BAB 3. Labirin Intrik dan Tatapan Mematikan
Langkah Gea terasa seberat timah saat ia melintasi ambang pintu kamar utama milik Andito. Kamar itu sangat luas, dengan dinding yang dilapisi panel kayu gelap dan pencahayaan yang sengit—minimalis, dingin, dan angkuh, persis seperti pemiliknya. Di tengah ruangan, sebuah ranjang berukuran king-size dengan sprei sutra hitam pekat tampak seperti altar pemujaan yang siap menelan mangsanya.
Andito berjalan di belakangnya, lalu menutup pintu dengan bunyi klik yang halus namun bergaung kuat di dada Gea. Pria itu melempar kemeja hitamnya ke atas sofa santai di sudut kamar, meninggalkan tubuhnya yang kokoh hanya dibalut kaus dalam putih ketat. Tato serigala di bahunya tampak hidup di bawah temaram lampu tidur.
"Kau bisa mandi jika mau. Ada jubah mandi baru di dalam lemari," ujar Andito datar, sambil berjalan menuju sisi ranjang sebelah kanan. Pria itu merebahkan tubuhnya yang tegap, menumpu kepalanya dengan satu tangan sambil menatap Gea yang masih berdiri kaku di dekat pintu. "Atau kau lebih suka tidur dengan gaun beludru ketat itu dan mencekik dirimu sendiri semalaman?"
Gea tidak menjawab. Ia memilih tidak menurunkan kewaspadaannya. Dengan langkah perlahan, ia berjalan menuju sofa yang terletak cukup jauh dari ranjang. Ia meletakkan tas kecilnya—yang masih berisi flashdisk berharga itu—tepat di sampingnya.
"Saya akan tidur di sini," kata Gea tegas.
Andito terkekeh rendah, suara tawa yang terdengar sangat seksi namun sarat akan ejekan. "Aku sudah bilang aku menerima syaratmu, Gea. Aku tidak akan menyentuhmu. Tapi peraturan di rumah ini adalah peraturanku. Naik ke ranjang, atau aku akan menganggap kau membatalkan perjanjian kita dan aku bebas melakukan apa saja."
Ancaman terselubung itu membuat Gea mengepalkan tangannya. Menyadari tidak ada pilihan lain, ia melangkah mendekati ranjang dengan hati-hati. Ia berbaring di sisi paling kiri, menyisakan jarak yang sangat luas di antara mereka. Tubuhnya miring memunggungi Andito, meringkuk tegang dengan kedua tangan memeluk dada. Setiap indranya menajam, mendengarkan setiap embusan napas pria di belakangnya.
Malam itu berjalan seperti siksaan yang lambat. Gea mengira Andito akan melakukan pergerakan jahat, namun pria itu benar-benar tidak bergeming. Ia hanya diam, membiarkan auranya yang pekat mengintimidasi Gea dalam kesunyian. Justru ketidakpastian itulah yang membuat Gea tersiksa. Hingga perlahan, akibat kelelahan mental yang luar biasa, mata Gea terpejam saat fajar hampir menyingsing.
------------------------------
Saat terbangun, matahari pagi Jakarta sudah menembus celah gorden otomatis yang terbuka. Sisi ranjang di sebelahnya sudah kosong dan dingin. Andito sudah pergi. Di atas meja rias, terdapat sebuah tas belanja besar dari merek desainer ternama dan sebuah catatan kecil dengan tulisan tangan yang rapi dan tajam.
“Pakai ini. Mobil yang sama akan mengantarmu ke kantor dalam tiga puluh menit. Jangan terlambat, Karyawan Kesayangan.”
Gea mengembuskan napas panjang. Ia membuka tas itu dan menemukan satu set pakaian kerja formal yang sangat elegan—blazer berpotongan mahal dan rok senada berwarna salem, lengkap dengan sepatu hak tinggi yang baru. Andito memikirkan segala detail dengan presisi yang mengerikan. Pria itu sedang menegaskan dominasinya: bahwa bahkan dalam urusan pakaian, Andito yang memegang kendali.
Tepat pukul sembilan pagi, Gea melangkah masuk ke lobi kantor. Ia mencoba bersikap biasa saja, mengabaikan debaran jantungnya yang berpacu liar. Namun, begitu ia menginjakkan kaki di lantai divisinya, suasana terasa berbeda. Beberapa rekan kerjanya menatapnya dengan pandangan aneh—campuran antara terkejut, iri, dan bingung.
"Gea! Akhirnya kau datang," Siska, teman sebangkunya, langsung menarik tangan Gea dengan heboh begitu Gea duduk di kubikelnya. "Kau punya hubungan apa dengan Pak Andito?!"
Gea tersentak, wajahnya mendadak pucat. "M-maksudmu apa, Sis? Aku tidak punya hubungan apa-apa."
"Jangan bohong! Baru saja setengah jam yang lalu, SK (Surat Keputusan) resmi dari divisi HRD keluar dan disiarkan ke seluruh email staf," Siska berbisik dengan mata melebar. "Kau dipromosikan, Gea. Mulai hari ini, kau bukan lagi analis keuangan biasa. Kau diangkat menjadi Sekretaris Finansial Pribadi Pak Andito. Ruanganmu dipindahkan ke lantai atas, tepat di dalam ruangan besar milik CEO!"
Dunia Gea rasanya berputar mendengar berita itu. Sekretaris Finansial Pribadi? Itu bukan promosi biasa. Itu adalah taktik Andito untuk mengunci ruang geraknya. Pria itu sengaja memindahkannya agar bisa mengawasinya selama dua puluh empat jam penuh, sekaligus memisahkan dirinya dari jangkauan staf lain. Andito ingin memastikan Gea berada di bawah cengkeraman matanya setiap detik.
"Gea, kau dipanggil ke lantai atas sekarang. Barang-barangmu akan dipindahkan oleh kurir kantor," tegur kepala supervisor mereka dengan nada yang tidak ramah, tampak jelas ia merasa tersaingi oleh lompatan karier Gea yang mendadak.
Gea menarik napas dalam-dalam, menguatkan mentalnya. Ia mengambil tas kerjanya dan melangkah menuju lift privat. Permainan ini baru saja dimulai, dan Andito baru saja melempar pion pertamanya di atas papan catur.
Begitu pintu lift terbuka di lantai empat puluh, Gea langsung disambut oleh pemandangan ruangan Andito yang megah. Di sudut kanan ruangan, kini sudah berdiri sebuah meja kerja baru yang mewah dengan komputer berspesifikasi tinggi—meja kerja miliknya yang baru.
Andito sedang duduk di kursi kebesarannya, mengenakan setelan jas abu-abu gelap, tampak sangat berwibawa dan tidak tersentuh. Di seberang mejanya, berdiri dua orang pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam tanpa dasi. Aura dari kedua pria itu sangat kelam, mirip dengan aura Andito. Gea langsung tahu bahwa mereka bukan pengusaha biasa, melainkan orang-orang dari dunia bawah tanah.
"Ah, dia sudah datang," Andito bersuara, menghentikan pembicaraannya dengan kedua pria tersebut. Tatapan matanya yang tajam langsung mengunci Gea. "Perkenalkan, Gea. Ini Marco dan Leo, kepala lini operasional logistikku di pelabuhan Utara. Mulai hari ini, setiap laporan keuangan, manifes barang, dan audit investasi yang mereka bawa harus melalui pemeriksaan dan persetujuan darimu terlebih dahulu sebelum sampai ke mejaku."
Marco, pria dengan bekas luka kecil di pipinya, menatap Gea dengan pandangan meremehkan. "Bos, Anda yakin menyerahkan data sensitif klan kita kepada gadis kantoran biasa seperti dia? Bagaimana jika dia bocor?"
Andito menyandarkan punggungnya, lalu menyilangkan kakinya dengan santai. Sebuah senyuman dingin terukir di wajahnya. "Jangan khawatir, Marco. Gea tidak akan berani membocorkan apa pun. Dia tahu persis apa konsekuensinya jika dia bermain api denganku. Bukankah begitu, Gea?"
Pertanyaan itu terdengar seperti sindiran tajam yang langsung menghujam jantung Gea. Andito sedang sengaja memperlihatkan sisi gelapnya secara terang-terangan di depan Gea. Pria itu tidak lagi bersembunyi di balik topeng CEO ramah. Ia ingin Gea tahu seberapa besar bahaya dunia yang sedang ia masuki. Ini adalah balasan Andito atas ancaman flashdisk semalam: Andito menjerumuskan Gea ke tengah-tengah lingkaran mafianya, membuat Gea menjadi bagian dari konspirasi tersebut sehingga jika Gea berani menjatuhkan Andito, Gea sendiri akan ikut hancur.
Gea mengepalkan tangannya di balik blazer salemnya. Ia menatap lurus ke dalam manik mata gelap Andito, menolak untuk terlihat gentar di depan anak buah pria itu.
"Saya mengerti tugas saya, Pak Andito," jawab Gea dengan suara yang ditekan seprofesional mungkin. "Saya akan memastikan semua angka dan data tertata dengan rapi. Tanpa ada kesalahan... ataupun kebocoran."
Andito tersenyum miring, tampak sangat puas dengan jawaban berani dari wanitanya. "Bagus. Silakan duduk di mejamu, Sekretaris Gea. Kita punya banyak pekerjaan kotor yang harus diselesaikan hari ini."
Saat Gea berjalan menuju mejanya di bawah tatapan tajam tiga pria dominan di ruangan itu, ponsel di dalam tasnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Gea diam-diam membukanya di bawah meja.
“Aku tahu apa yang Andito lakukan padamu. Jika kau ingin selamat dan menghancurkan pria itu, temui aku di restoran bawah tanah seberang kantor jam satu siang ini. Jangan biarkan mata-matanya melihatmu.”
Gea tertegun, napasnya tertahan. Siapa yang mengirimkan pesan ini? Apakah ini jebakan lain dari Andito untuk menguji kesetiaannya, ataukah ada musuh dalam selimut yang siap membantunya keluar dari neraka ini?
