Bab 4 – Sahabat yang Selalu Menunggu
Musim kemarau mulai menyelimuti Desa Teratai.
Langit hampir selalu cerah sejak pagi hingga senja. Hamparan sawah yang sebelumnya hijau kini berubah menjadi kuning keemasan, menandakan masa panen telah tiba. Kesibukan terlihat di setiap sudut desa. Para petani memanen padi, anak-anak berlarian di pematang, sementara suara tawa terdengar di mana-mana.
Di rumah Arga, kehidupan pun berjalan semakin baik.
Kerja sama dengan Pak Hasan membuat hasil panennya selalu terserap pasar. Sedikit demi sedikit, tabungan mulai terkumpul. Atap rumah yang dulu bocor kini telah diganti dengan seng baru. Dinding kayu yang mulai lapuk juga diperbaiki agar lebih kokoh menghadapi musim hujan berikutnya.
Bu Ratri sering memandangi rumah mereka dengan mata berkaca-kaca.
"Ayahmu pasti bangga melihat semua ini," ucapnya suatu sore.
Arga hanya tersenyum sambil memaku papan kayu terakhir di teras.
"Aku hanya ingin Ibu hidup lebih nyaman."
Tak jauh dari mereka, Sora sedang berbaring di bawah pohon mangga. Ia memperhatikan setiap gerakan Arga. Sesekali, ketika palu atau paku jatuh ke tanah, telinganya langsung bergerak, lalu ia kembali berbaring dengan tenang.
---
Hari-hari berlalu dengan rutinitas yang hampir sama.
Pagi hari, Sora mengantar Arga hingga ke halte.
Siang hari, ia kembali ke rumah menemani Bu Ratri di kebun.
Sore hari, sebelum bus terakhir tiba, ia sudah duduk di bangku kayu halte tua itu.
Tidak ada yang pernah menyuruhnya.
Tidak ada yang melatihnya.
Namun nalurinya seolah memiliki jam yang tak pernah salah.
Penduduk desa mulai menganggap pemandangan itu sebagai sesuatu yang biasa.
Bahkan ada yang menjadikannya penanda waktu.
"Kalau Sora sudah ke halte, berarti sebentar lagi jam empat."
"Benar, bus dari kota pasti segera datang."
Anak-anak desa pun sering ikut menunggu bersama Sora.
Mereka duduk di bangku halte sambil bercerita tentang sekolah, bermain kelereng, atau sekadar menghitung kendaraan yang lewat.
Namun setiap kali terdengar suara mesin bus dari kejauhan, semua perhatian Sora langsung berubah.
Ia berdiri.
Telinganya tegak.
Tatapannya tak pernah lepas dari jalan.
Bus berhenti.
Pintu terbuka.
Begitu Arga turun, wajah Sora langsung berbinar.
Ia berlari menyambut tuannya dengan langkah-langkah penuh semangat.
Pemandangan itu selalu membuat siapa pun yang melihatnya ikut tersenyum.
---
Suatu sore, seorang fotografer muda bernama Bima datang ke Desa Teratai.
Ia sedang berkeliling Kalimantan untuk membuat dokumentasi kehidupan desa.
Saat bus berhenti di halte, kameranya tanpa sengaja menangkap momen ketika Sora berlari menyambut Arga.
Klik.
Satu foto.
Lalu satu lagi.
Bima tersenyum.
"Indah sekali."
Ia menghampiri Arga.
"Maaf mengganggu. Saya boleh bertanya?"
"Tentu."
"Anjing itu selalu menunggu Anda setiap hari?"
Arga mengangguk sambil mengusap kepala Sora.
"Sudah menjadi kebiasaannya."
"Sudah berapa lama?"
"Hampir setahun."
Bima memandang Sora dengan kagum.
"Saya belum pernah melihat kesetiaan seperti ini."
Arga tertawa kecil.
"Menurut saya, dia hanya takut saya lupa jalan pulang."
Mereka semua tertawa.
Padahal, jauh di dalam hati, Arga tahu bahwa ikatan mereka jauh lebih dalam daripada sekadar kebiasaan.
---
Beberapa hari kemudian, foto yang diambil Bima dipajang dalam sebuah pameran kecil di kota.
Foto itu memperlihatkan Sora yang sedang duduk sendirian di halte tua, sementara cahaya senja menyinari bulunya yang keemasan.
Di bawah foto tertulis sebuah kalimat sederhana.
"Setiap penantian memiliki alasan."
Foto itu menarik perhatian banyak orang.
Ada yang bertanya-tanya siapa anjing itu.
Ada pula yang penasaran mengapa ia selalu menunggu.
Namun Arga sendiri tidak mengetahui semua itu.
Baginya, hidup di desa sudah lebih dari cukup.
---
Suatu pagi, ketika Arga sedang bekerja di kebun, terdengar suara tangisan kecil.
"Bang Arga!"
Arga menoleh.
Seorang anak perempuan bernama Nisa berlari sambil menangis.
"Ada apa?"
"Anak kambing kami hilang..."
Arga langsung berdiri.
"Hilang sejak kapan?"
"Tadi pagi."
Tanpa banyak bertanya, Arga mengajak beberapa warga mencari ke arah hutan kecil di belakang desa.
Sora ikut berlari bersama mereka.
Setelah hampir satu jam mencari, semua mulai kelelahan.
"Tidak ada jejak."
"Mungkin sudah masuk lebih jauh."
Saat itulah Sora tiba-tiba berhenti.
Hidungnya mengendus tanah.
Ia berjalan perlahan mengikuti suatu aroma.
Lalu berlari.
"Sora!"
Arga segera mengejarnya.
Tak lama kemudian, mereka menemukan anak kambing itu terjebak di balik semak berduri.
"Kita ketemu!"
Nisa memeluk anak kambingnya sambil menangis lega.
Semua warga memuji Sora.
"Pintar sekali."
"Kalau bukan karena dia, mungkin sampai malam belum ketemu."
Sora hanya duduk sambil mengibas ekor.
Ia tidak mengerti mengapa semua orang memujinya.
Ia hanya mengikuti aroma yang menurutnya familiar.
Namun sejak hari itu, warga desa semakin menyayanginya.
---
Malam harinya, Bu Ratri memasakkan sedikit daging sebagai hadiah untuk Sora.
"Nah, pahlawan desa."
Sora makan dengan lahap.
Arga tertawa melihatnya.
"Kalau begini terus, nanti kamu jadi manja."
Sora mendongak sebentar, lalu kembali melahap makanannya.
Mereka bertiga tertawa bersama.
Rumah kecil itu terasa dipenuhi kebahagiaan yang sederhana.
---
Beberapa minggu kemudian, Desa Teratai mengadakan pesta panen.
Lapangan desa dipenuhi tenda dan lampu-lampu kecil.
Anak-anak memainkan permainan tradisional.
Para ibu memasak bersama.
Sementara para pemuda mengadakan lomba tarik tambang dan balap karung.
Arga ikut membantu panitia.
Sora tentu saja ikut ke mana pun Arga pergi.
Saat lomba berlangsung, beberapa anak mengajak Sora bermain.
Mereka melempar bola merah kesayangannya.
Sora berlari mengambil bola itu, lalu mengembalikannya kepada Arga, bukan kepada anak-anak.
Semua orang tertawa.
"Tetap saja pilih tuannya."
"Iya, dia cuma percaya sama Arga."
Arga mengusap kepala Sora.
"Kamu memang tidak pernah berubah."
Menjelang malam, pesta ditutup dengan pertunjukan musik tradisional.
Arga duduk bersama Bu Ratri menikmati suasana.
Sora berbaring di kaki mereka.
Angin malam bertiup lembut.
Langit dipenuhi bintang.
Arga memandang desa yang damai itu dengan hati penuh syukur.
Ia tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah sejauh ini.
Ia memiliki ibu yang selalu mendukungnya.
Rumah yang perlahan menjadi lebih baik.
Pekerjaan yang semakin menjanjikan.
Dan seekor sahabat yang tak pernah meninggalkannya.
Namun kehidupan sering kali berubah tanpa memberi tanda.
Di balik malam yang tenang itu, takdir diam-diam sedang menyiapkan ujian terbesar yang akan mengubah kehidupan Arga dan Sora untuk selamanya.
Ujian yang akan mengajarkan arti sebuah janji, kehilangan, dan penantian yang tak mengenal batas waktu.
