
Ringkasan
Di sebuah desa kecil yang tenang, seekor anak anjing terlantar diselamatkan oleh seorang pemuda sederhana bernama Arga. Sejak hari itu, mereka tak pernah terpisahkan. Anjing yang diberi nama Sora selalu mengantar Arga ke halte setiap pagi dan menyambutnya setiap sore. Suatu hari, Arga pergi ke kota untuk mengejar mimpinya. Sebelum berangkat, ia berlutut, mengusap kepala Sora, dan berkata, "Tunggu aku. Aku pasti pulang." Namun takdir berkata lain. Hari demi hari, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun berlalu. Sora tetap datang ke halte yang sama, menunggu sosok yang tak pernah kembali. Kesetiaannya menyentuh hati warga desa, menginspirasi orang-orang yang kehilangan harapan, dan menjadi simbol bahwa cinta sejati tak selalu membutuhkan kata-kata. Ketika rahasia tentang hari terakhir Arga akhirnya terungkap, seluruh desa memahami satu hal: ada janji yang tidak pernah bisa ditepati, tetapi ada kesetiaan yang tidak pernah berakhir.
Bab 1 – Pertemuan di Tengah Hujan
Langit sore diselimuti awan kelabu.
Hujan yang sejak siang turun tanpa henti membuat jalan-jalan desa menjadi becek. Genangan air memenuhi setiap cekungan tanah, sementara angin dingin berembus membawa aroma tanah basah yang khas.
Desa Teratai adalah desa kecil yang terletak di kaki pegunungan. Tempat itu jauh dari hiruk-pikuk kota. Penduduknya hidup sederhana, sebagian besar bekerja sebagai petani dan pekebun. Setiap orang saling mengenal, sehingga hampir tak ada rahasia yang bisa bertahan lama.
Di ujung desa berdiri sebuah halte kayu tua. Catnya telah mengelupas dimakan usia, atap sengnya berlubang di beberapa bagian, tetapi halte itu tetap menjadi tempat yang penting. Bus dari kota hanya datang dua kali sehari—pagi dan sore.
Hari itu, halte tersebut tampak sepi.
Tak ada seorang pun yang menunggu bus.
Hanya suara hujan yang memukul atap seng dan desir angin yang menemani kesunyian.
Tak jauh dari halte, seorang pemuda berjalan pelan sambil mengenakan jas hujan lusuh berwarna hijau tua. Di bahunya tergantung sebuah keranjang bambu berisi sayuran yang baru dipetik dari ladang.
Namanya Arga.
Usianya baru dua puluh dua tahun. Ia tinggal bersama ibunya sejak ayahnya meninggal karena sakit bertahun-tahun lalu.
Setiap hari, Arga membantu ibunya mengurus kebun kecil peninggalan sang ayah. Hidup mereka memang sederhana, tetapi Arga tak pernah mengeluh. Baginya, selama ibunya masih bisa tersenyum, semua jerih payahnya terasa ringan.
Saat melewati halte, langkah Arga tiba-tiba terhenti.
Dari balik bangku kayu tua terdengar suara lirih.
"Cuiiit..."
Sangat pelan.
Hampir tenggelam oleh derasnya hujan.
Arga menoleh.
Ia mengerutkan dahi.
Suara itu terdengar lagi.
"Cuiiit..."
Ia meletakkan keranjang bambunya, lalu berjalan mendekat.
Di balik bangku yang basah, meringkuk seekor anak anjing kecil berwarna cokelat keemasan. Tubuhnya kurus. Bulunya basah kuyup. Kedua matanya yang bulat tampak sayu karena kedinginan.
Anak anjing itu gemetar hebat.
Saat melihat Arga mendekat, ia berusaha mundur meski tubuhnya hampir tak memiliki tenaga.
Arga berjongkok perlahan.
"Kasihan sekali..."
Ia mengulurkan tangan dengan hati-hati.
Anak anjing itu menatapnya penuh waspada.
Mungkin selama hidupnya ia lebih sering menerima tendangan daripada belaian.
Arga tidak memaksa.
Ia hanya membuka telapak tangannya.
"Ayo... tidak apa-apa."
Beberapa detik berlalu.
Hanya suara hujan yang terdengar.
Perlahan, anak anjing itu mengendus ujung jari Arga.
Tubuh kecilnya masih gemetar.
Melihat keadaan itu, Arga melepas syal tipis yang melingkari lehernya.
Ia membungkus tubuh mungil tersebut dengan syal itu.
Anak anjing itu tidak melawan.
Mungkin karena kehangatan yang mulai terasa.
Mungkin juga karena untuk pertama kalinya ada seseorang yang menyentuhnya dengan lembut.
Arga tersenyum kecil.
"Ayo pulang."
Ia mengangkat anak anjing itu ke dalam pelukannya.
Saat itulah, kepala kecil si anjing perlahan bersandar di dada Arga.
Untuk pertama kalinya sejak lahir, ia mendengar detak jantung yang membuatnya merasa aman.
---
Rumah Arga berada tak jauh dari perkebunan teh.
Rumah kayu sederhana itu sudah berdiri puluhan tahun. Dindingnya mulai lapuk, tetapi halaman depannya dipenuhi bunga-bunga yang dirawat oleh ibu Arga.
Ketika pintu dibuka, aroma masakan hangat langsung menyambut.
"Arga, kamu basah sekali!" seru seorang wanita paruh baya yang sedang memasak.
Beliau adalah Bu Ratri, ibu Arga.
Tatapan Bu Ratri segera tertuju pada gulungan syal di pelukan putranya.
"Itu apa?"
Arga membuka syalnya perlahan.
Anak anjing kecil itu mengangkat kepalanya lemah.
Mata Bu Ratri langsung melembut.
"Ya ampun..."
"Ditemukan di halte," jawab Arga singkat.
"Sendirian?"
Arga mengangguk.
Bu Ratri menghela napas pelan.
"Kalau dibiarkan, mungkin malam ini dia tidak akan selamat."
Arga tersenyum tipis.
"Itu juga yang kupikirkan."
Bu Ratri mengambil handuk kering.
"Ayo cepat dimandikan dengan air hangat."
Tak lama kemudian, ember kecil berisi air hangat sudah disiapkan.
Arga memandikan anak anjing itu perlahan.
Awalnya ia terus gemetar.
Namun setelah bulunya mulai kering dan tubuhnya terasa hangat, ia tampak jauh lebih tenang.
Bu Ratri meletakkan semangkuk kecil bubur hangat.
Anak anjing itu awalnya hanya menatap.
Lalu...
Dengan ragu-ragu, ia mulai menjilat sedikit demi sedikit.
Melihatnya makan lahap, Arga dan ibunya saling tersenyum.
"Kasihan... sepertinya sudah lama tidak makan."
Tak butuh waktu lama hingga mangkuk itu kosong.
Perut kecilnya akhirnya terisi.
Anak anjing itu mengangkat wajahnya.
Tatapannya kini berbeda.
Tak lagi penuh ketakutan.
Masih ada rasa waspada, tetapi di balik mata beningnya muncul secercah kepercayaan.
Ia menatap Arga cukup lama.
Lalu...
Dengan langkah kecil, ia mendekat.
Hidung mungilnya menyentuh kaki Arga.
Kemudian ia duduk di sampingnya.
Seolah berkata tanpa suara,
"Aku memilihmu."
Arga terkekeh pelan.
"Bu... sepertinya dia mau tinggal di sini."
Bu Ratri tersenyum hangat.
"Kalau begitu, rumah ini bertambah satu penghuni."
Hujan di luar masih turun.
Namun malam itu, di rumah kayu sederhana itu, sebuah ikatan yang akan mengubah kehidupan banyak orang mulai terjalin—ikatan antara seorang pemuda berhati lembut dan seekor anak anjing yang kelak akan mengajarkan arti kesetiaan kepada seluruh desa.
Malam semakin larut.
Hujan yang sejak sore mengguyur Desa Teratai akhirnya berubah menjadi rintik-rintik halus. Suara tetesan air dari ujung atap rumah berpadu dengan nyanyian jangkrik yang mulai terdengar dari balik semak-semak.
Di ruang tengah rumah kayu itu, seekor anak anjing kecil tertidur pulas di atas selembar kain tebal yang dibentangkan dekat tungku. Napasnya mulai teratur. Sesekali telinganya bergerak kecil ketika bara kayu mengeluarkan bunyi letupan pelan.
Arga duduk bersila di dekat tungku sambil memperhatikan makhluk kecil itu.
"Kasihan sekali," gumamnya lirih.
Bu Ratri keluar dari dapur membawa dua cangkir teh hangat.
"Dari tadi kamu memperhatikannya terus."
Arga tersenyum kecil.
"Aku penasaran. Siapa yang tega membuang anak anjing sekecil ini?"
Bu Ratri ikut memandang ke arah anak anjing itu.
"Mungkin dia memang lahir sebagai anjing liar. Atau mungkin ada seseorang yang tidak sanggup memeliharanya."
Arga menghela napas.
"Apa pun alasannya, dia masih terlalu kecil untuk hidup sendirian."
Bu Ratri mengangguk pelan.
"Kadang, manusia lupa bahwa hewan juga bisa merasa lapar, takut, dan kesepian."
Suasana kembali hening.
Di luar, kabut perlahan turun dari lereng gunung dan menyelimuti desa.
Arga menyeruput tehnya, lalu kembali memandangi anak anjing itu.
Saat itulah, anak anjing tersebut bergerak gelisah dalam tidurnya.
Kaki-kakinya bergetar kecil.
Dari tenggorokannya keluar suara lirih.
"Cuii..."
Ia seperti sedang bermimpi buruk.
Tanpa berpikir panjang, Arga mengulurkan tangan dan mengusap lembut kepalanya.
"Sudah... sekarang kamu aman."
Ajaibnya, tubuh kecil itu langsung tenang.
Napasnya kembali teratur.
Bu Ratri tersenyum melihat pemandangan itu.
"Sepertinya dia sudah percaya padamu."
Arga hanya tersenyum tipis.
Entah mengapa, ada perasaan hangat yang sulit dijelaskan saat melihat anak anjing itu bisa tidur dengan tenang.
---
Keesokan paginya...
Matahari muncul malu-malu dari balik pegunungan.
Embun masih menggantung di ujung dedaunan ketika suara ayam berkokok membangunkan desa.
Arga membuka pintu rumah.
Udara pagi terasa sangat segar setelah hujan semalaman.
Ia meregangkan tubuh sebelum mengambil ember untuk menyiram tanaman di halaman.
Baru beberapa langkah berjalan, terdengar suara langkah-langkah kecil di belakangnya.
Tok...
Tok...
Tok...
Arga menoleh.
Anak anjing itu sedang berjalan tertatih-tatih mengejarnya.
Bulunya yang kini sudah kering tampak jauh lebih indah. Warna cokelat keemasannya berkilau diterpa cahaya matahari pagi.
"Hei, kamu sudah bangun?"
Anak anjing itu mengibas pelan ekornya.
Belum lincah, tetapi cukup untuk menunjukkan rasa senang.
Arga berjongkok.
Anak anjing itu langsung mendekat dan mengendus telapak tangannya.
Lalu...
Ia menjilat ujung jari Arga.
Arga tertawa kecil.
"Oh... jadi begini caramu mengucapkan terima kasih."
Dari teras, Bu Ratri memperhatikan sambil tersenyum.
"Dia terus mengikutimu sejak tadi."
"Benarkah?"
"Iya. Begitu kamu keluar kamar, dia langsung mencari-cari."
Arga menoleh kepada anak anjing itu.
"Kamu lengket sekali, ya."
Anak anjing itu hanya memiringkan kepalanya.
Seolah tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan.
---
Setelah menyiram tanaman, Arga berjalan menuju kebun sayur yang berada sekitar lima ratus meter dari rumah.
Seperti biasa, ia membawa keranjang bambu di punggung.
Yang berbeda hari itu...
Ada empat kaki kecil yang terus mengikuti di belakangnya.
Tap...
Tap...
Tap...
Anak anjing itu berjalan sekuat tenaga agar tidak tertinggal.
Kadang ia tersandung batu.
Kadang terperosok ke tanah yang masih berlumpur.
Namun setiap kali jatuh, ia kembali berdiri dan berlari mengejar Arga.
Beberapa kali Arga berhenti.
"Kalau capek, pulang saja."
Anak anjing itu malah mengibas ekor.
Arga menggeleng sambil tertawa.
"Keras kepala juga."
Sesampainya di kebun, Arga mulai memetik tomat, cabai, dan sawi.
Sementara itu, anak anjing tersebut duduk di pinggir kebun.
Matanya tak pernah lepas mengikuti setiap gerakan Arga.
Sesekali kupu-kupu hinggap di dekatnya.
Ia mencoba mengejar, tetapi selalu gagal.
Arga yang melihatnya tertawa pelan.
"Pantas masih bayi."
Waktu terasa berjalan cepat.
Menjelang siang, keranjang Arga telah penuh.
Ia mengusap keringat di dahinya.
Saat hendak pulang, tiba-tiba terdengar suara gonggongan keras dari balik semak.
"Guk! Guk! Guk!"
Seekor anjing liar berukuran jauh lebih besar muncul.
Tubuhnya penuh luka lama.
Tatapannya tajam.
Anak anjing kecil itu langsung membeku.
Ekor mungilnya masuk ke sela kedua kaki belakang.
Ia mundur perlahan.
Anjing liar itu melangkah mendekat.
Satu langkah.
Dua langkah.
Taringnya mulai terlihat.
Anak anjing kecil itu gemetar hebat.
Arga segera berdiri di depannya.
Ia mengambil sebatang kayu yang tergeletak di tanah.
"Pergi!"
Anjing liar itu menggeram.
Namun Arga tidak mundur sedikit pun.
"Pergi!"
Kali ini suaranya lebih keras.
Setelah beberapa detik saling menatap, anjing liar itu akhirnya berbalik dan menghilang ke dalam semak.
Suasana kembali sunyi.
Arga menghela napas lega.
Ia menoleh ke belakang.
Anak anjing kecil itu masih gemetar.
Arga berlutut dan mengusap kepalanya.
"Sudah tidak apa-apa."
Perlahan, gemetarnya berhenti.
Ia menatap wajah Arga cukup lama.
Lalu, tanpa ragu, ia mendekat dan menyandarkan tubuh mungilnya pada kaki Arga.
Di dalam naluri sederhananya, ia mulai memahami satu hal.
Pemuda di hadapannya bukan hanya orang yang memberinya makan.
Ia adalah tempat paling aman di dunia.
Dan sejak saat itu, tanpa disadari Arga, seekor anak anjing kecil telah menetapkan satu keputusan yang akan dipegangnya seumur hidup:
Ia tidak akan pernah meninggalkan tuannya.
Matahari mulai condong ke arah barat ketika Arga dan anak anjing kecil itu berjalan pulang dari kebun.
Langkah Arga tetap tenang seperti biasa, sementara empat kaki mungil di belakangnya berlari kecil agar tidak tertinggal. Sesekali anak anjing itu berhenti mengendus rerumputan atau mengejar belalang yang melompat di pematang sawah. Namun setiap kali menyadari Arga semakin jauh, ia segera berlari menyusul.
Bagi Arga, pemandangan itu terasa menghibur.
Sudah lama ia tidak merasakan rumah menjadi lebih hidup.
Sejak ayahnya meninggal delapan tahun lalu, hanya ia dan Bu Ratri yang tinggal di rumah kayu itu. Hari-hari mereka hampir selalu sama. Bangun pagi, bekerja di kebun, menjual hasil panen ke pasar, lalu pulang menjelang senja.
Kini, ada seekor anak anjing yang diam-diam mengubah suasana itu.
Sesampainya di halaman rumah, Bu Ratri sudah menunggu di teras.
"Kalian lama sekali."
"Tadi ada anjing liar di kebun," jawab Arga sambil meletakkan keranjang.
Bu Ratri langsung menatap khawatir.
"Anjing liar?"
Arga mengangguk.
"Tapi sudah pergi."
Anak anjing kecil itu berjalan mendekati Bu Ratri. Dengan ragu, ia mengendus ujung sandal wanita itu.
Bu Ratri tersenyum, lalu membungkuk mengusap kepalanya.
"Untung kamu tidak apa-apa."
Anak anjing itu mengibaskan ekornya pelan.
Gerakannya masih canggung, tetapi sudah jauh lebih berani dibandingkan sehari sebelumnya.
---
Sore itu, beberapa anak desa bermain layang-layang di lapangan dekat rumah Arga.
Melihat anak anjing baru di halaman, mereka berlarian mendekat.
"Bang Arga!"
"Bang, itu anjing baru?"
Arga tersenyum.
"Iya."
Seorang anak laki-laki bernama Dika berjongkok di depan anak anjing itu.
"Boleh aku pegang?"
Arga mengangguk.
"Pelan-pelan saja."
Dika mengulurkan tangan.
Anak anjing itu tampak ragu. Ia melirik Arga lebih dulu.
Baru setelah Arga mengangguk pelan, ia membiarkan kepalanya dielus.
"Wah, lucu sekali!"
Tak lama kemudian anak-anak lain ikut mengelus bulunya.
Suasana halaman rumah dipenuhi tawa.
Yang membuat Arga terkejut, anak anjing itu tidak berlari ke sana kemari seperti anak anjing lain. Setelah beberapa saat, ia kembali duduk tepat di samping kaki Arga.
Seolah-olah itu memang tempat yang paling nyaman baginya.
Bu Ratri yang melihat dari teras hanya tersenyum.
"Dia benar-benar tidak mau jauh darimu."
---
Malam kembali turun.
Angin pegunungan membawa udara dingin yang membuat semua pintu dan jendela ditutup rapat.
Di ruang makan, Arga dan Bu Ratri menikmati makan malam sederhana—nasi hangat, sayur bening, tempe goreng, dan sambal terasi.
Sementara itu, anak anjing kecil tersebut memakan makanannya dari mangkuk kayu kecil yang dibuat Arga sore tadi.
Sesudah makan, Arga mengambil sebuah kotak kayu bekas yang biasa digunakan untuk menyimpan hasil panen.
Ia membersihkannya, melapisinya dengan kain bekas yang lembut, lalu meletakkannya di dekat tungku.
"Nah, mulai malam ini ini tempat tidurmu."
Anak anjing itu mengendus kotak tersebut.
Lalu masuk perlahan.
Ia berputar beberapa kali sebelum akhirnya meringkuk.
Arga tersenyum puas.
"Semoga nyaman."
Namun baru beberapa menit berlalu...
Arga mematikan lampu minyak dan masuk ke kamarnya.
Tak lama kemudian terdengar suara langkah kecil di lantai kayu.
Tok...
Tok...
Tok...
Pintu kamar Arga yang tidak tertutup rapat terdorong perlahan.
Anak anjing itu muncul di ambang pintu.
Matanya mencari-cari.
Begitu melihat Arga sedang berbaring, ia mengibaskan ekor pelan.
Lalu berjalan mendekat.
Arga tertawa kecil.
"Lho? Bukannya sudah kubuatkan tempat tidur?"
Anak anjing itu tidak menjawab, tentu saja.
Ia hanya duduk di samping ranjang.
Arga menghela napas sambil tersenyum.
"Baiklah."
Ia mengambil kain kecil, membentangkannya di samping ranjang.
"Nah, tidur di sini."
Anak anjing itu meringkuk di atas kain tersebut.
Beberapa saat kemudian, napasnya kembali teratur.
Arga memandangnya beberapa detik sebelum memejamkan mata.
Entah mengapa, malam itu ia merasa rumahnya menjadi jauh lebih hangat.
---
Beberapa hari berlalu.
Anak anjing itu mulai tumbuh lebih sehat.
Bulunya semakin bersih.
Matanya semakin cerah.
Ia selalu mengikuti Arga ke mana pun pergi.
Ke kebun.
Ke sungai.
Ke pasar.
Bahkan saat Arga hanya mengambil kayu bakar di belakang rumah, anak anjing itu tetap setia berjalan di belakangnya.
Penduduk desa mulai mengenalnya.
"Itu anjingnya Arga."
"Lucu sekali."
"Setia benar, ya."
Anak-anak sering mengajaknya bermain.
Namun setiap kali Arga berjalan pergi, anak anjing itu akan meninggalkan permainan dan berlari mengejar tuannya.
Suatu sore, ketika matahari hampir tenggelam, Arga duduk di halaman sambil memperbaiki keranjang bambu yang rusak.
Anak anjing itu berbaring di sampingnya.
Angin sore bertiup lembut.
Daun-daun berguguran perlahan.
Bu Ratri keluar membawa teh hangat.
"Arga."
"Iya, Bu?"
"Kamu belum memberinya nama."
Arga terdiam.
Benar juga.
Selama beberapa hari terakhir, ia hanya memanggilnya dengan sebutan "Hei" atau "Nak".
Ia memandang anak anjing itu yang sedang memperhatikannya dengan kepala sedikit dimiringkan.
"Apa ya..."
Bu Ratri ikut berpikir.
"Tidak usah nama yang rumit."
Arga menatap langit.
Saat itu matahari mulai tenggelam, memancarkan cahaya jingga keemasan yang menyelimuti desa.
Langit senja terlihat begitu indah.
"Senja..."
gumam Arga.
Lalu ia menggeleng pelan.
"Bukan."
Tatapannya kemudian jatuh pada langit yang perlahan berubah menjadi biru tua.
Di ufuk timur, satu bintang pertama mulai tampak.
Arga tersenyum.
"Sora."
Bu Ratri memiringkan kepala.
"Sora?"
"Itu berarti langit."
"Karena sejak aku menemukannya, dia selalu melihat ke langit seolah mencari seseorang. Dan aku berharap... seluas langit, hidupnya juga akan dipenuhi kebahagiaan."
Bu Ratri tersenyum hangat.
"Itu nama yang indah."
Arga berjongkok di depan anak anjing itu.
Mulai hari ini...
"Namamu Sora."
Anak anjing itu mengangkat telinganya.
Seakan mengenali suara itu.
"Sora."
Kali ini ia langsung mengibaskan ekor.
Arga tertawa.
"Nah, sepertinya kamu suka."
Sora menggonggong pelan.
"Guk."
Suara pertamanya sejak tiba di rumah itu.
Mungkin bagi orang lain itu hanya gonggongan biasa.
Namun bagi Arga, itu terdengar seperti jawaban.
Sejak hari itu, di sebuah desa kecil yang dikelilingi pegunungan, dimulailah persahabatan antara seorang pemuda sederhana dan seekor anjing yang kelak akan dikenal oleh seluruh Desa Teratai karena kesetiaannya.
Tak seorang pun menyangka bahwa pertemuan sederhana di tengah hujan itu akan menjadi awal dari kisah yang membuat banyak orang menangis, mengenang arti sebuah janji, dan percaya bahwa cinta yang paling tulus terkadang datang dari makhluk yang tak pernah mampu mengucapkan sepatah kata pun.
