Bab 3 – Mimpi yang Membawa Arga ke Kota
Mentari pagi bersinar hangat di atas Desa Teratai. Hamparan sawah yang menghijau bergoyang perlahan diterpa angin, sementara suara burung-burung bersahutan dari pepohonan di lereng gunung.
Di halaman rumah, Sora berlari mengejar kupu-kupu putih yang beterbangan di antara bunga melati. Tubuhnya kini jauh lebih besar dibandingkan beberapa bulan lalu. Bulu cokelat keemasannya tampak bersih dan berkilau, membuat banyak warga desa sering memujinya.
"Anjing Arga benar-benar tampan sekarang."
"Bukan cuma tampan, pintar juga."
Ucapan seperti itu sering terdengar setiap kali Sora melintas bersama Arga.
Namun bagi Arga, Sora tetaplah anak anjing kecil yang ditemukannya pada sore hujan beberapa bulan lalu.
---
Pagi itu Arga sedang memperbaiki pagar kebun ketika terdengar suara sepeda berhenti di depan rumah.
"Permisi!"
Arga menoleh.
Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun turun dari sepedanya. Ia mengenakan kemeja putih sederhana dan membawa tas kulit yang terlihat cukup tua.
"Pak Hasan?"
Pria itu tersenyum ramah.
"Lama tidak bertemu, Arga."
Pak Hasan adalah pemilik toko sayur terbesar di kota kecamatan. Selama beberapa tahun terakhir, ia menjadi salah satu pembeli tetap hasil kebun Arga.
Mereka duduk di teras rumah sambil menikmati teh buatan Bu Ratri.
"Ada keperluan apa, Pak?" tanya Arga.
Pak Hasan mengangguk pelan sebelum membuka pembicaraan.
"Aku datang membawa tawaran."
"Tawaran?"
"Aku ingin membeli seluruh hasil panenmu setiap minggu."
Arga sedikit terkejut.
"Seluruhnya?"
"Iya."
Pak Hasan mengambil beberapa lembar catatan dari tasnya.
"Permintaan sayur organik di kota meningkat pesat. Hasil kebunmu selalu berkualitas, jadi aku ingin bekerja sama secara tetap."
Mata Arga berbinar.
"Itu kabar baik, Pak."
"Tapi ada syaratnya."
"Syarat?"
"Kamu harus mengantarkan hasil panen langsung ke kota dua kali seminggu. Dengan begitu kualitasnya tetap segar."
Arga terdiam.
Perjalanan menuju kota memakan waktu hampir dua jam dengan bus.
Artinya, ia akan lebih sering meninggalkan desa.
Pak Hasan memahami keraguan itu.
"Pikirkan dulu. Aku tidak ingin memaksamu."
---
Malam harinya, Arga membicarakan tawaran tersebut dengan Bu Ratri.
Menurutmu bagaimana, Bu?"
Bu Ratri meletakkan cangkir tehnya.
"Ibu bangga karena hasil kerja kerasmu dihargai."
"Tapi..."
"Kamu khawatir harus sering pergi ke kota?"
Arga mengangguk.
"Aku takut Ibu kelelahan mengurus kebun sendirian."
Bu Ratri tersenyum lembut.
"Kalau kesempatan baik datang, jangan takut melangkah."
Arga masih diam.
"Ibumu ini memang sudah tidak muda," lanjut Bu Ratri sambil tertawa kecil, "tapi masih cukup kuat untuk merawat kebun beberapa jam sendirian."
Arga akhirnya tersenyum.
"Kalau begitu... aku akan mencobanya."
Di sudut ruangan, Sora mengangkat kepalanya. Ia tidak memahami isi pembicaraan itu, tetapi ia bisa merasakan perubahan suasana dari nada suara Arga.
---
Beberapa hari kemudian, kerja sama dengan Pak Hasan resmi dimulai.
Sejak saat itu, setiap hari Selasa dan Jumat, Arga harus berangkat lebih pagi menuju kota.
Pagi pertama terasa berbeda.
Langit bahkan belum sepenuhnya terang ketika Arga sudah bersiap di halaman.
Sora berdiri di sampingnya.
"Aku akan pulang sore seperti biasa."
Sora memiringkan kepala.
Arga tersenyum lalu mengusap lehernya.
"Jaga rumah bersama Ibu, ya."
Mereka berjalan menuju halte.
Sesampainya di sana, bus datang lebih cepat dari biasanya.
Arga naik sambil melambaikan tangan.
Sora tetap berdiri hingga kendaraan itu menghilang di tikungan.
---
Kota terasa jauh lebih ramai dibandingkan desa.
Suara kendaraan bersahut-sahutan.
Orang-orang berjalan cepat tanpa sempat saling menyapa.
Arga sempat merasa canggung.
Namun Pak Hasan menyambutnya dengan hangat.
"Selamat datang."
Ia mengajak Arga berkeliling pasar.
Untuk pertama kalinya Arga melihat betapa besarnya peluang yang terbuka.
Sayur-sayur berkualitas selalu habis dibeli.
Harga yang diterimanya pun lebih baik daripada menjual kepada pengepul biasa.
Dalam hati, Arga mulai membayangkan sesuatu.
"Kalau penghasilanku meningkat, aku bisa memperbaiki rumah. Aku juga bisa membeli lebih banyak bibit dan memperluas kebun."
Mimpi itu terasa semakin nyata.
---
Sementara itu, di Desa Teratai...
Menjelang sore, Sora sudah duduk di halte seperti biasa.
Beberapa anak sekolah baru saja pulang.
"Halo, Sora!"
Mereka mengusap kepalanya.
Namun Sora hanya membalas sebentar.
Tatapannya tetap tertuju ke jalan.
Bus pertama lewat.
Bukan bus yang ditumpangi Arga.
Sora tetap menunggu.
Lima belas menit kemudian...
Bus kedua muncul dari kejauhan.
Begitu suara mesinnya terdengar, telinga Sora langsung tegak.
Ia berdiri.
Ekornya mulai bergoyang.
Bus berhenti.
Pintu terbuka.
Arga turun sambil membawa sebuah kantong kain.
"Sora!"
Anjing itu langsung berlari menyambutnya.
Arga tertawa kecil sambil berjongkok.
"Aku pulang."
Ia mengeluarkan sesuatu dari kantong kain.
Sebuah bola karet merah.
"Aku membelikanmu hadiah."
Sora mengendus benda itu dengan penasaran.
Arga melemparkannya beberapa meter.
Bola menggelinding di tanah.
Sora mengejarnya dengan penuh semangat.
Begitu berhasil menggigit bola itu, ia berlari kembali menghampiri Arga dengan wajah bangga.
"Ternyata kamu cepat belajar."
Sejak hari itu, bola merah menjadi mainan favorit Sora.
Setiap sore sepulang dari kota, Arga selalu menyempatkan diri bermain lempar tangkap bersamanya di halaman rumah.
Bagi Arga, itu adalah cara sederhana untuk mengucapkan terima kasih kepada sahabat yang selalu setia menunggunya.
---
Beberapa minggu berlalu.
Kerja sama dengan Pak Hasan berjalan lancar.
Penghasilan Arga meningkat sedikit demi sedikit.
Ia mulai memperbaiki atap rumah yang bocor dan membeli peralatan kebun baru.
Bu Ratri tampak lebih tenang melihat masa depan mereka mulai berubah.
Namun di balik semua itu, Arga tidak menyadari bahwa kesibukannya membuat waktu yang dihabiskannya bersama Sora mulai berkurang.
Meski begitu, Sora tidak pernah mengeluh.
Setiap pagi ia tetap mengantar.
Setiap sore ia tetap menunggu.
Tak pernah sekali pun ia terlambat datang ke halte.
Bahkan ketika hujan deras atau angin gunung bertiup kencang.
Bagi Sora, hanya ada satu hal yang penting.
Melihat Arga turun dari bus dengan senyum yang sama setiap sore.
Karena selama tuannya kembali, dunia terasa selalu baik-baik saja.
Dan tanpa mereka sadari, kebiasaan sederhana itu mulai menarik perhatian semakin banyak orang di Desa Teratai. Ada yang tersenyum melihatnya, ada yang terharu, dan ada pula yang diam-diam belajar tentang arti kesetiaan dari seekor anjing yang selalu percaya bahwa seseorang yang dicintainya pasti akan pulang.
