Bab 2 Jabatan penting
"Maafkan aku Ma, selama ini aku sudah membuatmu sedih. Aku akan meneruskan hidupku yang selama ini ku tinggalkan. Aku menyesal, aku akan ku perbaiki dengan segera. Kenapa Mama tidak membawaku ke rumah sakit jiwa?" Dendra membuat mamanya bersedih lagi. Tapi dalam hati kecilnya dia yakini bahwa mamanya tidak akan bertindak demikian mama mereka sangat menyayangi ke dua putranya.
Sore menjelang malam, Ayah dan kakak Dendra pulang dari kantornya. Semua anggota keluarga itu berbahagia. Kecuali Rasta kakaknya. Posisi Rasta sebagai Direktur utama yang menggantikan Dendra telah terancam. Dia akan tersingkirkan pada posisi itu .
Meski mereka bersaudara tidak ada kemiripan sifat antara keduanya.Rasta hanya memikirkan dirinya sendiri. Jarang dia menemani adiknya jika sedang tidak lagi berkerja .
Kebiasaan buruknya adalah sering minum -minum bersama para wanita malam. Hingga ia menghabiskan banyak uang untuk meminta mereka menemaninya minum.
Banyak yang melihat dan menilai mereka berdua. Banyak yang mengeluhkan atas kepemimpinan Rasta. Perusahaan bukannya maju malah hampir terpuruk. Karena banyaknya pengeluaran uang pada perusahaan. Seminggu bisa sampai ratusan juta. Sampai bagian kepala keuangan menggelengkan kepala. Ingin melaporkan pada Tuan Wardana. Tapi mereka takut akan dikeluarkan dari perusahaan Besar itu .
Banyak diantara mereka mengharapkan Dendra kembali ke perusahaan.Dan harapan itu akhirnya terwujud sekarang .
Hampir saja kedudukannya itu dikuasai Rasta. Tapi sekarang Dendra sudah sembuh dari penyakit gilanya.
Kemungkinan besar dia akan segera kembali memimpin diperusahaan yang dua tahun ini dia tinggalkan.
Keluarga besar Wardana berkumpul di ruang keluarga. Mereka mengumumkan kesembuhan putra bungsunya.
"Dendra, bisakah kamu besok kembali untuk memimpin perusahaan lagi?" tanya ayah Dendra membuat Rasta terkejut
"Kenapa ayah terburu buru. padahal kondisi Dendra belum sehat benar." Ucap Rasta gelisah. Jika besok Dendra benar memimpin perusahaan lagi. Kelakuannya yang sering menghabiskan uang perusahaan akan diketahui. Apalagi penindasnya terhadap para karyawan kantor. Bisa-bisa Dendra mendepak ku dari sana
Tapi mengapa aku takut Padahal kami sama-sama anak ayah. Jika tidak menjadi direktur utama di perusahaan ini, aku bisa memimpin di perusahaan ayah yang lain.
"Baik ayah besok aku akan memimpin perusahaan PT Wangsa Wardana kembali. Keadaan ku sudah membaik." tegas Dendra
Keesokan harinya
Pagi ini Dendra terlihat gagah ,tampan rupawan,bertubuh tegap, rambut tertata rapi. Tidak acak-acakan seperti biasanya dengan memakai stelan jas hitam Kemeja putih mengendarai mobil Alphard hitam dia melaju ke arah perusahaan PT Wangsa Wardana
Sesampainya di kantor para karyawan tercengang melihat Bapak Dendra yang menjabat sebagai direktur utama di perusahaan itu melewati mereka yang sudah siap memberi jalan padanya .
Semua mata perempuan menatap kearahnya tanpa berkedip .Memang pesona Bapak Dendra tidak ada tandingannya. Meski Rasta mirip dengannya tapi mereka tetap terlihat jauh berbeda satu sama lain
Semua karyawan bergembira. Direktur yang paling mereka banggakan akhirnya kembali memimpin perusahaan.
"Selamat pagi, Pak" Sapa karyawan Karyawati kanan kiri jalan yang dilalui memberikan senyuman yang indah padanya. Dendra menoleh nya dan menganggukkan kepalanya sambil memberi senyuman kecil untuk mereka.
Hati para emak - emak mulai berdenyut denyut. Memang dasar para emak tak
ingat anak, suami mereka .
Dari arah belakang Rasta berjalan dengan santai sama halnya dengan Dendra.
"Segera kalian kembali keruangan!" Suara Rasta tiba-tiba menghancurkan lamunannya bersama Bapak muda kece itu.
Dasar Bapak Lampir, eh emang ada Bapak Lampir. Yang bener Nenek Lampir.
Segera mereka berlarian keruangan masing-masing - masing dengan takutnya.
Rasta memasuki ruangan direktur utama . Kemudian menemui Dendra .
"Den, hari ini aku pasrahkan semuanya padamu. Aku akan memimpin diperusahaan PT Adiaksa Wardana. Aku yakin kamu sudah sehat. Dan bisa memimpin perusahaan kembali. Sementara aku akan tinggal diapartement milik ayah disana. "
"Baik Kak. Kakak tidak perlu cemas." Dendra menjelaskan
Akhirnya Rasta tidak bekerja lagi si sana. Dan memilih perusahan milik ayahnya di Kota Bandung.
"Aku akan kesana siang nanti. Jaga dirimu baik-baik - baik." Ucap Rasta sambil menepuk pundak Dendra. Dalam hati tau akan kebusukan saudaranya itu .
Dendra melihat berkas- berkas dimeja ya yang begitu acak -acakan . Di bukanya berkas dalam map satu persatu. Hinga ia menemukan satu berkas warna merah yang bertuliskan daftar pengeluaran tiga bulan terakhir.
Dendra hanya diam. Tidak berkata apapun Memandang ke arah kakaknya itu. Bisanya hanya beberapa bulan saja sudah menghabiskan uang segitu banyaknya, tapi mungkin banyak pengeluaran untuk keperluan lain yang tidak ia ketahui.
Siang itu ada rapat mendadak, semua karyawan dan karyawati menyiapkan berkas - berkas-berkas mereka untuk keperluan rapat. Mereka tidak perlu membuatnya terlalu terperinci karena mereka menganggap Bapak Dendra akan meloloskan semua hasil kerja mereka.
Rapat selesai. Dendra pulang sampai malam hari. Karena banyak yang harus dia kerjakan. Setelah dua tahun menganggur ternyata bekerja seharian lelah juga, keluhnya
Dia segera merapikan meja kursinya . Membawa tas kopernya yang ringan. Dia berjalan melewati koridor dan melihat ruangan yang dulu diduduki Adelina sekretaris pribadi sekaligus kekasihnya. Namun jodoh belum menyatukan mereka.
Entah kemana lagi ia harus mencari gadis itu. Jika dia masih hidup dimanakah dia berada. Dan jika sudah tak ada lagi di dunia ini dimanakah jasadnya.
Dia berjalan perlahan diruang itu, karena ruangan berdinding kaca, sehingga tampaklah dari depan seluruh isi di dalamnya .
Dia berhenti sejenak, karena sekilas dia melihat gadis duduk di sana memandang lap top didepannya. Sosoknya mirip sekali dengan Adelina. Dendra kembali melihat nya, dan gadis itu tidak ada lagi dalam pandangannya.
"Apa aku tadi salah lihat? Siapakah wanita tadi?" Gumamnya dalam hati.
Saat ia mulai melangkah kan kakinya lagi Ada seorang k
Pegawai sedang berjalan ke arahnya.
"Malam Pak. Bapak belum pulang ?" tanya pegawai wanita itu
"Malam juga Ia ini tadi masih menyelesaikan berkas berkas yang belum ditandatangani Rasta. Oh ya ruangan sekretaris ini sekarang siapa yang menempati?" Tanya Dendra ingin mengetahui tempat ini
"Sabrina Pak. Dia sekretaris bapak tadi dia izin tidak masuk karena sakit ." Jawab pegawai wanita itu lagi
"Oh ya udah makasih" Dengan melihat sekitar, Dendra memandangi banyak perubahan di kantornya oleh East.
"Sama-sama Pak" Perempuan itu berlalu dari pandangannya.
Lalu siapa yang aku lihat tadi? Gumamnya dalam hati.
Dia kembali melanjutkan langkahnya melewati koridor itu dan turun dari lantai atas dengan lift utama.
Sampai di luar pintu ia melihat gadis yang berjalan tergesa-gesa. Dendra tidak tahu siapa dia karena dua tahun waktu yang lama Hingga karyawan baru dia belum mengenalnya
