Bab 2 Negosiasi di Ruang Tertutup
Jemari Leo terasa hangat dan sedikit kasar saat memegang dagu Clara, memaksa pandangannya untuk tetap terpaku pada mata gelap Leo. Suara bisikan Leo yang rendah dan tegas, menanyakan kesediaan Clara untuk membayar harga, bergaung di ruang kantor yang hening. Ini adalah hook yang Clara tunggu-tunggu—kesempatan yang dipersembahkan di atas piring emas yang berbahaya.
Clara tidak mundur. Hyper sex-nya menendang, dicampur dengan adrenalin ambisi. Dia menatap balik ke mata Leo, sebuah campuran antara tantangan dan kepatuhan yang mematikan.
"Harga seperti apa yang Anda minta, Leo?" tanya Clara, suaranya parau, hampir tidak terdengar. Dia tidak peduli dengan Viona yang tertidur pulas beberapa meter jauhnya. Saat ini, hanya ada dia dan pria yang memegang kunci masa depannya—dan hasratnya.
Leo menyeringai, senyum kecil yang dipenuhi pengetahuan. Jelas dia menikmati kontrol absolut dalam situasi ini. Dia melepaskan dagu Clara dan membiarkan tangannya meluncur turun ke bahu Clara, menekan bahu itu sedikit, sebuah gerakan kepemilikan.
"Harga yang kuminta adalah semuanya, Clara. Totalitas."
Leo melangkah mundur satu langkah, mengambil gelas whiskey-nya lagi. Matanya menelusuri tubuh Clara yang hanya tertutup robe sutra tipis, yang terasa seperti tidak ada apa-apa di bawah tatapan intensnya.
"Aku bisa membawamu ke puncak. Aku punya koneksi di media, majalah-majalah besar, dan para fotografer top. Aku bisa membuatmu menjadi model yang diakui," Leo menjelaskan, suaranya kembali ke nada bisnis, namun dengan undertone yang dalam dan intim. "Tapi sponsorship dariku bukan hanya soal uang. Itu soal ketersediaan. Kepatuhan. Kerahasiaan."
Leo meneguk whiskey-nya perlahan, tidak pernah melepaskan pandangannya dari Clara. Dia memberikan waktu pada kata-katanya untuk meresap.
"Aku membutuhkan seseorang untuk menemaniku. Untuk memenuhi kebutuhanku," lanjut Leo, menekankan kata “kebutuhanku” dengan penekanan yang jelas. "Bukan sekadar kencan publik, Clara. Aku butuh pemuas. Seseorang yang tahu persis apa yang kumau, kapan kumau, dan bagaimana kumau. Seseorang yang bersemangat dan ambisius."
Dia mendekat lagi, begitu dekat hingga Clara bisa mencium aroma whiskey yang hangat bercampur dengan aroma cologne mahal.
"Aku tahu kau sangat bersemangat. Aku melihatnya. Dan aku tahu kau ambisius. Aku bisa melihat pantulan itu di matamu. Sekarang, aku perlu tahu. Apakah cita-citamu itu begitu kuat, sehingga kau bersedia mengorbankan batasanmu... untuk menjadi pemuas rahasia Ayah temanmu?"
Leo menembakkan pertanyaan itu langsung, tanpa basa-basi, tanpa filter. Ini bukan rayuan. Ini adalah negosiasi yang brutal dan terbuka.
Clara merasakan badai emosi di dalam dirinya: rasa ngeri karena pengkhianatan terhadap Viona, kegembiraan atas peluang yang tak terduga, dan gelombang panas yang tak tertahankan di antara kedua kakinya.
Leo tidak memintanya berpura-pura jatuh cinta. Dia memintanya untuk sebuah peran: pemuas dengan ambisi. Itu adalah pertukaran yang adil, setidaknya di mata Clara yang pragmatis dan terdorong hasrat.
"Viona tidak akan pernah tahu," kata Clara, bukan pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan.
"Tentu saja tidak," jawab Leo, suaranya setenang samudra dalam. "Kerahasiaan adalah syarat utama. Kau masih akan menjadi sahabat Viona. Kau akan tetap datang dan pergi dari penthouse ini sebagai temannya. Di mata dunia, kau hanyalah Clara, gadis muda yang penuh harapan. Tapi di balik pintu ini, di ruang pribadiku, kau akan menjadi milikku."
Kata “milikku” terasa seperti belenggu emas yang dipasangkan padanya. Rasanya menakutkan, sekaligus sangat memuaskan bagi sisi dirinya yang haus dominasi.
Clara mengulurkan tangannya, tangannya yang ramping dan panjang diletakkan di atas dasi sutra Leo yang sedikit longgar. Ia menarik dasi itu sedikit, memaksa Leo untuk sedikit menunduk.
"Dan jika saya setuju," bisik Clara, bibirnya hampir menyentuh telinga Leo. "Bagaimana Anda menjamin karier saya? Bukankah saya butuh bukti, sebelum saya... menyerahkan totalitas?"
Leo tertawa rendah, suara yang lebih terasa di dada Clara daripada di udara. Tawa itu mengandung kekuasaan yang tak terbantahkan.
"Kau pintar, Clara. Kau menuntut jaminan, itu bagus. Aku tidak membeli model yang naif. Aku membeli kemampuan dan kesetiaan."
Leo memegang pergelangan tangan Clara yang masih memegang dasinya, lalu menariknya ke samping meja kerjanya. Dia membuka laci yang terkunci dan mengeluarkan sebuah map tebal berwarna hitam.
"Ini. Lihat ini," Leo meletakkan map itu di atas meja. "Kontrak awal. Ada tiga nama fotografer majalah terkemuka di sini. Aku akan menjadwalkan test shoot pertamamu minggu depan, di studio pribadi temanku. Semuanya gratis. Setelah test shoot itu berhasil, dan kau mendapatkan tawaran nyata, maka pembayaranmu dimulai."
Clara melihat nama-nama di map itu. Itu bukan sekadar koneksi biasa. Itu adalah nama-nama yang menghiasi majalah-majalah yang selama ini hanya bisa ia impikan untuk dilihat dari dekat. Jantungnya berdetak liar. Ini nyata.
"Jadi, Anda akan berinvestasi pada saya, bahkan sebelum saya mulai 'membayar' Anda?" tanya Clara, mengamati Leo dengan tatapan ragu.
"Anggap saja ini sebagai deposit niat baik. Aku yakin dengan ‘aset’-mu, Clara," Leo menyahut, tatapannya menyala. "Aku tahu aku tidak akan rugi. Kau adalah model impian yang terlalu bersemangat untuk dilewatkan."
"Apa ‘pembayarannya’ meliputi... semua yang Anda mau?" tanya Clara. Kali ini, rasa malu sejenak melintas, tapi ia menenggelamkannya dengan cepat.
"Semua yang kumau, sesuai aturanku. Aku yang dominan, Clara. Selalu. Kau hanya perlu patuh dan memenuhi hasratku kapan pun dan di mana pun aku mau. Di sinilah kerahasiaan dan ketersediaan menjadi kunci," Leo menjelaskan. "Juga, kau harus menghentikan semua hubungan intimmu dengan pria lain. Aku tidak berbagi. Milikku berarti milikku sepenuhnya."
Clara berpikir cepat. Berhenti berkencan? Tidak masalah. Pria-pria di usianya terlalu kekanak-kanakan dan tidak memuaskan. Leo, dengan kedewasaan, dominasi, dan kekuasaannya, jauh lebih menarik daripada fantasi remajanya.
Dia mengambil napas dalam-dalam, mengambil keputusan paling drastis dan paling berisiko dalam hidupnya.
Clara mengulurkan tangannya di atas map hitam itu, menawarkan jabat tangan yang kini terasa seperti penyegelan jiwa.
"Deal, Leo. Saya setuju dengan persyaratan Anda."
Senyum kemenangan Leo akhirnya muncul, besar dan memuaskan. Dia tidak berjabat tangan. Sebagai gantinya, Leo dengan cepat meraih pergelangan tangan Clara dan menariknya, memaksa Clara untuk maju hingga dada mereka bersentuhan. Robe sutra itu tersingkap sebagian.
Leo meletakkan tangannya di pinggang Clara, ibu jarinya membelai punggung bawah Clara yang telanjang. Clara merasakan getaran yang sangat kuat, hasrat tak terpuaskan yang telah lama terpendam kini menemukan jalannya.
"Keputusan yang bijaksana, Clara. Kau baru saja menandatangani kontrak terbaik dalam hidupmu," bisik Leo, suaranya serak dan jauh lebih intim. "Dan aku menghargai dealer yang cepat mengambil keputusan."
"Saya senang Anda puas," jawab Clara, suaranya bergetar karena antisipasi.
Leo tiba-tiba bergerak cepat. Dia mengangkat Clara ke atas meja kantornya yang besar, menempatkannya di antara tumpukan dokumen dan peralatan kantor. Clara duduk di sana, lututnya sedikit terpisah. Itu adalah posisi yang menguasai dan rentan secara bersamaan.
"Dan sekarang, sebelum kita mulai mendiskusikan test shoot dan jadwalmu, bukankah kau harus memberikan 'deposit' niat baikmu juga?" tanya Leo, matanya menembus Clara. "Hanya untuk memastikan bahwa keputusan ini serius."
Clara tahu apa yang dia maksud. Dia tahu Leo tidak akan melepaskannya begitu saja setelah negosiasi yang begitu intens. Hyper sex-nya menuntut pemenuhan, dan Leo adalah orang yang paling mampu memberikannya.
"Saya kira, Anda benar," bisik Clara.
Leo meletakkan kedua tangannya di sisi Clara, mengunci Clara di antara tubuhnya dan meja kantor yang dingin. Dia memiringkan kepalanya, dan tatapan tajamnya beralih ke bibir Clara yang memerah.
"Viona ada di kamar sebelah," bisik Leo, sebuah pengingat yang mengerikan dan memabukkan. "Kita harus sangat, sangat, sangat sunyi."
Pengingat itu justru memicu adrenalin Clara. Melakukan hal terlarang, di bawah hidung sahabatnya, dengan pria yang paling dominan di ruangan itu. Ini adalah puncak gairah terlarang.
Leo mendekat, dan bibir mereka bertemu. Ciuman Leo berbeda dari ciuman siapapun yang pernah ia rasakan. Ciuman itu tidak lembut atau romantis. Itu adalah ciuman dominasi, tuntutan, dan kepemilikan. Lidah Leo langsung menuntut, menjelajahi mulut Clara dengan otoritas yang menakutkan.
Clara membalasnya dengan intensitas yang sama, hasrat hyper sex-nya meledak. Dia mencengkeram kemeja mahal Leo, menariknya lebih dekat. Aroma leather dan tembakau Leo membanjiri indranya, memabukkannya.
Ciuman itu semakin dalam, semakin liar. Leo melepaskan ciuman itu sejenak, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Clara yang terengah-engah.
"Kau bersemangat," geram Leo, suara seraknya memuja sekaligus memerintah.
"Anda memicu saya," balas Clara, terengah-engah.
Tangan Leo bergerak cepat. Dia meraih tepi robe sutra Clara dan merobeknya sedikit hingga kancingnya terlepas. Robe itu jatuh dari bahu Clara, meninggalkannya hanya dengan lingerie renda hitam.
Leo menatap Clara yang kini hampir telanjang di atas meja kerjanya. Matanya yang gelap memindai tubuh body goals itu, tatapan Leo memberikan pengakuan penuh pada aset Clara.
"Sempurna," desis Leo. "Kau akan menjadi karya seni paling mahal yang pernah kupamerkan."
Leo memegang kedua pinggul Clara. Tangan Leo yang besar dan kuat memberikan tekanan yang memabukkan. Dia memiringkan kepalanya lagi dan mencium leher Clara, meninggalkan jejak panas di kulit Clara.
Clara menutup matanya, mendongak. Ini adalah peleburan ambisi dan hasrat.
Tiba-tiba, Leo berhenti. Dia menarik diri, wajahnya kembali tanpa ekspresi. Dia mengambil napas dalam-dalam, menguasai dirinya.
"Cukup," perintah Leo, nadanya kembali ke otoritas bisnis.
Clara membuka mata. Dia merasa bingung, kecewa, dan hasratnya menggantung di udara. "C-cukup? Tapi..."
"Kepatuhan, Clara. Ini adalah pelajaran pertama," potong Leo tajam. Dia tidak menyentuhnya lagi. Dia mengambil robe sutra Clara yang robek dan melemparkannya kembali ke pangkuan Clara.
"Aku bilang, cukup," ulangnya. "Ini bukan pemenuhan hasrat, ini adalah negosiasi. Dan negosiasi kita sudah selesai. Aku tahu kau serius. Aku tahu kau menginginkanku. Dan aku tahu kau akan patuh."
Clara merasa malu, kecewa, dan marah karena hasratnya dibiarkan menggantung. Tapi dia tahu, ini adalah cara Leo menunjukkan dominasi absolutnya. Leo tidak akan diatur oleh hasratnya, dia yang mengatur hasrat mereka.
"Sekarang, pakai robe-mu. Kita akan bicara soal test shoot-mu," kata Leo, kembali ke belakang mejanya, mengambil pena dan tablet-nya.
Clara merasakan pipinya memerah. Dia menarik napas dalam-dalam, menenangkan detak jantungnya yang menggila. Dia tahu Leo sedang menguji dirinya.
Dia memungut robe-nya, memakainya, dan berusaha terlihat seprofesional mungkin, meskipun kakinya gemetar dan lingerie-nya terasa panas di bawah sutra.
"Baiklah. Kapan test shoot-nya, Leo?" tanya Clara, berusaha membuat suaranya terdengar stabil.
"Selasa depan. Pukul 10 pagi. Di Studio Aether, di kawasan bisnis. Kau akan bertemu David Surya. Dia adalah salah satu yang terbaik. Dia akan mengambil foto telanjangmu, full set. Ini akan menjadi portofolio yang sangat mahal," Leo menjelaskan, nada suaranya kembali ke bisnis murni. "Kau harus memukau dia. Jika dia bilang kau tidak punya apa-apa, maka kontrak kita batal. Aku tidak mensponsori yang biasa-biasa saja."
Clara mengangguk. Dia tahu dia bisa memukau David Surya. Dia punya body goals dan dia punya aura.
"Aku akan memukau dia," janji Clara.
Leo tersenyum lagi. Bukan senyum penuh gairah, melainkan senyum puas. "Aku yakin itu. Sekarang, pergilah. Tidur. Besok, kau adalah teman Viona yang polos lagi. Tidak ada yang pernah terjadi di kantor ini."
Clara turun dari meja, berdiri di depannya. Matanya menatap Leo, menantang.
"Anda membuat saya tegang, Leo. Anda akan membiarkan saya kembali ke kamar saya, seperti ini?" tanya Clara, suaranya dipenuhi frustrasi dan hasrat yang belum terselesaikan.
Leo mencondongkan tubuhnya, mengambil napas dalam-dalam, seolah mencium aroma Clara.
"Tentu saja," bisik Leo. "Aku ingin kau tidur dalam ketegangan, Clara. Aku ingin kau memikirkanku. Aku ingin kau tahu, kau adalah milikku, dan pemuasanku hanya akan datang saat aku yang memutuskannya. Itu adalah janji dan juga... hukuman kecil."
Clara merasakan dominasi itu seperti cambuk dingin di kulitnya, tapi anehnya, itu terasa lebih memuaskan daripada pemenuhan itu sendiri.
"Selamat malam, Clara," kata Leo, kembali sibuk dengan tablet-nya.
Clara berbalik dan berjalan menuju pintu. Tangannya memegang kenop.
Tiba-tiba, suara Leo menghentikannya.
"Satu hal lagi, Clara."
Clara menoleh.
Leo menatapnya, matanya gelap, ada kilatan bahaya di dalamnya.
"Aku ingin kau datang ke sini... telanjang. Saat aku memanggilmu, dan Viona sudah tidur."
