Bab 8 Dihantui Rasa takut
Sesampainya di rumah keluarga Wardana
Norman, satpam penjaga gerbang rumah Wardana segera membukakan gerbangnya dengan cepat. Tugas Norman memang berat. Dia penjaga gerbang sekaligus satpam rumah keluarga besar Wardhana. Keluarga Wardhana mempercayakan semua tugas pada Norman dan Bibi Kira. Mereka bekerja di rumah Wardhana sudah puluhan tahun.
Tidak sekalipun mereka membuat kesalahan pada majikan mereka. Mira telah menganggap semua yang bekerja bersamanya adalah keluarganya sendiri.
Kalau Kuntadi, dia adalah supir yang baru-baru ini saja dia pekerjakan. Dia juga masih saudara dengan Bibi Kira asisten rumah tangga mereka.
Saat Dendra sampai di pintu gerbang, Norman membukakan gerbang itu. Dia menyapa Dendra dan memberikan saran untuk kebaikannya.
"Malam Tuan muda Dendra, besok harusnya Tuan mencari pengawal buat Tuan. Tuan kan orang terpandang takutnya ada yang berbuat tidak baik ke Tuan Muda, lekas cari tuan bodyguard," Sapa Norman dengan menguap beberapa kali. Dia sangat mengantuk malam ini. Apa karena belum minum kopi.
"Malam juga pak Norman. Iya nanti Dendra pertimbangkan. Sekalian jadi sopir Dendra juga. Biar gak terlalu capek semua harus ditangani sendiri. Benar gitu gak Pak?" Tanya Dendra balik ingin mendapat persetujuan.
"Iya Tuan benar sekali," jawab Norman.
"Mama Tuan menunggu tuh di depan rumah. Kasihan menunggu Tuan dari tadi ," lanjutnya lagi.
"Iya pak. Ada urusan,"jawab Dendra.
Mobil Dendra memasuki halaman rumah. Diluar Mama Dendra menunggunya. Wajahnya nampak terlalu lelah menunggu putra bungsunya pulang.
"Hem, kasian mama belum tidur nunggu aku pulang," ucapanya sendiri
Setelah mobil terparkir masuk bagasi Dendra keluar dan menghampiri ibunya
"Malam Ma,"Sapa Dendra pada Mamanya yang terlihat sering menguap.
"Makin larut saja kamu pulang Dend. Sudah jam berapa ini. Mama sangat mencemaskan mu," Mama Dendra memeluk erat tubuh anaknya.
"Baru mulai kerja, pulangnya makin hari makin malam saja. Tubuh juga perlu istirahat. Jangan seperti Papamu. Terlalu memikirkan perusahaan dan pabriknya, untuk keluarga gak ada waktu sama sekali. Mama juga kan butuh perhatian," kata Mira tersenyum malu-malu
"Iya Ma. Dendra minta maaf," jawab Dendra pada akhirnya.
"Dendra bau keringat Ma. Jangan meluk kaya gini Lagian Dendra sudah dewasa . Jangan masih menganggap Dendra seperti anak kecil. Malu dilihat orang," lanjut Dendra dengan melepaskan tangan mamanya dari tubuhnya.
"Halah. Biarkan orang memandang anak Mama apa. Mama sayang sama kamu jadi mama kuatir kalo terjadi apa apa Ama kamu. Kenapa malam sekali kamu pulang ya. Katanya cuma sebentar aja ngembalikan anting itu. Dan sekarang Samapi jam segini kamu baru pulang," Mama Mira berbicara tanpa jeda
"Maaf Ma. Ceritanya panjang. Dendra masuk dulu mau mandi. Asem banget badan Dendra. Ayo masuk Ma. Diluar nanti mama masuk angin," Mereka masuk bersama. Dendra segera kekamarnya dan segera membersihkan tubuhnya yang penuh dengan keringat.
Setelah membersihkan badannya dari keringat dia turun dan makan malam. Mira sudah menunggunya dimeja makAn.
"Loh Ma, Mama disini gak tidur? Aku kira Uda pergi duluan kekamar, Mama tidur saja dulu!" tanya Dendra tidak sadar bahwa Mira sedang menunggunya.
Dendra mengambil sesendok nasi, sayur dan lauk yang masih hangat setelah Bibi Kira memanaskan. Dendra mulai melahapnya karna sangat lapar.
"Mama gak ikut makan bareng aku, gak enak kalo Dendra makan sendiri gini ?" tanya Dendra menawarkan.
"Mama sudah makan tadi bersama Bibi. Kamu makan aja. Mama nungguin disini kamu pasti sangat lapar, tidak mungkin kamu makan diluar kalo kamu sedang sibuk. Pentingkan juga urusan perutmu," jelas Mira pada Dendra yang jarang mengurus dirinya sendiri.
"Mama kesepian Den. Ayah tidak pulang. Dia masih mengerjakan pekerjaan di hotel. Selanjutnya dia akan terbang ke Singapura ada bisnis lain. Papa gak bilang mungkin ada masalah dengan kliennya. Karena yang Pabrik di Surabaya ada banyak Barang ratusan cartoon gagal kirim ke Korea. Papa masih menyelesaikan masalah itu .Entahlah semuanya sibuk. Tidak ada waktu buat Mama," Mira berkata dengan raut wajah penuh kesedihan.
"Maafkan Dendra Ma, Harusnya sekarang Mama punya menantu dan cucu. Agar drumah ini tidak sepi lagi. Biar bisa mengajak Mama bercanda," Ucap Dendra, mengingat Adelina yang jika ada disini dia pasti sudah menikah dengannya. Dendra tertunduk mengingatnya.
"Uda Dendra. Maafkan Mama. Kamu jadi mengingat perempuan itu. Kenapa kamu tidak mencari pasangan lain. Dan membuatkan Mama cucu!" tanya Mira membuat Dendra tersedak nasi yang tidak sengaja tertelan sebelum dikunyah.
Segera Mama Mira mengambilkan air putih untuk ya. Entah kenapa Dendra sampai tersedak begitu.
"Aku tidak bisa melupakan Adelina Ma. Tidak ada yang bisa menggantikan perempuan itu dihatiku," jawab Dendra tegas.
"Lalu jika dia sudah bersama pria lain bagaimana. Kamu tidak tahu kan?"Mama Mira kesal sendiri. Mira mencoba membuat Dendra jatuh cinta pada Nurma
"Kalau dengan Nurma bagaimana?" Tanya Mira membuat tersedak lagi.
"Uhuk uhuk uhukk," Suara sedakan Dendra terdengar sangat keras.
"Hati hati dong Dendra. Tersedak sampai berkali kali." Perintah ibunya.
"Mama sih. Dendra sedang makan Mama ajak bicara," ucapnya sedikit menggerutu kesal, ada nama Nurma disebut kan .
"Hehee. Maaf maaf sayang. Ya udah lanjutin makannya," suruh Mira dengan menatap anaknya yang sedang makan.
Dendra menghabiskan makanannya. Dan segera meneguk air putih .
"Ma. Mama pernah gak masuk ke dunia gaib?" tanya Dendra membuat Mira merinding.
"Tanya apaan sih Den kamu. Gak usah buat Mama takut Ahh. Ini Uda malam banget loh. Nanti Mama tidur sendiri . Jangan bahas ini lagi. Mama takut," Mira memegang bulu lehernya
"Tadi aku mengalami kejadian aneh Ma, Aku masuk pada desa yang aneh dan menyeramkan. Aku niatnya cuma nyariin rumah Amelia buat. Balikin antingnya. Eh gak tahunya aku malah masuk pada dunia yang berbeda. Benar Ma, aku menyadari hal itu," ucapnya membuat Mama makin bergidik
"Udahlah Dendra, Jangan dibicarakan lagi . Beneran deh Mama takut. Karna beberapa hari yang lalu. Mama di datangi sosok wanita dengan muka berlumuran darah. Mama bilang ke Papamu. Malah Mama dikatain sedang berhalusinasi, emang dia belum di takutin sendiri sih," jelas Mira
"Benarkah Ma?" tanya Dendra memperjelas ucapan mamanya
" Uda Dend. Gak perlu diomongkan lagi, mending kita balik ke kamar uda malem juga," ajaknya
"Baiklah Ma. Oh ya Ma tadi pagi Nurma gimana marah gak aku bangunkan tidurnya!" tanya Dendra tiba tiba mengingat perempuan itu.
"Hehee. Iya dia kesel banget kamu tinggal . Lucu sih sebenarnya dia. Mama gak tahu juga, itu kata Bibi. Dia menggerutu sendiri tidak karuan. Bibi hanya menjawab ya tidak gitu aja," jelas Mira.
