarmu yang mencoba memanfaatkan kepolosanmu. Selesaikan pekerjaanmu untuk hari ini. Kita akan pulang bersama tiga puluh menit lagi."

Pria itu berbalik menuju meja besarnya, meninggalkan Gea dengan pikiran yang semakin berkecamuk. Informasi tentang Project Fenrir ini pasti adalah hal yang sangat diinginkan oleh Rayhan Dirgantara. Jika Rayhan bisa mendapatkan cetak biru ini, posisi Andito akan hancur dan kebebasan Gea akan terjamin sepenuhnya. Namun, bagaimana cara mendapatkan sandi delapan digit itu dari seorang pria sewaspada Andito?

------------------------------

Pukul delapan malam, mobil hitam yang sama membawa mereka kembali ke Penthouse Sudirman. Perjalanan malam itu dilalui dalam keheningan yang tegang. Andito sibuk dengan tabletnya, sementara Gea hanya menatap keluar jendela, memperhatikan rintik hujan yang mulai membasahi jalanan ibu kota.

Begitu mereka melangkah masuk ke dalam penthouse, suasana sunyi dan mewah langsung menyambut mereka. Andito melempar jasnya ke atas sofa dan melonggarkan dasinya.

"Malam ini kita akan makan malam di sini. Koki pribadi saya sudah menyiapkan makanan di ruang tengah," ujar Andito sambil berjalan menuju kamarnya untuk berganti pakaian.

Gea memanfaatkan momen singkat itu. Ia berjalan menuju meja kerja kecil yang ada di sudut ruang keluarga penthouse. Di sana, terdapat sebuah laptop pribadi milik Andito yang dalam posisi siaga. Gea mendekat dengan langkah tanpa suara, jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang. Ia membuka layar laptop tersebut.

Layar meminta kata sandi.

Gea mengingat-ingat kebiasaan Andito di kantor. Pria itu selalu mengenakan jam tangan Rolex dengan ukiran angka Romawi kuno di bagian dalamnya, dan ia sangat terobsesi dengan simbol serigala mitologi. Gea mencoba memasukkan kata 'FENRIR08'—angka delapan merujuk pada jam perjanjian mereka semalam.

Akses Ditolak. Sisa percobaan: 2.

Keringat dingin mulai membasahi dahi Gea. Jika ia salah memasukkan sandi satu kali lagi, sistem keamanan internal penthouse mungkin akan berbunyi dan Andito akan menangkapnya basah-basah.

Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki dari arah lorong kamar. Andito sudah selesai berganti pakaian. Pria itu hanya mengenakan celana kain hitam dan kemeja santai berwarna abu-abu yang tidak dikancingkan sepenuhnya.

Gea dengan cepat menutup kembali layar laptop dan berbalik, bersandar pada meja kayu tersebut untuk menyembunyikan posisinya. Ia mencoba mengatur napasnya agar terlihat santai.

Andito menghentikan langkahnya beberapa meter di depan Gea. Matanya menyipit, menatap laptop di belakang tubuh Gea, lalu beralih menatap wajah pucat gadis itu. "Apa yang sedang kau lakukan di sana, Gea?"

"Saya... saya hanya mencari jaringan Wi-Fi untuk ponsel saya," bohong Gea, suaranya sedikit tercekat di tenggorokan. "Sinyal seluler di lantai atas ini agak buruk."

Andito berjalan mendekat dengan perlahan, setiap langkahnya terasa seperti hitungan mundur menuju kehancuran Gea. Pria itu berhenti tepat di hadapan Gea, mengurung tubuh gadis itu di antara meja dan tubuh tegapnya. Ia mengulurkan tangan ke belakang tubuh Gea, membuka layar laptop dengan satu gerakan cepat, lalu mengetikkan sesuatu di papan tik tanpa melihatnya.

Layar laptop langsung terbuka, menampilkan halaman utama sistem yang bersih.

"Jika kau butuh sesuatu, kau hanya perlu memintanya dariku, Wanitaku," bisik Andito di dekat telinga Gea, embusan napasnya yang hangat membuat tubuh Gea bergetar. "Jangan mencoba mengambilnya sendiri di belakangku. Karena aku tahu setiap gerakan kecil yang kau lakukan di dalam rumah ini."

Andito kemudian mengambil ponsel milik Gea yang tergeletak di atas meja, membuka menu pengaturan, dan menyambungkannya ke jaringan Wi-Fi pribadinya sendiri sebelum mengembalikan ponsel itu ke tangan Gea yang dingin.

"Ayo makan. Makananmu akan dingin," ujar Andito sambil mundur dan berjalan menuju meja makan, meninggalkan Gea yang masih terpaku dengan jantung yang berpacu liar.

Gea menatap ponsel di tangannya. Saat layarnya menyala karena tersambung ke internet, sebuah notifikasi pesan baru muncul dari nomor tidak dikenal yang sama—Rayhan Dirgantara.

“Aku tahu Andito memindahkanmu ke ruangannya. Besok malam dia akan menghadiri pertemuan rahasia para petinggi klan di Pelabuhan Utara. Itu kesempatanmu untuk menyalin berkas Project Fenrir dari laptopnya saat dia lengah. Jangan mengecewakanku, Gea.”

Gea meremas ponselnya kuat-kuat. Besok malam adalah penentuannya. Di satu sisi, ia harus masuk lebih dalam ke dalam bahaya untuk mendapatkan sandi tersebut, namun di sisi lain, jika ia gagal, malam besok mungkin akan menjadi malam terakhir dalam hidupnya. Dari total 36 bab perjalanan hidupnya yang mengerikan ini, bab-bab awal ini baru saja membuka pintu menuju labirin intrik yang tidak ada jalan kembali.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel