Kehidupan Abigail
Kedua mata Abigail melebar sempurna mendengar Edzard mengetahui rahasia besarnya. "Eu, a-apa maksud tuan?"
"Tidak perlu menyembunyikannya dariku. Saya tahu itu. Bahkan sejak beberapa bulan ke belakang," aku Edzard.
Abigail mendesah pelan. "Apa saat tuan mengantarkan saya ke rumah sakit?"
"Iya."
Lagi, Abigail mendesah pelan. "Tolong rahasiakan ini, saya tidak ingin nama saya jelek di mata semua orang, apalagi di mata papa dan mama saya," mohonnya dengan suara lirih, "mama dan papa percaya saya bisa sukses di sini dan menggapai mimpi-mimpi saya. Saya tidak ingin mengecewakan mereka."
Edzard mendengarkan penuturan Abigail dengan saksama. "Saya tidak berhak ikut campur dalam masalahmu, pun kedatangan saya kesini hanya untuk memastikan jika kau baik-baik saja," bebernya.
Abigail memandangi ketulusan dalam sorot mata Edzard. "Mengapa tuan peduli pada saya? Saya hanya sekretaris anda. Tidak lebih."
"Lalu, mengapa dulu kau sangat peduli pada saya sampai mengorbankan tubuhmu sendiri dan mempertaruhkan nyawamu hanya demi saya, bosmu?"
"Karena saya tidak ingin hal buruk terjadi pada anda."
"Tapi kau membiarkan hal buruk terjadi pada dirimu sendiri. Kau naif!" Santai Edzard, tapi cukup membuat Abigail bungkam. Pria ini melanjutkan, "kau tahu balas budi? Kau pikir saya akan membiarkanmu menderita sendiri?"
Abigail mengerjap. "Maksud anda, anda akan ...."
Edzard menyela kalimat Abigail, "Saya yang akan mengakui bayi itu sebagai ayahnya!"
Namun, Abigail tidak menerima niat baik tuannya yang menurutnya terlalu berlebihan. Wanita ini hanya meminta cuti, seiring menunggu pertanggung jawaban dari kekasihnya.
Edzard setuju dengan syarat, "Jangan pernah gugurkan dia, dia memiliki hak untuk hidup!"
Tiga bulan berlalu hingga kini usia kehamilan Abigail menginjak bulan ketujuh. Selama tiga bulan ke belakang, dia tidak pernah keluar bahkan hanya untuk melihat matahari. Pun, rumah sewanya sudah pindah ke tempat yang jauh dari perusahaan agar kawan-kawan nya tidak pernah tahu.
Abigail mendekatkan handphone pada telinganya. "Ayo, angkat panggilanku!" Gelisah selalu menemaninya setiap detik.
"Ada apa?" tanya kekasihnya Abigail yang bernama David.
"Kapan kau kesini, kapan kau akan menikahiku?" tanya panik Abigail.
"Nanti saja, setelah kau melahirkan. Saya malu pada keluargaku jika menikahimu sekarang, perutmu sudah membesar!"
"Apa, mengapa seperti itu? Kau tahu kan ini sangat membebaniku dan menyulitkanku. Kau harus segera menikahiku!" desak Abigail.
"Memangnya orangtuamu akan menerima keadaanmu? Kau pikirkan bagaimana pendapat orangtua kita dan orang-orang di sekitar kita! Saya tidak ingin menghancurkan karierku. Perusahaanku sudah menunjukan perkembangan yang bagus, saya harus fokus!" Sambungan diputus sepihak.
"Halo?" Ditatapnya layar handphone yang berwarna hitam kelam, "keterlaluan kamu," lirih Abigail.
Selama tiga bulan ini, Abigail hanya mengandalkan driver untuk mengantarkan makanan. Jadi, satu hari bisa sampai tiga atau empat driver sekaligus dan dengan keadaan ini membuat tabungannya semakin mengering. Tidak pernah ada pemasukan semenjak dia mengambil cuti, tapi pengeluaran membengkak. Ditambah dengan biaya sewa yang cukup tinggi karena kali ini Abigail tinggal di lingkungan mewah agar tidak ada satu pun tetangga yang mencium keanehan darinya.
Mayoritas tetangga di sini adalah pebisnis dengan kesibukan sebagai rutinitas. Jadi, lingkungannya cukup sepi untuk Abigail menyembuntikan perutnya.
Abigail menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. "Bagaimana hidupku nanti karena David seolah menghindar dari tanggung jawabnya?"
Dalam kerisauan, panggilan dari Edzard melengking. Namun, Abigail memilih mengabaikan tuannya. "Maaf tuan, bukan anda yang harus bertanggung jawab atas bayi ini."
Esoknya, driver masih mengatarkan makanan ke rumah sewa dan lagi-lagi Abigail harus mengiris tabungannya. "Sisa uangku di atm hanya untuk hidup satu bulan."
Abigail memberanikan diri menghubungi David, tapi pria itu mengabaikannya, kemudian chat menjadi jalan kedua untuk Abigail. [Saya membutuhkan uang, selama ini kau tidak pernah memberikan uang sepeser pun untuk bayimu hingga tabunganku semakin menipis. Saya juga harus membayar uang sewa, tapi sisa uangku hanya sampai bulan depan saat kandunganku berusia delapan bulan.]
Handphone tetap dalam genggaman, ditatap tanpa henti dengan harapan David akan memberikan respon yang baik. Namun, alih-alih kebaikan justru tuduhan yang didapatkan Abigail. [Jangan memerasku, jangan karena perusahaanku mulai berkembang hingga kau manfaatkan uangku!]
Mulut Abigail menganga setelah membacanya, kemudian hanya air mata yang dapat membalas isi chat dari David. "Mengapa kau sekejam ini padaku?" Isak tangis jatuh ke bumi seiring jatuhnya hujan.
Kali ini hidup Abigail sudah sangat hancur, dirinya sudah tidak bisa berharap dari David-seorang pria tidak bertanggung jawab. "Bagaimana sekarang, apa saya mati saja?"
Tidak ada cahaya harapan setitik pun, hingga membuat dunia Abigail menjadi gelap. Hujan sangat lebat di luar sana, ditambah suara-suara alam. Di dalam keributan dunia, sebuah ketukan pintu terdengar.
Abigail bergumam keheranan, "Siapa itu, saya belum memesan lagi, apa drivernya kembali?" Jejak basah di pipi segera dihapus, wanita ini berusaha berjalan normal, tapi tetap saja terseok-seok akibat beban mental yang mencambuknya.
Pintu dibuka perlahan, hingga Abigail dan Edzard saling menatap. Wanita ini terkesiap melihat kedatangan bosnya, padahal dia tidak pernah memberikan alamat barunya pada siapapun. "Eu, tu-tuan!"
"Mengapa tidak mengangkat panggilanku?" tanya dingin Edzard.
"Ma-maaf." Abigail menundukan wajahnya sebagai tanda hormat pada atasan.
Namun, bukan itu yang jadi bahan perhatian Edzard. Sorot matanya mengarah pada perut memuncak Abigail. "Terimakasih sudah memertahankan bayinya," celetuknya.
Abigail mengerjap dan segera mengangkat wajahnya dengan tatapan sendu. "Tolong jangan mengungkit bayi ini," lirihnya.
Edzard memaksa masuk, dia melebarkan pintu hingga makanan yang dipesan Abigail tampak jelas. "Kau tidak memasak?"
"Maaf tuan, itu bukan urusan anda." Abigail ingin menyembunyikan semua hal yang terjadi padanya. Cukup kehamilannya saja yang bocor pada Edzard.
Edzard memandangi Abigail bersama rasa prihatin, kemudian masuk untuk melihat-lihat keadaan rumah. Tanpa diduga jika tempat sampah milik Abigail sangat penuh dengan bungkusan bermerk berbagai nama restoran. "Jadi, selama ini kau hidup seperti ini! Mengapa tidak pernah mengatakan apapun pada saya?"
"Sudah saya katakan itu bukan urusan anda!" tegas Abigail karena Edzard terlalu banyak mencari tahu.
"Tentu saja ini urusanku. Lihatlah keadaan rumah sewa ini. Mewah, tapi tidak ada yang benar. Tidak ada kompor, kulkas, mesin cuci. Kau makan hanya mengandalkan jasa chef, saya tebak untuk mencuci pasti kau mengandalkan laundri, iya kan? Dan ... lihatlah sampah ini, ada banyak sekali. Kau tidak pernah keluar kan, kau terlalu malu menunjukan tampangmu pada dunia!" Semua kalimat Edzard terdengar pedas dan kejam, tapi itulah caranya menyatakan peduli.
Abigail tidak pernah menjawab semua dugaan Edzard karena terlalu malu, apalagi semua ucapan bosnya memang benar. Wanita ini bergeming sangat lama.
Edzard kembali berkata, kali ini sangat lembut, "Jangan menyembunyikan apapun lagi dariku. Katakan semuanya."
Bersambung ....
