Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5 Teringat Kejadian silam

Dalam Batin, Wardana dia terlalu sedih atas kejahatannya pada dua perempuan itu. Hingga harus mengorbankan Dendra anak bungsunya.

"Maafkan papa Dendra. Papa membuatmu hilang akal karena perempuan itu. Selama dua tahun kamu seperti orang tidak waras.

Papa dan Rasta yang telah melempar gadis itu ke jurang, sebelum itu Rasta juga telah menodainya. Aku tidak bisa berfikir jernih pada saat itu.

Difikiranku hanya ingin menjauhkan perempuan itu dari mu. Papa sudah berupaya keras dengan mencari cara untuk memisahkan kalian berdua, tapi selalu gagal karena tulusnya cintanya untukmu. Papa hanya ingin yang terbaik untukmu Dendra."

"Memang kejam dan keji. Tapi papa tidak memiliki pilihan lain apalah daya Papa tidak ingin kamu menikah dengan anak orang miskin itu. Apa kata orang jika Sampai papa berbesan dengan seorang petani pemetik teh bukan milik sendiri, melainkan hanya seorang babu.

Pasti jadi tranding topik di media sosial. Setiap berita sekecil apapun jika menyangkut perusahaan papa, pasti akan menjadi berita nomer satu di Laman informasi berita.

'DIREKTUR UTAMA WANGSA WARDANA MENIKAH DENGAN GADIS MISKIN ANAK PEMETIK KEBUN TEH'

'PENGUSAHA BESAR WARDANA PEMILIK SAHAM TERBESAR PEMEGANG SAHAM TERTINGGI PADA INDUSTRI TEXTILE BERBESAN DENGAN PETANI KEBUN TEH'

'PERUSAHAAN TERBESAR SE NASIONAL AKAN MENGADAKAN ACARA PERNIKAHAN DENGAN PETANI'

"Pasti sangat memalukan. Sampai kapanpun aku tidak akan merestui hubungan anak-anaku dengan wanita miskin aku sudah berjanji pada diriku sendiri."

"Aku sudah menyiapkan jodoh untuk mereka. Yang berkelas, latar belakangnya jelas, berpendidikan tinggi, dan yang paling utama dari keluarga pengusaha juga." Gumamnya dalam hati.

Saat fajar menyingsing,

Tepat pukul 06.00 pagi Dendra keluar dari kamarnya. Dan berlarian didepan rumahnya yang memiki halaman yang luas .

Sepuluh putaran saja sudah cukup membakar kalori. Meski keringat mengucur deras dikeningnya tidak mengubah dan tidak mengurangi ketampanan Dendra Aditya Wardana. Siapa yang tidak menginginkannya. Sang penulis pun mau.

Dia terlihat lebih segar dari biasanya. Dengan memakai kaos, celana olahraga, sepatu putih, dan handuk kecil diatas pundaknya. Nampaknya dia akan berlari pagi sebelum berangkat kerja. Dengan gerakan ringan yang ia bisa.

Terlihat sebuah mobil masuk ke halaman dan berhenti di sampingnya. Dendra tidak begitu memperhatikan nya. Tidak terlalu penting.

"Ih. Kenapa setelah sembuh dari sakitku aku jadi penyombong gini?" gumamnya

Nurma. Nama itu seolah terdengar menyebalkan ditelinga nya. Apalagi sampai melihat orang ya. Sia sia aku berolahraga untuk menyehatkan tubuhku. Nyatanya ada nyamuk penghisap tenaga datang kemari. Aku malas meladeninya. Gumam Dendra dalam hati. Pikirannya berkecamuk tak karuan melihat gadis ini.

Lihatlah, Pagi -pagi sudah menampakkan dosa yang diperlihatkan pada kaum Adam .Pakai rok diatas lutut, ada belahan samping tinggi juga, baju atasan sampai belahan dada terbuka, bikin geleng-geleng kepala dengan wanita sekarang .

Jika Mama lihat, pasti dapat nilai minus di mata mama. Dendra mulai menutup telinganya dengan handuk, saat wanita itu mulai bicara. Dia berdrama membersihkan keringatnya, menyebalkan bukan.

"Rasanya aku pengen pergi dari sini sekarang juga"di bergumam lagi.

"Pagi, Dendra. Maaf ya beberapa hari ini aku jarang menemuimu. Aku lagi sibuk. Aku dengar kamu sudah sembuh syukurlah. Aku bahagia banget mendengarkannya. " ucap Nurma sambil bergelayut memegang tangan Dendra.

Dendra merasa risih. Dilepaskannya pegangan tangan Nurma.

"Aku mau mandi dan berangkat ke kantor. "Tanpa basa basi Dendra meninggalkan wanita itu mematung sendri.

"Sial. Sikapnya dingin banget sama aku. Gak ada respon sama sekali padaku. Padahal aku Uda berdandan sejam yang lalu. Dan menatapku pun enggan. Ciss Uda bli baju import

mahal. Mana uang Uda minim banget."

Nurma masuk kerumah dan bertemu Mira di dapur.

"Pagi Tante" sapanya membuat Mira dan Bibi Kira yang juga ada disana terkejut melihat penampilan nya yang tampak sexi.

"Pagi sayang. Cantik sekali kamu hari ini" Mira memuji kecantikan Nurma. Namun sebenarnya tidak terlalu suka dengan pakaian yang Ia kenakan.

"Pagi benar kamu kesini." Lanjutnya

"Ia dong Tante, Nurma kan mau bantu Tante Mira masak. Nyiapin sarapan buat Dendra." jelasnya Nurma keceplosan, dia kan tidak bisa masak. Masuk dapur aja gak pernah, semua menyuruh pembantunya. Mengambil makan buat sendiripun enggan.

"Huft. Que salah ngomong. Maksudku aku mau pergi kekantor menemani calon suaminya itu. Bukan kesini buat bantu masak. Moga Tante Sinta menolak tawaran ku." gumamnya dalam hati

"Huh, dasar perempuan matre. Bisanya nyari muka didepan nyonya" ucap Bi Kira dalam hati. Sudah tau akal busuknya.

Dia bisa menilai sifat seseorang wanita yang beberapa kali ini menggoda Sang Tuan Muda. Dia hafal juga karena terbiasa melihat film sinetron-sinetron yang pemainnya seperti Nona Nurma itu.

"Ayo nyonya, terima saja tawarannya. Aku yakin dia akan mempermalukan dirinya sendiri didepan nyonya" gerutu bibi lagi dalam hati. Berharap nyonya menyuruhnya memasak .

Dia ingin menyaksikan adegan lucu didepan mata.

Dia tidak sabar melihat lucu ya tingkah ya saat mengupas bawang. Pasti perih perih tu mata Nona Nurma

"Tidak perlu Nurma, kamu sudah cantik begitu. Nanti tubuhmu bau bawang kalau harus membantu disini. Kamu tunggu saja diruang tamu. Nanti kalau sarapan sudah siap, Tante memanggilmu. Pasti kamu juga belum sarapan kan?" terang Mira membuat Nurma lega. Dan bisa tersenyum lepas. Karena dari tadi wajahnya nampak pucat pasi.

"Iya Tante. Nurma menunggu di ruang tamu ya," Nurma segera pergi dari ruangan itu .

"Uh Untung Tante Mira pengertian banget. Kalau sampai gue jadi ikutan masak di dapur, rusak donk nih kuku-kuku cantik, belum lagi bau bawang. Baunya aku beneran gak tahan, berendam sehari semalam pake bunga tujuh rupa pun gak akan hilang tuh ih geram lihat Bibi pembantu Dendra itu kelihatanya seneng banget lihat penderitaan ku." gerutu Nurma dalam hati.

Dia merebahkan dirinya di sofa. Tidak ada rasa malu sedikitpun. Tidak ada siapapun kan disini, dia merebahkan diri di sana. Karena rasa kantuknya yang hebat.

"Hari ini aku mau pergi kekantor, perusahaan calon suamiku bekerja. Di sana nanti aku mau umumkan kalau kita sudah ada hubungan. Dan sebentar lagi akan melangsungkan pertunangan." Nurma menghayal sendiri. Hingga tanpa sadar dia ketiduran di sofa.

Dendra turun dari lantai atas kamarnya. Dari kejauhan dia melihat Nurma tiduran di atas sofa. Makin greget aja dia melihat wanita itu.

Tidak sopan santun sama sekali. Ya seperti itulah. Berpendidikan tapi, Ahh sudahlah.

Dendra berjalan kearah meja makan. Tampaknya sarapan sudah siap di sajikan.

"Bik, tolong panggilkan Nurma, suruh dia bergabung di sini." Perintah nyonya nya pada Bibi Kira yang masih menata piring di meja.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel