Ancaman Abigail Tidak Main-main
"Tidak, bukan menggugurkannya, tapi kita akan mati bersama!" ancam Abigail, tapi jika hati David tidak tergerak sama sekali dia akan benar-benar melakukannya.
David terkesiap mendengar ucapan frontal Abigail. "Jangan main-main!"
"Saya tidak main-main, jika besok kau tidak datang. Maka, kau akan mendengar kabar kematianku!" Sambungan diputus sepihak oleh Abigail untuk menunjukan keseriusannya walau sebenarnya dirinya juga takut mati, apalagi jika harus memusnahkan si jabang bayi yang sekarang sudah menjadi manusia.
Hati Abigail sudah menjadi kepingan kecil akibat dosa yang akan diperbuatnya. "Maafkan saya ... jika nanti saya tidak memberimu kesempatan untuk melihat dunia."
Handphone dalam genggaman hanya menunjukan layara hitam kelam karena David tidak mencoba menghubunginya kembali. Abigail berusaha bangkit dengan sisa-sisa tenaganya. Kini dirinya membaringkan tubuh seiring berharap tidak pernah lagi membuka mata.
Sementara, Edzard masih belum berhenti memikirkan Abigail bahkan sekarang dia sudah meluncurkan satu mata-mata khusus mencari keberadaan kekasih wanita itu. "Jika benar kau tidak ingin bertanggung jawab, maka saya yang akan menikahi Abigail." Edzard mendesah pelan, "ingin sekali saya mengatakannya pada pria menyebalkan itu."
Sekretaris Edzard digantikan oleh Rose selama Abigail mengambil cuti. Wanita cantik ini mengantar William ke ruangan tuannya. Ketukan halusnya jemarinya beradu dengan pintu, kemudian membuka lembut. "Maaf, tuan. Anda kedatangan Tuan William."
Edzard segera berdiri santun. "Selamat siang pa, tumben papa datang kesini," kekehnya.
"Ingin saja, papa ingin melihat kinerja karyawan," kekeh William.
"Jadi papa sempat berkeliling?" tanya Edzard seiring memersilakan William duduk di sofa.
William duduk nyaman. "Begitulah, papa didampingi oleh sekretaris barumu. Papa heran, mengapa sektaris lamamu tidak pernah terlihat lagi, apa kau memecatnya?" selidiknya.
"Tidak, Abigail sedang mengambil cuti."
"Cuti, mengapa lama sekali? Dan apa alasannya?" William merasakan sebuah kejanggalan, tapi sebelum Edzard menjawab pria ini melanjutkan kalimatnya, "jangan terlalu memanjakan Abigail walau wanita itu sudah bekerja lama denganmu. Mana ada karyawan cuti sepanjang itu, kau terlalu baik," nasihat serta tegurannya.
Edzard menarik napas pendek. "Sebenarnya Abigail sedang sakit teras. Maka dari itu Edzard memberikan cuti panjang," dustanya untuk menutupi kehamilan Abigail.
"Kalau begitu berhentikan saja. Sudah sekitar tiga atau empat bulan Abigail cuti. Beri uang untuk mengganti biaya pengobatan dan untuk biaya hidup selama beberapa bulan agar tidak terkesan mengusir. Lagipula tetap dijadikan sekretaris pun percuma jika dia sakit-sakitan!" William memang terkenal tegas pada karyawannya. Dia memberikan sangsi pada karyawan yang melanggar pelaturan, apalagi jika karyawannya seperti Abigail. Maka bukan cuti yang dia berikan, tapi pemberhentian kerja.
"Edzard akan memikirkannya dulu." Pria ini mendesah pelan.
Satu jam kemudian, Rose masuk ke dalam ruangan Edzard untuk memberikan laporan keuangan setelah William berlalu. Disimpannya kertas itu dengan satun di atas meja kerja Edzard. "Maaf tuan, bukan maksud saya menguping, tapi saya sempat mendegar jika Abigail sakit keras. Apa indera pendengaran saya salah?"
Rose adalah karyawan satu angkatan dengan Abigail bahkan mereka cukup dekat.
Edzard mengetuk-ketukkan ujung bolpoint ke atas permukaan meja seiring duduk santai dengan satu kaki diangkat. "Iya, Abigail sakit keras."
"Eu, sakit apa?" panik Rose, "apa anda menerima kabar Abigail secara berkala? Sejak dulu saya mencoba menghubungi Abigail, tapi tidak pernah mendapatkan balasan dan panggilan saya tidak pernah diangkat."
Edzard melirik sesaat ke arah Rose, menilai kepedulian wanita itu lewat sorot matanya. "Abigail tidak akan mampu meresponmu. Intinya dia sedang terpuruk," tandas Edzard. Sekarang, posisi duduknya diubah dan segera memeriksa kertas laporan keungan yang dibawa Rose.
Rose sudah tidak bertanya apapun lagi, tapi segera meninggalkan ruangan setelah menundukan kepalanya sejenak sebagai tanda hormat pada Edzard.
Wanita ini bergumam seiring melangkah, "Mengapa Abigail terkesan menghilang. Dia tidak pernah merespon saya, tapi sepertinya dia rutin memberi kabar pada Tuan Edzard."
Seketika, kabar buruk Abigail disampaikan Rose pada kawan-kawannya dan semua orang berubah geger, tapi tidak sampai terus menerus karena mereka dituntut fokus pada tugas masing-masing.
Sore harinya, orang suruhan Edzard melapor. "Sepanjang hari ini belum ada driver makanan datang ke rumah Abigail."
"Berarti dia tidak memesan. Lalu, dia makan apa?" heran Edzard.
"Nona Abigail juga tidak pernah keluar dari rumah sewa," lanjut pria ini pada Edzard.
Edzard memutuskan mengunjungi Abigail walau wanita itu tidak menyukai kehadirannya.
Daun pintu diketuk perlahan. "Paket," ucap Edzard.
Abigail berada di dalam sana, keadaannya sangat tidak baik sebuah tali sudah siap untuk mencekik lehernya. "Maafkan saya karena saya tidak membiarkanmu hidup. Saya tidak sanggup berjuang sendiri," lirih Abigail saat berkata pada bayinya.
"Paket." Lagi, Edzard mengulang kata dengan suara disamarkan.
Abigail mendengus tipis, wanita ini sedang bersiap-siap untuk mati, tapi niatnya harus ditunda. "Saya harus menerima paketnya dulu, kalau tidak, bisa-bisa kurier menitipkannya pada tetangga dan akhirnya mereka mengetahui kehamilan saya." Wanita ini turun dari kursi yang sudah menopang tubuhnya, "saya tidak memesan paket apapun, sebenarnya itu paket apa?" gerutunya.
Pintu dibuka perlahan. "Tu-an!" kaget Abigail.
"Dari mana saja? Sampai-sampai saya harus mengulang mengatakan paket, yang sebenarnya tidak ada," kekeh Edzard karena menganggap hal itu lucu.
Namun, mimik wajah yang ditunjukan Abigail bertolak belakang dengan Edzard. "Tuan, saya mohon pulanglah," usirnya dengan suara santun.
"Tidak bisa, saya sudah jauh-jauh datang kesini. Seharusnya kau memersilakanku masuk dan menjamuku." Santai Edzard.
"Maaf tuan, saya tidak bisa membiarkan anda masuk!" tegas Abigail dalam sorot mata sendu.
Edzard tidak lantas menyerah, dia mencoba mengintip isi rumah lewat celah di atas kepala Abigail karena lubang pintu yang dibuka hanya seluas tubuh Abigail. "Hei, rumahmu gelap sekali. Rumah ini memiliki banyak jendela dan kaca, tapi mengapa kau tertutup sekali hingga semua gorden tertutup. Kau sangat misterius, jika saya menjadi tetanggamu maka penasaran saya sudah di ubun-ubun," canda pria ini dengan kekeh kecil.
Namun, lagi-lagi Abigail tidak menganggapnya lucu. "Tuan, sekali lagi saya mohon maaf." Daun pintu hendak ditutup, tapi satu tangan Edzard menahan.
"Jangan menolak saya seperti ini, setidaknya biarkan saya mengetahui kabarmu hari ini," pinta Edzard tanpa memohon karena bukan gayanya.
"Saya baik-baik saja, tuan lihat sendiri," ucap Abigail agar Edzard segera meninggalkannya sendiri.
"Tidak, kau tidak baik-baik saja," ucap yakin Edzard tanpa melepaskan salah satu tanganya dari daun pintu, "seharian ini kau tidak memesan makanan kan, kenapa, kau memasak, hm?" selidik Edzard dengan tatapan lembut.
"Tuan memata-matai saya?" kesal Abigail.
"Bisa dibilang begitu." Setengah bibir Edzard menyungging tipis, tapi mimik wajahnya tetap ramah, mimik wajah yang hanya dipertontonkannya pada Abigail.
"Berhentilah tuan, saya mohon!" tegas Abigail, "biarkan saya seperti ini. Tolong, jangan pedulikan saya lagi!" Kedua alis Abigail menukik, terlihat jika dirinya terganggu.
Namun, Edzard tidak menyerah. "Sekali ini saja, ceritakan masalahmu hari ini padaku."
Bersambung ....
