Pustaka
Bahasa Indonesia

Menikahi Gadis Hamil

34.0K · Tamat
Desti Angraeni
33
Bab
1.0K
View
9.0
Rating

Ringkasan

Edzard-sosok pria tampan mendekati sempurna dengan kekayaan melimpah. Banyak kaum wanita berniat menaklukan hatinya, tapi Edzard terlihat tidak normal karena sikap dingin di atas rata-rata. Namun, suatu hari negeri tempatnya berpijak geger kala tiba-tiba Edzard menayangkan pernikahannya. Sebenarnya bukan hal aneh untuk seorang milyader bertindak seperti ini, hanya saja gadis yang dinikahinya adalah Abigail-seorang gadis cantik dengan perut buncit yang usia kandungannya sekitar tujuh bulan. "Apa titik tidak normal Edzard sudah di luar batas, hingga pria itu menjadi gila?" Itu adalah satu pertanyaan dari para kaum hawa dengan tubuh semampai nan cantik rupawan. Apakah bayi dalam perut Abigail adalah milik Edzard hingga pria ini tidak merasa malu sama sekali?

Mengandung Diluar NikahWanita CantikTuan MudaRomansaSweetPernikahanKeluargaIstriLove after MarriageDewasa

Seperti Orang Tidak Waras

Hari ini diadakan pesta pernikahan meriah, tapi sayang sekali hanya sepasang pengantin yang menunjukan wajah bahagia, sedangkan keluarga kedua belah pihak terkesan datar saja, pun dengan mimik wajah keheranan para tamu.

"Sayang, kau menyukai pestanya?" tanya Edzard pada Abigail kala mereka duduk bersisian.

"Saya sangat bahagia." Senyuman melengkung indah dan manis di atas wajah Abigail.

"Baguslah, tidak sia-sia saya mengeluarkan banyak uang untuk semua ini." Bangga Edzard.

Tamu undangan yang menghadiri pesta bukanlah main-main, mereka semua berasal dari kalangan atas dan jumlahnya hingga memenuhi gedung pesta pernikahan.

Namun, di balik kemeriahan pesta bisik-bisik ikut menyertai. Edzard dan Abigail menyadari jika mereka menjadi bahan perbincangan, tapi keduanya hanya menganggap itu angin lalu.

Selesai pesta, keduanya segera menghuni kamar hotel untuk menghabiskan malam bersama. "Sekarang kita sudah menikah, sudah menjadi pasangan suami dan istri. Apa hal pertama yang ingin kau lakukan?" tanya perhatian Edzard pada Abigail, pria ini tidak henti memasang senyuman.

"Mandi," kekeh Abigail, "sejak pagi-pagi saya belum mandi, saya ingin membersihkan make-up dan wewangian yang menempel di tubuh saya," jelasnya sejujur mungkin.

"Silahkan. Saya akan menunggu di sini." Edzard duduk di dekat pintu kaca balkon tanpa memikirkan apapun dan sebuah red wine menemani di atas meja kecil berbahan kaca.

Sekitar lima belas menit kemudian, Abigail keluar dari dalam kamar mandi dengan pakaian hamil. "Bagaimana penampilanku?"

Edzard segera menoleh ke arah sumber suara. Diperhatikannya Abigail dari bawah hingga ke atas. "Bagus. Kau sangat cantik dan gaun itu sangat cocok untukmu."

"Kau terlalu banyak memuji." Abigail mengambil sebuah sisir, kemudian benda itu meluncur halus pada serat-serat rambut basahnya.

"Pujianku bersungguh-sungguh, bukan hanya untuk mengambil hatimu saja." Senyuman Edzard melengkung tulus tanpa mengubah posisi duduknya. Namun, tatapannya tidak pernah pergi dari Abigail yang berjarak sekitar satu setengah meter darinya.

"Sudahlah. Hm ... apa kau tidak akan mandi?" Satu alis Abigail terangkat.

"Saya akan mandi sebentar lagi." Edzard kembali menegak red wine yang sudah dia tuang di dalam gelas berkaki, "kau adalah wanita yang baik, jika tanpa dirimu saya tidak akan bisa mengecap manisnya pernikahan," cetus Edzard.

Abigail menyimpan sisirnya. "Oh iya, mengapa bisa seperti itu? Menurutku kau terlalu berlebihan," kekeh manisnya.

"Saya yakin kau masih mengingat peristiwa itu," ucap Edzard seiring memutar salah satu memori penting dalam hidupnya.

Tap tap tap

Suara heels berbenturan kasar dengan lantai mengudara di lorong gedung. "Tuan, tunggu saya!" Suara terengah-engah Abigail seiring melangkah selebar mungkin, pun dibuat cepat.

Saat itu Edzard-si pemilik gedung sedang mengadakan pertemuan dengan seorang lawan bisnis bertopeng kolega. Namun, Edzard tidak pernah mengetahui kenyataan itu atau menduganya.

Abigail masih menyusuri lorong gedung menuju ke ruangan khusus tempat pertemuan Edzard dan tamunya.

Buk!

"Akh, sial!" rutuk Abigail kala sebelah heel yang digunakannya patah, hingga tubuhnya ikut ambruk. Wanita berusia dua puluh lima tahun ini memelas sesaat, "mengapa harus di saat seperti ini!"

Namun, Abigail sadar bukan saatnya menuduh takdir jahat ini karena dirinya harus segera mencegah niat jahat kolega itu. Wanita ini segera bangkit seiring menenteng kedua heels. Dia rela berlari dengan bertelanjang kaki. "Saya tidak boleh terlambat karena terlambat sedikit saja maka Tuan Edzard tidak akan selamat!"

Dua menit kemudian, Abigail melakukan aksinya.

BRAK!

Pintu ruang rapat yang dihuni oleh Edzard bersama koleganya terbuka cukup keras, Abigail berdiri terengah-engah di ambang pintu.

Edzard segera naik pitam, pria ini berdiri dengan wajah garang. "Apa yang kau lakukan? Dirimu sangat tidak sopan. Mulai detik ini juga kau bukan sekretarisku!"

Alih-alih takut pada murka Edzard atau keluar dari ruangan, justru Abigail melangkah masuk seiring membuang heel yang salah satunya patah. "Tuan, saya mohon maaf telah lancang, tapi tolong dengarkan dulu penjelasan saya," ucapnya dengan nada ringan.

Edzard membuang wajah seiring dengusan kasar karena sikap Abigail sangat memerlalukannya di depan tamu.

Kolega yang sejak tadi ternganga mulai berbicara dengan telatur. "Tuan Edzard, biarkan saja sekretarismu itu bicara."

Edzard menundukan wajahnya ke hadapan koleganya. "Saya mohon maaf atas ketidak nyaman anda."

"Tidak apa. Saya tidak merasa terusik sama sekali." Sebuah senyuman melengkung tulus dari pria ini.

Namun, Abigail masih bersikap tidak wajar. Gadis ini menunjuk dengan frontal ke arah kolega tuannya. "Tuan tidak perlu meminta maaf padanya. Dia penipu, dia penjahat!"

Seketika Edzard kehilangan kalimat dan sikap atas perbuatan memalukan Abigail-sekretaris yang sudah tiga tahun menemani kariernya. Lagi, Edzard menundukan wajahnya pada kolega sebagai tanda sopan santun, kemudian menarik kasar salah satu pergelangan tangan Abigail hingga keduanya mendarat di luar ruangan.

Kini jari telunjuk Edzard yang dengan ganas menghunus di hadapan wajah Abigail. "Apa kau gila, apa yang kau lakukan ini, hantu apa yang merasukimu!" cercanya disertai dengusan ingin membakar Abigail hidup-hidup.

Abigail menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada. "Saya minta maaf, tapi saya bersungguh-sungguh mengatakan jika pria di dalam adalah penjahat."

Edzard menepis kasar kedua telapak tangan Abigail yang bertangkup. "Jangan gila! Sejak kapan saya memiliki sekretatis tidak waras!" hinanya.

Namun, Abigail tidak marah atau membantah sedikit saja ucapan Edzard. "Saya mohon, percayalah ...," desahnya.

"Ck!" Edzard memutar tubuhnya kembali ke dalam ruangan, kemudian berbasa-basi sebentar dengan koleganya. Tidak lupa kata maaf berulang kali terlontar.

Pria yang sejak tadi dituduh oleh Abigail menunjukan sikap murah hati, hingga tidak tersirat sedikit pun kejahatan yang dimaksud si sekretaris.

Sementara, Abigail hanya berdiri mematung di ambang pintu seiring memandangi Edzard, tatapan matanya menunjukan permohonan ingin diberi izin untuk masuk, tapi si pria tidak peduli sama sekali.

Edzard melanjutkan perbincangan dengan kolega barunya.

"Seperti yang saya janjikan. Saya membawakan red wine spesial untuk anda." Senyuman tulus masih melengkung dari pria ini yang selalu di arahkan pada Edzard.

"Anda terlalu merepotkan diri," ucap merendah yang ditunjukan Edzard.

"Tidak-tidak, jangan bicara seperti itu. Saya tidak repot sama sekali dan anggap saja red wine ini adalah tanda pertemanan kita sebagai rekan bisnis."

"Baiklah. Terimakasih." Edzard banyak bersyukur mendapatkan kolega seperti ini, kemudian melirik mengiris ke arah Abigail yang masih terpaku di ambang pintu.

Kedua telapak tangan si kolega menyatu dan menciptakan dua kali tepukan, hingga satu bodyguard yang sejak tadi berdiri di belakangnya segera menuang red wine ke dalam gelas.

"Silakan," ucap pria berdasi ini pada Edzard.

Lidah Edzard kelu. "Anda membiarkan saya meminumnya terebih dahulu?"

"Iya, red wine ini spesial untuk anda. Jadi, silahkan anda tes kenikmatannya terlebih dahulu." Santai pria ini.

"Saya merasa disanjung berkat tawaran anda."

"Jika saya berjanji, maka saya akan menyempurnakannya. Silakan, minumlah," tawar pria ini lagi.

Edzard memberikan senyuman kecil, kemudian meraih red wine di dalam gelas berkaki.

Seketika, Abigail melesat bagaikan roket dan segera merebut gelas berisi red wine di dalam genggaman Edzard.

Bersambung ....