Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 05. Kemenangan Sesaat

Klang... Boom...

Setiap benturan menciptakan lubang kecil di tanah.

Pertarungan berlangsung cepat dan brutal.

Tidak ada yang terbang.

Tidak ada yang menjauh.

Mereka bertarung di atas tanah yang terus retak dan hancur.

Luo Han tiba-tiba merendahkan tubuhnya dan menyapu kaki Lin Feng.

Lin Feng melompat rendah dan menghindar dengan mudah.

Namun saat mendarat, pedang kedua Luo Han sudah menebas dari samping.

Slash...

Lengan Lin Feng tergores dan darah muncrat keluar.

Di saat bersamaan, Pedang Api Langit juga menembus pertahanan Luo Han dan meninggalkan luka bakar di dadanya.

Ssssh...

Bau daging terbakar memenuhi udara dan mereka kembali mundur beberapa langkah.

Keduanya terengah tipis.

Para murid Aliansi Naga Hitam terdiam.

Mereka tidak menyangka Luo Han akan bertarung seimbang dengan bocah itu begitu lama.

"Kamu benar-benar membuatku marah, bocah!."

Luo Han menghapus darah di sudut bibirnya dan meraung marah.

Aura hitam di sekelilingnya mulai berputar seperti pusaran.

Traakk Traakk...

Petir Hitam menyambar di antara pedang kembarnya.

"Teknik Rahasia Sekte Petir Hitam, Tubuh Petir Gelap!"

Traakk...

Petir Hitam menyelimuti seluruh tubuhnya.

Ototnya mengencang, napasnya berubah berat.

Setiap langkahnya meninggalkan bekas gosong.

Seketika itu jiga, Lin Feng merasakan tekanan meningkat drastis.

"Baik. Karena kamu sudah serius, Aku juga akan serius."

Tanpa ragu, Lin Feng juga melepaskan kekuatan puncaknya.

"Mari kita lihat siapa yang mati lebih dulu."

Teriak Luo Han melesat.

Kali ini kecepatannya hampir tidak terlihat.

Boom...

Tanah meledak di belakangnya dan meninggalkan lubang.

Slash...

Tebasan pertama dilepaskan dan Lin Feng terlempar beberapa meter.

Belum sempat berdiri tegak, Luo Han sudah muncul lagi di sampingnya.

Slash... Slash...

Serangan beruntun menghujani tanpa celah.

Lin Feng memblokir sebanyak mungkin.

Namun, setiap benturan membuat lengannya mati rasa.

Ternyata kekuatan Luo Han jauh lebih besar dari yang dia bayangkan.

"Sudah cukup!"

"Tinju Pembakar Langit!"

Setelah ditekan terus-menerus, Lin Feng meraung dan meninju Pedang Kembar Luo Han.

Bomm...

Ledakan besar menggema dan Luo Han terlempar hampir 10 meter.

Whush...

Sebelum Luo Han menstabilkan tubuhnya, Lin Feng telah muncul di belakangnya lebih dulu.

"Tinju Kaisar Api!"

Bomm...

Satu pukulan mendarat telak di punggung dan melempar Luo Han sekali lagi.

Pffttt...

Luo Han menyemburkan darah setelah mendapatkan 2 serangan berturut-turut.

"Bajingan. Kenapa bocah ini kuat sekali?"

Umpat Luo Han menyeka darah di mulutnya.

Dhuaarrr Dhuaarrr...

"Hancurkan mereka!"

Sementara itu di sekitar mereka, pasukan bantuan dari Aliansi Kerajaan juga tiba di sana.

"Mundur!"

Menyadari pasukan bantuan lawan sudah tiba, Ketua Mo segera menarik mundur pasukan Aliansinya.

"Mundur! Mundur!"

Seruan mundur pun menggema di tengah medan pertempuran.

"Kita akan bertemu lagi, Bocah. Jangan mati terlalu cepat."

Whush...

Karena pasukannya sudah bergerak mundur, Luo Han juga tidak tinggal lebih lama.

Dia menatap Lin Feng dan bergerak mundur juga.

Pffttt...

Setelah Luo Han pergi, Lin Feng akhirnya tidak menahan diri lagi dan menyemburkan darah.

Ternyata sejak tadi dia menahan diri agar Luo Han tidak mengetahui kondisinya.

"Menang! Kita menang!"

Tuuutt Tuuutt...

Sorakan dari pasukan Aliansi Kerajaan pun pecah dan menggema di medan perang.

Akhirnya mereka berhasil memukul mundur pasukan musuh juga.

"Kamu tidak apa-apa, Anak Muda?"

Saat Lin Feng muntah darah, seorang Tetua mendekat dan menanyakan kondisinya.

"Aku baik-baik saja."

Lin Feng mengangguk ringan dan menyeka darah di mulutnya.

"Di usia yang begitu muda, Kamu sudah menahan dan melukai ahli Langit."

Pria paruh baya itu menatap Lin Feng dengan kekaguman.

"Aku hanya beruntung."

Jawabnya singkat dan meninggalkan medan perang.

Dia ingin mencari tempat beristirahat dan memulihkan kondisinya.

Bertarung dengan lawan yang ranah lebih tinggi itu menguras kekuatannya.

Langkah Lin Feng terasa berat saat meninggalkan medan perang.

Luka di lengan dan di bahunya masih mengeluarkan darah tipis.

Tekanan dari 'Tubuh Petir Gelap' milik Luo Han ini benar-benar luar biasa.

"Kalau dia memaksa bertarung sampai akhir, Mungkin aku yang jatuh lebih dulu."

Lin Feng menghembuskan nafas pelan saat mengingat pertarungannya dengan Luo Han.

Namun, dia tidak menyesal turun tangan.

Melihat lambang Naga Hitam, amarahnya memang sulit ditahan.

Setelah masuk kedalam Kota, ternyata Kota itu bernama Kota Langit.

Sebuah Kota perbatasan Kerajaan Yan yang selalu menjadi sasaran Aliansi Naga Hitam.

Bangunan di bagian barat telah porak poranda karena pertempuran.

Karena hari mulai gelap, Lampion juga mulai dinyalakan satu persatu.

Orang-orang yang sebelumnya bersembunyi juga keluar dari persembunyian mereka.

Tangisan, tawa lega dan suara memanggil keluarga bercampur menjadi satu.

Tidak ingin menarik perhatian, Lin Feng menarik tudung jubah dan berjalan menyusuri jalan utama.

Beberapa saat kemudian, dia berhenti di depan bangunan 3 lantai yang masih utuh.

"Penginapan Awan Tenang"

Lin Feng mendongak dan membaca Papan kayu di atas pintu.

Saat melangkah masuk, dia melihat para prajurit Aliansi Kerajaan sedang memulihkan diri juga..

"Apa kamu juga dari medan perang, Anak Muda?"

Tanya seorang pria tua mendekat.

"Aku butuh kamar yang tenang."

Lin Feng mengangguk ringan.

"Masih ada kamar di lantai 2. Silakan ikut aku."

Pria tua membawa Lin Feng naik ke kamar.

Setelah berada di dalam kamar, Lin Feng segera mengeluarkan Pil dan menelannya.

Yaitu Pil Pemulih dan Pil Pengumpul Qi.

Glup...

Lin Feng menelan satu Pil Pemulih lebih dulu.

Begitu Pil itu larut di tenggorokan, sensasi hangat langsung menyebar.

Energi lembut merambat ke luka di bahu dan lengan.

Rasa perih berkurang dan luka luar tertutup semuanya.

Menjelang tengah malam, Lin Feng menelan Pil Pengumpul Qi dan mengembalikan kekuatannya.

Menjelang pagi.

"Akhirnya luka ku telah pulih semua. Kekuatan ku juga sudah kembali semua."

Lin Feng membuka mata dan bergumam pelan.

Karena pakaiannya masih menyisakan bercak darah dari kemarin, Lin Feng bangkit dan pergi membersihkan diri.

Beberapa saat kemudian, pemuda ini kembali dengan lebih segar dan lebih tampan.

"Sudah lama aku tidak makan makanan enak. Sepertinya tidak ada salahnya makan enak hari ini."

Lin Feng tersenyum dan berencana makan enak di Restoran.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel