Kehamilan Abigail
Seketika, Abigail melesat bagaikan roket dan segera merebut gelas berisi red wine di dalam genggaman Edzard.
Edzard tidak berkutik sama sekali, tapi tatapannya menyala, benar-benar ingin membunuh Abigail.
Gluk gluk gluk
Red wine yang hanya seperempat gelas itu ditegak oleh Abigail dengan napas terengah-engah seiring beradu pandang dengan Edzard walau makna tatapan keduanya berbeda. Belum sempat gelas diletakan, tubuh Abigail tumbang begitu saja. Untungnya Edzard cekatan hingga kepala sang sekretaris tidak terbentur.
Setelah kejadian itu Abigail tidak mengingat apapun, hingga kala matanya terbuka wanita ini hanya memandangi langit-langit dengan tatapan kosong.
Kurang lebih lima jam Edzard menunggu Abigail hingga sadar. "Apa yang terjadi denganmu, mengapa kau sangat nekad membahayakan nyawamu sendiri!" tegurannya.
Abigail hanya memandangi Edzard beberapa saat, kemudian mulutnya bergumam dengan suara lemah, "Untunglah, tuan selamat." Senyuman kecil diulas.
Edzard memegangi pelipisnya. "Kau terlalu berani mengambil langkah hanya untuk menyelamatkanku!" tegur pria ini lagi, "jika kau ingin menunjukan minuman itu beracun, kau tidak perlu menumbalkan dirimu sendiri!"
Abigail kembali menunjukan senyuman tipis. "Tidak apa, saya senang melihat tuan selamat."
Setelah kejadian itu, Edzard memberikan cuti cukup panjang untuk Abigail yaitu dua bulan. Namun, setelah tiga bulan kembali bekerja Abigail mangalami insiden besar diakibatkan kelalaiannya sendiri.
Tubuh Abigail kembali ambruk, tapi kali ini tanpa sebab. Edzard segera membawanya ke rumah sakit terdekat.
"Selamat, sebentar lagi tuan akan mendapatkan bayi. Sekarang usia kandungan istri anda sudah memasuki minggu ke tujuh," ucap dokter.
Lagi, Edzard terkesiap dengan prilaku Abigail. Batinnya berkata, "Rupanya wanita ini tidak cukup mengejutkanku hanya dengan meminum racun. Sekarang dia hamil!"
Kala Abigail tersadar, sikap lembut ditunjukan Edzard dengan sempurna. "Bagaimana keadaan tubuhmu, pusing, mual?"
"Tidak tuan, sekarang saya sudah merasa lebih baik." Namun, ucapan dan raut wajah Abigail tidak sama. Mimik wajahnya semrawut dan pucat.
"Apa yang kau pikirkan?" Maksud pertanyaan Edzard pada insiden kehamilan Abigail. Namun, wanita ini berpura-pura polos walau perasaan sendu tidak dapat disembunyikan.
"Tidak ada," lirih Abigail.
Edzard tahu masalah yang sedang dihadapi sekretarisnya sangat berat, pria ini akan membantu sampai akhir andai Abigail memerlukan jasanya. "Cutilah, sampai kau siap bekerja kembali."
"Eu-tidak tuan, saya akan terus bekerja." Abigail berusaha mendudukan dirinya walau dengan susah payah. Edzard ingin membantu, tapi terlalu canggung hingga wanita itu berjuang sendiri, "saya sehat, besok saya sudah bisa kembali bekerja."
Prihatin Edzard disembunyikan di dalam wajah datarnya. "Baiklah, jika kau merasa kurang sehat saya mengizinkanmu cuti kapanpun kau mau."
Esoknya Abigail bekerja seperti biasanya, tapi kepribadiannya sedikit berubah, kini Abigail lebih suka menyendiri dibandingkan berinteraksi dengan sesama karyawan.
Sampai saat ini hanya Edzard yang mengetahui keadaan Abigail, tapi pria ini tidak pernah menyinggung apapun tentang kehamilan di luar nikah sekretarisnya.
Pun, Abigail tidak menunjukan gejala kehamilan. Wanita ini cukup pandai mengatasinya.
Dua bulan kemudian, perut Abigail semakin padat. Wanita ini menekan kehamilannya dengan melilitkan sebuah kain. "Bagaiamana cara menyembunyikan ini? Bulan berikutnya mungkin akan menjadi akhir dari karierku bahkan hidupku," ucap lirihnya seiring menyaksikan sesosok wanita dengan prilaku buruk yang terpantul di dalam permukaan cermin.
Abigail tinggal di rumah sewa yang dekat dengan perusahaan milik Edzard. Dia hanya hidup sendiri dengan mengandalkan upahnya. Namun, wanita ini memiliki banyak teman dekat karena sikapnya yang hangat dan mudah bergaul, hanya saja setelah kehamilannya ini Abigail harus banyak menjaga jarak dengan dunia.
Sebenarnya Abigail sudah menyadari kedatangan si jabang bayi sejak dirinya mengalami telat datang bulan. Garis dua itu yang menunjukannya, tapi wanita ini mengabaikannya seiring meminta pertanggung jawaban ayah si bayi.
"Saya akan bertanggung jawab, tapi tidak sekarang," ucap pria tampan itu.
"Kapan. Perut saya akan semakin membesar?" desak Abigail pada kekasihnya.
"Sabarlah, secepatnya saya akan menikahimu." Itu adalah kalimat terakhir dari si pria sebelum dirinya pergi ke luar kota dengan alasan bekerja.
Abigail keluar dari rumah sewa dengan raut wajah biasa saja sampai tiba di perusahaan. Dia adalah sosok sekretaris rajin nan pintar, hingga Edzard selalu puas dengan hasil kerjanya.
Hari ini berbeda dari biasanya, perusahaan mengadakan pesta pembukaan gedung baru-anak dari Edzard operational founder.
Acara dimeriahkan dengan doorprize dan makan bersama. Di atas meja tersedia buah-buahan segar, pun dengan mangga muda dan nanas. Abigail sangat menginginkan buah masam itu, tapi terlalu malu untuk memakannya karena tidak ada satupun yang tertarik.
Edzard datang dan segera mengambil beberapa potong buah mangga muda. Pria ini sempat menawarkannya pada Abigail bersama senyuman hangat, "Buah ini sangat segar, saya senang memakannya saat tengah hari seperti ini."
Kalimat Edzard membuat keraguan Abigail dikubur hingga wanita ini mengambil buah yang dia inginkan.
Namun, tanpa Abigail ketahui jika tujuan Edzard adalah untuk menyenangkan hatinya secara tidak langsung karena sudah lama pria ini memerhatikan kebiasaan baru Abigail. Sering, Edzard menguntit kala wanita itu datang ke supermatket hanya untuk membeli buah mangga muda.
Salah satu karyawan wanita bertanya pada Abigail, "Untuk apa kamu mengambil buah mangga muda? Buah itu dikhususkan untuk karyawan hamil."
"Oh iya? Saya inginkan buah ini karena penasaran dengan rasanya. Bahkan Tuan Edzard saja memakannya," kilah Abigail.
Karyawan wanita ini mengerjap. "Oh iya, saya tidak menyangka Tuan Edzard menyukainya. Jika begitu, saya juga akan mencobanya seidkit." Setelah karyawan wanita ini mencoba mangga muda, banyak juga yang ingin mencoba hingga kedok Abigail tertutup sempurna.
Rasa tenang menemani Abigail dan tawa hangat lolos darinya kala berbaur. Edzard ikut merasakan hal yang sama walau hatinya masih menyimpan pertanyaan besar. "Siapa yang telah menghamilimu dan apakah pria itu akan bertanggung jawab dengan menikahimu?"
Hari ini perusahaan off dari rutinitas bisnis, hingga jam kantor juga dikikis cukup banyak.
Sore ini Abigail kembali masuk ke supermarket, tapi membeli buah berbeda. "Nanas muda dipercaya dapat menggugurkan kandungan. Saya harus mencobanya karena saya tidak bisa menunggu pertanggung jawabanmu lebih lama lagi. Bulan depan perut ini tidak akan bisa berbohong, saya tidak ingin menjadi manusia memalukan," gumamnya dengan perasaan campur aduk.
Dari kejauhan, Edzard melihat nanas muda dalam keranjang milik Abigail. Kemudian tetap mengikuti sampai ke rumah sewa.
Abigail sudah memutar handle pintu, tapi dihentikan oleh Edzard. "Bisa bicara sebentar."
Abigail terkesiap mendapatkan tamu bos besar. "Eu, i-ya tuan." Wanita ini menggiring Edzard masuk ke dalam, kemudian menyuguhkan minuman untuk tuannya. "Silakan."
Edzard menerimanya. "Terimakasih." Senyuman singkat ditarik lepas. Pria ini adalah tipe kutub, tapi berbeda di hadapan Abigail. Aksi penyelamatan yang dilakukan wanita ini yang mengubah sikap Edzard.
"Maaf, tidak ada yang spesial di sini," ucap Abigail merendah.
"Kau spesial," celetuk Edzard.
Abigail mengerjap heran, "Eu-maksud tuan?"
"Kau dan bayimu!"
Kedua mata Abigail melebar sempurna mendengar Edzard mengetahui rahasia besarnya.
Bersambung ....
