Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2 – Janji di Halte Desa

Fajar baru saja menyingsing ketika ayam jantan mulai berkokok dari berbagai penjuru Desa Teratai.

Kabut tipis masih menggantung di atas sawah, sementara embun menempel di setiap helai rumput. Udara pagi yang sejuk memenuhi halaman rumah Arga.

Belum sempat Arga membuka pintu, terdengar suara cakaran kecil dari luar.

Srek... srek...

Arga tersenyum.

"Aku tahu itu kamu."

Begitu pintu terbuka, Sora langsung berdiri dengan ekor bergoyang cepat. Matanya yang bulat memandang Arga dengan antusias, seolah-olah takut tuannya pergi tanpa mengajaknya.

"Pagi juga."

Arga mengusap kepala Sora.

Anjing itu menutup mata sejenak, menikmati sentuhan yang sudah menjadi bagian dari kesehariannya.

Sejak diberi nama beberapa hari lalu, Sora tumbuh semakin ceria. Nafsu makannya membaik, langkahnya semakin lincah, dan bulunya mulai mengilap diterpa sinar matahari. Penduduk desa yang melihatnya pun sering tersenyum.

"Anjing Arga sekarang sudah sehat."

"Itu karena dirawat dengan kasih sayang."

Ucapan seperti itu sering terdengar ketika Arga melewati jalan desa.

---

Pagi itu Arga harus mengantarkan hasil panen ke pasar kecamatan.

Ia memeriksa keranjang berisi tomat, cabai, dan sawi yang telah dipanen sehari sebelumnya.

Bu Ratri membantu mengikatnya dengan tali rotan.

"Hati-hati di jalan."

"Iya, Bu."

Sora memperhatikan semua itu dari bawah pohon mangga.

Begitu melihat Arga mengangkat keranjang, ia langsung berdiri.

"Jangan bilang kamu mau ikut lagi."

Sora mengibas ekornya.

Arga tertawa kecil.

"Kamu memang keras kepala."

Mereka pun berjalan menyusuri jalan tanah menuju halte desa.

Di sepanjang perjalanan, hampir semua warga yang ditemui menyapa Arga.

"Berangkat ke pasar, Ga?"

"Iya, Pak."

"Semoga dagangannya cepat habis."

"Amin."

Sora berjalan di samping kaki Arga. Kadang ia berlari lebih dulu, lalu kembali lagi memastikan Arga masih ada di belakangnya.

---

Halte desa mulai ramai.

Beberapa ibu membawa keranjang berisi hasil kebun.

Seorang bapak membawa ayam dalam kurungan bambu.

Ada pula beberapa anak sekolah yang menunggu bus pertama menuju kota.

Saat melihat Sora, anak-anak langsung mendekat.

"Bang Arga, boleh main sama Sora?"

"Boleh."

Sora dengan ramah membiarkan dirinya dielus.

Namun setiap beberapa detik, matanya selalu kembali mencari Arga.

Seolah-olah memastikan tuannya tidak menghilang.

Bus tua berwarna biru akhirnya datang dengan suara mesin yang meraung.

Semua penumpang mulai naik.

Arga ikut mengangkat keranjangnya.

Saat hendak menaiki bus, ia menoleh.

"Sora."

Anjing itu berdiri tegak.

"Kamu tunggu di rumah, ya."

Sora hanya menatapnya.

Arga mengusap kepalanya sebentar.

"Nanti sore aku pulang."

Lalu pintu bus tertutup.

Mesin kembali meraung.

Bus perlahan meninggalkan halte.

Sora tidak mengejar.

Ia hanya berdiri memandang kendaraan itu hingga menghilang di tikungan.

Beberapa warga memperhatikannya.

"Anjing itu mengerti, ya?"

"Iya."

"Lucu sekali."

Tak lama kemudian, Sora berbalik dan berjalan pulang sendirian.

---

Di pasar kecamatan, dagangan Arga laris seperti biasa.

Para pelanggan menyukai hasil kebunnya karena selalu segar.

Seorang pedagang langganan bahkan berkata,

"Kalau kualitasnya begini terus, nanti kamu bisa membuka kebun yang lebih besar."

Arga hanya tersenyum.

"Itu juga harapan saya."

Meski hidup sederhana, Arga selalu memiliki mimpi.

Ia ingin memperluas kebun agar ibunya tidak perlu bekerja terlalu keras lagi.

---

Menjelang sore, Arga menaiki bus terakhir menuju desa.

Di dalam bus, ia duduk di dekat jendela.

Saat kendaraan mulai memasuki jalan pegunungan, matanya memandang ke arah halte desa yang semakin dekat.

Bus berhenti.

Pintu terbuka.

Dan di sana...

Sora sudah duduk dengan tenang di bawah papan halte.

Begitu melihat Arga turun, telinganya langsung tegak.

Ekornya bergoyang begitu cepat hingga seluruh tubuhnya ikut bergoyang.

"Sora!"

Anjing itu berlari.

Bukan sekadar berlari.

Ia melompat kecil ke arah Arga, lalu mengitari kakinya berkali-kali sambil menggonggong pelan.

"Guk! Guk!"

Arga tertawa.

"Lho, kok kamu di sini?"

Seorang ibu yang juga turun dari bus tersenyum.

"Dia datang sejak satu jam yang lalu."

"Iya," sahut seorang kakek.

"Dari tadi duduk di situ terus."

Arga menatap Sora.

"Kamu menungguku?"

Sora kembali mengibas ekor.

Jawabannya sederhana, tetapi sangat jelas.

Arga mengusap kepalanya dengan penuh kasih.

"Ayo pulang."

Sejak hari itu, tanpa ada yang mengajarinya, Sora mulai memiliki kebiasaan baru.

Setiap pagi ia mengantar Arga sampai halte.

Setiap sore ia kembali ke halte yang sama untuk menyambut kepulangannya.

Tak pernah terlambat.

Tak pernah lupa.

---

Hari-hari berlalu.

Musim berganti perlahan.

Sora tumbuh menjadi anjing muda yang gagah dan sehat.

Bulunya semakin lebat, tubuhnya semakin tinggi, tetapi kebiasaannya tidak pernah berubah.

Halte tua itu menjadi tempat yang paling dikenalnya.

Ia hafal suara bus yang membawa Arga.

Ia hafal bau mesin kendaraan.

Bahkan ia hafal jam ketika matahari mulai condong ke barat—waktu yang menurut nalurinya berarti, "Tuanku akan segera pulang."

Penduduk desa mulai terbiasa melihat pemandangan itu.

"Sudah sore."

"Pasti Sora sudah di halte."

Dan benar saja.

Setiap sore, ia selalu duduk di bangku kayu yang sama.

Matanya mengarah ke jalan yang berkelok dari kota.

Tak peduli hujan.

Tak peduli panas.

Tak peduli angin.

Ia akan tetap menunggu.

---

Suatu sore, hujan turun lebih cepat dari biasanya.

Air membasahi atap halte.

Sebagian warga memilih berteduh di rumah.

Namun Sora tetap duduk di tempatnya.

Bulunya mulai basah.

Beberapa orang mencoba mengajaknya pulang.

"Sora, ayo."

Anjing itu tidak bergerak.

Ia hanya terus memandang jalan.

Tak lama kemudian, suara mesin bus terdengar dari kejauhan.

Bus berhenti.

Arga turun sambil membawa payung.

Begitu melihat Sora yang sudah basah kuyup, wajahnya berubah.

"Astaga..."

Ia segera berlari.

"Kamu kenapa tidak berteduh?"

Tentu saja Sora tidak bisa menjawab.

Ia hanya mengibas ekor dengan wajah bahagia.

Seolah berkata,

"Yang penting aku berhasil menemukanmu."

Arga berjongkok.

Dengan lembut ia mengeringkan kepala Sora menggunakan handuk kecil yang selalu ia bawa.

"Kamu benar-benar keras kepala."

Namun di balik kalimat itu, ada senyum hangat yang tak bisa disembunyikan.

Mereka berjalan pulang berdampingan.

Satu memegang payung.

Yang satu lagi melangkah setia di samping kaki tuannya.

Hujan terus turun membasahi jalan desa.

Tak ada yang menyangka bahwa kebiasaan sederhana itu—mengantar di pagi hari dan menunggu di sore hari—kelak akan menjadi simbol kesetiaan yang dikenang oleh seluruh Desa Teratai selama bertahun-tahun.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel