David Kembali
Namun, Edzard tidak menyerah. "Sekali ini saja, ceritakan masalahmu hari ini padaku."
Abigail tidak bicara, dia hanya bergeming dengan tatapan kosong. Tanpa aba-aba, Edzard menggendong tubuhnya ke dalam rumah, kemudian dibaringkan di sofa. "Maaf saya lancang karena sepertinya kamu sedang sangat tidak baik."
Abigail masih tidak bicara walau dirinya sempat mengerjap saat Edzard mengangkat tubuhnya.
"Tunggu di sini, saya ambilkan minum," titah Edzard, kemudian bergumam seiring mencari dapur, "semoga ada air."
Namun, ketika berhasil menemukan dapur, Edzard terkesiap dalam, "Astaga, apa-apaan ini!" Pria ini segera naik ke atas kursi untuk memotong tali yang siap membawa Abigail ke alam lain, kemudian kembali ke tempat sekretarisnya untuk menegur tegas, "Jangan pernah berpikir ingin melakukan ini lagi. Kau pikir mati bisa menghilangkan semua masalahmu, bisa menghapus dosa-dosamu!"
Abigail hanya terbaring tanpa kata bahkan dia memilih menutup matanya kala mendengar ocehan Edzard.
Edzard berdecak kecil sebelum akhirnya kembali ke dapur untuk merapihkan semua kekacauan yang dibuat Abigail.
Dengan telaten, Edzard mambungkus tali itu kemudian membungkus semua sampah walau hal itu cukup memberatkan hidupnya. Edzard dilahirkan sebagai pewaris, dia tidak pernah menyentuh hal menjijikan, tapi kali ini berbeda cerita.
Selama tiga jam, Edzard merapihkan kekacauan yang dibuat Abigail hingga gadis itu terlelap. "Memang lebih baik tidur, kemudian bangun. Jangan berpikir tidur untuk selamanya." Senyuman Edzard melengkung kecil.
Sebenarnya Edzard bisa saja memerintah anak buahnya untuk merapihkan semua kekauan ini, tapi pasti Abigail tidak akan menyukainya maka pria ini rela berkorban. "Astaga, saya melupakan air untuk Abigail." Edzard memegangi pelipisnya sesaat, "saya baru teringat sekarang." Pria ini memandangi air dalam gelas yang hendak diteguknya setelah dirasa tenggorokannya bagai gurun pasir.
***
"Malam ini, pulanglah ke rumahku," ajak Edzard pada Abigail yang baru saja terbangun.
"Tidak mau," tolak wanita ini seiring membuang muka.
"Apa salahnya pulang ke rumahku? Kau akan aman bersamaku, kau tidak akan kecewa dan terluka. Saya berjanji." Kesungguhan Edzard terlukis dalam sorot mata menawannya.
Abigail bergeming cukup lama, kemudian berkata lirih, "Saya harus menunggu David."
"Percaya padaku, pria itu tidak akan datang menemui. Selain brengsek, dia juga pengecut!" hina Edzard pada David yang belum pernah ditemuinya bahkan belum pernah melihat wajahnya karena orang suruhannya belum mendapatkan banyak informasi.
Edzard memandangi wajah pucat Abigail yang bercampur sendu. "Lusa, kita menikah!"
Seketika, kedua bola mata indah Abigail membelalak lebar. "Tuan jangan menambah runyam hidup saya, saya terlalu lelah dengan keadaan ini," lirihnya.
"Justru saya ingin mengeluarkanmu dari kondisi ini. Bukalah hatimu untuk saya. Kau dan bayimu bisa hidup tenang," tandas Edzard. Namun, tidak disangka jika ternyata kalimat itu membuat pemikiran Abigail terbuka.
Maka, hari pernikahan diselenggarakan dengan mewah. Edzard mengakui bayi milik David sebagai miliknya.
William dan Erika sempat terpuruk mendengar usia kehamilan Abigail, tapi keduanya tidak memiliki jalan lain selain setuju walau keraguan besar tumbuh di benak masing-masing.
Kini, Edzard sudah selesai mengenang perjuangannya mendapatkan Abigail. Sekarang, tiba saatnya malam pertama mereka.
"Maaf, karena malam ini tidak ada yang spesial," ucap lirih Abigail.
"Sudah saya bilang dulu, kau dan bayimu sangat spesial," ucap Edzard disertai senyuman.
"Malam pertama kita, bukanlah malam pertama untukmu." Masih lirih Abigail disertai iba pada pria di sisinya yang dengan suka rela menerima wanita hamil sepertinya padahal Edzard bisa mendapatkan pasangan sangat jauh lebih baik darinya.
"Ini tetap malam pertama saya. Bagaimanapun juga." Senyuman tulus melengkung sempurna di wajah Edzard.
***
Pagi ini, Edzard dan Abigail akan berbulan madu ke luar negeri sekalian melahirkan bayinya di sana.
"Nak, jangan lupa kabari kami bagaimanapun keadaanmu," pesan William.
"Iya pa, papa tenang saja. Oh iya, saat bayinya lahir usahakan papa dan mama datang ya," pinta Edzard seiring terkekeh.
William dan Erika tidak yakin akan datang, jadi mereka hanya mendesah pelan. Erika beralasan, "Kita lihat saja nanti, semoga papamu tidak sibuk."
Kini, giliran Abigail yang berpamitan pada kedua mertuanya. William dan Erika menunjukan sikap hangat di balik rasa tidak percaya jika perut Abigail buncit karena Edzard.
Sekarang, Edzard dan Abigail pergi ke luar negeri untuk merajut bahagia di sana.
Beberapa minggu berlalu, David mengunjungi kediaman William. "Apa benar, pengantin Tuan Edzard adalah Abigail?"
"Iya, putra saya menikah dengan seorang wanita bernama Abigai. Mengapa? Anda siapa?" tanya William pada pria asing di hadapannya.
David menunjukan wajah penyesalan. "Saya David, saya pemilik bayi itu!"
PRANK!
Gelas dalam genggaman Erika segera tergelincir akibat rasa kaget.
Beberapa lama kemudian, sambungan udara mencoba membuat pertalian dengan nomor handphone Edzard. "Iya pa, ada apa?" Suara santai Edzard yang sedang berbahagia dengan Abigail.
"Tinggalkan wanita jalang itu. Apa tujuanmu menikahi wanita kotor!" berang William yang tidak berniat menahan diri.
Seketika Edzard bergeming sesaat dengan tatapan memicing tajam. Dia berasumsi jika akhirnya David datang. Namun, suaranya sangat santai. "Siapa yang papa sebut jalang? Tidak ada wanita jalang di sini."
"Jangan berpura-pura lagi. Kekasih wanita jalang itu datang kemari, dia menceritakan kehamilan Abigail. Papa tidak habis pikir pada pola pikirmu. Kau pria hebat dan cerdas, tapi mengapa menjadi sangat bodoh!" cerca William karena kekesalannya sudah melewati batas.
"Papa tidak perlu memercayai ucapan pria asing. Abigail mengandung anak Edzard, buah cinta kita." Pria ini akan selalu menutupi kenyataan karena dia sedang melanjutkan balas budinya pada Abigail.
"Cukup! Papa tidak ingin mendengar omong kosongmu lagi. Sekarang juga, cepat pulang. Biarkan wanita itu di sana. Tugasmu di sini urus surat perceraian!" tegas William yang segera memutus sambungan.
Edzard menyandarkan punggungnya di punggung sofa dengan santai, kemudian menghubungi bawahannya. "Bawa David ke hadapanku hidup-hidup!" titahnya.
"David?" Saat itu, tanpa sengaja Abigail mendendengarnya. Wanita ini segera menghampiri Edzard, "apa kau berhasil menemukan David?"
"Sebentar lagi, sayang." Senyuman teduhnya. Namun, ekspresinya berkebalikan dengan Abigail justru wanita ini menyelidik.
"Mengapa kau masih mencarinya? Kita sudah menikah, apa kau berniat memberikan bayi ini pada David?" curiga Abigail melambung.
"Tidak, saya hanya ingin melihat tampangnya saja." Santai Edzard.
Abigail melukis sendu, "Kenapa harus melihat tampangnya, bahkan mendengar suaranya pun saya tidak mau."
Namun, pemikiran Abigail berkebalikan dengan David yang justru sangat mengingikannya kembali beserta bayinya. "Saya yakin, Tuan William tidak akan membiarkan Abigail terlalu lama dengan putranya." Sunggingan bibir licik ditarik sempurna, "kau akan menjadi milikku lagi. Kita akan hidup bahagia bersama bayi kita. Bukankah itu yang kau inginkan. Dulu, kau sampai memohon-mohon padaku."
Bersambung ....
