Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 10 Bermalam dengan uang

Surya menciumnya lalu menyuruhnya pergi.

"Emmuachh bye sayang, aku akan selalu siap melayanimu, kapanpun kamu butuh tubuhku. Aku akan memuaskanku hingga kamu kapok. Ha haha," Sabrina berucap masih sempatnya tertawa.

"Aku pegang ya kata katamu! Kalau aku lagi butuh kamu dan kamu gak bisa melayaniku, aku akan seret kamu," Goda Surya.

"Mau seret kemana Sayang?"

"Akan aku seret ke kamar. Dan dilarang ada penolakan,"

"Uh takuut tapi mau," Katanya dengan nada manja.

"Ih gadis perayu," Ucap Surya dengan mencubit pipinya Sabrina gemas.

"Udah. Udah aku mau keluar, mampus kepergok binimu mas," Akhirnya dia buka pintu dan keluar dari Apartement kamar itu.

"Huuft selamat," Katanya mengelus dada

Dipintu lift yang akan segera terbuka, Sabrina melihat seorang wanita milenial dengan kacamata diatas kepalanya, membawa tas bermerk terkenal.

Dan wanita itu juga mengamati perempuan didepannya yang terlihat acak-acakan. Dengan acuh dia tidak menyapanya. Sampai di kamar no 235 Apartement dimana Surya menginap.

"Sayang aku pulang," Sapa istri Surya membuatnya terkejut. Hampir jantungan.

"Huuuufftt," Surya bernafas panjang.

"Sayang. Kamu tidak enak badankah? Kok libur kerja nya?" Tanya Caroline istrinya.

"Iya Sedikit pusing. Kepalaku, aku mau istirahat," Ucap Surya menutupi kebohongannya.

Surya berpura pura menutup tubuhnya dengan selimut.

"Aku buatkan bubur ayam hangat dulu kamu istirahat saja dulu,"

Caroline menuju arah dapur. Dan mulai membuatkan bubur ayam kegemaran Surya saat lagi tidak enak badan untuk suaminya. Setelah jadi dia membawanya dikamar tidur.

"Sayang ayo bangun makanlah bubur ayam ini," Perintah Carolina.

"Bentar yang masih ngantuk berat nih," Surya masih sangat mengantuk berat. Dikucek kucek matanya yang menyipit.

"Segeralah bangun. Bubur ayamnya mumpung masih hangat Pa," Suruh Caroline dengan mengoyak koyakkan tubuhnya hingga. Surya benar benar duduk dan memejamkan matanya dengan lebar.

"Masih ngantuk Ma. Tadi disuruh tidur. Sekarang disuruh bangun. Kepala Papa makin puyeng. Mana sekarang buburnya," Caroline segera menyendokkan sesendok bubur dari kuah santan dan ditabur dengan irisan ayam dan abon dari mangkuk kecil.

Sesuap demi suap akhirnya bubur itu habis. Seperti menyuapi bayi dengan lahapnya Surya hingga tak tersisa.

Caroline memegang dahi Surya. Merasakan suhu tubuh suaminya.

"Tidak panas," gumamnya

"Ia kan yang sakit kepalaku," Ujar Surya menghela nafas.

"Iya juga sih, nih obat sakit kepala minumlah segera. Setelah itu kamu bisa beristirahat kembali," Ucapnya Carolina.

"Makasih Sayang, kamu pengertian banget," Kata Surya mebuat Carolina hatinya membumbung tinggi ke angkasa lepas.

"Tentu dong apa gunanya istri,"

Surya mencium kening Caroline sebelum dia ke dapur lagi membersihkan mangkuk tadi beserta gelasnya.

Saat kembali Surya sudah tertidur pulas.

"Pasti dia lelah sekali,"

Caroline mengambil sapu dan membersihkan ruangan apartment itu.

Saat sapu menyeret dari bawah ranjang, dia mendapati celana dalam suami tergeletak di bawah sana.

"Kenapa yang seperti ini dibuang disembarang tempat gini sih. Jorok banget, Padahal kan ada keranjang baju kotor disebelah kamar mandi sana," Caroline memunguti celana itu dilemparkannya kekeranjang baju kotor.

"Aku jadi ingat wanita yang berpapasan denganku tadi. Rambut acak acakan seperti selesai bertarung huffttt, wanita Zaman sekarang," Gerutunya sendiri.

Sementara dikoridor Apartement ,

Sabrina berjalan tergesah gesah. Takut isrti Surya memergoki keduanya. Padahal tanpa sadar mereka sudah saling berpapasan di lift.

"Hmm sialan tu bini Surya. Hampir aja aku ketangkep basah,"gerutnya sendiri.

Dia masuk kekamar mandi luar dan segera merapikan bajunya yang berantakan satu kancing baju lupa tidak terpasang, rambutnya yang acak acakan.

Sabrina membasuh mukanya dengan air dan sabun yang biasa dia bawa didalam tas.

Lalu mengeringkannya sebentar dan memoles dengan pelembab dan bedak dengan agak tebal. Memsanag alis, dan memoles bibirnya dengan lipscream berwarna merah maron.

Dia berkacak pinggang didepan kaca .

"Modis, meski belum mandi Ups," Mulutnya ditutup sendiri .

"Mangkanya semua pria tergila gila dengan kemolekanku. Dasar muka kece badai," Sabrina tertawa sendiri dalam hatinya.

Seenggaknya aku uda siap uang untuk seminggu ke depan.

"Jika habis uang tinggal melayani pria pria tajir berhidung belang. Hahahahaha," gumamnya sendiri

"Uang ini seperti ya cukup kalau buat menginap diapartement ini. Hmm karena kontrakan lama pengap. Aku mau tidur yang nyaman diranjang yang empuk disini,"

Sabrina lalu mendatangi recepcionist dan mencari kamar kosong. Dia memilih kamar yang berdekatan dengan kamar Surya. Dengan nomer 237

Sabrina balik koridor lagi dan menaiki lift lantai 7. Tidak takutnya dia harus balik kemar itu lagi .

Sabrina mengambil kunci kamar yang menggunakan pasword pribadi. Dia menggunakan cap jempolnya sendiri.

Dia memasuki ruang kamar. Dan langsung Menjatuhkan tubuhnya diranjang itu. Dengan busa yang sangat empuk. Sampai tubuhnya bisa memantul cepat.

"Akhirnya aku bisa istirahat," Sabrina memejamkan matanya .

Sementara diperusahaan Wangsa Wardana.

Banyak pekerjaan yang mangkrak karena liburnya dua orang itu.

Akhirnya Dendra bersama staf kantor lembur karena pekerjaan itu .

Sudah pukul 08.00malam. Dan mereka mulai mengemasi berkas berkas dan pulang.

Dendra berjalan paling belakang. Mampir kekamar mandi dan membersihkan wajahnya. Malam itu tampak sepi. Karena semua karyawan sudah pulang.

Dari kaca dia melihat bayangan wanita melintas di belakang tubuhnya.

Hingga bulu kuduk Dendra berdiri tegak.

"Siapa?" Dendra berteriak keras

Tidak ada suara yang menyahuti. Mulai lagi pikirnya. Tiap malam pasti dihantui oleh makhluk-makhluk itu lagi.

Hingga yang melihatnya seperti gilannya kumat lagi.

Dendra mengelap wajah nya dengan tissue hingga kering dan segera keluar kamar mandi itu.

Cekreekkk

Dendra terkejut karena tiba tiba pintu kamar tertutup dengan kerasnya .

Dia melangkah maju dan mencoba membuka kunci itu. Tapi naas pintu itu tidak dapat terbuka seperti terkunci dari depan.

Dengan keras Dendra mencoba membuka pintu itu tapi tetap saja pintu tidak dapat terbuka.

Dendra mengelaurkan ponselnya. Dan menghubungi karyawan yang masih berjaga.

"Gak ada signal sama sekali. Gimana bisa aku menghubungi dan memberitahukan kalo aku terjebak dikamar mandi ini," Dendra pesimis.

Kamar mandi itu begitu luas. Satu bilik kamar mandi terdapat 6 tempat kamar kecil. Satu diantara kamar itu terlihat pintu terbuka dan menutup beberapa kali.

"Sudahlah. kalau berani tampakkan wujud mu," Dendra berteriak lagi dengan agak ketakutan.

Wajah ya mulai pucat pasi. Sudah beberapa kali dia mengalami gangguan seperti ini. Dia rasa ada yang aneh dengan dirinya

Apa benar dia sudah benar benar tidak waras.

Sesosok bayangan wanita berbaju putih melayang didepannya. Sekilas lalu menghilang.

Lalu Suara suara perempuan memanggil manggil namanya berulang ulang kali

"Dendra,"

"Dendra,"

"Dendra,"

Dendra menoleh kesana kemari tidak orang yang memanggilnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel