BAB 2. Langkah Pertama ke Sarang Serigala
Malam itu, Gea tidak bisa memejamkan mata barang sedetik pun. Kamar kosnya yang berukuran tiga kali empat meter terasa seperti sel penjara yang semakin menyempit. Di atas kasur busa yang tipis, ia hanya bisa menatap langit-langit plafon yang berjamur, sementara otaknya berputar liar mencari jalan keluar. Bayangan wajah Andito yang tersenyum miring dan ancaman dinginnya terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya.
“Jika kau tidak datang… kau tahu sendiri apa yang akan terjadi pada ibu dan adikmu.”
Kalimat itu bukan sekadar gertakan. Gea tahu persis bahwa bagi seorang pria dengan kekuasaan tak terbatas seperti Andito, melenyapkan dua orang manusia dari kalangan kelas bawah seperti keluarganya serendah membalikkan telapak tangan. Ibu Gea sedang terbaring lemah di kampung halaman karena penyakit komplikasi, dan adiknya, Rian, baru saja memulai semester pertamanya di bangku kuliah. Mereka adalah seluruh dunia Gea. Ia tidak boleh egois. Jika ia melarikan diri malam ini, besok pagi ia mungkin akan menerima kabar duka.
Ketika jarum jam dinding berdetak menunjukkan pukul lima pagi, Gea bangkit. Matanya sembap dan berkantung hitam. Ia berjalan ke arah cermin kecil di sudut kamar, menatap pantulan dirinya. Ada gundah, ada ketakutan, namun di dasar manik matanya yang kecokelatan, ada kilat kemarahan yang mulai membara.
"Kau ingin aku, Andito?" bisik Gea pada pantulan dirinya sendiri. "Akan kuberikan apa yang kau minta. Tapi jangan harap kau bisa memilikinya dengan mudah."
Gea tahu ia tidak bisa melawan Andito dengan otot atau senjata. Pria itu adalah raja dunia bawah tanah. Satu-satunya cara untuk mengalahkannya adalah dengan menggunakan otaknya. Selama bekerja di perusahaan investasi milik Andito, Gea diam-diam menyadari ada beberapa kejanggalan dalam aliran dana masuk dari luar negeri yang masuk ke rekening pribadi sang CEO. Selama ini ia memilih tutup mata demi keselamatan dirinya. Namun sekarang, informasi itu adalah satu-satunya peluru yang ia miliki.
------------------------------
Hari berganti dengan cepat yang menyiksa. Pukul tujuh malam, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Gea dari nomor yang tidak dikenal.
“Mobil hitam dengan plat B 111 AN sudah menunggu di depan gang kosmu. Jangan terlambat.”
Gea meremas ponselnya. Pria itu bahkan tahu di mana ia tinggal, sesuatu yang tidak pernah ia cantumkan secara detail di berkas karyawan. Gurita kekuasaan Andito benar-benar nyata.
Gea menarik napas dalam, memoleskan lipstik merah menyala di bibirnya—sebuah warna yang tidak pernah ia gunakan sebelumnya. Ia sengaja memilih gaun malam beludru berwarna hitam pekat yang tertutup namun pas di tubuhnya. Ia ingin terlihat menyerah, namun tetap memegang kendali atas harga dirinya. Di dalam tas kecilnya, selain ponsel, terselip sebuah flashdisk kecil yang berisi salinan sandi enkripsi data keuangan yang sempat ia unduh secara sembunyi-sembunyi dari komputer kantor siang tadi. Itu adalah taruhan hidup dan matinya.
Tepat pukul delapan malam, mobil sedan mewah yang menjemput Gea berhenti di depan lobi Penthouse Sudirman, salah satu kawasan apartemen paling elit dan dengan penjagaan paling ketat di Jakarta pusat. Sopir berjas hitam yang menjemputnya tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak awal perjalanan. Ia hanya mengantarkan Gea hingga ke depan lift khusus yang langsung menuju lantai teratas—lantai tempat tinggal sang mafia.
Ting.
Pintu lift terbuka langsung menghadap sebuah ruangan luas dengan desain modern minimalis yang didominasi warna gelap dan abu-abu. Dinding kaca raksasa di hadapannya menyajikan pemandangan kerlap-kerlip lampu kota Jakarta dari ketinggian yang memusingkan. Suasana di dalam Penthouse itu sunyi, hanya terdengar suara petikan gitar berirama jazz yang mengalun lembut dari pengeras suara tersembunyi.
"Kau tepat waktu. Aku suka wanita yang patuh," sebuah suara berat memecah keheningan.
Gea menoleh. Andito sedang duduk di sebuah sofa kulit besar, menggenggam sebuah gelas kristal berisi cairan berwarna amber. Pria itu tidak lagi mengenakan jas formalnya. Ia hanya memakai kemeja hitam dengan dua kancing teratas yang terbuka, memperlihatkan sedikit dadanya yang bidang dan sebuah tato samar yang menyembul dari balik kerah bajunya—tato kepala serigala hitam, lambang klannya.
Andito berdiri, meletakkan gelasnya, lalu berjalan mendekati Gea. Matanya menelusuri penampilan Gea dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan lapar yang tidak ditutupi. "Hitam. Warna yang tidak buruk untuk merayakan malam pertama kita."
Gea mencoba menahan tubuhnya agar tidak gemetar saat Andito kini sudah berdiri tepat di depannya. Aroma parfum pria itu kembali mengepung indra penciumannya, memicu adrenalin di dalam tubuhnya untuk melonjak drastis.
"Saya datang ke sini seperti yang Anda minta, Andito," ujar Gea, mencoba membuat suaranya terdengar seberani mungkin, meski di dalam hati ia sedang berdoa agar tuhan memberinya kekuatan. "Tapi sebelum Anda menyentuh saya, ada sesuatu yang harus kita sepakati."
Andito menaikkan satu alisnya, tampak terhibur dengan keberanian gadis di depannya. Ia mengulurkan tangan, menyentuh dagu Gea dengan jari telunjuknya, memaksa gadis itu untuk menatap langsung ke matanya. "Kesepakatan? Kau sedang tidak dalam posisi untuk bernegosiasi, Gea. Ingat di mana posisimu."
"Saya tahu persis di mana posisi saya," sahut Gea cepat, memotong ucapan Andito. Ia mundur selangkah untuk melepaskan diri dari sentuhan pria itu, lalu membuka tas kecilnya dan mengeluarkan flashdisk hitam dari sana. Ia mengangkat benda kecil itu di antara mereka.
"Apa itu? Mainan baru?" Andito terkekeh meremehkan.
"Ini adalah kunci dari akun bayangan Ares Investment di Swiss," kata Gea dengan nada datar namun tegas.
Seketika itu juga, senyuman meremehkan di wajah tampan Andito lenyap. Matanya menyipit, memancarkan aura dingin yang mendadak membuat suhu di dalam ruangan itu terasa turun beberapa derajat. Ares Investment adalah perusahaan cangkang yang digunakan Andito untuk mencuci uang hasil bisnis gelapnya, sebuah rahasia yang bahkan tidak diketahui oleh jajaran direksi perusahaannya sendiri.
"Dari mana kau tahu nama itu?" tanya Andito, suaranya kini berubah menjadi bisikan yang sangat berbahaya. Langkah kakinya maju, mengintimidasi.
Gea tidak mundur kali ini. Ia menatap lurus pada sang iblis. "Saya seorang analis keuangan, Andito. Menemukan jejak digital yang bocor dari sistem Anda bukan hal yang mustahil bagi saya. Di dalam flashdisk ini ada data mutasi rekening senilai ratusan juta dolar yang mengalir ke sana selama tiga tahun terakhir. Dan tebak apa? Data ini sudah diatur dalam sistem pengiriman otomatis. Jika saya tidak memasukkan kode konfirmasi dari ponsel saya setiap dua puluh empat jam... data ini akan langsung terkirim ke email pribadi Kepala Polisi Jenderal dan Komisi Pemberantasan Korupsi."
Gea berbohong tentang pengiriman otomatis itu, namun ia harus bertaruh dengan gertakan terbesar dalam hidupnya. Ia harus membuat Andito tahu bahwa dirinya bukan sekadar mangsa yang bisa dikuliti hidup-hidup.
Keheningan yang mencekam kembali melanda ruangan itu. Andito menatap Gea dengan pandangan yang sulit diartikan. Kemarahan murni memancar dari matanya, namun di saat yang sama, ada kilatan kekaguman yang aneh yang perlahan muncul. Selama hidupnya, tidak ada satu orang pun yang berani mengancam Andito Pramana di dalam rumahnya sendiri, terlebih lagi oleh seorang gadis biasa yang tidak memiliki latar belakang bersenjata.
Andito tiba-tiba tertawa. Tawa yang renyah namun terdengar mengerikan di telinga Gea.
"Menarik... sangat menarik," Andito melangkah sangat cepat, hingga sebelum Gea sempat bereaksi, pria itu sudah mencengkeram pergelangan tangan Gea yang memegang flashdisk dengan sangat kuat. Gea meringis kesakitan, namun ia menolak untuk menjatuhkan benda itu.
Andito mendekatkan wajahnya, hingga hidung mereka hampir bersentuhan. "Kau pikir gertakan murahan ini bisa menakutiku, Gea? Aku bisa membunuhmu sekarang, mengambil ponselmu, dan melenyapkan keluargamu sebelum polisi bahkan sempat membaca email itu."
"Silakan lakukan," tantang Gea dengan air mata yang mulai mengenang namun tatapannya tetap tajam. "Bunuh saya. Tapi Anda akan kehilangan muka di depan seluruh rekan bisnis internasional Anda saat kedok Anda terbongkar besok pagi. Dan Anda... tidak akan pernah bisa memiliki saya, bahkan dalam bentuk mayat sekalipun."
Andito menatap mata Gea dalam-dalam, mencari kebohongan di sana. Namun yang ia temukan hanyalah kepasrahan yang berbalut keberanian yang luar biasa. Cengkeraman tangan Andito pada pergelangan tangan Gea perlahan mengendur, namun ia tidak melepaskannya. Pria itu justru menggeser ibu jarinya, mengusap lembut urat nadi Gea yang berdenyut kencang di pergelangan tangannya.
"Kau benar-benar membuatku gila, Gea," bisik Andito, suaranya kembali melembut namun tetap sarat akan kepemilikan yang pekat. "Kau pikir dengan ini kau bisa bebas dariku?"
"Saya tidak meminta bebas," jawab Gea, napasnya terengah. "Saya menawarkan kesepakatan. Saya akan tetap menjadi wanita Anda, saya akan datang ke sini kapan pun Anda mau. Tapi dengan dua syarat: pertama, Anda tidak akan pernah menyentuh atau mengusik keluarga saya sedikit pun. Kedua... Anda tidak boleh menyentuh tubuh saya secara paksa sampai saya sendiri yang mengizinkannya."
Andito menyeringai, sebuah senyuman yang membuat jantung Gea mencelos. Pria itu melepaskan tangan Gea, lalu mengambil gelas kristalnya kembali.
"Syarat pertama, aku terima. Keluarga lambatmu itu aman bersamaku," ujar Andito sambil meminum sisa cairannya. "Tapi syarat kedua..." Andito berjalan mendekati pintu sebuah ruangan yang tampaknya adalah kamar tidur utama. Ia membuka pintunya, lalu menoleh pada Gea.
"Aku menerima tantanganmu, Gea. Aku tidak akan menyentuhmu secara paksa malam ini. Tapi aku bertaruh... tidak akan butuh waktu lama sampai kau sendiri yang memohon di bawah kakiku agar aku menyentuhmu. Masuklah. Malam ini, kau tidur di kamarku. Bersamaku."
Gea terpaku di tempatnya berdiri. Langkah pertamanya berhasil, ia berhasil mengamankan keluarganya dan kehormatannya untuk malam ini. Namun, berada di dalam satu kamar yang sama dengan serigala yang sedang kelaparan selama semalam penuh... apakah ia benar-benar akan selamat sampai fajar menyingsing? Dan apa yang akan dilakukan Andito selanjutnya setelah mengetahui bahwa Gea memegang rahasia terbesarnya?
