Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 7 Daerah misterius

"Mel. Kemarin kamu bilang kamu tinggal di kontrakan, Dan jauh dari orangtuamu. Lalu sekarang bagaimana?" tanya Dendra kebingungan. Sepertinya dia mulai kembali dalam kegilaannya lagi.

"Iya. Ini kan desaku. Kemarin kita di kota. Dan Saat kamu menolongku, aku tinggal di daerah sana," jelas Amel. Tapi Dendra masih diam dalam bingungnya.

"Aku merasa bingung sendiri," gumamnya sendiri.

"Ehm. Aq masih bingung dengan tempat ini. Oh ya aku mencarimu untuk mengembalikan sebelah anting kamu,"

"Anting itu tertinggal di kursi mobilku," Lagi kata Dendra mengeluarkan sebelah anting Amelia dari dalam dompetnya dan segera memberikannya pada Amelia.

"Oh ya, aku telah mencarinya kemana mana. Ternyata anting itu ada bersamamu. Untunglah antingnya tidak hilang, Aku tidak dapat tidur memikirkannya. Ini sangat berarti untukku," kata Amelia berterimah kasih pada Dendra.

"Kamu kog bisa sampai kesini. Apa kamu tersesat? Sebenarnya kamu mau kemana?" tanya Amelia.

"Aku memang berniat kekontrakkanmu untuk mengembalikan anting itu. Dari kantor mampir kesana. Tapi tidak tahunya bisa sampai kesini,"

"Aku tidak tahu Aku hanya berjalan menyusuri satu jalan. Dari tempat kamu berhenti kemarin sore,"

"Iya. Nanti kalau kamu pulang tidak perlu menoleh kemanapun. Kamu lurus saja kedepan. Jangan menoleh kebelakang, Apapun alasannya. Jangan menghiraukan siapapun dibelakangmu. Atau tidak kamu akan tersesat dan tidak akan bisa pulang, " terang Amelia

"Kenapa seperti itu. Aku makin bingung saja. Apa sekarang ini aku sedang bermimpi buruk. Sepertinya tidak, ini Seperti cerita cerita horor ditelevisi,"

"Sudahlah lakukan saja. Kamu jangan banyak bertanya," kata Amelia dengan nada sengit .

Tidak lama kemudian ibu Amelia datang membawa kue tradisional. Kue cucur dan Onde onde, Dendra sudah jarang melihat kue itu karena terkikis zaman yang sudah semakin maju. Makanan khas seperti itu sudah kalah dengan makanan kekinian. Tidak pernah ia temui lagi Diera modern sekarang.

Dendra memperhatikan Ibu Amelia, ingin mengintip satu tapi masih ragu, antara malu dan sungkan.

"Mengapa hanya dipandangi begitu. Ambilah. Cobalah rasanya. Ini asli buatan ibu," ucap ibu Amelia.

Dendra mengambil kue cucur itu dan mencoba rasanya. Biasanya buatan orang Jawa itu sedap fikirnya.

"Wah ini sangat enak Bu. Sudah tidak pernah lagi aku melihatnya," Dendra mengambil satu dan mulai menggigitnya.

"Hem enak sekali Bu. Ini ada daun pandan nya ya?" Tanya Dendra dengan terus menikmati tiap gigitan kue itu.

"Ya Bener Nak. Yang membuat kue cucur ini enak dari gula merahnya. Kalau kamu suka kamu boleh menambah lagi," Perintah ibu Amelia. Namun Dendra sudah cukup kenyang dengan satu kue saja. Dendra tidak rakus seperti laki laki lain .

"Terimakasih banyak Bu," Ucap Dendra sopan dengan menampakan senyumnya membuat Amelia takjub terhadap sosok didepannya itu .

"Sebenarnya Anak ini siapa. Kok bisa sampai kesini?" tanya ibu Amelia pada Dendra setelah ia meneguk air ia menjawabnya.

"Dia pemuda yang aku ceritakan tadi Bu. dialah yang menolongku mengantarkanku kekontrakkan. Dia mengantarkan sebelah antingku kesini," jelas Amelia.

"Oh. Sekali lagi terima kasih Nak. Siapa Namamu Nak?" ibu Amelia bertanya dengan senyumnya yang ramah. Ada tahi lalat di bawah bibirnya membuat ibu tampak cantik dan terlihat lebih muda dari usianya. Sangat manis.

"Mereka sama sama cantik," gumam Dendra dalam hati.

"Saya berpesan pada nak Dendra, jika main ke sini lagi sudah jangan mampir kemana mana dulu. Tujuan anak kemana itulah tujuan utamanya."

"Jika Nak Dendra mempunyai satu tujuan lalu anak berbelok ke arah lain maka Nak Dendra akan mengalami kesialan. Kejadian seperti itu sudah ada sejak zaman nenek moyang disini. Karena beberapa orang sudah mengalaminya sendiri" terang ibu Amelia.

"Ehmm. Seperti mustahil. Tapi kenapa penduduk sini mempercayainya begitu saja?" tanya Dendra masih heran.

"Iya itu tadi mereka sudah mengalaminya sendiri," jawab ibunya.

Dendra melihat jam menunjukkan pukul 10.00 malam

"Sudah terlalu malam Bu. Saya pamit dulu ya? Saya izin pulang. Mama saya pasti sedang menguatirkan saya. Meski tadi pagi saya sudah berpamitan pulang terlambat," Kata Dendra pada ibu Amelia karena pasti Mamanya sudah cemas.

Sesekali Dendra menatap wajah Amelia yang sangat mirip dengan Adelina. Dan akhirnya dia harus meninggalkan wanita ini.

Tidak tahu kenapa dia sangat merindukan kekasihnya itu. Kapan dia akan bertemu lagi.

Atau hati ini sudah tidak bisa menjaga kesetiaan lagi karena terlalu lelah menunggunya.

Apakah dia tahu kalau sekarang dia sangat merindukannya. Adelina, kamu kejam. Kamu telah mempermainkan hatiku.

Apakah aku harus membuka pintu hati ini kembali pada perempuan lain.

"Iya Nak. Kamu hati hati ya. Dari sini kejalan raya dekat. Jadi kamu jalan lurus saja. Awas jangan berbelok kearah yang lain,"

"Karena disana ada jurang yang dalam. Dua tahun yang lalu ada seorang gadis meninggal disana. Lanjut kata Ibunya .Dendra mendengarkan penjelasan ibu Amelia

"Banyak hal misterius dari desa ini, seperti hutan. Tapi didalamnya terdapat sebuah desa,"

"Baik Bu, saya pamit," Dendra segera meninggalkan mereka. Dan mulai berjalan menyusuri jalan didesa yang menakutkan. Tidak banyak lampu disana.

Satu lampu dengan lampu lain berjarak beberapa puluh meter. Dan membuat jalan sedikit gelap.

Dendra melihat lihat sekeliling, banyak rumah rumah kuno yang masih berdiri dengan kokohnya. Masih banyak pohon bambu bambu mengelilingi rumah disini.

Dari belakang terdengar suara suara pelan memanggilnya.

Tapi dia tidak memanggil namanya, Dendra ingat ucapan Amelia jangan melihat ataupun menoleh kebelakang. Dia akan tersesat selamanya di sini.

"Hai tunggu Nak. Kemarilah!" Suara itu terdengar lagi.

Suara itu makin lama makin mengeras dan mencekam. Hingga bulu bergidik.

Rasanya ini mustahil tapi biarlah untuk sementara percaya pada Amelia dan ibunya Dulu. Dia tetap berjalan kedepan dan tidak menoleh sekalipun ke belakang.

Tidak berapa lama dia sudah berada dijalan raya. Dan mobilnya masih ada disana. Ditepi jalan raya.

"Aku merasa aneh dengan desa itu. Apa aku baru saja bermimpi. Aku rasa tidak," Segera ia membuka dompetnya dan mencari anting itu sudah tidak ada lagi. Benar anting itu sudah ia berikan pada Amelia tadi,"

"Aku harus segera pulang," gumam Dendra dan memasuki mobil dan menancapkan gas dan bergegas untuk pulang ke rumahnya.

Dalam perjalanan pulang wajah Amelia melintas dipikirannya.

Malam ini aku gila karena banyak memikirkan Perempuan itu. Kalau Kita berjodoh pasti akan didekat kan. Jika tidak aku tidak tahu lagi, akankah aku bisa bertahan dengan kondisi hatiku yang berkali kali hancur karena cinta.

Beberapa menit lagi Dendra sudah sampai tujuan.

Dia melihat jam sudah menunjukkan pukul 11.00 malam.

Ada perasaan yang tidak bisa diungkapkan, Sampainya dirumah..

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel