Bab 5 Rahasia di Balik Kode Dominan
Jantung Clara berdetak seiring jarum jam yang bergerak. Viona akan kembali dalam waktu kurang dari satu jam, dan Clara berdiri di depan brankas kecil yang tersembunyi di balik lemari buku Leo. Sebuah secarik kertas dengan enam digit kode tergeletak di meja: 851977.
Haruskah ia membuka brankas Leo dan melihat apa yang disembunyikan pria dominan itu?
Rasa ingin tahu Clara, yang selalu menjadi sisi gelap dari ambisinya, kini memuncak. Leo adalah pria yang menuntut kepatuhan mutlak dan kerahasiaan. Menyelinap ke dalam brankas pribadinya adalah pengkhianatan ganda: terhadap kepercayaan, dan terhadap dominasi yang Leo tuntut. Tapi di sisi lain, pengetahuan adalah kekuatan. Jika ia ingin menjadi model yang diakui dan bertahan dalam permainan Leo, ia harus tahu segala sesuatu tentang lawannya—atau, lebih tepatnya, tentang pemiliknya yang baru.
Clara mendekati brankas itu. Dia merasakan dinginnya logam di ujung jarinya. Angka 851977.
"Viona ada di sini. Viona akan segera kembali," bisik Clara pada dirinya sendiri, sebuah peringatan yang justru mendorongnya lebih jauh.
Dia memasukkan kode itu dengan hati-hati ke panel angka digital.
Klik, klik, klik…
Ketika digit terakhir dimasukkan, terdengar bunyi klik yang halus dan mendesis. Pintu brankas itu terbuka.
Clara menarik napas tajam. Di dalam brankas, tidak hanya ada map hitam berisi kontrak kerjanya, tetapi juga beberapa barang lain yang jauh lebih menarik.
Hal pertama yang menarik perhatian Clara adalah sebuah USB drive hitam kecil, diletakkan di atas tumpukan dokumen. Di sampingnya, ada sebuah amplop cokelat tebal yang disegel rapat, dan yang paling mengejutkan, sebuah foto polaroid tua yang telah memudar.
Clara mengambil USB drive itu terlebih dahulu. Itu terasa dingin dan berat. Ia melihat ke sekeliling ruangan. Leo tidak memiliki komputer desktop di mejanya, hanya tablet yang sudah ia bawa ke Singapura. Clara melirik ke jam dinding. 40 menit. Cukup waktu.
Ia bergegas ke kamar tamu, di mana ia meninggalkan laptop pribadinya. Dalam beberapa detik, ia menyambungkan USB drive itu. Jantungnya berdebar kencang saat folder itu terbuka.
Nama folder-nya sangat lugas: "Proyek X-17. Data Klien."
Clara membuka folder itu. Isinya bukan spreadsheet atau laporan real estat. Itu adalah koleksi foto dan video.
Foto-foto close-up dari beberapa pria dan wanita—semuanya terlihat sangat sukses, mengenakan pakaian mahal, tetapi ekspresi mereka tampak… berbeda. Mereka terlihat gugup, bersemangat, dan patuh. Di beberapa foto, mereka berada dalam posisi yang sangat kompromi, di lokasi-lokasi yang asing, mungkin sebuah kapal pesiar, atau ruang kantor yang megah.
Clara melihat deskripsi file. Mereka diberi kode: "Klien A: Sesi 1", "Klien B: Pembayaran", "Klien C: Dominasi Mutlak".
Clara menyentuh choker perak di lehernya. Leo bukan hanya seorang pengusaha real estat. Dia adalah pria yang mengumpulkan, mengatur, dan mendominasi orang-orang.
Leo adalah seorang manipulator, seorang pengendali, dan Clara hanyalah proyek terbarunya.
Rasa takut dan kegembiraan yang mengerikan menyelimuti Clara. Ini jauh lebih besar daripada sekadar kontrak modeling. Dia telah memasuki dunia Leo yang jauh lebih gelap dan berbahaya.
Dia memutuskan untuk tidak melihat lebih jauh. Risiko ketahuan terlalu tinggi.
Clara mencabut USB drive itu dan bergegas kembali ke kantor Leo.
Ia meletakkan USB drive itu kembali di brankas. Sekarang, ia mengambil amplop cokelat tebal yang tersegel. Amplop itu berat. Clara mengeluarkannya.
Isinya adalah uang tunai. Tebal sekali, dalam mata uang yang berbeda-beda—Euro, Dolar AS, Yen. Ada juga paspor, paspor asing dengan nama yang tidak dikenal, dan yang terakhir, kartu identitas palsu.
Clara menyadari: Leo memiliki rencana pelarian. Dia menyiapkan segala sesuatunya untuk pergi kapan saja, dengan identitas baru. Seorang pria yang begitu kuat tidak mungkin begitu mudah menyerah pada kekuasaan yang ia miliki, kecuali ia takut akan sesuatu.
Clara mengembalikan uang dan paspor itu ke amplop, dan meletakkannya kembali di brankas.
Terakhir, ia mengambil foto polaroid tua yang memudar.
Foto itu buram, tetapi jelas menunjukkan seorang wanita muda yang sangat mirip dengan Viona, tersenyum lebar sambil memegang piala. Di sampingnya, berdiri seorang pria—Leo, terlihat jauh lebih muda, tapi dengan tatapan dominan yang sama.
Clara membalik foto itu. Di belakangnya, dengan tulisan tangan Leo yang elegan, tertulis:
"Ibuku. Kehilangan terbesarku. Harga yang harus dibayar mahal."
Tunggu. "Ibuku"? Viona adalah anak Leo. Wanita di foto itu sangat mirip Viona. Apakah itu istri Leo, ibu Viona?
Clara merasa bingung. Kenapa Leo menulis 'Ibuku' di foto istri/mantan istrinya? Apakah itu hanya julukan sayang?
Clara merasakan lonjakan urgensi. Ia harus segera pergi.
Ia meletakkan foto itu kembali, menutup brankas dengan hati-hati, memutar kenopnya hingga terdengar bunyi klik yang terkunci. Ia mengembalikan buku Arsitektur Italia Klasik itu ke tempatnya.
Clara menyeka sidik jarinya dari meja dengan ujung dress-nya. Ia harus kembali ke kamar tamu dan terlihat santai.
Clara berhasil kembali ke kamar tamu tepat saat pintu depan penthouse dibuka.
"Aku pulang!" seru Viona, ceria.
"Hai! Kau cepat sekali!" balas Clara, berlagak baru bangun dari istirahat.
Viona meletakkan map hitam itu di meja dapur, merasa lega. "Syukurlah! Ayah sudah bisa bernapas lega sekarang. Aku bilang padanya aku meninggalkanmu di rumah, dia bilang tidak apa-apa. Kau tahu, dia sangat sibuk."
Clara memperhatikan map hitam itu. Itu adalah map yang sama, map yang ia lihat di brankas.
"Jadi, Ayahmu baik-baik saja?" tanya Clara.
"Tentu saja! Dia hanya sedikit stres dengan dokumen penting itu. Katanya, dokumen itu tidak boleh dilihat oleh siapa pun. Rahasia perusahaan, katanya," Viona menjelaskan, sambil membuka lemari es untuk mengambil minuman.
"Oh, tentu saja. Rahasia," ulang Clara, memegang choker perak itu di lehernya. Rahasia terbesar Leo bukan dokumen perusahaan. Rahasia terbesar Leo adalah jaringan kontrolnya, rencananya untuk menghilang, dan misteri di balik foto seorang wanita yang mirip Viona.
Dua hari kemudian, hari Selasa, pukul 10.00 pagi.
Clara berada di Studio Aether, sebuah loft industri yang diubah menjadi studio foto mewah. Dia mengenakan pakaian yang Leo sarankan: jumpsuit hitam ketat yang menonjolkan setiap lekuk tubuhnya. Dan tentu saja, choker perak hadiah Leo.
David Surya adalah seorang fotografer berambut perak dengan mata yang lelah namun tajam, mengenakan pakaian serba hitam. Auranya tidak sedominan Leo, tapi profesional dan menuntut.
"Clara. Aku sudah melihat filemu," kata David, tanpa basa-basi. "Leo bilang, kau adalah masa depan. Aku akan melihatnya. Kita akan mulai dengan full nudity. Kau harus percaya padaku, Clara. Aku hanya akan mengabadikan kecantikan, bukan vulgaritas."
Clara mengangguk. Dia tahu dia siap. Dia telah berlatih di depan cermin, mengingat setiap tatapan dan bisikan Leo.
Clara melepas jumpsuit-nya, hanya menyisakan choker perak itu di lehernya. Dia berdiri di tengah studio, di bawah lampu sorot yang terang benderang.
David mulai bekerja. Klik, klik, klik. Suara rana kamera adalah satu-satunya suara di ruangan itu.
Clara melakukan pose-nya. Dia tidak hanya berpose. Dia tampil. Dia memikirkan kata-kata Leo: Tunjukkan bagaimana kau akan memanipulasi David Surya.
Clara menggunakan tatapannya. Matanya menjadi mata seorang predator, memancarkan hasrat dan ambisi. Dia membiarkan tubuhnya bergerak, menggunakan body goals-nya sebagai senjata. Dia tidak hanya telanjang; dia menguasai ketelanjangannya.
David jarang berbicara. Dia hanya terus menekan rana kamera, wajahnya semakin terkesima seiring berjalannya waktu.
Setelah dua jam tanpa henti, David akhirnya menurunkan kameranya. Dia mengambil napas dalam-dalam.
"Clara," katanya, suaranya serak. "Aku tidak pernah melihat body dan aura seperti ini sejak awal karierku. Kau… luar biasa. Kau memiliki api. Kau benar-benar memiliki 'aset'."
"Terima kasih, David," jawab Clara, merasa kemenangan membanjiri dirinya.
David berjalan ke arah Clara, memberikan handuk. "Ini dia. Aku harus segera menelepon Leo. Aku akan memberinya tawaran untukmu. Sekarang. Aku tidak ingin ada orang lain yang mendapatkannya."
Clara tersenyum puas. Dia telah berhasil. Dia telah memenuhi janji dan pembayaran pertamanya kepada Leo.
Malam itu, Clara kembali ke penthouse Viona. Ia mengirim pesan kepada Leo:
> Clara: Tugas selesai. David Surya menelepon Anda.
Balasan Leo datang instan:
> Leo: Aku tahu. Dia memberiku penawaran yang bagus. Selamat, Clara. Kau telah lulus ujian pertamamu.
Pembayaranmu akan dimulai. Aku akan pulang tengah malam. Jangan tidur. Kantor. Telanjang. Kali ini, tidak akan ada penundaan.
"Kali ini, tidak akan ada penundaan."
Perintah itu memicu gelombang panas yang tidak tertahankan di dalam diri Clara.
Pukul 01.00 dini hari, Viona sudah tertidur lelap. Clara, dengan hati-hati, melepaskan semua pakaiannya dan berjalan menyusuri lorong yang sunyi. Ia berdiri telanjang di depan pintu kantor Leo.
Ia membuka pintu. Leo sudah menunggunya, berdiri di tengah ruangan, kini hanya mengenakan celana tidur sutra dan robe mandi gelap yang terbuka di bagian depan. Jelas terlihat tubuhnya yang fit dan matang.
Leo tidak bergerak. Matanya gelap, penuh hasrat yang tidak lagi tersembunyi.
"Masuk, Clara. Kau terlambat dua menit," tegur Leo, suaranya rendah dan mengancam.
Clara gemetar, antara takut dan gairah. Ia melangkah masuk, membiarkan pintu tertutup.
"Maaf, Leo," bisik Clara.
"Tidak ada kata 'maaf' dalam kamusku, Clara. Hanya kepatuhan mutlak."
Leo melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka. Dia tidak menciumnya. Dia hanya meraih choker perak di leher Clara.
"Kau melakukan dengan baik. Sekarang, tunjukkan padaku bagaimana seorang model yang sukses berterima kasih pada sponsor utamanya," bisik Leo.
Clara tahu apa yang harus ia lakukan. Dia berlutut, seperti yang ia lakukan saat pelatihan.
Leo meletakkan tangannya di rambut Clara, memiringkan kepalanya.
"Kau ingat kodenya, Clara?" tanya Leo, suaranya dalam dan serak.
Clara bingung. "Kode?"
"Kode brankas," bisik Leo. "851977. Aku ingin tahu, apakah kau cukup patuh untuk tidak penasaran dengan rahasiaku?"
Leo tiba-tiba menjambak rambut Clara dengan kuat, memaksanya mendongak.
"Kau mengira kau bisa menyelinap ke brankasku dan lolos begitu saja, Clara?"
