
Ringkasan
Dendra Seorang pemuda yang terlahir dari keluarga kaya raya, memiliki perusahaan besar bergerak dibidang textile Mempunyai beberapa pabrik besar memproduksi sepatu tas jaket dll. Suatu hari dia bertemu dengan gadis cantik berambut panjang berkulit putih pendiam. Dia bernama Amelia, Dendra tertarik dengan gadis yang sebenarnya adalah gadis kembaran dari kekasihnya Adelina, kekasih Dendra yang sampai saat ini hilang misterius. Adelina meminjam raganya untuk sebuah tujuan. Amelia sengaja membuat Dendra jatuh cinta karena ingin membalaskan sebuah dendam. Karena cinta yang tidak direstui. Cover by pixel
Bab 1 Pembunuhan
"Kenapa kalian membawaku secara paksa kesini?"
"Sudah aku bilang, kamu itu tidak pantas buat adikku Dendra! Kenapa sih bersikeras ingin menikah dengannya, papaku juga tidak menyetujuimu?" Tanya Rasta memegang dagu Adelina, tunangan adikknya. Lalu melepasnya dengan keras
Dengan tangan terikat dibelakang tubuhnya, Adelina meminta pertolongan. Tidak satupun yang mendengar suaranya. Mereka membawanya ke hutan. Didalam gudang tua yang mereka buat sendiri.
"Lepaskan aku Kak! Tolong lepaskan aku!" Suaranya sudah serak tidak bisa lagi berteriak
"Hahaha... Berteriaklah dengan keras, tidak akan ada yang akan menolongmu apa lagi adikku, aku ingin menikmati tubuhmu dulu"
Dengan beringas Rasta melihat kemolekan tubuh Adelina yang begitu menggoda.
Dia lucuti semua pakaiannya, tanpa sehelai benangpun.
"Apa yang akan Kakak lakukan padaku, hentikan Kak!" pintanya dengan menangis sejadi-jadinya. Melihat tubuhnya sudah tidak tertutup kain lagi. Keempat orang itu melihatnya dengan wajah nakalnya.
Pria itu sudah tidak bersuara, hanya gerakan tangannya yang berbicara dengan paksa.
"Jangan lakukan itu Kak!" Suara Adelina mulai tak terdengar keras lagi
Rasta mendorong tubuh wanita malang itu, hingga terjungkal kelantai. Memudahkan dirinya menjalankan aksinya.
"Kalian keluar dulu. Aku ingin menikmatinya terlebih dahulu!" Katanya pada empat anak buahnya. Mereka keluar dan membiarkannya bermain.
Semua pakaian yang dia kenakan dilepas, mendekati tubuh Adelina yang masih terbaring dilantai.
Bibirnya yang merah merona, dihabiskan oleh Rasta yang hasratnya sudah diubun-ubun.
Dengan permainan gilanya, Adelina merada kesakitan. Tidak ada lembutnya dia menyentuh wanita itu.
"Kak, hentikan ini Kak!" Pinta Adelina, pemintaannya tidak diindahkan Rasta.
Dia tetap memuaskan nafsunya sendiri, hingga dipenghujung dia akan memberikan pusakanya pada wanita itu
"Argggghh.... Sakit" rintih Adelina, tak berapa lama darah tercecer ke lantai.
Rasta tidak perduli dengannya, dengan hentakan tubuhnya yang terus menyerang wanita itu, dia sudah menyelesaikan semuanya .
Bergegas dia memakai pakaiannya, dan menyuruh anak buahnya masuk. Tanpa ada rasa belas kasihan.
Sekitar 30 menit lamanya, mereka keluar bersama Papanya yang baru datang.
"Bagaimana?"
"Sangat puas Boss!" Jawab anak buah pria itu.
"Cepat pakaikan dia baju. Dan segera kita lemparkan ke jurang sana!" Perintah Rasta
"Sampai dijurang, Adelina memberontak. Tapi apa daya tenaga wanita melawan enam orang pria tidak akan menang".
"Maaf ya Adelina sayang, kamu harus mati!"kata Wardhana bersama anak buahnya melemparkan tubuh Adelina kejurang.
"Cepat tinggalkan. Tempat ini!"
****
Dendra Aditya Wardana. Putra bungsu dari keluarga Wardana. Memiliki perusahaan besar di Kota Surabaya. Beberapa pabrik yang bergerak dibidang textile memproduksi tas, jaket, sepatu sebagian dari beberapa pabrik itu adalah milik ayahnya.
Kekayaannya yang tidak akan bisa habis sampai tujuh turunan.
Wardana adalah nama ayah dari Dendra. Dia memiliki kakak laki-laki bernama Rasta Aditya Wardana. Kedua kakak beradik ini memiliki sifat berbeda.
Dendra memiliki sifat yang baik, ramah, sopan, pemaaf, tidak membeda-bedakan dan penuh kasih. Sedangkan Rasta dia pria yang arogan, pemarah, keras kepala dan tidak suka dengan kegagalan. Semua yang bekerja bersamanya harus profesional. Tapi dia sering main perempuan. Utamanya dengan sekretaris pribadinya.
Sifat itu menurun dari sifat ayahnya. Jika seseorang yang tidak pernah bertemu dengan mereka, sekilas seperti kembar tapi yang membedakan dari mereka adalah Dendra bermata biru, sedangkan Rasta tidak.
Dua tahun belakangan ini Dendra absen dari perusahaan. Semua pekerjaan nya di gantikan Rasta, dia yang menjalankan perusahaan itu sendiri. Sedangkan ayah Dendra menjalankan perusahaan yang lain khususnya di pabrik. Setiap harinya dia pasti kesana.
Dendra makin hari makin terlihat kurus. Bagaimana tidak, makanpun jarang. Jika tidak dipaksa ibunya dia tidak akan ingat dengan yang namanya nasi.
Kekasihnya yang menghilang tanpa jejak. Entah gadis itu dimana sekarang. Hingga Dendra benar benar kehilangan akal sehatnya. Dia hampir frustasi. Begitu cintanya dia dengan perempuan itu.
Tidak ada satupun perempuan didunia ini yang dapat menggantikannya cuma dia Adelina yang sangat dia cintai. Sudah banyak perempuan yang diperkenalkan Ibunya beberapa diantara nya adalah anak dari teman-teman dekatnya, Putri dari rekan bisnis ayahnya, entah siapa lagi. Tetap Dendra tidak menggubrisnya.
Kesehariannya hanya dilakukan dengan duduk berdiam diri diatas balkon rumah, diteras rumah, menunggu seseorang akan datang menemuinya. Yah, dia Adelina. Tapi sudah lama dia melakukan itu. Tiada gunanya. Percuma dia tidak akan datang kembali padanya.
Muka yang sering tertekuk seperti itu membuat ibu Dendra bersedih, bagaimana dia bisa melupakan gadis itu. Masa depannya masih panjang, masih banyak yang harus dia kerjakan. Termasuk perusahaan yang sudah terbengkalai.
Entah kemana perginya gadis itu, sampai orang tuanyapun tiada tau. Pakaiannya juga masih tertata rapi dilemarinya. Tidak memberikan alasan apapun akan kepergiannya.
Orangtua Adelina sama sedihnya dengan Dendra. Karena sebelumnya mereka akan melangsungkan pertunangan yang tinggal beberapa hari. Satu pasang cincin berada ditangan Dendra. Cincin itu yang membuatnya sedih hingga berlinang air mata.
Teringat masa-masa indah bersamanya yang tidak akan mudahnya untuk dilupakan.
Saat Dendra menggoda gadis itu hingga merengek dan akhirnya menangis. Dendra sangat suka mengerjainya habis-habisan. Namun Itu dilakukan semata-mata karena dia mencintainya.
Jika mengingat kejadian itu dia akan tersenyum-senyun sendiri. Dan ibunya yang menyaksikan itu melihat bahwa apakah dia harus membawanya ke rumah sakit jiwa.
Tegakah seorang ibu sampai memasukan anaknya sendiri ke sana . Ibu Dendra, Mira tidak sampai hati.
Mira menghampiri anaknya, Dendra. Memeluk erat Dendra yang duduk diam dikursi teras rumah. Tanpa disadari dia terisak dan menjatuhkan air matanya.
"Anakku sayang, kenapa kau tidak menyudahi semua ini. Mama tidak kuat jika setiap hari melihat mu seperti ini. Lebih baik kau bunuh mama saja sekarang ".
Dendra menatap wajah mamanya itu. Tidak sepatah katapun terucap dari mulutnya.
Dari arah gerbang terlihat sebuah mobil memasuki pekarangan rumah Wardana . Seorang perempuan cantik bertubuh tinggi, putih memakai sepatu hak tinggi, dengan tas selempangnya turun dari mobil berwarna merah.
Dia berjalan kearah mereka. Dia adalah Nurma perempuan yang sering datang ke rumah Dendra untuk mengajak Dendra mengobrol. Yang sebenarnya dia hanya mengincar harta milik keluarga Wardana.
Dalam hati sama sekali dia tidak menginginkan pria gila itu fikirnya. Kenapa perempuan cantik seperti dia harus mau dengan seorang yang sudah hilang akal seperti Dendra.
Kalau tidak dipaksa oleh Ayahnya dia tidak akan melakukan hal semacam ini. Dia harus mencuri hati pria tidak waras itu.
"Siang, Tante. Bagaimana dengan keadaan Dendra sekarang. Apa sudah ada perubahan?" tanya Nurma berlagak peduli dengan kodisi Dendra
Mira hanya menggelengkan kepalanya dan terlihat sedih.
"Tidak ada perubahan apapun Nur," jawab Mira berlari meninggalkan mereka berdua. Mira sudah tidak kuat dengan kesedihanya
"Hai Dendra, mau gak jalan-jalan sama aku. Kita bisa melihat pemandangan luar yang indah. Apa kamu tidak bosan mengurung dirimu dirumah ." Cihh siapa sudi ngajak pria kurang waras seperti dia. Apa kata temen-temenku kalau Samapi mereka tau kalau aku sedang jalan sama pria ini. Cibir Nurma Dalam hati.
Dia ingat kata ayahnya. Kalau dia bisa menikah dengan pria ini. Dia akan mendapatkan sebagian kekayaan keluarga Wardana.
Karena sekarang ini bisnis Ayahnya sedang dalam kondisi kritis. Dan terancam bangkrut. Jadi tidak pilihan lain selain menuruti keinginan ayahnya itu . Dan ia juga tidak siap untuk jatuh miskin.Hidup terlunta-lunta dijalanan.
Dendra mengacuhkan wanita disampingnya itu, sama sekali tak menolehpun kearahnya. Membuat Nurma geram sendiri dalam hatinya.
Nurma bertanya dengan serius .
"Kamu mau tidak menikah denganku ?" tanpa basa-basi dia meluncurkan kata itu.
Dalam hati Dendra sebenarnya sadar dengan ucapan wanita itu. Tapi dia enggan untuk meladeninya.
Dia memilih masuk ke dalam rumah berjalan menuju kamarnya dan menutup pintu kamarnya. Dia tidak ingin diganggu siapapun.
Dendra tau, maksud kedatangan Nurma dalam hidupnya. Dia hanya ingin harta dari keluarganya saja . Banyak wanita seperti Nurma yang telah dia temui. Sifat asli mereka Dendra sudah mengetahuinya.
Satu-satunya perempuan yang tulus mencintainya hanya Adelina. Meski dia bukan dari keluarga terpandang. Tapi Dendra mencintainya dengan kesegala kesederhanaannya.
Hari berikutnya, Mira lewati dengan sama.
Saat mamanya berkata ataupun bertanya
Sama sekali dia tidak merespon. Keluh mamanya pasrah
Asisten rumah tangga Mira datang untuk memberi tahu Mira, bahwa makanannya sudah siap. Lalu dia kembali ke dapur.
Mira memegang tangan Dendra , menyeretnya pelan untuk mengajak nya makan siang.
Dendra menggeleng kan kepala. Sinta sudah tidak tahu harus bagaimana lagi dengan anak itu. Dia masuk kedalam rumah dan kembali dengan membawa sepiring roti dan segelas susu ditangannya.
"Mama akan menyuapimu. Sekarang buka mulutmu." Dendra menatap lagi wajah mamanya. Difikirkannya sudah ada secercah harapan. Dia harus bangkit.
Kalau dia terus menerus seperti ini kehidupan yang dia jalani tiada berguna. Kemungkinan jika dia keluar dari keterpurukannya ini dia akan bertemu dengan Adelina diluar sana.
"Biar aku makan sendiri , Ma. Mari kita pergi ke meja makan dan makan bersama di sana." ucapan itu membuat Mira terkejut tidak percaya dengan yang dia dengar baru saja.
Mira tersenyum lebar dan memeluknya dengan erat.
" Apa aku sekarang sedang bermimpi ?" Mira menepuk pipinya dengan kedua tanganya. Masih tidak percaya. Hampir dia pesimis dan akan membawanya ke rumah sakit jiwa.
