Bab 3 Pertemuan Pertama
Diam diam Dendra mengikuti perempuan itu, pakaian serba putih, berambut panjang, tegerai. Namun pada tikungan bangunan yang pertama dia sudah lenyap dari pandangan mata.
"Hari ini aku merasakan dua kejadian aneh. Siapakah dua perempuan yang ku lihat tadi?" gumamnya dalam hati
"Pak !" Suara seorang pria mengagetkannya dari arah belakang. Dendra menolehya ternyata dia satpam penjaga gerbang.
"Kamu. Kamu sangat mengagetkan saya. " Dendra memegangi dadanya karna terkejut atas kemunculan suara Wisnu dibelakangnya
"Maafkan saya, Pak. Apa yang Bapak lakukan disini ?" Tanya Wisnu, nama dari penjaga keamanan bagian depan. Wisnu takut jika penyakit tidak waras Pak Dendra kembali .
Karena sebelumnya memang Rasta menginformasikan bahwa saudaranya mengalami gangguan kejiwaan. Karena Adelina telah pergi tanpa kabar. Dan membuat acara pertunangannya batal . Semua karyawan kantor mengetahui hal itu. Jadi sedikit berjaga-jaga .
"Pak Wisnu. Tadi saya melihat seorang wanita berjalan tergesa -gesa didepan taman ini. Dia memakai pakaian putih, tapi sepertinya dia bukan pegawai sini. Karena bajunya tidak terlalu formal.
"Saya mengikutinya dari belakang. Dan dia hilang pada belokan bangunan gedung sebelah sana." tanya Dendra pada Wisnu. Wisnu sudah mulai takut, benar saja tuanya sepertinya sudah mulai tidak waras lagi. Mana mungkin ada perempuan bisa hilang dibalik tembok. Benar belum 100% sembuh ini tuannya .
Astaga ngomong apa sih dia barusan . Padahal tuannya begitu baik padanya. Dulu pernah dia dalam keadaan kesusahan, saat istrinya hamil besar dia sama sekali tidak memegang uang sepeserpun.
Dia memberanikan diri untuk meminjam kepada tuanya itu. Dendra memberikannya dengan sejumlah uang yang besar untuk keperluan istrinya yang mau melahirkan.
Saat ia mau mengembalikan Dendra menolaknya. Dan menyuruhnya untuk menyimpannya untuk keperluannya yang lain. Sungguh berhati besar tuannya itu. Wisnu sangat menyesali ucapnya tadi
"Pak Wisnu ?" Dendra memanggil kembali Wisnu yang terbengong begitu lama .
"Ah. Iya, Pak. Maaf Pak saya tidak tahu. Saya rasa tidak ada seorangpun yang masuk ke dalam perusahaan ini kecuali orang dalam" jawab Wisnu dengan tegas.
"Ada yang bisa saya bantu lagi Pak?" tanyanya lagi ke Pak Dendra
"Sudah. Kau boleh bertugas kembali." Dendra menyuruhnya pergi ketempat dia bertugas
"Baik, Pak. Saya permisi dulu." Wisnu menundukkan kepalanya dan berlalu dari hadapan Dendra.
"Apa aku sudah mulai tidak waras lagi?" Dendra bingung dengan dirinya sendiri. Segera dia meninggalkan tempat itu dan berjalan memasuki area parkir mobil.
Dalam perjalanan pulang. Dia melihat di disisi jalan ada seorang perempuan berdiri. Sepertinya dia sedang menunggu taksi atau jemputan datang.
Dendra yang memiliki hati yang tulus menghentikan mobilnya. Karena nampaknya dia terlihat lelah menunggu . Hingga beberapa kali dia mengelus dan memijit mijit kecil betisnya. Dendra kasihan terhadapnya dan berniat memberinya tumpangan .
"Nona. Apa Nona sedang menunggu taksi ?" tanya Dendra dengan membuka separuh kaca mobilnya
"Aku baru saja dijambret. Tas dompetku di kembalikan tapi isinya semua diambil. Aku tidak memiliki uang lagi untuk membayar taksi" jawab perempuan itu terlihat sedih, wajahnya pucat pasi. Air matanya berlinang. Sedikit saja mata itu terbuka, maka air mata yang terbendung itu akan tumpah
Dendra turun dari mobilnya menawarkan diri untuk memberi tumpangan pada gadis itu .
"Jika tidak keberatan. Aku akan mengantarmu pulang?" Dendra meyakinkannya bahwa dia pria yang baik. Dan tidak akan macam-macam terhadapnya. Dengan perasaan yang sedikit khawatir akhirnya dia mengangguk pelan.
"Silahkan masuk." suruh Dendra dengan membukakan pintu mobil untuknya
Dengan segera Dendra mengemudikan kendaraannya. Dendra mulai bertanya lagi.
"Siapakah namamu?"
"Aku Amelia."jawabnya singkat tidak berani menatap pria itu. Pandangannya hanya lurus ke depan .
"Aku Dendra. " Dendra sedikit sedikit memandang perempuan disampingnya.Wajah perempuan itu hampir mirip dengan kekasihnya Adelina.
"Kamu tidak perlu takut. Oh ya Dimana rumahmu ?"
" Aku tidak memiliki rumah. Aku tinggal dikontrakkan. Nanti kalau Uda sampai aku beri tahu. Kamu jalan aja lurus."
"Baiklah. Apa tadi tidak ada yang menolong mu dari para jambret itu?"
Dendra bertanya lagi. Perempuan itu hanya menggelengkan kepalanya. Tidak bersuara. Dendra paham mungkin dia lagi tertekan.
Dua puluh menit berlalu saat ada pertigaan dia bingung harus belok kemana.
"Kita belok mana?"
"Belok kiri" jawabannya begitu dingin. Dendra diam dan melanjutkan kemudi nya.
Beberapa menit kemudian.
"Berhenti ditikungan itu."
Mobil Dendra berhenti di sana, Dendra membantu membuka pintu mobilnya.
"terima kasih."ucapnya pelan. Dan meninggalkan Dendra disana sendiri .
Wanita itu begitu dingin. Membuatku penasaran.
Ditengah perjalanan Mira ibunya menelphone .
"Den, kamu belum pulanglah, Nak. Ini sudah pukul sembilan malam. Harusnya kamu sudah dirumah bersama kami. Kamu jangan bekerja terlalu keras."suara ibunya terdengar dari seberang telepon
"Maaf Bu.Ini Dendra sedang dalam perjalanan pulang. Sebentar lagi sampai. "
Dendra menutup earphonenya. Yang sudah tersambung dengan handphonenya.
Saat hendak turun dari mobil Dia melihat sesuatu yang berkilauan di kursi yang tadi diduduki wanita itu . Dia mendekat dan mengambilnya. Sebuah anting anting dengan satu mata biru sebagai hiasannya.
"Ini milik perempuan itu!" gumamnya dalam hati. Akan ku kembalikan besok. Pasti ini sangat berharga baginya.
Sampainya dalam rumah. Dendra disambut ibunya.
"Kamu mandi dan ganti bajumu. Ayah dan ibu menunggumu dimeja makan ." suruh ibu Dendra.Membantu melepaskan jas yang ia kenakan .
Dendra tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Meninggalkan ibunya dan melangkahkan kakinya ke kamar dan membersihkan tubuhnya. Dengan mandi dia akan terlihat segar
Kamar Dendra ada di lantai atas. Kalau sedang capek rasanya dia malas untuk menuruni anak tangga.
Dendra memanggil asisten rumah tangga yang sedang menyiapkan hidangan makan malam dimeja makan.
Nampaknya bibi tidak mendengar teriakan kecil tuannya.
Baiklah dia akan makan di bawah bersama mereka. Lagi pula mama sudah menunggunya untuk makan malam bersama.
Dendra duduk di samping ayahnya. Dan mengambil satu piring .
"Biar Bibi bantu tuan. "
"Tidak perlu, Bibi. Aku bisa mengambilnya sendiri. Dendra mengambil nasi dan beberapa lauk disana. Dan mulai melahapnya
"Bagaimana keadaan kantor ?" tanya ayah Dendra,Wardana .
"Banyak pengeluaran yang di buat kakak. Aku tahu untuk apa semua uang yang dia ambil. Untuk keperluan luar"
"Biarkan saja. Selama ada kamu disana handle dengan benar. Perincian- perincian itu harus jelas Buatlah berkembang lagi perusahaan Wangsa Wardana" Perintah ayah Dendra.
"Oh ya, Den. Tadi mama menelpon pihak kantor. Mereka Berkata bahwa kamu sudah pulang dari pukul enam tadi . Kenapa sampai sekarang baru pulang." ibunya bertanya dengan sedikit cemas tentang keberadaan Dendra.
