Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3 Ujian Kepatuhan dan Panggilan Tengah Malam

Perintah Leo untuk kembali ke kamarnya dalam keadaan tegang dan memikirkan dirinya, lalu ditambah ultimatum bahwa panggilan berikutnya harus dipenuhi Clara dalam keadaan telanjang, menghantam Clara seperti badai dingin. Ini bukan lagi sekadar perjanjian, ini adalah penundukan total.

Clara merasakan campuran rasa marah, frustrasi karena hasratnya yang menggantung, dan kegembiraan yang mengerikan. Leo tidak hanya membeli tubuhnya; dia membeli kepatuhannya, kontrol atas pikirannya, dan kendali atas setiap hasrat hyper sex-nya.

"Telanjang?" ulang Clara, suaranya sedikit meninggi karena tak percaya.

Leo tidak mengangkat kepalanya dari tablet-nya. "Kau dengar aku, Clara. Malam ini hanyalah pengantar. Jika kau ingin menjadi model yang diakui, kau harus menguasai seni melepas batasan dan mengabaikan rasa malu. Dan jika kau ingin menjadi milikku, kau harus menguasai seni kepatuhan tanpa tanya. Sekarang, pergilah. Aku akan mengirimkan detail test shoot David Surya besok pagi."

Clara tahu dia tidak punya pilihan. Keputusan sudah dibuat. Dia adalah ambisi yang dibungkus dengan gairah.

Dia memutar kenop pintu dan keluar dari kantor Leo, menutupnya sepelan mungkin. Lorong itu terasa lebih panjang, lebih gelap, dan lebih dingin. Ia berjalan kembali ke kamar tamu, merasakan setiap langkahnya menanggung beban pengkhianatan yang baru saja ia lakukan terhadap Viona.

Ketika ia kembali ke kamar, ia menanggalkan robe sutra yang sudah robek dan melemparkannya ke lantai. Ia berdiri di depan cermin, melihat dirinya dalam lingerie renda hitam yang kini terasa seperti seragam baru. Ia menyentuh bibirnya yang masih panas akibat ciuman Leo.

"Kau bersemangat," geram Leo. "Aku ingin kau tidur dalam ketegangan."

Clara merangkak ke tempat tidur. Udara di sekitarnya terasa penuh dengan janji Leo dan peringatan Leo. Dia memang tidak bisa tidur. Pikirannya dipenuhi gambaran Leo, tangan besarnya, mata dominannya, dan ultimatum yang menantang.

Leo telah berhasil. Dia mengendalikan hasrat Clara dari jarak jauh, hanya dengan sebuah perintah.

Clara menghabiskan waktu berjam-jam mencoba memejamkan mata, namun sensasi ciuman, dan ancaman panggilan telanjang itu, membuatnya terjaga. Ia menyadari satu hal: Leo tidak hanya kaya dan dominan, dia adalah manipulator ulung yang tahu cara bermain dengan psikologi wanita, terutama wanita yang didorong oleh gairah seperti dirinya.

Pagi tiba dengan matahari yang cerah, kontras dengan malam yang gelap dan penuh rahasia.

Clara turun ke ruang makan dengan penampilan yang ceria, seolah-olah ia tidur nyenyak. Viona dan Leo sudah ada di sana.

"Selamat pagi, Cla! Tidurmu nyenyak?" sapa Viona, tampak segar.

"Sangat nyenyak, Vi. Tempat tidurmu luar biasa," jawab Clara, memberikan senyum palsu terbaiknya.

Leo, mengenakan setelan bisnis abu-abu tua yang dibuat khusus, tampak sempurna. Dia sedang membaca koran bisnis dan meneguk kopi. Dia tidak melihat Clara; dia bahkan tidak mengakui kehadirannya. Sama sekali tidak ada jejak ketegangan malam tadi di matanya. Dia adalah ayah Viona yang berwibawa, pemilik perusahaan real estat yang dingin dan profesional.

Keterampilan Leo dalam memisahkan peran sungguh menakutkan.

Clara duduk di sebelah Viona. Leo akhirnya melipat koran dan melihat ke arah mereka.

"Viona, aku ada penerbangan ke Singapura pukul 10.00. Clara, aku sudah mengirimkan detail test shoot-mu ke email-mu," kata Leo, nadanya datar dan efisien, seolah membahas laporan kuartalan.

"Singapura? Wah, cepat sekali, Yah," keluh Viona.

"Bisnis. Kau tahu sendiri," jawab Leo, lalu berdiri.

Dia memberikan ciuman formal di dahi Viona. Ketika ia melewati Clara, Clara menahan napas, menunggu sedikit lirikan, sedikit sentuhan tersembunyi.

Tidak ada. Leo bahkan tidak melihat ke arahnya. Dia hanya berjalan menuju pintu keluar, diikuti oleh seorang asisten.

"Sampai jumpa, anak-anak," katanya.

"Sampai jumpa, Ayah! Hati-hati!" seru Viona.

Clara hanya bisa bergumam, "Sampai jumpa, Leo."

Begitu pintu utama tertutup, Clara langsung membuka ponselnya. Di email-nya, ada pesan dari Leo. Isinya singkat:

> Kepada: Clara

Dari: Leo R. (Pribadi)

Subjek: Detail Awal

Clara,

David Surya. Studio Aether. Selasa, 10.00 pagi. Aku telah mengatur agar kau memiliki akses penuh ke studio. Tunjukkan yang terbaik. Buktikan asetmu sepadan dengan investasiku.

Aku akan kembali lusa malam. Berhati-hatilah.

L.

'Berhati-hatilah.' Itu terdengar seperti peringatan, sekaligus seperti janji.

Dua hari berikutnya terasa seperti neraka bagi Clara. Viona dan Clara sibuk berbelanja, mirror selfie, dan membicarakan pria. Tapi pikiran Clara terus melayang ke Leo. Ia merasa sangat tertekan oleh hasrat yang belum terselesaikan.

Ia tahu Leo sedang mengujinya. Dia harus berhasil dalam test shoot itu. Leo hanya menghargai kesuksesan.

Pada hari ketiga, sekitar pukul 23.00, Viona tertidur pulas di kamarnya, kelelahan setelah seharian berbelanja di butik mahal. Clara berada di kamar tamu, berpakaian lengkap, membaca naskah majalah, mencoba menenangkan dirinya. Leo seharusnya sudah kembali malam ini.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal. Clara segera tahu siapa itu.

> Leo:

Aku sudah kembali. Kantor. 10 menit.

Dan jangan lupa persyaratan terakhir kita.

10 menit. Kantor. Telanjang.

Jantung Clara berdetak kencang, memukul tulang rusuknya. Ini adalah panggilan. Ini adalah ujian kedua: ujian kepatuhan.

Clara melihat ke pintu yang menghubungkannya dengan kamar Viona. Viona tidur seperti bayi.

Ia meletakkan ponselnya, menarik napas dalam-dalam. Tidak ada waktu untuk ragu.

Clara menanggalkan semua pakaiannya. Dress yang ia kenakan, lingerie, semuanya. Ia berdiri telanjang di kamar asing itu, melihat pantulannya di jendela gelap. Tubuhnya yang indah kini sepenuhnya rentan, dan yang terpenting, patuh.

Ia membuka pintu kamar tamu sedikit, melihat lorong. Gelap. Sunyi. Ia bisa mendengar AC bekerja pelan.

Dia melangkah keluar.

Angin malam dari ventilasi AC menerpa kulitnya, terasa dingin dan memalukan. Namun, rasa malu itu segera ditenggelamkan oleh gelombang adrenalin dan kegembiraan yang mengerikan. Dia melakukan ini. Demi ambisinya. Demi dia.

Ia berjalan perlahan menyusuri lorong yang panjang, kakinya yang telanjang menyentuh marmer dingin. Setiap langkah terasa seperti penyerahan diri. Ia melewati kamar Viona, jantungnya berpacu seolah ia adalah pencuri yang tertangkap basah.

Ketika ia mendekati area kantor, ia melihat cahaya yang sama di bawah pintu mahoni.

Ia berhenti di depan pintu. Hanya beberapa senti kayu tebal yang memisahkan dirinya dari nasibnya yang baru.

Ia mengangkat tangannya, kenop pintu terasa dingin di telapak tangannya.

Ia membukanya.

Leo duduk di belakang meja kerjanya, sama seperti malam itu, dengan kemeja dan celana yang rapi. Dia tidak sedang bekerja. Dia hanya duduk di sana, memegang gelas whiskey dengan postur dominan yang sempurna.

Saat pintu terbuka, dia mendongak.

Matanya yang gelap langsung menatap Clara yang berdiri telanjang di ambang pintu, pencahayaan remang-remang dari lampu meja jatuh di kulitnya, menonjolkan lekuk tubuhnya yang body goals.

Wajah Leo tetap tanpa emosi, tetapi di matanya, ada kilatan kepuasan yang dingin dan mutlak.

"Masuk," perintah Leo, suaranya pelan dan bergetar, lebih seperti desisan.

Clara melangkah masuk, membiarkan pintu tertutup di belakangnya, menguncinya, memutus koneksi terakhirnya dengan dunia luar—dan Viona. Dia berjalan perlahan menuju Leo, merasakan tatapan Leo membakar setiap inci kulitnya.

"Kau patuh. Bagus," kata Leo. Dia meletakkan gelasnya dan berdiri. Kali ini, dia tidak berjalan mengelilingi meja. Dia hanya berdiri di sana, seperti monumen kekuasaan.

Clara berhenti di tepi meja, beberapa meter dari Leo. Ia merasa telanjang, bukan hanya secara fisik, tapi juga jiwanya.

"Aku selalu menepati janji, Leo," jawab Clara, suaranya sedikit gemetar, tapi dia berusaha untuk tidak terlihat gentar.

Leo mengangguk. "Tentu. Dan aku menghargai itu. Karena kau patuh, aku akan memberimu sesuatu yang berharga. Aku sudah mengatur segalanya untuk test shoot-mu. David Surya akan memberimu kesempatan sekali seumur hidup. Kau tidak boleh menyia-nyiakannya."

Dia berjalan mengitari meja, menuju ke sisi Clara. Jarak mereka kini hanya hitungan inci.

"Kau memiliki potensi, Clara," bisik Leo. "Tapi potensi saja tidak cukup. Kau butuh pelatihan."

Leo meletakkan tangannya di bahu Clara yang telanjang, ibu jarinya membelai kulitnya. Dia memiringkan dagunya.

"Aku akan melatihmu," janji Leo, matanya menatap intens. "Aku akan melatih matamu, gerak tubuhmu, dan caramu menggunakan aset terbesarmu."

Tangan Leo bergerak turun, melewati leher, tulang selangka, dan berhenti tepat di atas dada Clara. Tekanan itu halus, namun mengikat.

"Kita akan mulai sekarang. Latihan pertama: Bagaimana cara memuaskan sponsor. Bagaimana cara membuatku tahu bahwa kau adalah investasi yang layak," kata Leo.

Leo mencondongkan tubuhnya ke depan, bisikannya kini berbahaya dan langsung ke intinya.

"Lututmu, Clara. Turunlah di hadapanku. Sekarang."

Perintah itu keras, jelas, dan mutlak. Ini bukan lagi negosiasi. Ini adalah penyerahan diri yang diminta, di dalam kantor mewah ayah sahabatnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel