Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6 Harga dari Rasa Penasaran

Jambakan keras Leo di rambut Clara terasa seperti kejutan listrik yang dingin, memaksanya mendongak dari posisi berlututnya. Rasa sakit bercampur dengan teror, dan yang paling mematikan, rasa malu karena ketahuan. Dia tahu, sejak awal, bahwa permainan Leo melibatkan kontrol total, dan dia telah melanggar aturan fundamental itu.

Kau mengira kau bisa menyelinap ke brankasku dan lolos begitu saja, Clara?

Pertanyaan Leo menggantung di udara, memusnahkan semua gairah yang tersisa. Ini adalah momen kebenaran, penangkapan seorang pencuri yang ambisius.

Clara tidak berani berbohong. Leo, yang kini berdiri menjulang di atasnya, mengenakan robe sutra yang terbuka, memancarkan aura bahaya yang jauh lebih menakutkan daripada ketika ia mengenakan setelan bisnis.

"A-aku... aku melihat kodenya," bisik Clara, suaranya tercekat. Ia menundukkan kepala, kepatuhan instan terukir di tubuhnya yang telanjang. "Aku hanya ingin tahu, Leo. Aku tidak menyentuh apa pun yang penting."

Leo melepaskan rambut Clara, namun tangannya tetap memegang lehernya, tepat di atas choker perak itu. Tekanan itu tidak menyakitkan, tetapi cukup untuk mengingatkan Clara siapa yang berkuasa.

"Penasaran adalah sifat seorang amatir, Clara. Dan seorang amatir tidak layak mendapatkan sponsorship-ku," desis Leo, suaranya rendah dan mengancam, lebih berbahaya daripada teriakan. "Kau memasuki wilayah pribadi. Kau melanggar kepercayaan. Dan kau menyentuh rahasia yang bahkan Viona, putriku, tidak pernah berani menyentuhnya."

Clara merasakan panasnya air mata, tetapi ia menahannya. Leo tidak akan menghargai air mata.

"Aku minta maaf," ulang Clara. "Aku tahu aku melanggar batas."

"Permintaan maaf tidak diterima. Aku hanya menerima kompensasi," kata Leo. Dia menarik tangannya dari leher Clara, tetapi kini ia membungkuk, wajahnya mendekat ke telinga Clara. "Kau ingin melihat rahasiaku? Kau ingin tahu siapa aku? Baiklah. Aku akan tunjukkan."

Leo melangkah mundur ke kursinya. Dia duduk, posturnya mendominasi. Dia menunjuk ke meja.

"Ambil USB drive itu. Kau tahu di mana letaknya. Masukkan ke port tabletku. Aku akan menunjukkan padamu apa yang ada di dalam folder 'Proyek X-17'," perintah Leo.

Clara, yang masih berlutut, menatapnya dengan horor. Leo tahu persis apa yang ia sentuh. Dia bahkan tidak perlu bertanya.

"Leo, tidak perlu. Aku mengerti, aku salah," mohon Clara.

"Tidak ada 'tidak perlu'," potong Leo tajam. "Ini adalah hukumanmu. Kau harus melihat, Clara. Kau harus tahu betapa berbahayanya kau. Dan betapa kuatnya aku."

Clara tahu dia harus patuh. Dia bangkit, mengambil langkah lambat menuju brankas yang kini terasa seperti jebakan maut. Dia memasukkan kode, mengambil USB drive hitam, dan membawanya kembali ke meja.

Dengan tangan gemetar, Clara menyambungkan USB drive itu ke port tablet Leo. Leo mengambil tablet itu, mengaktifkan proyeksi holografik ke dinding kantor.

Dinding itu kini menampilkan beberapa folder rahasia, dan Leo membuka 'Proyek X-17. Data Klien.'

Bukan hanya foto dan video yang dilihat Clara sebelumnya. Kali ini, Leo memutar sebuah video.

Video itu menampilkan seorang politisi terkenal yang tengah menjadi sorotan media, yang baru-baru ini memenangkan kursi penting. Namun, dalam video itu, politisi tersebut berada dalam kondisi yang sangat rentan dan berkompromi, melakukan tindakan yang jelas-jelas dapat menghancurkan kariernya.

"Klien A, Sesi 5," jelas Leo dengan suara datar. "Dia menginginkan dominasi mutlak dalam hidupnya. Dia datang kepadaku, menyerahkan dirinya. Sekarang, dia adalah pengikut setiaku di parlemen. Aku mengendalikan suaranya, Clara. Aku mengendalikan nasibnya."

Leo menggesek tablet-nya, menampilkan file berikutnya: spreadsheet yang terperinci. Nama-nama terkemuka di bidang bisnis, media, dan politik, disertai kolom 'Status Kompromi' dan 'Pembayaran yang Dituntut'.

"Mereka semua adalah orang-orang yang ambisius, sama sepertimu, Clara. Mereka ingin kekuasaan, dan mereka rela menukarnya dengan rahasia mereka, dengan jiwa mereka," kata Leo. "Aku tidak hanya membangun gedung. Aku membangun jaringan kontrol. Aku adalah dominator utama di kota ini. Dan kau, Clara, kau hanyalah model baruku. Investasiku."

Clara merasa mual. Ini bukan hanya rahasia bisnis. Ini adalah organisasi blackmail yang terorganisir, dijalankan oleh pria yang ia izinkan untuk mengendalikan dirinya.

"Kau melihatnya sekarang, Clara? Kau melihat betapa berbahayanya diriku? Dan betapa kecilnya kau di hadapanku?" tanya Leo, nada suaranya kini mengandung kesombongan yang dingin.

"Aku mengerti," bisik Clara, matanya terpaku pada proyeksi.

Leo mematikan proyeksi itu, mengembalikan layar tablet ke kegelapan. Dia menarik USB drive itu dan membuangnya ke sudut ruangan.

"Cukup pelajaran sejarah. Sekarang, kembali ke hukumanmu," perintah Leo.

Leo menatap Clara, matanya kembali ke hasrat yang mematikan. Dia berjalan ke meja, mengambil belt kulit tebal yang ia gunakan untuk melengkapi setelannya. Belt itu terbuat dari kulit buaya mahal, berkilauan.

Leo melemparkan belt itu ke lantai, tepat di kaki Clara yang telanjang.

"Ambil," perintah Leo.

Clara mengambil belt itu dengan tangan gemetar.

"Sekarang, berikan belt itu padaku," perintah Leo.

Clara menyodorkan belt itu kembali.

Leo mengambilnya, melilitkannya di pergelangan tangannya. "Kau melanggar kepercayaan. Itu adalah dosa terbesar dalam duniaku. Kau mempertaruhkan segalanya yang aku bangun. Dan untuk itu, kau harus membayar dengan sesuatu yang kau hargai: rasa sakit dan ketakutan."

Leo melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka.

"Aku ingin kau berbalik, Clara. Dan tundukkan dirimu di meja ini. Telanjang. Sekarang," perintah Leo.

Perintah itu menembus Clara. Ini adalah puncak dominasi. Ini adalah peleburan antara hukuman dan kepuasan yang didorong oleh hyper sex-nya.

Clara tidak berpikir. Dia patuh. Dia berbalik, lututnya yang gemetar membawa tubuhnya yang telanjang ke atas meja kantor yang dingin. Dia membungkuk, kepalanya terkulai, menunggu hukuman yang mengerikan.

Leo berdiri di belakangnya. Clara bisa merasakan panas napas Leo di punggungnya. Bau whiskey dan cologne mahal.

Leo mengangkat belt itu. Clara menutup matanya, bersiap.

Tiba-tiba, belt itu tidak mendarat.

Sebaliknya, tangan Leo menyentuh punggung Clara, dan meluncur naik hingga ke rambut Clara. Leo menarik rambut Clara ke atas, memaksa wajah Clara mendongak, melihat bayangannya yang rentan di permukaan meja yang berkilauan.

"Hukumanmu adalah ketegangan, Clara. Ketidakpastian," bisik Leo di telinganya.

Leo meletakkan belt itu di atas meja.

"Aku tidak akan menyakitimu, Clara. Tidak hari ini. Kau adalah investasi, bukan boneka untuk disiksa," kata Leo. "Tapi kau harus tahu, aku bisa. Aku punya kekuasaan. Dan ketakutan itu akan membuatmu lebih patuh daripada rasa sakit apa pun."

Leo melepaskan rambut Clara. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, mencium punggung Clara, mencium kulitnya yang memanas. Ciuman itu tidak lembut; itu adalah stempel kepemilikan.

"Sekarang, mari kita bicara soal kompensasi yang lain. Kompensasi yang kudapatkan, karena telah melihat dirimu berlutut dan ketakutan di hadapanku," kata Leo, suaranya serak.

Leo menarik Clara dari posisi rentannya, membalikkannya, lalu mengangkatnya dan mendudukkannya di tepian meja. Leo berdiri di antara kaki Clara, mengunci Clara di antara tubuhnya dan meja kantor yang dingin.

Dia mencium Clara, kali ini ciuman itu sangat agresif, tuntutan mutlak yang menghilangkan semua pikiran rasional. Clara membalasnya dengan intensitas yang sama, melepaskan semua frustrasi dan gairah yang terpendam.

Tangan Leo yang besar menyentuh paha Clara, merayap naik. Ia tidak terburu-buru. Ia menuntut setiap sentimeter kulit Clara.

Leo melepaskan ciumannya, matanya gelap oleh hasrat.

"Aku ingin kau membisikkan sesuatu padaku, Clara. Aku ingin kau memberiku kata sandi rahasia," perintah Leo, napasnya memburu.

"Apa?" tanya Clara, terengah-engah.

"Ulangi. Katakan padaku: 'Aku milikmu, Tuan. Dan aku akan patuh.'"

Perintah itu menuntut penyerahan diri yang absolut. Clara tahu ini adalah langkah terakhirnya untuk diterima kembali, dan untuk mendapatkan pemenuhan yang ia dambakan.

"Aku milikmu, Tuan," bisik Clara, suaranya dipenuhi pengabdian.

"Dan?" desak Leo.

"Dan aku akan patuh," tutup Clara, menatap mata Leo, sepenuhnya menyerahkan diri.

Senyum kemenangan Leo kembali. "Bagus, Clara. Sekarang, kompensasi dimulai."

Tangan Leo menyentuh area yang paling sensitif, dan hasrat Clara meledak. Dia mencengkeram bahu Leo, kepalanya mendongak.

Saat gairah membanjiri dirinya, Clara merasakan tangan Leo merogoh saku robe-nya. Leo mengeluarkan ponselnya.

Clara mendengar bunyi klik kamera yang samar-samar.

Leo mengambil foto dirinya, dalam posisi rentan ini, sebagai bukti penundukannya.

Clara terkejut, namun sebelum ia bisa memprosesnya, Leo menggesek layar. Terdengar suara pesan terkirim.

Leo melihat ke mata Clara, seringainya kejam. "Itu untuk arsip, Clara. Pengingat tentang siapa dirimu sekarang."

"A-arsip?" tanya Clara, jantungnya terasa seperti ditusuk.

"Tentu saja. Dan untuk Viona," bisik Leo, sambil mencium leher Clara.

Clara membeku. Viona?

"Apa yang Anda kirimkan pada Viona?" tanya Clara, suaranya bergetar antara panik dan jijik.

Leo mengangkat kepalanya, tersenyum kecil yang mematikan.

"Bukan fotomu, tentu saja. Itu akan terlalu mudah," kata Leo, lalu ia mengambil tabletnya lagi.

Dia menunjukkan pesan yang baru saja ia kirim kepada Viona:

> Leo (ke Viona):

Sayang, maaf mengganggu. Aku butuh bantuanmu segera. Aku lupa dompetku di laci terkunci di kantor. Aku butuh kunci darurat yang aku sembunyikan di kamarmu, di dalam kotak perhiasan biru di balik cermin.

Aku akan menunggumu di lobi bawah.

Clara membaca pesan itu. Leo mengirim Viona untuk keluar dari penthouse pada pukul 01.30 pagi, hanya untuk sebuah kunci, padahal Leo sudah ada di rumah.

"Kenapa?" tanya Clara.

Leo menyeringai. "Karena aku tidak ingin ada yang mengganggu sesi pelatihan kita. Viona harus tahu bahwa aku sangat dominan, bahkan di tengah malam. Dan aku harus menguji dirimu, Clara. Bagaimana kau akan bereaksi, ketika Viona mengetuk pintu kantor ini, tepat saat aku memilikimu?"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel