BAB 1 Perangkap Sang Mafia
Langit sore itu mendung, menggantung berat seolah tahu bahwa badai sesungguhnya sedang menanti di dalam hati seorang gadis bernama Gea. Gulungan awan hitam pekat bergerak lambat di atas langit Jakarta, menutup sisa-sisa cahaya matahari dan meninggalkan kesan suram yang mencekam. Di dalam gedung pencakar langit berlantai empat puluh itu, suasana tidak kalah dingin. Gea berjalan cepat melewati lorong kantor yang mulai lengang. Jam kerja telah usai setengah jam yang lalu, dan sebagian besar karyawan sudah bergegas pulang untuk menghindari kemacetan ibu kota. Namun tidak bagi Gea. Sepatu hak tingginya menimbulkan bunyi ketukan yang menggema tajam dalam kesunyian lorong, memantul pada dinding kaca dan lantai marmer yang mengilat.
Di tangan kanannya, Gea menggenggam erat sebuah map kulit berwarna hitam. Di dalamnya terdapat laporan bulanan divisi keuangan yang baru saja ia rampungkan dengan susah payah. Laporan yang diminta mendadak, tanpa peringatan, oleh sang atasan tertinggi di perusahaan ini—Andito Pramana. Mengingat nama itu saja sudah cukup membuat dada Gea berdenyut karena cemas.
Andito bukan pria biasa. Di atas kertas, ia adalah CEO muda yang jenius, tampan, dan karismatik dari salah satu perusahaan investasi terbesar dan paling berpengaruh di Indonesia. Wajahnya sering menghiasi sampul majalah bisnis, dipuji sebagai konglomerat masa depan. Namun, di balik dinding kaca kantor yang megah ini, ada realitas lain yang jauh lebih kelam. Bisik-bisik ketakutan di kalangan karyawan lama, serta desas-desus yang beredar di jaringan dunia bawah tanah, menyebutkan satu hal yang mengerikan: Andito Pramana juga seorang mafia kelas wahid. Pria itu adalah pemimpin dari sindikat berskala internasional yang tak tersentuh hukum, tak pernah gentar oleh ancaman apa pun, dan memiliki mata serta tangan di setiap sudut kota. Menentangnya sama saja dengan memesan tiket menuju kematian.
Gea berdiri di depan pintu kayu jati besar yang menjadi sekat menuju ruangan sang CEO. Tangannya terangkat, menggantung di udara selama beberapa detik. Ia ragu. Ia sangat berharap pria itu sudah pulang, atau setidaknya sedang berada di luar untuk pertemuan bisnis. Berada di satu ruangan yang sama dengan Andito selalu berhasil menguras seluruh energinya.
Tok! Tok! Tok!
Gea mengetuk pintu dengan ritme yang sebisa mungkin terdengar profesional, meski detak jantungnya sendiri sudah berpacu tidak beraturan.
"Masuk," terdengar suara berat dan dalam dari dalam ruangan. Suara itu begitu dingin, datar, namun sarat akan otoritas yang mutlak. Bagi Gea, suara itu terdengar seperti sebuah panggilan dari neraka yang tidak bisa ditolak.
Gea menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya dengan oksigen sebelum mendorong pintu berat itu terbuka. Di dalam, ruangan tersebut sangat luas namun terasa mencekam. Pencahayaan temaram menciptakan bayangan-bayangan panjang di lantai. Andito sedang berdiri membelakangi meja kerjanya yang luas, menatap keluar melalui jendela kaca besar yang memperlihatkan lanskap Jakarta yang mulai tertutup kabut kelabu dan rintik hujan. Jas hitam mahalnya terpasang rapi membungkus bahunya yang tegap, dan kemeja putih di dalamnya tampak bersih tanpa cela sedikit pun. Ia adalah definisi dari kesempurnaan fisik yang menipu.
Ketika mendengar langkah kaki Gea masuk, Andito membalikkan badannya secara perlahan. Tapi yang paling mencolok dan seketika membuat lutut Gea lemas adalah tatapan matanya saat pria itu menoleh. Mata elang yang tajam, gelap, dan mengintimidasi.
Itu adalah tatapan milik seorang pemburu yang telah mengunci targetnya.
"Laporanmu?" tanya Andito tanpa basa-basi, suaranya memotong keheningan ruangan.
Gea melangkah mendekat dengan kepala sedikit tertunduk, berusaha menjaga jarak aman yang profesional. "Ini, Pak. Semua data investasi dan audit bulan ini sudah saya lengkapi sesuai permintaan Anda," ujar Gea sambil mengangguk dan menyerahkan map di tangannya.
Namun, saat Andito mengulurkan tangan panjangnya untuk mengambil map tersebut, ujung jari mereka tidak sengaja bersentuhan. Kulit Andito terasa hangat, kontras dengan tangan Gea yang sedingin es. Sentuhan singkat itu mengirimkan sengatan aneh yang membuat tangan Gea sedikit gemetar. Ia segera menarik tangannya kembali, namun terlambat. Kejelian mata Andito tidak melewatkan reaksi sekecil apa pun.
Andito memperhatikan getaran itu. Sudut bibirnya terangkat, membentuk sebuah senyuman miring yang tampak berbahaya sekaligus mematikan. "Kau takut padaku?"
Gea menelan ludah secara paksa, berusaha menyembunyikan badai kepanikan di dalam dadanya. "Saya... hanya gugup, Pak. Ini pertama kalinya saya menyerahkan laporan langsung secara personal di jam seperti ini."
"Andito. Jangan panggil aku Pak jika kita hanya berdua," potong pria itu dengan nada yang tidak menerima bantahan.
Gea semakin menunduk, menolak untuk menatap langsung ke dalam manik mata pria itu. Hatinya benar-benar tidak nyaman. Ada sesuatu yang tidak beres malam ini. Ada energi yang berbeda, sesuatu yang predatoris dalam suara pria itu yang membuat seluruh bulu kuduk di leher Gea berdiri tegak. Insting wanitanya berteriak agar ia segera berbalik dan berlari keluar dari ruangan itu.
Andito membuka laporan itu sekilas, membalik halamannya tanpa benar-benar membaca angka-angka di sana. Detik berikutnya, ia menutup map itu dengan suara plak yang cukup keras, lalu meletakkannya begitu saja di atas meja kaca. Langkah kakinya yang berat mulai bergerak. Pria itu berjalan perlahan, melangkah memutar untuk mengitari tubuh Gea.
Setiap derap langkah sepatu pantofel Andito di atas lantai terasa seperti hitungan mundur bagi Gea. Jarak mereka mengikis. Pergerakan Andito yang lambat namun pasti membuat gadis itu semakin merasa terpojok, persis seperti seekor mangsa yang sedang dikepung di tengah arena oleh singa kelaparan. Takut, dan hanya ketakutan yang menguasai seluruh akal sehat Gea saat itu.
"Sekat pertahananmu sangat kuat, Gea. Sejak pertama kali kau menginjakkan kaki di kantor ini sebagai staf magang hingga posisi sekarang, aku selalu memperhatikanmu. Aku tahu kau berbeda dari wanita-wanita lain yang memuja uangku," bisik Andito saat posisinya kini tepat berada di belakang Gea, embusan napasnya terasa di dekat telinga gadis itu.
"Terima kasih, Pak... maksud saya, Andito. Saya hanya berusaha profesional dalam melakukan pekerjaan saya," jawab Gea dengan suara yang semakin gugup, jemarinya saling bertautan erat untuk meredam gemetar.
"Aku tidak peduli dengan pekerjaanmu, Gea," Andito melangkah maju lagi, kini berdiri tepat di hadapan Gea, mengunci seluruh ruang gerak gadis itu. Mata gelapnya menatap lurus ke dalam manik mata Gea yang kecokelatan. "Aku ingin kau."
Ucapan dua kata itu begitu lugas, tajam, dan seketika membuat seluruh dunia Gea berhenti berputar. Udara di sekitarnya seolah tersedot habis. Gea terpaksa menoleh ke atas, menatap wajah tampan pria itu dengan mata yang terbelalak lebar karena syok. Otaknya mendadak macet, berusaha mencerna untaian kalimat yang baru saja meluncur dari bibir atasannya. Apa tadi dia bilang? Ingin aku? Konyol, sangat konyol sekali. Ini pasti lelucon yang buruk, batin Gea menolak percaya.
"Maaf?" Gea memastikan, berharap kupingnya salah dengar akibat kelelahan bekerja lembur.
"Kau mendengar setiap kataku dengan jelas, Gea. Jangan berpura-pura bodoh. Aku ingin kau menjadi milikku. Sepenuhnya," ulang Andito dengan penekanan di setiap kata, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ekspresi bercanda. Itu adalah perintah mutlak dari seorang penguasa.
Gea reflex mundur satu langkah, namun punggungnya menyadari bahwa ruang di belakangnya sudah terbatas. "Bos, saya benar-benar tidak mengerti apa maksud Anda. Saya berada di sini murni karena ikatan kontrak kerja sebagai karyawan Anda. Tidak lebih."
Andito tidak membiarkan jarak itu tercipta. Ia maju selangkah lagi, memangkas ruang yang ada hingga wajah mereka hanya berjarak sejengkal saja. Aroma parfum maskulin yang mahal bercampur dengan aroma tembakau tipis langsung menyerbu indra penciuman Gea. Napas Andito yang hangat menerpa kulit wajah Gea yang mulai pucat pasi. Semakin merinding saja gadis itu saat itu, merasakan keintiman yang dipaksakan ini.
"Serahkan tubuhmu padaku, jadilah wanitaku yang patuh... atau, aku akan melenyapkan keluargamu dari muka bumi ini dalam sekejap."
Suasana ruangan berubah menjadi beku seketika. Kata-kata Andito barusan bukan sekadar gertakan kosong. Nada suaranya begitu dingin dan tenang, seolah ia baru saja membicarakan cuaca sore ini, bukan tentang mencabut nyawa manusia. Gea terpaku di tempatnya berdiri, seluruh otot tubuhnya membeku oleh ketakutan yang amat sangat. Darah di dalam tubuhnya seakan berhenti mengalir. Ia menggelengkan kepala perlahan, air mata yang sejak tadi ditahannya kini mulai menggenang di pelupuk mata, siap tumpah kapan saja.
Bagaimana mungkin situasi berubah menjadi seseram ini dalam hitungan menit? Ia tidak mungkin melakukan hal sebodoh itu, bukan? Pikiran Gea menjerit menolak. Dia berada di perusahaan ini untuk bekerja keras, memeras keringat demi membiayai pengobatan ibunya dan sekolah adiknya, bukan untuk menjajakan tubuhnya kepada pria hidung belang—sekalipun pria itu adalah atasannya yang berkuasa.
"Tolong Bos, saya tidak mau. Tolong lepaskan saya... Saya... saya masih suci," ucap Gea dengan suara yang tercekik oleh tangis, langkah kakinya yang lemas terhuyung menjauh, mencoba mencari celah untuk keluar.
Mendengar kata itu, Andito justru menyeringai. Sebuah binar kepuasan yang kejam terpancar dari matanya. "Suci? Justru fakta bahwa kau masih suci yang membuatmu jauh lebih berharga di mataku, Gea. Aku akan menjadi pria pertama dan satu-satunya yang menyentuhmu."
Gea terus mundur hingga akhirnya punggungnya menabrak dinding dingin di sudut ruangan. Ia menyandarkan seluruh bobot tubuhnya ke dinding tersebut, mencoba menjauh sejauh mungkin dari jangkauan Andito. Tapi ruangan CEO yang tadinya terasa sangat luas, kini terasa mengecil secara drastis, seperti sebuah kotak hitam yang siap menelannya hidup-hidup tanpa menyisakan jejak.
"Mengapa saya?" Gea berteriak parau, air matanya akhirnya luruh membasahi pipinya. "Dari semua wanita cantik, model, dan sosialita yang pasti bisa Anda dapatkan hanya dengan menjentikkan jari, kenapa harus saya, Andito?!"
Andito berjalan mendekat, menatap Gea yang kini tampak begitu rapuh bersandar di dinding. Ia mengangkat satu tangannya, membelai lembut helai rambut Gea yang terurai, namun sentuhan itu terasa seperti lilitan ular berbisa bagi Gea.
"Karena kamu berbeda," jawab Andito dengan suara rendah yang menghipnotis. "Matamu yang selalu memancarkan kejujuran, caramu bicara yang sopan namun penuh harga diri, sikapmu yang polos tapi tegas di depan orang lain. Semua itu membuatku penasaran. Dan aku sudah tidak tahan lagi melihatmu berjalan setiap hari di kantor ini, lewat di depan mataku, tanpa bisa kusentuh. Kau adalah obsesiku, Gea. Dan apa yang diinginkan seorang Andito Pramana, tidak pernah gagal didapatkannya."
Gea menangis. Namun, itu adalah tangis dalam diam yang penuh sesak. Tangisan tanpa suara yang menahan rasa sakit dan kehinaan yang teramat dalam di dadanya. Dadanya kembang kempis menahan sesak. Ia tahu betul siapa Andito. Melawan pria ini secara terang-terangan bukan perkara mudah, bahkan bisa berujung pada kematian tragis keluarganya. Tapi, menyerah dan menyerahkan kehormatannya begitu saja juga sama sekali bukan pilihan hidupnya.
Andito menarik tangannya dari rambut Gea, lalu menegakkan tubuhnya kembali. Ia melirik jam tangan Rolex emas yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Aku tidak suka pemaksaan yang kasar di malam pertama kita, jadi aku akan memberimu waktu untuk berpikir secara logis. Satu malam. Besok malam, jam delapan tepat. Datanglah ke apartemen pribadiku di Penthouse Sudirman. Aku akan mengirimkan alamat lengkapnya ke ponselmu." Andito berhenti sejenak, menatap Gea dengan tatapan dingin yang mematikan. "Jika kau tidak datang... kau tahu sendiri apa yang akan terjadi pada ibu dan adikmu yang sangat kau sayangi itu."
Setelah melemparkan ultimatum yang bisa menghancurkan seluruh sisa hidup seseorang dalam sekejap, Andito berbalik. Ia berjalan dengan langkah santai meninggalkannya, tanpa menoleh lagi ke arah Gea sedikit pun. Seolah-olah ancaman pembunuhan dan pemaksaan yang baru saja ia lakukan adalah hal yang biasa ia lakukan setiap hari. Pintu ruangan jati itu ditutup dari luar dengan suara pelan yang halus, namun gema dari ancamannya masih terus berdengung keras di dalam kepala Gea, merusak seluruh ketenangannya.
Begitu pintu tertutup, kekuatan di kaki Gea benar-benar hilang. Tubuhnya merosot jatuh. Gea terduduk di atas lantai marmer yang dingin, memeluk kedua lututnya sendiri dengan erat. Seluruh tubuhnya menggigil hebat. Ia tahu, getaran ini bukan karena dinginnya suhu pendingin ruangan kantor, melainkan karena rasa takut yang teramat dalam, rasa takut yang mencengkeram hingga ke tulang-tulangnya.
Hidupnya yang tenang dan sederhana baru saja berubah total dalam satu kedipan mata. Dunia yang ia kenal selama ini tidak lagi terasa aman. Orang yang selama ini ia hormati sebagai atasan yang berwibawa dan berprestasi, ternyata adalah seekor iblis kejam dengan topeng wajah manusia yang tampan.
Namun, di tengah badai ketakutan yang luar biasa dan air mata yang terus membasahi wajahnya, sebuah riak emosi lain mulai muncul di dalam dada Gea. Kilatan amarah yang selama ini terpendam perlahan menyala. Gea mencengkeram kemejanya sendiri, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan degup jantungnya.
Ia tidak akan menyerah begitu saja.
Jika Andito Pramana mengira bisa mempermainkan hidupnya, memerasnya dengan nyawa keluarganya, dan memperlakukannya seperti barang pajangan yang bisa dibeli dengan ancaman, maka pria itu belum tahu siapa diri Gea yang sebenarnya. Gea bersumpah di dalam hatinya yang paling dalam, entah bagaimana caranya, ia akan menemukan jalan keluar dari perangkap mematikan ini. Ia akan mengumpulkan bukti, mencari celah, atau bahkan bersekutu dengan musuh Andito jika diperlukan. Dan ketika hari pembalasan itu tiba, ia akan memastikan pria arogan itu berlutut dan menyesali keputusannya dalam-dalam.
Namun, untuk sekarang, dengan waktu yang terus berjalan mundur menuju jam delapan besok malam... satu-satunya pilihan rasional yang ia miliki demi melindungi keluarganya... adalah bertahan dan masuk ke dalam sarang sang iblis.
