Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6 Nurma

"Baik Nyonya,"ucap Bibi Kira dan akan meninggalkan meja makan. Sebelum berjalan dia dicegah oleh Dendra.

"Gak usah Bi, dia sudah terlelap di sofa

Biarkan dia bangun sendiri nanti jangan di bangunkan. Kalau dia mau ikut ke kantor dia pasti buat kerusuhan di sana. "Kata Dendra tidak begitu tertarik pada perempuan satu itu .

Tepat pukul 06.30 dia berangkat bekerja. Sampai disana seperti biasanya dia mengerjakan pekerjaan kantor yang menyita banyak fikiran karena tidak satupun pekerjaan dikantor yang di kerjakan dengan baik oleh Kak Rasta.

Sementara dirumah kediaman Wardana

"Loh Uda jam 11 .00 siang. Kog gak ada yang bangunin Aku," Nurma berdecak kesal. Dia menggertakkan giginya.

Bibi menghampirinya karena melihat perempuan itu sudah bangun.

"Non Nurma sudah bangun?" tanya Bibi Kira.

"Kenapa aku dibiarkan tidur disini! Kenapa gak ada yang bangunin aku?" tanya Nurma kesal.

"Tuan Muda melarang Non," jawab BiBi dia terkikik dalam hati. Namun ditahan.

"Nona makan dulu. Nyonya Mira sudah menyiapakan tadi," kata Bibi dan Nurma berkesempatan makan enak di istana ini. Segera ia pergi ke meja makan. Dan mengambil sendiri tanpa rasa malunya.

"amit amit jabang bayi," sebutnya Bibi Kira dalam hati.

"Masih ada perempuan gak tahu malu layak gitu," gumamnya kembali. Dengan tidak mengedip Bibi menatap perempuan itu melahap dengan rakusnya makanan di piringnya. Nurma menyadarinya dan melirik ke arahnya.

"Kenapa menatapku seperti itu! Aku lapar dari pagi belum makan,"nucapnya membela diri

"Tidak apa apa nona."

"Tante mana, Bibi?" tanyanya melihat sekeliling tidak menemui wajah Tante Kira

"Nyonya ada urusan Non. Dia keluar dua jam yang lalu."

"Oh. Yah uda aku pulang saja," ucapnya memotong percakapan nya. Setelah selesai mengisi perutnya yang sudah mulai buncit kekenyangan. Bibi Kira geleng-geleng kepala melihatnya

"Baik Nona,"

Saat diperusahaan Wangsa Wardana

Jam menunjukkan pukul 05.00 sore. Dia sudah Sampai di sebuah jalan dimana perempuan itu kemaren turun. Memakan waktu dua jam dari perusahaan sampai tempat itu.

Dia merasa kemarin dia mengantarkan perempuan itu tidak lebih dari satu jam .

Dendra melihat sekelilingnya terasa aneh. Tapi dia ingat sore itu dia menurunkan perempuan itu disini .

Dendra turun dari mobil .Dan meninggalkan mobilnya ditepi jalan. Dia mengikuti satu jalan lurus. Yang sepertinya jalan itu terasa hangat Untuknya

Dari mobil yang ia perkir ditepi jalan itu, Dia melihat pemandangan yang menakjubkan, Sebuah gunung yang indah dengan bukit bukit yang menjulang tinggi,

"Sebenarnya aku ini ada dimana. Bukankah aku hanya berjalan diantara jalan raya. Dan sekarang aku ada ditempat ini,"

Tak jauh dari ia berdiri,dia tampak melihat sebuah pasar. Entahlah pasar itu begitu ramai sampai mereka harus berjubel jubel demi bisa mendapatkan barang mereka cari.

Dendra melewati pasar raya itu dan kembali berjalan, dia mengikuti seseorang yang usianya lebih kurang 50tahunan.

"Bu Bu Tunggu!" sapa Dendra sedikit mengejar perempuan itu perempuan itu tidak menolah .Dan tetap berjalan lurus. Seperti tidak mendengar Dendra memanggilnya.

"Bu. Maaf Bu bisakah Ibu berhenti," Ucap Dendra. Tetap saja perempuan itu makin mempercepat jalannya .

Perempuan paru baya itu sudah terpaut jauh darinya Dan Dendra sudah tidak berniat mengejarnya. Padahal dia hanya ingin bertanya.

Diseberang jalan dia melihat lagi seseorang tua, memakai baju lusuh, rambut tumbuh uban tidak ada yg berwarna hitam.

Dendra mendekati orangtua itu. Dia berdiri didepannya .

"Permisi Pak. Saya boleh bertanya. Sebenarnya ini saya dimana. Saya tidak pernah ketempat ini sebelumnya," tanya Dendra. Namun pria itu tidak menoleh sedikitpun ke arahnya. Apa lagi menjawabnya.

"Pak. Bapak. Apakah Bapak mendengar saya berbicara?" Dendra berusaha keras berbicara pada orang tua itu. Sepertinya orang disini tidak dapat melihatnya. Atau memang tidak menghiraukan seorang pendatang.

Sama sekali dia tidak memahaminya . Dendra meninggalkan pria itu. Dan sesekali Dendra menolehnya. Tapi nihil pria itu tidak menggubrisnya.

Dendra berjalan lagi mengikuti jalan yang sepi. Disekeliling ditumbuhi bambu bambu kuning. Samar samar terdengar bambu itu bersuara. Dan lama lama memekikkan telinga .

Dendra berlari tanpa ujung. Dan berhenti disebuah desa. Yah ini pasti desa. Ada beberapa bangunan rumah kuno disana, Aku akan memasukinya.

Dari salah satu rumah itu, tampak seorang perempuan sedang membersihkan halaman rumah yang berserakan karena sampah daun daun kering.

"Sepertinya dia seumuran denganku," fikirnya

Dendra mendekati perempuan tersebut. Dan menyapanya.

"Maaf boleh saya bertanya. Ini desa apa ya mbak?" tanya Dendra pelan. Perempuan itu tetap melanjutkan pekerjaannya. Sama sekali tidak menghiraukan sapanya.

"Mbak mbak," Dendra memanggilnya berulang ulang. Perempuan itu tidak merespon.

Sekali lagi Dendra memanggilnya. Dan pekerjaan wanita itu dihentikan. Dengan pelan Dia memutar kepalanya.

Dendra diam mengunggu perempuan itu bersuara Sepertinya dia meresponsnya. Dendra menunggu , ingin melihat wajah perempuan itu .

Dengan sangat terkejut, Dendra mendapati wajah itu tanpa muka.

Betapa terkejutnya saat tau kalau yang dia jumpai bukan seorang manusia. Melainkan hantu.

Dendra berlari tunggang langgang meninggalkan perempuan itu.

Sudah jauh ia berlari tanpa sengaja menabrak seorang gadis.

"braakkkk,"

Tubuhnya terjungkal ke tanah.

Perempuan itu menolong ya. Dan mengulurkan satu tangannya.

Dendra yang melihatnya memegang tangan perempuan itu. Dan berdiri atas pertolongan darinya.

Dendra melihat kearah gadis itu. Dan ternyata dia Amelia.

"Amelia. Apa ini benar kamu?" Tanya Dendra sekarang ini tidak percaya dengan mudah dengan apa yang dilihatnya.

"Oh kamu. Kamu orang yang pernah menolong ku tempo hari," ucapnya. Akhirnya Dendra percaya bahwa dia memang benar Amelia.

"Aku bingung dengan desamu ini Mel. Aku beberapa kali tanya pada warga disini tapi mereka acuh padaku," Ucap Dendra terlalu lelah.

"Kenapa kamu lari terbirit -birit seperti itu? Tanya AmElia

"Aku baru saja ditakuti sesosok perempuan tanpa muka. Itu sangat menyeramkan," kata Dendra dengan suara terengah-engah.

"Mari masuk kerumah kak. Dirumah ada ibu ku," Tawarnya

Amelia segera mengambilkan segelas air putih

"Minumlah!" ucapnya Dendra segera meneguknya.

"Terima kasih"

Disana dia disambut ibu Amel.

"Silahkan duduk Nak. Maaf rumahnya berantakan gubug kecil tidak layak huni. Kalau hujan kebocoran," Ucap Ibu Amel merendah.

"Ibu tidak perlu bicara seperti itu. Kita sama saja, Bu. Tidak ada kaya miskin Dimata Allah," jawab Dendra membuat Ibu Amelia sedikit lega.

"Iya Nak. Kamu benar," Ibu Amel tersenyum karena dilihatnya Dendra pemuda yang baik.

"Sebentar ya. Ibu mau ambilkan makanan kecil untukmu," Ibu bergegas masuk kedalam mencari Sesuatu dirumahnya.

"Tidak perlu Bu, saya hanya sebentar,"

"Sudahlah Nak. Tunggu sebentar," Ucap ibu.

Dendra melihat seisi rumah Amelia. Begitu sederhana. Kursi yang ia duduki terbuat dari anyaman bambu yang nyaman diduduki. Dendra melihat ke atap, banyak sarang laba-laba yang bergelayutan.

Dendra berdiam sejenak, kemren bukankah dia bilang dia ngontrak. Dan tidak tinggal dengan orangtuanya . Dendra bingung sendiri. Dan memastikan bertanya langsung pada Amelia yang duduk didepan nya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel