Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 13 Ketakutan

"Sebentar ya. Aku ambilkan makanan kecil untukmu!" Dendra berjalan meninggalkan Amelia dikamar sendiri.

Dia menuju dapur.bMencari sesuatu didapur.

"Bi Kira, Ada makanan kecil gak?"

"Ada Tuan di lemari pendingin," Bi Kira segera mendahului Dendra membuka kulkas dan mencarikan cake cokelat tabur keju.

"Bi cake kok ditaruh lemari pendingin. Apa gak keras," tanya Dendra.

"Maaf Tuan. Tidak ada lagi makanan saji. bibi Kira tidak ada yang mau. Jadi Bibi simpan saja dikulkas. Apa bibi buatkan sebentar?" tawar Bibinya.

"Gak usah Bi Ini saja. Bibi masak saja yang spesial buat makan siang nanti," suruh Dendra.

"Baik Tuan," segera Bibi menyiapkan bahan untuk persiapan memasak untuk nanti siang.

"Tuan ini Dimeja masih Ada makanan tadi pagi. Biasanya di keluarga ini tidak suka buang buang makanan. Ehm mungkin karena gadis tadi. Jadi tuan harus melayaninya dengan baik," gumam Bibi

Sambil mengupas beberapa bawang merah bawang putih lalu mata terasa perih hingga mata air mata berderaian sampai terasa kehidung hidungnya sekalian.

Dendra kembali untuk mengambil minuman. Dia mendengar Bibi Kira sesenggukan. Dikiranya Bibi sedang menangis.

"Kenapa Bibi menangis? Maaf Bi, jika Perilakuku buruk terhadap bibi yang usianya sudah mulai menua. Bibi pasti lelah dari pagi sudah bekerja keras dirumah ini. Dan sekarang aku menyuruh bibi lagi," Dendra berkata dengan tidak enak hati.

"Astaga tuan. Begitu perhatiannya Tuan terhadap bibi. Mata Bibi hanya pedih terkena aroma bawang ini Tuan muda," Bibi menjelaskan.

"Ih seperti itu. Hahaha saya kira Bibi sedang menangis?" Dendra tertawa terbahak bahak.

"Tuan muda mencari minum?"

"Ia Bibi,"

"Ini ada lemon ice Tuan Mama Tuan muda yang tadi membuatnya," dengan menyodorkan sebuah teko, dan segera Dendra menuangnya sendiri.

Dendra kembali lagi ke kamar Amelia. Dia mencari kesana kenari tidak ada juga.

"kemanakah gadis itu pergi? Bukankah tadi duduk disini memakan cake?" gumamnya.

"Amelia Amelia," Dendra memanggil namanya tidak ada yang menyahut.

"Aku Letakkan minuman ini dimeja. Kamu istirahat ya. Nanti makan siang Diantar Bibi" ucap Dendra setengah berteriak.

"Dimana ya gadis itu,ahh sudahlah. Aku mau istirahat dulu. Lumayan lelah untuk hari ini,"

Dendra pergi ke kamarnya. Dia berbaring dan menatap langit langit kamarnya.

"kenapa hari ini aku merasa bahagia banget ya, aku heran sendiri. Apa karena Amelia? Entah. Seperti nya aku lagi jatuh cinta lagi. Maaf sekali lagi Adelina. Aku bukan tipe cowok setia"

"Entah kenapa Sekarang di hatiku hanya tertulis nama Amelia. Aku rasa tidak ada kesan pertama yang mendalam antara aku dan AMelia. Amelia Amelia dan Amelia, aku tidak dapat memejamkan mataku. Wajahnya selalu terbayang bayang di pikiranku,"

"Dia seperti makhluk halus yang tiba tiba masuk dalam hidupku. Tidak tahu kapan datangnya cinta ini. Aku harus segera bertindak cepat. Aku harus mengutarakan Cintaku padanya,"

Sementara Dikamar Dendra,

"Uda kamu jangan banyak bertingkah. Atau lukamu tidak akan sembuh!" Dendra memperingatkan Amelia.

Amelia tersenyum. Dendra membalasnya.

"Ya sudah, kamu istirahatlah!"

Amelia mengangguk.

Sore harinya.

Diruang tamu Dendra sering kali menatap pintu kamar Amelia tidak kunjung dibuka. Mira memergoki ulahnya.

"Nunggu dia ya?" Sindir Mama Mira

"Apa sih Ma," Katanya tersipu malu .Wajahnya berubah merah seperti jambu air

"Halah Dari tadi Mama lihat kamu gak berhentinya melihat kamar tamu itu!" Mama Melanjutkan guraunya.

"Sudahlah Ma, Gak usah bercanda gitu," Dendra menenangkan hatinya.

'Cekreeeeeekkk," suara pintu terbuka Dendra segera menatap tajam arah pintu kamar.

Mira tersenyum cekikikan.

Dendra yang merasa mama Mira menertawakannya melihat nya dengan tatapan membunuh sekejap Mama Mira menutup mulutnya.

"Maaf Ma," Dendra berucap singkat.

Dari dalam kamar keluarlah Amelia, Dia terlihat segar, dia sudah berganti pakaiany sendiri.

"Mungkin kakinya sudah tidak terasa sakit," gumam Dendra tak mengedipkan matanya sekalipun karena terpanah oleh kecantikan Amelia, begitu pula dengan Mama Mira.

"Dia pantas menjadi menantuku, Dia sangat cantik dan anggun," pujinya dalam hati.

Amelia masih berjalan dengan tertatih tatih. Dendra segera menghampirinya dan memapahnya.

"Tidak usah dibantu. Kakiku Uda gak apa apa," Dendra tidak menghiraukan katanya dan tetap memegang pundak dan pinggang perempuan itu .

"Astaga Dendra. Mama tidak pernah melihatmu begitu halus dengan perempuan. Mama yakin kamu sudah melupakan Adelina. Dan mencintai gadis ini" gumam Mama Mira.

"Kamu mau kemana?" tanya Dendra pada Amelia.

"Aku ingin duduk duduk diluar rumah. Menghirup udara luar," jawabnya

"Aku bantu kesana."

"Sore Tante," sapanya.

"Sore juga Amelia," sapa balik Mira padanya

Diluar rumah,

Di taman rumah Dendra, terdapat ayunan dengan bangku panjang cukup untuk dua orang disana. Dendra dan Amelia melihat langit sore yang berwarna kuning kemerahan, matahari tidak lagi menampakkan wujudnya, hanya tinggal cahaya yang masih terlihat terang di langit. Matahari sebentar lgi akan terbenam.

Ayunan itu mulai didorong dengan pelan oleh Dendra. Sunyi sekejap, lalu Amelia mulai pembicaraan.

"Kamu bahagia jadi orang kaya raya Dendra?"

"Aku bahagia bukan karena kekayaannya. Tapi karena keluargaku menyayangi aku, merawat aku dengan sepenuh hati," Jawabnya tenang

"kau sendiri gimana. Hidupmu bahagia tidak?" Dendra bertanya, yang ditanya tak kunjung menjawab.

"Aku tidak tahu. Aku tidak bisa menilai sendiri hidupku. Masa laluku buruk. Tidak ada satu kenangan pun yang manis," Amelia berkata dengan murung

"Kau bisa bercerita masalah mu denganku SiapA tahu aku bisa membantumu!"

"Meski aku bercerita, kamu tidak akan bisa mengembalikannya."

"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti?" Dendra merasa ada banyak beban dipu.daknya.

"Sayangnya dia tidak mau bercerita padaku."

"Sudahlah. Lupakan saja," Amelia memotong pembicaraannya.

"Aku akan membantumu. Apapun kesulitan mu. Aku janji," ucap Dendra pada Amelia.

"Semua kesulitan ku kau yang membuat. Keluargamu yang menghancurkannya,"

"Terima kasih Kau begitu memperhatikanku," lnjut Adelia lagi.

"Kalo boleh tanya, kamu bekerja dimana?" Dendra ingin mengajaknya bekerja di perusahaanya.

"Kontrak kerjaku habis. Dan tidak diperpanjang lagi. Aku belum melamar kemana pun,"

"Kalau begitu kamu boleh bekerja di perusahaan aku. Setelah kakimu benar benar sembuh," ajak Dendra padanya.

"Ia terima kasih banyak. Kau sudah banyak menolongku,"

Beberapa hari berlalu

Malam itu Bi Kira diperintahkan Mira untuk memanggil Amelia ke kamarnya ada sesuatu ya g ingin perbincangkan sesama perempuan.

"Bik, tolong panggilkan Amelia ya di kamarnya. Suruh dia ke kamarku!" Perintah Mira pada Bibi Kira ketakutannya yang sudah di ubun-ubun

"Aduh nyonya. Aku takut nya, aku uda kapok kalau harus menemui gadis itu, dia adalah hantu jelmaan Nyonya Mira!" Bibi tampak gemetaran saat Mira menyuruh menemui Amelia. Suhu tubuh Amelia semula normal KiNi naik 37°Celcius. Tekanan darah mencapai 170.

"Sudah Bi Jangan banyak alasan. Cepat panggilkan Amelia kesini!"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel