Bab 4 Anting Jatuh
"Maafkan Dendra, Ma. Dendra tidak memberi tahu Mama terlebih dahulu, sebenarnya Dendra sudah pulang sejak pukul enam tadi."
"Dendra mengantarkan seorang perempuan dijalan. Saat ditengah perjalanan dia dijambret. Isi dalam tas diambil semua. Hingga tidak memiliki uang sepeserpun untuk membayar taksi" jelas Dendra pada mamanya
"Kasihan sekali gadis itu Siapa namanya?" Mama Mira bertanya kembali
"Kalau tidak salah dengar namanya Amelia. Dia menjatuhkan satu antingnya di kursi mobil. Dan besok aku akan mengembalikannya."jawab Dendra dengan penuh perhatiannya pada perempuan yang baru dikenalnya tadi.
"Tidak perlu Dendra, biar saja. Salah siapa anting jatuh tidak tahu." Ujar ayahnya tidak perduli pada gadis itu sifat ini sama dengan sifat putra sulungnya Rasta
"Jangan bersikap seperti itulah, Pa. Aku tahu papa tidak pernah merasakan hidup susah. Papa sudah hidup berkecukupan dari papa kecil. Jadi kadang lihatlah orang yang ada dibawah kita."Mama Dendra menasehati
"Ya sudah. Kamu bersihkan diri dulu. Setelah itu bergabung makan malam bersama kami. Mama tunggu Dendra"
"Baik, Ma."Dendra bergegas ke kamarnya di lantai atas. Cukup melelahkan jika harus menaiki tangga dalam kodisi lelah. harusnya rumah ini dipasang lift. Fikirnya disaat lelah gini, penguni malas yang akan membuat lift semacam itu.
Tak berapa lama Dendra sudah siap turun untuk makan malam. Tapi kelihatannya anak tangga ini begitu malas untuk ia lewati. Hingga mungkin lebih baik membawa makanan itu kekamarnya saja dari pada dia kelelahan naik turun tangga
Tapi mengingat mamanya tadi menunggunya di bawah. Dia terpaksa menuruninya untuk makan malam
"Kau begitu letih hari ini Dendra. Jangan bekerja terlalu keras" kata mamanya menasehati Dendra, Mira memikirkan kesehatan Dendra, dia tidak mau sampai Kondisi anaknya kembali tidak stabil
Bibi Kira, asisten rumah tangga mengambilkan nasi untuk tuannya.
"Tidak perlu, Bibi. Saya bisa ngambil sendiri "Ucap Dendra tidak mau merepoti sang Bibi.
"Baiklah, tuan."Ucap Bibi meninggalkan meja makan. Dia akan kembali setelah tuan dan nyonya selesai makan.
"Oh ya Dendra. Papa menyuruh kakakmu memimpin perusahaan di Bandung. Dia sementara tinggal di apartement."Papa Dendra menyela
"Iya. Tadi siang kakak sudah memberi tahuku, Pa."kata Dendra sambil mengunyah makanan di mulutnya.
"Bagaimana dengan kondisi perusahaan ?"tanya Papanya lagi
"Banyak pengeluaran yang tidak jelas keperluannya, Pa. Semua atas nama Rasta. Aku juga belum mengetahui pasti. Karena dua tahun waktu yang lama untuk menjalankan perusahaan."Jawabnya lagi dengan menuangkan segelas air dari water picther, dan sedikit meneguknya .
" Ya. Entahlah mudah-mudahan di Bandung kakakmu bisa menjadi direktur utama yang profesional."Sambung papanya lagi
"Papa sekarang tidak pernah ke perusahaan ,Pa? Dendra bertanya sambil melahap habis makanan yang sedikit tertinggal di piringnya.
"Papa masih sibuk di kantor pabrik Den. Karena banyak masalah barang riject tidak bisa dikirim ke Korea. Banyak permintaan dari negara sana jadi Papa mengebut untuk menyelesaikan semuanya sebelum dikirim. Ya terkadang Papa keperusahaan untuk melihat kerja Kakakmu. Kalau sudah ada kamu Papa tidak lagi cemas. Papa yakin kamu bisa mengatasi segalanya"Ucap Wardana tegas
"Ma, Pa. Aku ke atas dulu. Ke ruang kerja mau menyelesaikan pekerjaan kantor yang tadi belum terselesaikan."
" Ya. Tapi jangan sampai larut malam, jaga kondisimu."Mira menasehati anaknya itu
Beberapa menit berlalu, Mira dan Wardana menyusul kekamar.
"Hari ini sangat letih. Papa istirahat dulu." Wardana mulai memejamkan matanya. Tapi tidak dapat tidur .
Satu jam lamanya Wardana menutup matanya. Tapi kenapa dia tidak dapat tidur.
Dia melihat Mira disampingya, dia sudah tertidur pulas.
Jika melihat wanita di sampingnya yang tulus mencintainya dia merasa bersalah atas kesalahannya dimasa lalu.
Dua kesalahan besar yang dia perbuat. Jika polisi tidak menutup kasus itu, pasti dia sekarang berada di jeruji besi
"Ma, andai kau tahu. Kalau Rasta adalah bukan anak kandungmu. Dia anak dari perselingkuhanku dengan wanita lain bernama Liona. 22tahun lamanya aku menyembunyikan semua ini darimu dan anak-anak kita."gumam Wardana dalam hati sambil mengelus ujung rambut Mira
"Sekarang dia kembali setelah meninggalkanku bersama pria lain. Dia menginginkan Rasta. Dia menitipkan Rasta padaku, bertepatan saat tidak adanya anak kita."
"Bagaimana jika dia muncul ditengah kita."Wardana berusaha untuk bisa tidur. Wajah Adelina tiba- tiba melintas di fikirannya. Sudah lama dia melupakan kejadian itu, dua kesalahan fatal. Dia telah berdosa besar terhadap kekasih Dendra, jika sampai Dendra mengetahui kalau papa dan kakaknya telah membunuh Adelina Dendra pasti sudah menyeret mereka ke penjara.
Lebih baik aku tutup rapat kasus ini. Entah bertahan berapa lama dia bisa menutupi nya.
Saat tertidur, sosok Adelina melintas difikirannya, dia datang dan mencekik lehernya.
Dia mengatakan akan menuntut balas.
"Jangan jangan jangan. Jangan bunuh aku !! jangan."teriaknya dalam mimpi yang terbawa dalam nyata.
Mira yang mendengar teriakan Wardana segera membangunkan Wardana. Dia tahu kalau suaminya pasti sedang bermimpi buruk
"Pa. Papa bangun, Pa Papa!"Mira menggoyang-goyangkan tubuh suaminya, tapi tak berhasil juga.
Segera ia ambil sebuah gelas berisi setengah air dari bibir gelas, ddan menyiramkannya kewajah Wardana.
"Hahhh! Apa yang kau lakukan padaku. Apa tidak bisa kau membangunkan ku dengan cara yang halus. Dengan cinta, atau dengan mengecup keningku misalnya?"Wardana yang terkejut karena guyuran air segera bangun dan tersenyum, dia baru sadar karena telah memimpikan Adelina menuntut balasnya.
"Maaf Pa, dari tadi Mama sudah berusaha membangunkan Papa. Tapi papa tidak bisa bangun juga. Terpaksa mama guyur pake air."Mira membela diri.
"Apa yang papa impikan?siapa yang akan membunuh Papa?"Lanjut Mira bertanya
"Papa tidak tahu. Papa tidak mengenalnya."Wardana menutup diri. Dia takut perlahan kebohongan itu akan terbongkar.
Dia melihat jam di dinding, menunjukkan pukul 05.00 pagi.
Dia memeriksa ponselnya. Ada satu pesan what app baru. Pesan dikirim pukul 11 malam. "LUNA" sekretaris pribadinya dan segera ia membuka dan membacanya.
"PAK MAAF MENGGANGGU BAPAK MALAM -MALAM. BESOK PAGI JAM 07.00 BAPAK ADA MEETENG MENDADAK. DI HOTEL SHANGRI_LA SURABAYA BERSAMA DENGAN PEMEGANG SAHAM TERTINGGI DARI PERUSAHAAN KLIEN BAPAK."
"Siapa Pa?"Tanya Mira penasaran.
"Pacar Papa yang baru ya, kenapa ponsel papa disembunyikan gitu, aku jadi curiga?"Wardhana menggoda Mira dengan caranya sendiri membuat Mira makin ingin mengetahuinya.
"Luna Ma. Dia memberi tahuku ada Meeting di hotel Jam 7. Aku harus bergegas Ma. Takut terlambat. Karena Pagi di Surabaya pasti macet banget. Jangan sampai Pak Kuncoro membatalkan perjanjian kontrak ya dengan perusahaan Papa."
"Ya sudah Papa bersiaplah. Mama akan menyiapkan sarapan buat Papa."Mira membersihkan diri lalu bergegas ke dapur membantu Bibi membuat sarapan
"Tuan Besar mau berangkat Nyonya!" Tanya Bibi Kira
"Ya Bik ada meeteng di hotel"
