Bab 4 Penundukan dan Latihan Pertama
Perintah Leo untuk berlutut dihadapannya, disampaikan dengan suara rendah dan tanpa ampun, menusuk kesadaran Clara. Itu adalah perintah penundukan, bukan permintaan. Di ruangan itu, dalam keadaan telanjang di depan pria yang memegang kunci ambisinya, Clara tahu bahwa harga yang harus ia bayar baru saja dimulai.
Lututmu, Clara. Turunlah di hadapanku. Sekarang.
Hook perintah itu mengikat Clara. Ia bisa merasakan tatapan Leo yang tajam, menilai, menunggu. Ini adalah ujian terbesar kepatuhannya sejauh ini.
Clara menarik napas, memaksakan dirinya untuk mengabaikan rasa malu yang membakar dan memfokuskan diri pada ambisi. Ini adalah pelatihan. Ini adalah harga.
Dengan gerakan yang lambat, penuh kesadaran akan kerentanannya, Clara membiarkan tubuhnya meluncur ke bawah. Kakinya yang panjang menekuk, lututnya yang dingin menyentuh karpet wol tebal di kantor Leo. Ia kini berada di posisi yang sangat rendah, menengadah ke atas, ke arah Leo yang menjulang tinggi, mendominasi dalam setelan mahalnya.
Dia berlutut, menyerahkan kontrol sepenuhnya kepada pria itu.
Leo tidak bergerak. Dia hanya berdiri di sana, mengamati Clara yang telanjang di kakinya, wajahnya menunjukkan kepuasan yang dingin.
"Bagus," kata Leo, suaranya mengandung nada otoritas yang membuat Clara gemetar. "Kepatuhan adalah dasar dari semua kesuksesan, Clara. Kau sudah belajar pelajaran pertama dengan cepat."
Clara merasa malu, tetapi sekaligus, rasa mendominasi Leo yang begitu kuat memicu reaksi fisik yang eksplosif dalam dirinya. Hyper sex-nya berteriak, menginginkan pemenuhan dari pria yang begitu berkuasa.
"Aku akan patuh, Leo," bisik Clara, suaranya penuh pengabdian.
Leo meraih tangan Clara, bukan dengan sentuhan kekasih, melainkan dengan genggaman seorang tuan. Dia menariknya untuk berdiri lagi.
"Pelatihanmu yang sebenarnya bukan di sini. Ini hanya simulasi pengabdian," jelas Leo, suaranya melembut, tetapi matanya tetap tajam dan menuntut. "Latihan pertamamu dimulai besok. Viona akan berpikir kau pergi untuk membeli gaun, tapi kau akan pergi ke studio David Surya."
Leo mendorong Clara sedikit, memaksanya untuk bersandar pada meja kerjanya. Punggung Clara yang telanjang menyentuh kayu dingin itu.
"Sebagai model yang diakui, kau harus belajar bagaimana menggunakan asetmu untuk memengaruhi, untuk mendapatkan keuntungan, dan untuk mendominasi. Kau harus melihat dirimu sebagai komoditas langka yang sangat diinginkan," lanjut Leo, nadanya kini beralih menjadi instruktur yang keras.
Leo mengangkat tangannya, telapak tangannya yang besar dengan hati-hati menyentuh punggung Clara, dan meluncur ke tulang belakangnya, naik perlahan hingga mencapai tengkuk Clara.
"Tunjukkan padaku," perintah Leo, matanya menantang Clara. "Apa yang akan kau lakukan pada David Surya, untuk memastikan dia tidak hanya mengambil gambarmu, tetapi juga terobsesi untuk bekerja denganmu lagi. Gunakan gairahmu, Clara. Gunakan asetmu."
Clara mengerti. Ini bukan hanya tentang berpose. Ini tentang memanipulasi keinginan.
Dia memiringkan kepalanya, membiarkan mata Leo melihat setiap lekukan lehernya yang panjang. Clara membalas tatapan Leo, dan dengan naluri hyper sex-nya, ia mulai berakting.
Dia menggeser tubuhnya sedikit ke samping, membiarkan cahaya lampu meja jatuh di pinggangnya yang ramping. Dia memainkan ekspresi wajahnya, dari kerentanan menjadi keyakinan yang tajam, dari kepolosan menjadi godaan yang mematikan.
"Saya akan membuatnya merasa bahwa saya adalah satu-satunya yang layak untuk kameranya, Leo," bisik Clara, suaranya kembali ke nada menggoda. "Saya akan menunjukkan padanya bahwa setiap sentimeter kulit saya adalah karya seni, dan hanya dia yang memiliki hak istimewa untuk merekamnya."
Leo mengangguk, kepuasan terpancar di matanya. "Bagus. Tapi itu hanya kata-kata."
Tangan Leo yang tadi berada di tengkuk Clara kini bergerak cepat, menjepit pipi Clara, memaksanya untuk menatap Leo dengan intens.
"Sentuhan. Aroma. Intimidasi. Itu yang menjual, Clara. Kau harus membuat fashion director dan fotografermu ingin lebih dari sekadar sesi foto. Kau harus membuat mereka haus," Leo mendesis. "Lakukan padaku. Tunjukkan bagaimana kau akan memanipulasi David Surya."
Tantangan itu memicu kobaran api di dalam Clara.
Clara tidak ragu. Dia mengangkat tangannya, membelai lengan Leo yang berotot, di atas kemeja mahal itu. Sentuhannya ringan, namun penuh janji. Dia memajukan kepalanya, menyentuhkan hidungnya ke kemeja Leo, menghirup aroma cologne dan kekuasaan pria itu.
"Saya akan membuatnya percaya, bahwa saya akan menjadi rahasia kecilnya," bisik Clara, suaranya merayap dan sensual. "Saya akan membuatnya merasa bahwa kita berada dalam perjanjian diam-diam, bahwa ada ketegangan yang hanya bisa diredakan dengan satu cara: mengagumi karya saya."
Sambil berbicara, tangan Clara yang lain meluncur turun, melewati perut Leo, dan berhenti di atas sabuk kulitnya yang mahal. Dia tidak menyentuh area yang dilarang, tetapi ancaman dan janji sentuhan itu sudah cukup.
Leo menahan napas. Matanya menunjukkan sedikit keraguan, sedikit gejolak yang tersembunyi. Clara tahu dia telah menyentuh batas Leo.
"Kau belajar cepat," puji Leo, suaranya serak. Dia melepaskan pipi Clara. "Itu cukup untuk malam ini."
Leo melangkah mundur, kembali ke jarak aman di belakang mejanya, mengambil gelas whiskey-nya. Dia kembali ke kendali penuh.
Clara merasa hampa lagi. Setiap kali gairahnya mencapai puncaknya, Leo menariknya kembali.
"Mengapa Anda selalu berhenti, Leo?" tanya Clara, frustrasi terpancar dalam suaranya.
Leo menatapnya, matanya tanpa ampun. "Karena aku tidak membeli 'kekasih', Clara. Aku membeli kepatuhan. Dan kepatuhanmu paling kuat ketika kau merasa haus dan terkontrol."
Dia meneguk whiskey-nya. "Aku ingin kau berada di sana, di Studio Aether, memikirkan bagaimana aku membuatmu tegang, dan bagaimana kau sangat ingin membuktikan dirimu padaku. Test shoot-mu adalah pembayaran pertamamu kepadaku, Clara. Membawakan David Surya tawaran kontrak adalah bukti ketaatanmu."
Clara mengangguk, rasa haus itu kini berubah menjadi tekad baja.
"Aku mengerti. Aku akan mendapatkan kontrak itu," janji Clara.
"Aku tahu kau akan melakukannya. Sekarang, pergilah. Tidur. Viona akan segera bangun. Dan ingat, kau adalah temannya yang polos," kata Leo, lalu tiba-tiba matanya menangkap sesuatu di leher Clara.
Leo bergerak cepat, tangannya meraih kalung emas tipis yang selalu dipakai Clara. Kalung itu kini tergelincir di antara jemarinya.
"Aku tidak suka ini," kata Leo.
"Kenapa?" tanya Clara. Kalung itu adalah satu-satunya benda sentimentil yang ia miliki.
"Terlalu lembut. Terlalu remaja," jawab Leo. Dia berjalan kembali ke laci yang terkunci dan mengeluarkan kotak kecil beludru.
Dia membukanya, memperlihatkan sebuah kalung choker perak tebal, dengan liontin kecil yang diukir dengan detail rumit. Kalung itu memancarkan aura dewasa, mewah, dan sedikit dominan.
"Ini adalah hadiah pertamaku untukmu. Kenakan ini untuk test shoot-mu," perintah Leo. "Ini adalah pengingat bahwa kau adalah milikku sekarang. Sesuatu yang lebih... dominan. Lebih ambisius."
Clara membiarkan Leo melepas kalung emasnya dan memasangkan choker perak itu di lehernya. Sentuhan Leo sangat singkat, tetapi terasa dingin dan permanen.
"Jangan pernah melepaskannya, Clara. Kecuali aku yang memintanya," perintah Leo.
"Aku tidak akan melepaskannya," janji Clara, menyentuh choker perak yang terasa berat dan dingin di lehernya. Rasanya seperti belenggu, tetapi juga seperti jubah kekuasaan.
Leo tersenyum puas. "Bagus. Sekarang, pergilah."
Clara mengambil napas dalam-dalam. "Selamat malam, Leo."
Dia berjalan ke pintu, membukanya. Lorong itu masih gelap. Dia melangkah keluar dan menutup pintu kantor itu, kembali ke kegelapan.
Clara kembali ke kamar tamu, mengenakan pakaiannya kembali. Dia melihat ke cermin, menyentuh choker perak yang dingin di lehernya. Itu adalah simbol kepemilikan.
Dia melihat robe sutra yang robek. Dia tahu dia tidak bisa memakainya lagi. Dia harus membuangnya.
Pikirannya melayang ke Viona. Bagaimana dia bisa melakukan ini pada sahabatnya? Tapi setiap kali pikiran itu muncul, hasratnya yang menggebu dan ambisinya yang kuat menenggelamkannya. Viona hanya seorang sahabat; Leo adalah jalan menuju mimpinya.
Keesokan paginya, Clara dan Viona sarapan. Viona sibuk membicarakan rencana mereka untuk pergi berbelanja gaun sore itu.
"Ayah bilang dia akan ada meeting di luar, jadi dia tidak akan pulang untuk makan siang. Kita bisa makan di luar dan kemudian berburu gaun!" kata Viona bersemangat.
Clara tersenyum. "Tentu, Vi. Aku setuju. Kita butuh gaun yang bagus untuk pesta akhir tahun universitas."
Namun, di sore hari, rencana itu harus diubah. Leo mengirim pesan ke Viona.
> Leo (ke Viona):
Sayang, aku butuh bantuanmu. Tiba-tiba ada masalah dengan dokumen di kantor pusat. Bisakah kau tolong ambilkan map hitam di laci mejaku? Bawa langsung ke kantorku di pusat kota. Aku butuh cepat.
"Ya ampun! Ayah! Dia selalu begini," gerutu Viona. "Aku harus pergi, Cla. Kau tidak apa-apa sendirian di sini? Atau kau mau ikut?"
Clara memegang erat kalung choker-nya. Map hitam. Itu adalah map yang sama dengan kontraknya.
"Aku... aku tidak enak badan, Vi. Aku akan tetap di sini, beristirahat. Kau pergi saja. Cepatlah, Ayahmu pasti stres," kata Clara, berusaha terdengar meyakinkan.
"Baiklah kalau begitu. Aku pergi sebentar, ya! Kau istirahat saja. Kalau lapar, pesan delivery saja, aku yang bayar!" Viona mencium pipi Clara dan bergegas pergi.
Saat pintu utama tertutup, Clara langsung berjalan ke kantor Leo. Ia tidak bisa menahan rasa ingin tahunya. Ia harus melihat isi map hitam itu lagi.
Kantor Leo kosong, pintu tidak terkunci. Clara masuk, mendekati meja Leo. Laci itu terkunci.
Clara mencari-cari di bawah mouse pad, di balik buku. Tidak ada kunci.
Dia merasa frustrasi. Lalu, ia ingat sesuatu. Leo tidak pernah menyembunyikan sesuatu yang penting di tempat yang jelas.
Clara melihat ke arah lemari buku besar di dinding. Di antara buku-buku tebal, ia melihat ada satu buku yang letaknya sedikit miring. Itu adalah buku tentang Arsitektur Italia Klasik.
Clara menarik buku itu. Dan benar saja, di belakang buku itu, tersembunyi sebuah brankas kecil yang terintegrasi ke dinding.
Clara terdiam. Leo pasti menyimpan sesuatu yang jauh lebih rahasia di sana, bukan hanya map kontraknya.
Tiba-tiba, ponsel Clara berdering. Itu Viona.
"Cla, aku sudah sampai di kantor Ayah! Aku sudah bilang pada sekretarisnya. Mereka menyuruhku menunggu di ruangan Ayah. Aku akan segera pulang!" kata Viona dengan nada tergesa-gesa.
"Oke, Vi. Hati-hati di jalan!" jawab Clara, lega.
Saat Clara meletakkan ponselnya, ia menyadari sesuatu. Di atas meja kerja Leo, tergeletak sebuah kertas kecil yang tadinya tertutup oleh tablet Leo.
Itu adalah selembar kertas yang disobek dari sticky note, bertuliskan enam digit angka yang ditulis dengan tergesa-gesa.
851977.
Brankas itu. Itu pasti kodenya.
Clara melihat ke brankas kecil itu, lalu ke pintu. Viona baru saja sampai di kantor pusat, yang berarti dia akan kembali dalam waktu setengah jam.
Haruskah ia membuka brankas Leo dan melihat apa yang disembunyikan pria dominan itu?
