Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Kriteria Edzard adalah Abigail

Edzard kembali berkata, kali ini sangat lembut, "Jangan menyembunyikan apapun lagi dariku. Katakan semuanya." Percayalah, saya tulus mengatakan ini karena saya ingin membantu kamu. Batin Edzard melanjutkan.

Abigail dibuat menunduk dalam. Edzard memberanikan diri mengangkat dagu Abigail, ini adalah pertama kalinya kulit mereka bersentuhan. Selama menjadi partner bekerja, Edzard dan Abigail selalu bersikap sportif, hingga tidak pernah melakukan kontak fisik sekecil apapun.

Sekarang wajah pucat dengan penuh kegelisahan terangkat, sorot mata Abigail dan Edzard saling bertemu. Pria ini berkata kembali, "Di mana ayah bayi itu, biar saya yang menghukumnya andai dia tidak bertanggung jawab!" Suara Edzard penuh ketegasan karena pria ini tidak main-main kala mengatakannya.

Seketika Abigail terkesiap. "Eu-tu-tuan tidak perlu tahu dan tidak perlu melakukan itu!"

"Perlu. Sekarang katakan," pinta Edzard memaksa.

"Tidak!" tolak sengit Abigail, kemudian memutar tubuhnya hingga membelakangi Edzard, "tuan boleh peduli pada saya, tapi jangan mencampuri hidup saya," larangnya dengan frontal tanpa berani menatap Edzard.

Edzard seakan kehabisan kata karena selalu mendapatkan respon penolakan dari Abigail. "Jika begitu biar saya sendiri yang mencari tahu karena sebenarnya tidak sulit untuk saya. Sama halnya saat menemukan kamu di sini, saya tidak kesulitan sama sekali."

Abigail terkesiap, hingga rasa kagetnya menuntun tubuh untuk kembali menghadap ke arah Edzard. "Jangan, saya mohon ...."

"Jika begitu, katakan saja sekarang. Enteng kan, urusannya!" Edzard menggendikan bahunya dengan enteng, selaras dengan ucapannya.

Abigail menunjukan wajah mendung, seakan butiran kesedihan dan semua masalah yang menimpanya akan tumpah saat itu juga. "Saya mohon tuan, anggaplah kita hanya bos dan bawahan karena itu yang sebenarnya. Jangan anggap saya spesial."

Melihat ekspresi Abigail membuat Edzard mengalah pada rasa ingin membantu dan memilih menunda sesaat toh pasti Abigail tidak akan lari kemana pun, mengingat wanita ini tidak berani menunjukan diri pada dunia. "Baiklah, saya minta maaf. Kita memang hanya bos dan bawahan, saya tahu itu," ujarnya seiring memandangi mata Abigail yang mulai memerah, "saya rasa kehadiran saya sekarang tidak membuatmu merasa terbantu, baiklah saya permisi."

Sepeninggalan Edzard, Abigail layu di atas lantai seiring menyandarkan punggungnya pada daun pintu. "Saya inginkan David, bukan Tuan Edzard karena bayi ini milik ayahnya."

Sebenarnya, saat itu Edzard masih berdiri tidak jauh dari daun pintu. Pria ini tidak tega meninggalkan Abigail sendiri dalam posisi merugikan. "Pria sialan itu. Mengapa Abigail sangat mengagungkannya, memangnya pria itu akan bertanggung jawab?"

Hari kembali berganti. Abigail masih tetap hidup dalam kenyataan pahit, sedangkan Edzard sedang harap-harap cemas. "Otakmu tidak dangkal, saya tahu kau tidak akan berbuat konyol!" Keyakinan ditanamkan walau penuh ragu karena apapun bisa dilakukan orang frustrasi.

Saat ini Edzard melakukan kebaikan diam-diam, dia memerintahkan bawahannya untuk mematai-matai kediaman Abigail dan saat driver tiba, sebuah paket makanan disisipkan dalam pesanan Abigail. "Katakan saja jika sedang promo menu baru." Pesan bawahan Edzard sesuai dengan titah tuannya.

Jadi, Abigail menunjukan wajah sumringah kala menerima pesanan makanannya. Dengan adanya bonus gratis membuatnya bisa berhemat jatah dua kali order.

Raut wajah Abigail disampaikan bawahannya pada Edzard. "Selanjutnya berikan beberapa lembar uang pada driver yang mungkin kembali datang. Katakan saja, sedang bagi-bagi rezeki karena ulangtahun restoran," titah Edzard. Jumlah uang yang diberikannya tidak terlalu sedikit, pun tidak terlalu banyak agar Abigail tidak curiga.

Namun, sampai waktu tidur tidak ada driver yang muncul. Hingga orang suruhan Edzard akan kembali besok.

Malam ini, Edzard berbincang dengan orangtuanya. "Kapan kamu akan memerkenalkan seorang wanita pada kami?" tanya William.

"Mungkin sebentar lagi, papa tunggu saja." Kala itu bayangan Abigail yang terlintas di kepala Edzard walau masih ada segudang wanita yang siap diperistri.

"Sebentar lagi, itu artinya kau memiliki kekasih?" tanya William untuk meyakinkan terkaannya.

"Papa dan mama tidak perlu tahu Edzard memiliki kekasih atau tidak. Intinya, suatu hari pasti Edzard akan menyanding seorang wanita."

Untaian kata dari Edzard membuat William dan Erika menyematkan senyuman bahagia. Ibunya berkata, "Mama sangat senang mendengarnya. Ingat Edzard, jangan membuat mama dan papa terlalu lama menunggu."

"Tentu, mama dan papa tenang saja." Senyuman dibuat meyakinkan dipatri oleh Edzard, hingga wajah tampannya tampak sempurna dari segala sisi.

Selama ini Edzard memang sangat dingin pada kaum hawa, tapi bukan berarti dirinya tidak normal. Semua wanita yang mendekatinya memang cantik, tapi apakah mereka rela berkorban untuknya?

Edzard inginkan wanita yang bisa menyayanginya tanpa melihat status sosial. Jadi, andai suatu hari takdir memberinya kesempatan merasakan hidup sulit, wanita itu tidak akan meninggalkannya dan andai suatu hari takdir membuatnya lumpuh atau sakit keras dan sejenisnya, wanita itu akan mengorbankan hidupnya untuk merawatnya hingga akhir.

Semua kriteria wanita idaman Edzard dilihatnya dari Abigail. Memang awalnya pria ini tidak pernah tahu bagaimana sisi lain Abigail, tapi kala sang sekretaris merelakan nyawanya di ujung tanduk demi dirinya, saat itulah seluruh jiwa dan raga Edzard terbuka. Jika sebenarnya terdapat seorang wanita yang masuk ke dalam calon istri idaman versinya.

Sekarang Edzard mati-matian mengejar Abigail walau wanita itu terkesan jual mahal karena keadaannya. Namun, tidak menjadi masalah besar untuk Edzard, selama dia masih bisa berjuang.

"Wanita hamil di luar nikah sepertimu akan selalu menutup diri dari indahnya dunia, tapi saya akan menarikmu dari lubang dalam dan sempit itu. Yakinlah pada saya walau keraguan sangat besar menimbun mata hatimu, Abigail!" ungkapan Edzard pada bayangan Abigail yang melintas hampir sepanjang waktu.

Namun, di sisi lain Abigail masih mengingat David dan mencoba menghubunginya. "Saya ingin bertemu denganmu, sekali saja dan sebentar pun tidak apa," mohonnya dalam sambungan di udara.

"Saya terlalu sibuk, katakan saja nominal yang kau mau berpapun akan saya berikan!" tawar David agar tidak beradu pandang dengan Abigail.

"Bukan uang yang paling saya butuhkan, tapi kehadiranmu!" ungkap Abigail dengan sedikit raungan membatin.

"Saya belum siap meninggalkan bisnis saya di sini. Ayolah Abigail, sportif! Bukankah kau seorang sekretatris, pasti kau sangat tahu bagimana sibuknya bosmu. Saya tidak berbeda dengan atasanmu itu," jelas David yang sebenarnya melakukan kebohongan yang sudah melebar.

"Hanya sebentar, saya mohon ...." Ini seperti upaya terakhir Abigail.

"Sudahlah, saya tidak punya waktu untuk meladeni permintaan konyol kamu!"

Dirasa tidak ada cara lain, akhirnya Abigail mengancam, "Saya tidak akan lahirkan bayi ini!"

"Hah, apa saya tidak salah dengar?" Datar David, "bukankah kau bilang usianya sudah tujuh bulan. Mana bisa kau gugurkan!"

"Tidak, bukan menggugurkannya, tapi kita akan mati bersama!"

Bersambung ....

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel