Bab 12 Jatuh Cinta
"Kenapa aku gugup saat berdekatan dengan Amelia. Apakah aku sudah merasakan jatuh cinta lagi?" gumamnya dalam hati.
"Kenapa melamun?"
"Oh tidak. Maaf maaf," Dendra memperbaiki wajah ya.
"Nih minum. Pasti lelah ya," Amelia menyodorkan minuman ke Dendra.
"Maksih," ucap Dendra segera mengambil botol Amelia.
Dendra meneguk separuh dari minuman itu. Dan mengembalikannya lagi ke Amelia.
Dendra mencuri pandang kearah Amelia.
"Benar-benar mirip," gumamnya.
"Yang membedakan, Amelia memiliki tahi lalat didagu sebelah kirinya. Dia tampak manis dengan tahi lalat itu,"
"Haii haii tuh kan melamun lagi," tangan Amel melambai depan wajah Dendra yang kosong.
"Ayo kita lanjutkan lagi jogging ya. Mengitari taman ini 10kali. Kuat gak kamu?" Amelia menawarkan.
"Ayo siapa takut," Dendra berdiri bersiap.
Nafas Dendra tersengal karena kelelahan.
Tiba tiba Amelia menginjak sesuatu dan menancap di kakinya .
"Auughhh ahh aduuhh," rintihnya.
"Ke apa Mel?" tanya Dendra yang sudah berada jauh didepan Amelia. Dia kembali berlari ke belakang.
Amelia duduk tidak dapat berdiri. Melihat kakinya yang terasa sakit.
Dendra segera mengangkat kaki Amelia sebelah kiri. Dan dia melihat sesuatu aku menancap di sepatunya hingga menembus Kakinya.
"Kamu tertusuk paku," Segera Dendra melepas sepatu itu dan paku yang mengenai kakinya ikut tercabut bersama sepatunya darah mengalir dari luka tusuk itu.
"Aaargggggg sakit Dendra,"
Dendra melihat kaki Amelia. Ada bekas luka tapi anehnya tidak berdarah. Dendra hanya memendamnya .
"Aku gendong kamu ya, aku bawa kamu kerumahku,"
"Kenapa kerumahmu?" tanya Amelia sedkit kesakitan.
"Jarak dari sini kerumah dekat,"
"Nanti kita kerumah sakit naik mobilku,"
"Iya," Amelia mengangguk pelan.
Dendra mengangkat tubuh Amelia dan berjalan kearah rumahnya.
Amelia memandang wajah Dendra begitu dekat. Dia terlihat tersenyum bahagia saat dirinya berdekatan dengan pria itu.
Dendra yang menyadarinya melihat
wajah Amelia.
"Kenapa memandangku seperti itu?" Dendra tersipu malu.
"Ah tidak ada apa apa," Amelia segera memalingkan pandangannya kearah lain
"Sakit gak kakimu?
"Iya masih sakit. Sulit digerakkan,"
"Tahan ya. Sebenter lagi kita Samapi rumahku,"
Tiba dirumah Wardana.
"Rumahmu besar seperti istana"
"Tidak. Kau terlalu memuji. Ini bukan rumahku. Ini milik orang tuaku,"
"Kamu kan tinggal disini?"
"Benar juga," Dendra terkikik.
Dendra masih menggendong Amelia masuk kedalam rumah.
"Siapa gadis ini tuan?" tanya Bibi Kira tidak biasanya tuan membawa masuk seorang wanita.
"Tolong bawakan kotak p3k. Dan es batu Bi!" suruh Dendra dengan meletakkan Amelia disofa .
Beberapa saat kemudian Bibi Kira datang membawa kotak obat dan sekotak es batu.
"Ini tuan," kata Bibi Kira menyodorkan kotak p3k di bawah sofa.
Dendra merawat kaki Amelia. Dengan es batu luka itu dibersihkan. Diberi alkohol dan ditetsi dengan pereda nyeri lalu di tutup dengan kapas dan plester.
"Sudah," kata Dendra.
"Makasih ya," Amelia tersenyum atas kebaikan Dendra .
"Di mana Mamamu?"
"Nyonya pergi ke supermarket tuan," Bibi Kira menjawab segera.
"Yah sudah aku izin pulang dan terima kasih sudah menolongku ke sekian kalinya,"
"Tidak. Kamu tetap disini. Biar kamu disini dulu. Biarkan lukamu sembuh dulu. " Dendra menjelaskan pada Amelia.
"Aku seorang perempuan. Tidak baik berlama lama dirumah seorang pria," ucapnya.
"Kita pergi kerumah sakit ya buat mengobati lukamu Amelia?"
"Aku uda gak apa-apa. Tidak perlu kerumah sakit," Jawab Amelia.
"Tapi lukamu?"
"Sudahlah. Aku gak apa-apa,"
"Ada Mama dirumah ini ada Bibi, ada satpam dan aku, aku tidak sendiri dirumah ini. Jadi apa alasannya kamu tidak boleh disini?" Lanjutnya
"Tidak aku tetap akan pulang,"
"Sudahlah jangan membantah!" ucap Dendra kesal. Karena meski di kontrakannya pun dia tidak ada yang merawat.
Beberapa saat kemudian.
"Pagi semua," sapa Mira kepada semua yang ada diruang tamu. Dia melihat seorang perempuan yang asing.
"Oh ada tamu rupanya," lanjutnya meletakan balanjaannya dimeja, yang disusul Bibi Kira.
"Biar saya letakkan di dapur Nyonya," segera Bibi mengambilnya lalu berjalan ke arah dapur.
Amelia berdiri dan menghampiri Mama Mira dan bersalaman. Dengan berjalan yang tertatih tatih
"Loh kenapa dengan kakinya Dendra? Sudah kamu duduk saja," Mira menghampiri Amelia dengan tersenyum.
"Gadis cantik ini siapa Dendra?"
"Maaf Tante Saya Amelia."
"Namamu cantik, seimbang dengan wajahmu yang menawan," puji Mama Mira.
"Jangan begitu Tante. Saya bukan siapa-siapa. Maaf saya merepotkan kalian"
"Gini Ma. Dia Amelia yang pernah saya ceritakan. Sebelumnya ke mama. Tadi tidak sengaja Dendra ketemu dengannya di taman. Dan kakinya tertusuk paku saat joging bersamaku. Karena kontraknya jauh akhirya Dendra bawa kemari," jelas Dendra. Takutnya mamanya berfikiran negatif.
"Uda dikasih obat?" Mamanya bertanya
"Sudah Ma,"
"Jangan buat gerak gerak dulu. Biarkan Lukanya sembuh dulu dan kering. Kamu tinggal disini saja untuk sementara waktu," suruh Mamanya.
"Tidak Tante Saya sudah banyak merepotkan. Saya pulang saja," Pintanya
"Jangan. Luka itu serius. Nanti kalau tidak dirawat dengan baik bisa bisa infeksi kamu. Udah kamu disini nanti Biar Dendra yang menggendong kamu ke kamar tamu," Ucap Mama Mira.
"Bi Bibi Kira,"
"Ya Nya,"
"Tolong bersihkan dan tata dengan baik ruang tamu!"
"Iya Nya," Bibi Kira segera berjalan kekamar tamu dan membersihkannya. Menggsnti sprei dan selimutnya.
Bibi Kira segera kembali
"Sudah Nya, kamarnya sudah bisa ditempati" kata Bibi Kira.
Lagi Dendra menggendong tubuh perempuan itu dan berjalan menuju kamar tamu.
"Kau berat juga Ya," kata Dendra, AMelia cemberut tidak bersuara.
Dendra membaringkan Amelia diranjang yang empuk. Mira menyusulnya.
"Nak, Kalau kau butuh sesuatu panggil saja Bibi Kira atau Mama. Anggap saja ini seperti rumahmu sendiri, di lemari ada beberapa baju wanita kamu ia bisa memakainya,"
Amelia mengangguk dan berterima kasih terhadap kebaikan hati keluarga Wardana.
Mira meninggalkan Amelia berdua. Dendra memperhatikan senyum Amelia.
"Kenapa senyum senyum sendiri. Aku gak diajak?" Dendra terkikik. Entah apa yang membuat dia senyum senyum sendiri seperti itu. Apa sekarang ada yang aneh dengan wajahnya?"
Dendra berdiri di meja rias. Dan melihat wajah nya dengan seksama.
Meski sudah mengeluarkan banyak berkeringat dia masih tamapk keren fikirnya.
"Ehmm, aku masih ganteng gak menurutmu?" Dendra memuji dirinya sendiri.
"Ternyata kamu tipe pria yang terlalu percaya diri ya. Memang siapa yang memujimu? Gak ada tuh," Amelia membenarkan Tapi dalam hatinya memang Dendra pria yang tampan.
"Ya kan?senyum lagi. Kamu naksir gak sama akau?" Dendra menggoda lagi.
Tidak seperti biasanya dia melakukan hal konyol seperti itu. Dia melakukan dengan senang hati terhadap Amelia.
"Apakah aku mulai menyukai gadis ini? Senyumnya membuatku terjerat cintanya," gumamnya dalam hati.
"Kamu sudah ku taklukan. Perlahan lahan aku akan melukai hatimu, aku akan menghancurkan keluargamu. Kamu, Kakakmu yang tidak punya hati nurani, dan orang tuamu, perlahan tapi pasti akan ku balas semua yang telah kau perbuat terhadap ku dan keluargaku keluargamu telah membunuhku secara keji ," Gumam Amelia dalam hati. Penuh dengan dendam dan amarah
