Bab 14 Tentang Amelia
Bibi harus melaksanakan perintah nyonya atau tidak nanti gaji ya dipotong benar.Gara gara soal ginian.
"Baik Nya. Saya panggilkan segera!"
Dengan berat hati Bibi berjalan mundur dan segera kekamar tamu, dimana Amelia tempati.
"Tok tok tok tok," Pintu kamar Amelia diketok oleh sang Bibi.
Perasaan bibi sudah mulai tak tenang. Jantung berpacu begitu kencang. Tak terkendali.
"Aduh apa aku uda siap dengan kejutan dari perempuan itu lagi. Wanita siluman haduh kalau ada pekerjaan lain. Mending aku mengerjakan menyapu sampah satu kampung daripada harus bertemu dengan kuntilanak satu ini!" Gerutunya dalam hati sebagian dirinya dikuasai ketakutannya.
"Siapa?" tanya Amelia dari dalam kamar. Suara itu besar dan menakutkan.
"Bibi Non," dengan suara gemetaran nya.
"Iya masuk aja!" jawabnya lagi.
Perasaan Bibi Kira tidak karuan. Apa lagi mendengar suara perempuan itu seperti film film horor yang dibintangi" Suzzana". Menyeramkan
"Cekreeeeeerrk"
"Astaga bunyi rumah nyonya, rumah orang kaya tapi suara pintunya buat orang yang berniat maling gak jadi karna ketahuan karna suara pintu berisiknya,"
Bibi melihat Nona itu sedang merias wajahnya, dia duduk membelakangi menghadap kaca besar.
"Nona," Sapa Bibi Kira Sekuat tenaga dia menyiapkan mental penuh.
Perempuan itu bersiap dengan perlahan memutar kepalanya. Seperti leher tidak bertulang, tidak ada baut penguat untuk mengunci.
"Astaga Astaga astaga,"
Bibi memasang kuda kuda penuh 180% belok kebelakang dan bersiap untuk berlari.
Bibi sangat terkejut melihat wanita itu tanpa indera. Tanpa mata , hidung, mulut dan Alis.
"Mbok Mbok, tulungen putumu Mbok," Bibi Kira berteriak dengan logat jawanya.
Persiapan untuk lari rasanya tidak dapat diaplikasikan. Kakinya sama sekali tidak dapt digerakkan .
"Duh Gusti, Sikilku piye Iki Kog gak gelem melaku Iki?" Bibi dengan lucunya berjalan memutar dan perlahan berjalan perlahan lahan asal jalan dan meninggalkan perempuan hantu itu.
"Tiga, Dua ,satu kaburrrrr," teriknya dalam hitungan mundur dan sukses untuk berlari meninggalkan kamar Amelia.
Tubuhnya jungkir balik tak menentu karena takutnya luar biasa.
Asal dia sudah jauh dari perempuan itu Hidupnya akan tenang.
"Syukurlah dia tidak mengejarku," Bibi Kira mengatur nafasnya perlahan lahan.
Kembali dia berlari tidak melihat jalan depan, lalu menabrak tuannya, Dendra.
"Ada apa Bi, Tidak biasanya Bibi lari ketakutan seperti itu ?" Kata Dendra panik.
"Tidak ada apa apa Tuan Muda, Bibi abis dihinggapi seekor kecoa," Bibi terpaksa berbohong, kalau harus berkata jujur tidak akan mungkin tuannya akan percaya.
"Dimana kecoa itu?" Dendra bertanya dengan wajah serius.
"Didepan kamar Nona Amelia Tuan muda
Tadi saya mau bilang ke Nona kalau disuruh Nyonya kekamarnya," ucap Bibi tidak mau pergi kekamar itu lagi
"Maaf tuan pikir Bibi ,sekalian deh kasih tau ke Nona itu," Bibi terkikik dalam hatinya tapi maksudnya biar sekalian.
"Biar nanti saya kasih tau ke dia Bi. Saya akan usir kecoa itu pergi .
"Ya Tuan. Terima kasih," Bibi tersenyum lebar setelah Dendra pergi dari tempatnya berdiri.
"Mana mungkin ada kecoa berkeliaran dirumah ini, Bibi pasti ngerjain saya kalau yang bibi kerjain Kak Rasta, tamat pekerjaan bibi dirumah Wardana," Dendra bicara sendiri sambil berjalan melihat lihat bawah.
Sampainya di depan kamar Amelia.
"Tok tok tok,"
"Iya silahkan masuk!"perintahnya Amelia suara itu berasal dari dalam.
Dendra membuka pintu kamar Amelia. Dia melihat Amel begitu cantik sempurna pada malam ini.
Amelia berdiri dari kursi rias ,dan berjalan lemah gemulai mendekati Dendra yang berdiri tanpa berkedip meliaht kecantikan Amelia melebihi cantiknya Adelina.
"Malam ini kamu sangat cantik Mel," puji Dendra padanya.
"Terima kasih Dendra. Kamu terlalu memujiku secara berlebihan," Amelia tersipu malu.
Gaun hitam ini sengaja ia belikan untuk Amelia beberapa hari yang lalu .
"Terima kasih gaunnya indah,"
"Sama-sama. Aku seneng kalau kamu menyukai nya,"
"Oh ya, Kata Bibi di depan kamar ada kecoa. Apakah kecoa itu masuk kamar mu?"
"Gak ada kecoa masuk kesini Dend. Rumahmu bersih, gak bakal ada satu kecoa Satupun yang akan berani masuk,"
jawab Amelia terkikik.
"Kenapa tertawa gitu. Emang ada yang lucu?" Dendra heran dengan Amel yang tiba tiba tertawa.
"Aku tertawa karena, Bi Kira. Dia tadi melihatku memakai masker. Trus dia lari terbirit-birit keluar. Mungkin di sangka aku hantu tanpa muka hahahaa," Amelia melanjutkan tertawanya.
Dendra bahagia melihat Amelia bisa tertawa lepas sepeti sekarang ini
Tiap di bertemu dengan persmpuan ini. Wajahnya jarang menampakan ekspresi bahagia.
Malam ini dirumAhnya dia terlihat bahagia sekali.
"aku akan selalu membuatmu bahagia Mel'gumam Dendra.
"Kamu ditunggu Mama Mira dikamar Mel!"suruh Dendra hampir lupa dengan perintah mamanya lewat Bi Kira tadi.
"Oke. Baiklah,"
"Kamu berani kan kekamar Mama sendiri?"
"Kenapa gak berani? aku sudah menganggap mamamu seperti ibuku sendiri!" Singkat jawaban Amelia.
Amelia berjalan menuju kamar tante Mira, dalam perjalanan menuju kamar ya Dia tak sengaja melihat Bibi berpapasan dengannya.
Seketika itu Bibi Kira menutup kedua mata nya dengan telapak tangan. Perlahan lahan.
Amelia ya Melihatnya segera menyapanya,
"Kenapa Bu, ada yang Bibi takutkan?" tanyanya membuat Bibi bergidik.
"Tidak nona," suara Bibi terdengar gemetaran.
"Mati Aku!"
Sedikit demi sedikit telapak tangan mulai dibuka.
"Astaga setan,"Bibi Kira bersiap tancap gas saat melihat wajah Amelia yang penuh dengan darah segar mengucur disekitar pelipis Wajahnya.
"Ampun.l ampun nona ampun," Bibi Kira lari tunggang langgang meninggalkan dimana Amelia berdiri.
Dengan nafas terengah-engah Bibi Kira sampai dipekarangan rumah dan menceritakan semua kejadiannya bersama satpam penjaga gerbang kediaman Wardana.
"Baru sekarang aku di takuti memedi terus -terusan begini. Rasanya pengen berhenti kerja aku Pak Dh," ucap Bibi Kira.
"Huss. Omonganmu ngelantur," tegur satpam.
"Iya Pak Dhe. Nona Amelia itu sebenarnya hantu." Bi Kira terus membicarakan Amelia tnap henti.
"Kalau kamu ngomong macam-macam soal Nona Amelia. Awas Tuan Muda akan memarahimu! Dan akan memecat kamu Bi! Sudahlah aku mau berjaga lagi,"
Sementara dikamar Mira, mama Dendra bersama Amelia.
"Malam Amelia. Kamu cantik sekali seperti biasanya kamu selalu terlihat anggun," puji Mama Dendra.
"Malam juga Tante, Tante selalu memuji secara berlebihan," Amelia tersipu malu karena ucapan Mira.
"Kamu mau kemana memakai gaun secantik itu?" tanya Mira
"Tidak kemana-mana Tante. Dendra yang membelikan untuk Amel. Malam ini dia menyuruhku untuk memakainya," jawab Amelia pelan.
"Duduklah disini dekat Tante!" suruh Mira padanya dengan menarik pelan lengan Amelia.
Amelia duduk disebelah Mira, dan mendengarkan perkataan Mama Mira.
"Tadi Tante memanggilmu kesini mau membicarakan apa Tan?" Amelia penasaran tidak biasanya Tante Mira menyuruhnya untuk pergi ke kamarnya
