Bab 5 – Undangan dari Kota
Musim panen telah berakhir.
Sawah-sawah di Desa Teratai kembali dipenuhi sisa batang padi yang menguning. Para petani mulai mempersiapkan lahan untuk musim tanam berikutnya. Kesibukan memang tidak pernah benar-benar berhenti di desa kecil itu.
Pagi itu, seperti biasa, Arga berangkat ke kebun sebelum matahari naik tinggi. Di belakangnya, Sora berjalan santai sambil sesekali mengendus rerumputan yang masih basah oleh embun.
Setelah hampir setahun bersama, Sora telah tumbuh menjadi anjing dewasa yang gagah. Tubuhnya tegap, bulunya lebat, dan tatapannya penuh kelembutan. Ia dikenal hampir oleh seluruh warga Desa Teratai.
Tidak sedikit orang yang sengaja menyapanya ketika melewati rumah Arga.
"Pagi, Sora!"
Anjing itu akan membalas dengan mengibaskan ekor atau menggonggong pelan.
Namun begitu Arga melangkah lebih jauh, Sora segera kembali berada di sampingnya.
Bagi Sora, dunia terasa sederhana.
Selama Arga ada di dekatnya, semuanya baik-baik saja.
---
Menjelang siang, ketika Arga sedang memeriksa tanaman tomat, seorang pemuda mengendarai sepeda motor memasuki kebun.
Ia mengenakan jaket dengan logo sebuah perusahaan distribusi hasil pertanian.
"Permisi, apakah saya sedang berbicara dengan Arga?"
"Iya, saya sendiri."
Pemuda itu tersenyum ramah dan menyerahkan sebuah amplop cokelat.
"Saya mendapat pesan dari Pak Hasan. Beliau meminta Anda datang ke kota lusa pagi. Katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan."
Arga menerima amplop itu dengan wajah penasaran.
"Terima kasih."
Setelah tamunya pergi, Arga membuka surat tersebut.
Tulisan tangan Pak Hasan terlihat rapi.
Arga, aku mendapat kesempatan yang mungkin akan mengubah hidupmu. Datanglah ke kota lusa pagi. Ada seseorang yang ingin bertemu langsung denganmu.
Arga membaca surat itu beberapa kali.
"Ada apa, ya?"
Sora yang duduk di bawah pohon memiringkan kepalanya melihat Arga termenung.
Arga tersenyum lalu mengusap kepalanya.
"Semoga ini kabar baik."
---
Malam harinya, Arga menceritakan isi surat itu kepada Bu Ratri.
"Kalau Pak Hasan sendiri yang mengundang, pasti bukan urusan sepele," kata Bu Ratri.
"Aku juga berpikir begitu."
"Pergilah. Jangan takut mencoba kesempatan baru."
Arga mengangguk pelan.
Namun di dalam hatinya muncul sedikit kegelisahan.
Ia belum pernah benar-benar bekerja di kota.
Selama ini ia hanya datang untuk mengantar hasil panen, lalu langsung pulang.
Baginya, kota adalah dunia yang berbeda.
Lebih cepat.
Lebih ramai.
Dan lebih asing.
---
Dua hari kemudian, matahari bahkan belum muncul ketika Arga sudah bersiap di depan rumah.
Ia mengenakan kemeja putih bersih yang jarang dipakai.
Bu Ratri tersenyum bangga melihat putranya.
"Kamu terlihat tampan."
Arga tertawa kecil.
"Hanya bertemu orang saja, Bu."
Sora berdiri di samping pintu sambil memperhatikan semua itu.
Begitu Arga mengambil tas kecilnya, Sora langsung mengibas ekor.
Ia mengira mereka akan pergi seperti biasanya.
"Ayo."
Mereka berjalan menuju halte.
Udara pagi masih sangat dingin.
Kabut tipis menyelimuti jalan desa.
Sesampainya di halte, bus datang beberapa menit kemudian.
Arga berjongkok di depan Sora.
"Hari ini mungkin aku pulang sedikit lebih malam."
Sora menatap wajahnya.
"Tunggu aku seperti biasa, ya."
Arga mengusap kepala sahabatnya beberapa kali sebelum naik ke dalam bus.
Dari balik jendela, ia masih bisa melihat Sora berdiri di tempat yang sama hingga bus menghilang di tikungan.
---
Sesampainya di kota, Pak Hasan telah menunggu di depan tokonya.
"Arga! Mari ikut denganku."
Mereka berjalan menuju sebuah gedung perkantoran yang cukup besar.
Di lantai dua, seorang pria paruh baya menyambut mereka dengan ramah.
Namanya Surya.
Ia adalah pemilik perusahaan yang memasok sayur ke berbagai supermarket di provinsi itu.
Pak Surya membuka pembicaraan tanpa bertele-tele.
"Aku sudah lama mendengar tentang hasil kebunmu."
Arga hanya tersenyum sopan.
"Kualitasnya sangat baik."
"Terima kasih."
"Aku ingin menawarkan kerja sama."
Arga kembali terdiam.
Pak Surya melanjutkan,
"Perusahaanku sedang membuka kebun percontohan di pinggir kota. Kami membutuhkan seseorang yang benar-benar memahami cara bertani."
Arga mulai memahami arah pembicaraan.
"Kami ingin kamu menjadi pengelolanya."
Ruangan mendadak terasa sunyi.
Arga hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Kenapa saya?"
Pak Surya tersenyum.
"Pak Hasan sudah lama memperhatikanmu. Katanya kamu pekerja keras, jujur, dan hasil panenmu selalu berkualitas."
Pak Hasan mengangguk.
"Itulah sebabnya aku merekomendasikanmu."
Arga merasa bangga.
Namun bersamaan dengan itu, muncul keraguan.
"Kalau saya menerima..."
"Kamu harus tinggal di kota."
Kalimat itu membuat Arga terdiam cukup lama.
---
Dalam perjalanan pulang menuju terminal, pikiran Arga terasa penuh.
Tawaran itu sangat besar.
Gajinya hampir tiga kali lipat dari penghasilannya sekarang.
Bahkan tersedia rumah kecil untuk ditempati.
Semua impian yang selama ini ingin ia wujudkan seolah berada tepat di depan mata.
Namun...
Ia harus meninggalkan Desa Teratai.
Meninggalkan rumah.
Meninggalkan kebun.
Dan tentu saja...
Meninggalkan Sora.
---
Sore itu, bus akhirnya memasuki jalan menuju desa.
Di halte tua, Sora sudah menunggu seperti biasa.
Begitu bus berhenti, ia langsung berdiri.
Ekornya bergoyang cepat.
Arga turun sambil tersenyum.
Namun senyum itu tidak secerah biasanya.
Sora langsung menyadarinya.
Ia mendekat, mengendus tangan Arga, lalu berjalan di sampingnya tanpa banyak bermain.
Sepanjang perjalanan pulang, Sora beberapa kali menoleh ke arah Arga.
Seolah merasakan bahwa ada sesuatu yang sedang mengganggu hati tuannya.
---
Malam itu, setelah makan malam selesai, Arga akhirnya menceritakan semuanya kepada Bu Ratri.
Ruangan menjadi sunyi.
Bu Ratri tidak langsung menjawab.
Beberapa saat kemudian, ia berkata pelan,
"Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali."
"Aku tahu."
"Kamu ingin menolaknya?"
Arga menatap lantai.
"Aku tidak ingin meninggalkan Ibu."
Bu Ratri tersenyum.
"Ibu sudah hidup cukup lama di desa ini."
"Lalu..."
"Ibu justru ingin melihatmu berkembang."
Arga masih ragu.
"Lalu Sora?"
Mendengar namanya disebut, Sora yang sedang berbaring di dekat pintu mengangkat kepala.
Ia menatap Arga dengan mata beningnya.
Bu Ratri ikut memandang Sora.
"Dia pasti akan merindukanmu."
Kalimat sederhana itu membuat dada Arga terasa sesak.
Ia menoleh ke arah sahabat berkaki empat yang selama ini selalu mengantar dan menunggunya tanpa pernah gagal.
Sora mengibas ekor pelan.
Ia sama sekali tidak tahu bahwa sebuah keputusan besar sedang dipertimbangkan.
Keputusan yang akan mengubah seluruh hidup mereka.
Dan untuk pertama kalinya sejak menemukan Sora di halte pada hari hujan itu, Arga mulai bertanya dalam hati...
Apakah ada mimpi yang harus dibayar dengan sebuah perpisahan?
