Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 9 Bertarung di apartemen

Keesokan harinya

Dendra sudah berpakaian rapi akan segera berangkat ke kantor perusahaan nya sendiri. Tiba-tiba Nurma sudah menunggunya diruang tamu.

"Loh kok kamu disini pagi pagi gini?" Tanya Dendra terkejut

"Iya dong kan aku mau ngenalin diriku ke pegawai kamu di kantor," jawab Nurma.

"Emang kau ngenalin apa, apakah mereka perduli?" Dendra tersenyum agak sinis.

"Yah pasti perduli lah Kan aku calon istrimu," jawab Nurma antusias.

"Siapa yang bilang gitu Nurma. Aku gak ada perasaan apa apa ma kamu, jadi tolong hargai aku,"

"Hmm. Tapi boleh gak aku ikut ke kantor?" Nurma memaksa

"Terserah kamu aja," Dendra berjalan cepat dan memasuki mobilnya disusul Nurma.

"Kamu kan bawa mobil sendiri Nur," Dendra merasa risih berdekatan dengan perempuan ini.

"Gak apa-apa kan please,"Nurma memohon dengan sikap manjanya.

"Kamu sudah ketemu dengan Mama?"

"Udah Aku Uda izin mau ikut kekantor bersamamu," jawab Nurma dengan perasaan riang gembira

"Ya sudah baiklah. Tapi jangan bikin kegaduhan di kantor ya?"Nurma mengangguk beberapa kali

Mobil berjalan dengan kecepatan standartnya. Sepanjang perjalanan Nurma berbicara tiada habisnya. Hingga Dendra enggan menjawabnya.

Saat Dendra diam tubuh Dendra malah di koyak-koyakkan Nurma. Sampai Dendra hilang kendali.

"Nurma Tolong jangan ganggu aku, aku lagi fokus menyetir," Gerutunya dengan emosi tersulut.

"Maaf dech Den. Aku akan diam sampai perusahaan kamu," Nurma menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

"Dasar gadis ini," Dia tersenyum senyum sendiri di hatinya.

"Syalalahmmmm," Nurma mulai bernyanyi. Entahlah terserah dia, asal dia tidak menggangguku menyetir.

"KASIH PEGANG LAH TANGANKU,

DAN TATAP MATAKU,

BETAPA AKU MENCINTAIMU

KATAKANLAH SAAT INI SAYANG,

BAHWA KU HANYA MILIKMU

HOOH,"

By salju Band

Dendra melirik wanita itu, sebenarnya lucu. Tapi selalu banyak menyebalkannya.

"Kenapa lirik-lirik? Awas jatuh cinta," ucapnya dengan cemberut dan mengulang lirik lirik lagu dari Salju Band dengan judul Kasih itu.

Hmm, Lumayan buat pengganti audio.

Sampainya di perusahaan besar Wangsa Wardana.

Orang orang kantor berkerumun dan berbisik bisik tentang mereka. Mereka pikir Nurma adalah kekasih barunya. Karena dari turun mobil, dia tidak mau melepaskan tangannya di lengan Dendra. Dendra segera melepaskannya dengan paksa.

"Jahat banget sih Kamu,"

"Udalah gak usah banyak drama, kalau kamu mau balik pulang aku pesankan taksi online," kata Dendra dan Nurma menggeleng.

"Pagi Pak. Pacar baru nih Yee," Suara itu tidak malunya dengan atasan.

"Tidak dia temanku. Dia ingin main kekantor," terangnya gelagapan.

"Gak percaya Deh. Dari tadi kami perhatikan kalian nempel terus kaya perangko," ucap salah satu staf

"Jangan bicara macam-macam ya ," gertak Dendra.

"Baik Pak maafkan kami,"

Dalam grup what app perusahaan Wangsa Wardana masuk satu pesan.

"Clinkk"

"PAK DENDRA HARI INI DATANG BERSAMA PACAR BARUNYA. Perempuan ITU CANTIK DAN SEXY. SEXYNYA Mengalahkan SABRINA," Pesan itu mewakili seseorang untuk menyebarluaskan sebuah info.

"Tapi kata Pak Dendra, Dia cuma teman saja,"

"Halah pasti ditutup-tutupin,"

"Sepertinya perempuan itu saja yang cari muka,"

Grup ramai memperbincangkan keduanya. Biasalah para ladies belum tahu kebenarannya main ngasih informasi yang tidak akurat suka gibah.

Dikantor Dendra, Nurma melihat lihat isi dan dekorasinya. Sangat mendetail dan elegan.

"Aku suka desainnya,"

"Siapa yang tanya?" Dendra acuh

"Jangan kejam kejam dong Ndra ma aku, aku ini perempuan loh punya hati punya perasaan. Kalau perkataanmu terus pedas terhadapku, aku juga bisa bersedih," keluhnya membuat Dendra tidak tahan melihat sifatnya.

"Baik baik. Kamu maunya Gimana? aku banyak pekerjaan jangan ganggu aku dulu oke?"

"Ya udah aku duduk duduk di sofa sana nunggu kamu kerja," Nurma berjalan lemah gemulai meletakkan tubuhnya di sofa dengan bersandar.

"Oh ya satu lagi," kata Nurma

"Stttttttttttt!"

Dendra meletakkan jari telunjuknya di bibirnya. Memberi kode Nurma harus diam.

"Oke oke,"

Denda tersenyum kecil, Dan melanjutkan pekerjaannya lagi.

Dendra menyambungkan telephon ke nomer telpon ruangan Sabrina. Namun tidak ada jawaban .

Kembali ia menghubungi nomer telepon manajernya hasilnya pun sama. Tidak ada jawaban.

"Kemana kedua orang ini saat aku butuhkan,"

Dendra sedikit kesal terhadap mereka berdua .

Suara ketokan pintu,

"Masuk lah,"

"Maaf Pak, manajer dan sekretaris Bapak absen tidak memberi kabar,"

"Kemana dua orang itu. Seperti kantornya sendiri saja. Tidak masuk kerja tanpa alasan," Dendra mulai emosi. Tidak biasa ya dia tidak bisa meredakan amarah seperti ini.

Sementara di apartemen Manager Surya,

Keduanya Terkulai lemas di Ranjang empuk milik Surya.

"Permainanmu memang aku akui Hebat . Durasimu sangat panjang. Hingga aku kewalahan menghadapimu," Ucap Sabrina pada Surya. Dia tidak begitu menyesal. Karena Surya tipe pria yang tampan dan tajir. Gairahnya melebihi Rasta.

"Ia. Sama kamu juga sangat mengimbangi aku. Istriku saja tidak tahan berlama lama bermain denganku. Sampai aku harus berkali kali membeli wanita lain demi memuaskan nafsuku yang bergejolak tapi tak tersalurkan. Malam ini begitu menakjubkan. Aku merasa puas denganmu. Kalau aku butuh tubuhmu. Aku ingin membelimu lagi," ucap Surya melempar berpuluh puluh lembar di atas ranjang hingga Tercecer kelantai. Segera Sabrina memungutinya,"

"Tentu sayang," jawabnya dengan Memakai handuk dan segera berjalan ke kamar mandi didalam ruangan .

Surya memeluk tubuh Sabrina dari belakang. Mengecup lehernya hingga Sabrina merinding, Surya menarik ujung pengait handuk dan akhirnya Sabrina terlihat tanpa busana lagi.

"Aku ingin lagi. Please," suaranya berbisik ditelinga Sabrina dari belakang.

Surya menggenggam erat kedua buah yang menonjol itu dan memainkannya dengan lembut.

Tiba-tiba Ponsel Surya berdering. Dan dengan segera ia mengambil dan mengangkatnya.

Dia melihat nama si penelphon. Pak Dendra.

"Aku lupa ngasih kabar bohong pada kantor, Sial"

"Halo Pak Selamat pagi,"

"Kamu dimana?" Tanya pria diseberang telephon.

"Maaf Pak sebelumnya saya lupa meminta izin Bapak. Kalau istri saya sedang sakit. Saya minta izin tidak masuk kerja,"

"Oh seperti itu ya sudah tidak apa-apa. Semoga cepat sembuh,"

"Terima kasih Pak," Surya menutup telphonnya.

Ponsel Surya kembali berbunyi, Dia terkejut saat melihat nama dibalik ponsel yang ia pegang.

"Istriku,"

"Halo Ia Ma,"

"Pa, tadi aku telepon kantor Papa. Katanya Papa tidak masuk kerja. Papa sakit ya?"

"Iya Ma. Cuma sedikit pusing,"

Sabrina senyum senyum melihat kebohongan Surya.

"Mama sekarang dimana?" Lanjut tanya Surya.

"Mama ini sudah di apartemen, mau jalan masuk lift," kata Istri Surya. Betapa terkejutnya Surya saat tahu istrinya sudah di Apartemen dan berjalan ke kamarnya.

Surya separuh menutup ponsel bagian bawah Dan berbisik pada Sabrina supaya cepat memakai baju karena istrinya di apartemen itu.

"Ya sudah aku tutup telepon nya Ma,"

"Cepat sayang. Kau harus keluar dari sini !" Ucap Surya ketakutan.

Sabrina yang sudah memakai baju segera merapikan rambutnya dan keluar bersama uang pemberian Surya di tasnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel