
Ringkasan
Clara (19) tidak pernah malu dengan ambisinya: menjadi model majalah dewasa dengan body goals yang siap memukau dunia. Baginya, seksualitas adalah aset, dan gairah yang membara adalah bahan bakar. Tapi cita-cita itu terasa jauh, sampai ia melangkah ke rumah Viona, sahabatnya yang cantik dan supel. Di sana, ia bertemu Leo (45). Leo adalah definisi dari dominasi yang memikat—duda kaya, dewasa, dan memiliki aura mengintimidasi yang membuat lutut Clara lemas. Dia adalah ayah Viona, dan sejak pandangan pertama, ada tegangan elektrik yang tak bisa diabaikan. Leo melihat Clara bukan hanya sebagai teman putrinya, tapi sebagai fantasi yang berjalan. Clara melihat Leo sebagai jalan pintas menuju dunia mewah yang ia impikan, dan juga sebagai ujian terberat bagi hasratnya yang hyper sex. Apa yang dimulai sebagai lirikan terlarang di dapur, segera berubah menjadi perjanjian rahasia yang gelap dan memabukkan. Di balik punggung Viona, Clara bersedia menjadi pemuas rahasia Leo. Setiap sentuhan, setiap bisikan perintah, membawa Clara semakin dekat ke puncak karier... sekaligus menjerumuskannya ke dalam pusaran hubungan yang berbahaya. Mampukah Clara menyeimbangkan gairah terlarang dan persahabatan? Atau, apakah ia akan kehilangan segalanya, termasuk dirinya, di ranjang ayah temannya? Inilah kisah tentang ambisi yang dipertukarkan dengan hasrat, dan harga yang harus dibayar untuk sebuah kesenangan terlarang.
Bab 1 Aroma Leather dan Ketegangan Terlarang
Wangi leather mahal, uang tunai, dan sedikit tembakau halus menyambut hidung Clara saat ia melangkah masuk ke penthouse Ayah Viona. Itu adalah aroma kekayaan, kekuasaan, dan maskulinitas yang matang—sebuah campuran yang selalu membuat Clara merasa anehnya terstimulasi.
Clara (19) mengenakan mini dress ketat berwarna nude yang memeluk setiap lekuk tubuhnya. Ia tahu ia terlihat sempurna. Tinggi semampai, pinggang ramping, dada berisi, dan kulit selembut porselen yang siap diabadikan di halaman majalah. Cita-citanya, menjadi model majalah dewasa yang ikonik, bukan hanya ambisi, tapi sudah menjadi bagian dari identitasnya. Ia butuh terlihat menarik. Ia butuh dilihat.
“Clara! Akhirnya kau datang!” Viona (19) bergegas menyambutnya di ruang tamu luas berlantai marmer. Viona adalah kontras yang lembut dari Clara. Cantik, tentu saja, dengan rambut hitam lurus dan senyum yang ramah, namun auranya lebih girl next door—supel, ceria, dan tidak se-agresif Clara dalam menampilkan diri.
“Maaf telat, Vi. Bus kota benar-benar bencana,” keluh Clara, meskipun ia sengaja sedikit terlambat untuk memastikan dirinya menjadi pusat perhatian.
“Tidak masalah. Ayah baru saja selesai meeting. Ayo, dia ingin menyapamu. Kau kan baru pertama kali ke sini setelah Ayah pindah,” ajak Viona, menarik tangan Clara menuju area kantor di sudut ruangan.
Clara merasakan lonjakan adrenalin. Inilah saatnya. Leo. Ayah Viona.
Viona sering bercerita tentang ayahnya. Duda, kaya raya, pemilik perusahaan real estat besar, dan dominan. Leo (45) adalah seorang pria yang terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan, dan itulah yang membuat Clara tertarik—kekuatan absolut.
Saat mereka mendekati pintu ganda kayu mahoni, jantung Clara berdetak lebih cepat. Pintu itu terbuka, dan Clara melihatnya.
Leo duduk di belakang meja kerja yang berkilau, memegang tablet dan mengenakan kacamata baca tipis. Ia mengenakan kemeja biru tua yang mahal, lengan digulung rapi hingga siku, memperlihatkan otot bisep yang padat dan urat di lengan bawahnya. Bahkan dalam posisi duduk santai, ia memancarkan otoritas. Rambutnya yang sedikit beruban di pelipis hanya menambah daya tarik dewasa yang mematikan.
Ia bukan hanya pria tampan, ia adalah pria yang diukir dari kesuksesan.
“Ayah, ini Clara,” kata Viona ceria.
Leo meletakkan tabletnya dengan gerakan lambat dan terukur, lalu mengangkat kepalanya. Kacamata itu bergeser, dan mata gelap, tajam, dan dominan itu langsung menatap Clara.
Detik itu terasa seperti jam. Dunia di sekitar Clara meredup, hanya menyisakan dirinya dan tatapan pria itu. Itu bukan tatapan ramah ayah-ayah biasa. Itu adalah tatapan seorang predator yang melihat mangsanya, atau lebih tepatnya, seorang kolektor yang menemukan karya seni yang sangat ia inginkan. Tatapan itu menembus mini dress, menembus kulitnya, dan langsung mengenai inti hyper sex-nya.
Clara menahan napas. Pria ini tahu persis apa yang dia cari.
“Clara. Senang akhirnya bertemu denganmu,” suara Leo berat, rendah, dan memiliki resonansi yang mampu meredam suara ruangan yang besar itu. Ia berdiri. Tinggi dan tegap, jauh lebih mengesankan daripada saat duduk.
“S-senang bertemu dengan Anda juga, Om Leo,” jawab Clara. Sial. Ia tergagap, sesuatu yang jarang terjadi pada dirinya yang selalu percaya diri.
Leo berjalan mengitari meja, perlahan. Setiap langkahnya penuh kesadaran. Ia mendekat, tangannya terulur.
“Panggil saja Leo. ‘Om’ membuatku merasa terlalu tua,” katanya, senyum kecil—hampir seringai—tersungging di bibirnya.
Saat tangan mereka bertemu, sensasi listrik menyengat kulit Clara. Tangan Leo besar, hangat, dan genggamannya kuat. Ia memegang tangan Clara sedikit lebih lama dari yang seharusnya. Clara bisa merasakan perhatian Leo terfokus penuh padanya, bukan pada Viona yang berdiri di samping.
Viona, yang terlalu sibuk dengan ponselnya setelah memperkenalkan mereka, tampaknya tidak menyadari ketegangan yang begitu kental hingga hampir berbau ozon.
Leo melepaskan genggaman itu, tapi mata mereka tidak terputus.
“Viona sering bercerita tentangmu. Gadis yang ambisius,” puji Leo, nada suaranya ambigu—apakah itu pujian atau penilaian?
Clara menegakkan bahu. “Saya punya tujuan. Dan saya bekerja keras untuk itu,” jawabnya, memastikan pose-nya terlihat terbaik.
Leo mengangguk perlahan, tatapannya menyapu tubuh Clara dari atas ke bawah, dengan kecepatan kilat, tapi cukup detail hingga Clara merasa pipinya memanas.
“Aku melihatnya. Kepercayaan diri adalah aset terbesar. Kau tahu, aku selalu menghargai orang yang tahu persis apa yang mereka inginkan,” ujar Leo.
“Seperti Anda?” tantang Clara, sedikit berani.
Senyum Leo melebar, kali ini nyata dan mematikan. “Persis seperti aku. Sekarang, aku harus kembali menyelesaikan pekerjaan. Viona, pastikan temanmu nyaman. Kita akan makan malam di rumah. Aku sudah memesan katering fusion yang sangat enak.”
“Siap, Yah!” Viona mencium pipi ayahnya dengan cepat.
Leo tidak mengalihkan pandangan dari Clara. “Nikmati waktu kalian, Clara.”
“Pasti, Leo,” balas Clara, menekankan nama itu.
Saat Leo kembali ke kantornya, Clara menghembuskan napas yang tak disadari telah ia tahan. Lututnya terasa sedikit lemas. Kekuatan pria itu begitu nyata, begitu menguasai.
“Kenapa kau berkeringat, Cla? AC di sini dingin sekali, lho,” tanya Viona, akhirnya menyadari keanehan Clara.
“Aku... aku hanya sedikit gugup. Penthousemu benar-benar luar biasa, Vi. Ayahmu… sangat berwibawa,” Clara mencoba menetralkan suaranya.
“Iya, Ayah memang begitu. Tapi kalau sudah di rumah, dia santai kok. Ayo, kita ganti baju. Aku mau mirror selfie di balkon!”
Mereka pindah ke kamar Viona yang seperti miniatur istana. Sementara Viona sibuk memilih baju, Clara berjalan ke jendela kamar yang menghadap langsung ke kota. Pemandangan itu luar biasa. Dunia terasa ada di bawah kakinya.
Ia memikirkan Leo.
Gairah yang ia rasakan adalah sesuatu yang akut. Bukan hanya ketertarikan fisik, tapi ketertarikan pada kekuasaan yang bisa ditawarkannya. Leo bisa menjadi sponsornya, bisa menjadi koneksinya. Leo adalah jalan pintas ke kehidupan yang ia inginkan. Dan ia tahu, dengan tatapan tadi, Leo juga menginginkannya.
Ia mengeluarkan ponselnya dan melihat foto profil Leo yang ia ambil diam-diam dari akun media sosial Viona semalam. Dominan. Kaya. Ayah temanku.
Malam itu, suasana makan malam formal terasa tegang. Leo duduk di kepala meja. Viona dan Clara duduk berdampingan. Ada staf rumah tangga yang melayani mereka dengan sigap.
Selama makan, Viona sibuk bercerita tentang rencana liburan mereka. Leo mendengarkan putrinya dengan senyum kecil, namun mata gelapnya terus menerus kembali ke Clara, menangkap setiap gerakannya, setiap kali Clara menyesap anggur putih atau memotong makanannya. Itu adalah permainan mata yang halus, tersembunyi, dan hanya mereka berdua yang tahu.
Clara membalas tatapan itu, sedikit demi sedikit, membiarkan hasrat di matanya terlihat, membiarkan Leo tahu bahwa dia menerima tantangan ini.
Saat Viona pergi ke kamar mandi, keheningan canggung meliputi meja. Clara memberanikan diri.
“Makanan ini sangat enak, Leo,” pujinya.
“Aku senang kau menyukainya,” jawab Leo, meletakkan garpunya. Ia bersandar, mengamati Clara. “Jadi, majalah dewasa? Itu niche yang berani, Clara.”
“Saya pikir, jika Anda punya aset, Anda harus menggunakannya,” kata Clara, tersenyum sinis.
Leo mengangguk, sorot matanya semakin tajam. “Setuju. Tapi jalan menuju sana sangat kompetitif. Dan berbahaya.”
“Saya siap mengambil risiko.”
“Aku tahu. Aku melihatnya dalam dirimu. Tapi terkadang, risiko terbesar justru ada di depan mata, bukan di kejauhan.”
Leo mengambil serbet, menyeka mulutnya perlahan. Gerakan itu sensual dan penuh kontrol.
Clara mencondongkan tubuhnya sedikit, suaranya menjadi bisikan berani. “Anda terdengar seperti Anda tahu persis risiko apa yang sedang kita bicarakan.”
Leo tersenyum lagi. Kali ini, senyum itu tidak mencapai matanya, hanya menunjukkan kendali. “Mungkin. Aku sudah hidup cukup lama untuk mengenali peluang, dan juga mengenali komplikasi. Dan kau, Clara, kau adalah komplikasi yang sangat menarik.”
Tiba-tiba, Viona kembali. Suasana tegang itu langsung dipotong, seolah-olah saklar telah dimatikan.
Setelah makan malam, Viona dan Clara pindah ke ruang keluarga, menonton film. Leo kembali ke kantornya, pintu tertutup.
Clara tidak bisa fokus. Pikirannya melayang kembali ke tatapan Leo, ke sentuhan tangannya. Ia merasa hyper sex-nya berteriak di dalam dirinya, mendesak untuk dilayani oleh pria dominan itu.
Pukul 11 malam, Viona mulai mengantuk. “Aduh, aku capek banget, Cla. Kita tidur sekarang, ya? Kau tidur di kamar tamu sebelah kamarku.”
“Oke, Vi,” jawab Clara.
Setelah Viona tertidur pulas, Clara tidak bisa memejamkan mata. Ia merasa gelisah. Ia butuh sesuatu. Ia butuh dia.
Ia bangkit dari tempat tidur, mengenakan robe sutra tipis yang ia bawa, dan membuka pintu. Lorong itu gelap dan sunyi. Hanya lampu remang-remang di ruang tamu yang menyala.
Clara berjalan perlahan menuju area kantor Leo. Ia melihat celah cahaya tipis di bawah pintu kayu mahoni. Leo masih di sana.
Clara berhenti di depan pintu. Jantungnya berdebar kencang, perpaduan antara rasa takut dan antisipasi.
Ia mengangkat tangan, siap mengetuk.
Tiba-tiba, suara Leo terdengar, serak dan berat, seolah ia tahu Clara sudah berada di sana.
“Kau tidak perlu mengetuk, Clara. Masuk.”
Clara menelan ludah. Bagaimana dia tahu?
Ia memutar kenop pintu. Suasana di dalam kantor terasa hangat dan pengap, hanya diterangi oleh lampu meja kecil. Leo duduk di kursi kerjanya, menghadap jendela kota, memegang gelas whiskey.
Leo berbalik. Matanya menatap tajam pada Clara, dari rambutnya yang terurai hingga kaki telanjangnya di atas karpet mahal.
“Aku tahu kau akan datang,” katanya, nadanya penuh kemenangan. “Ada sesuatu yang ingin kau diskusikan denganku, bukan?”
Clara menutup pintu di belakangnya, menguncinya. Ia berjalan perlahan, membiarkan robe sutranya melayang di udara.
Ia berhenti di depan meja Leo, kedua tangannya diletakkan di atas kayu yang dingin. Ia mencondongkan tubuhnya, menatap lurus ke mata Leo.
“Ya,” bisik Clara. “Saya ingin bertanya. Bagaimana caranya menjadi model yang Anda inginkan? Bukan hanya model majalah dewasa, tapi model yang diakui dan dihormati.”
Leo tersenyum tipis. Ia meletakkan gelasnya dan berdiri. Kali ini, ia berjalan perlahan ke arah Clara, langkah demi langkah, memancarkan aura bahaya yang terkontrol. Ia berhenti tepat di depan Clara, begitu dekat hingga Clara harus mendongak untuk melihatnya.
“Itu pertanyaan yang bagus. Tapi di duniaku, Clara, tidak ada yang gratis,” bisik Leo, suaranya kini hanya untuk telinga Clara. “Kau harus membayar harganya. Dan harganya... sangat mahal.”
Leo mengangkat tangannya, telapak tangannya yang besar dengan hati-hati menyentuh tulang selangka Clara yang terekspos, lalu perlahan merayap ke leher Clara, dan memiringkan dagunya ke atas.
“Apa kau bersedia membayar harga yang kuminta, Clara?”
