6, Bersembunyi
MATAHARI masih bersembunyi ketika Fabian terbangun. Ada pesan tertempel di pintu kulkas.
.
Pergi sebentar merapikan calon rumah barumu. Aku sudah memasak. Tinggal dipanaskan lagi.
—Kate—
.
Membaca pesan itu, Fabian tersenyum. Kate gadis yang sangat tidak suka bangun pagi. Pagi yang dingin sisa semalam bercampur dengan hangat matahari pagi adalah waktu tidur yang paling menyenangkan. Dan sekarang, demi menyiapkan tempat persembunyiannya, Kate bangun di pagi buta. Dia bahkan bangun lebih pagi dari Fabian.
Fabian sangat mencintai Kate-nya. Hanya dia yang memanggil Cattleya dengan Kate. Yang lain tetap memanggilnya Cattleya atau Cathy. Kate miliknya. Kate memiliki tempat khusus di hatinya, sedikit tersudut tapi akan selalu ada. Seandainya mereka bisa bersama, sudut itu akan sangat mudah dan cepat memenuhi hatinya.
***
Lepas urusan membersihkan rumah Kate kembali ke flat Fabian. Dia menemukan lelaki itu meringkuk di sofa di samping asbak yang penuh abu rokok. Melihat itu, Kate berdecak sambil memutar mata.
“Kau sudah makan?” tanyanya penuh perhatian meski masih jengkel.
“Belum. Malas. Tidak lapar.” Fabian menjawab abai. Dia tetap meringkuk di soda.
“Astaga, Fabian. Ini sudah sore.” Kate mengusir Fabian, membuat Fabian bergerak duduk. Lalu Kate duduk di sampingnya.
“Malas.”
Huhh... Dasar pemalas. Harus dipaksa makan, gerutu Kate dalam hati. ”Ini. Makanlah dulu. Baru kita pergi.” Dia membuka isi tangannya.
“Ke mana?”
“Rumah orangtua angkatku. Cepat, Ian. Kita diburu waktu. Aku tidak sempat mamarahimu. Aku harus menyiapkan pakaianmu.”
“Cerewet.”
“Pemalas. Makan cepat. Aku tidak mau berbohong lagi kalau Gladys kembali. Kau urus sendiri perempuan itu. Kita tidak akan pergi sebelum kau selesai makan.”
“Huh! Kalian wanita memang diciptakan cerewet.”
“Makan!” ujar Kate tegas sambil mendelik pada Fabian. Dalam hati Kate senang. Kalau Fabian sudah mau bicara, berarti bagus.
Fabian makan setengah hati. Biarlah, yang penting dia mau makan, ujar Kate dalam hati. Merasa Fabian bisa ditinggalkan, dia bergegas menyiapkan pakaian yang akan mereka bawa. Setelah pakaian siap, kembali dia menyiapkan laptop dan berkas-berkas tesis Fabian.
“Kau akan bermalam di sana juga?” tanya Fabian ketika melihat Kate menyiapkan kebutuhannya.
“Tidak. Aku harus kuliah besok. Dan biar ada yang menyambut Gladys ketika dia datang lagi. Sudah, kau di sana sampai tenang. Aku tetap di sini.”
“Baiklah baiklah baiklah... “
***
Mereka bermotor ke arah utara kota. Hampir dua jam baru mereka sampai. Pantas Kate tidak mau tinggal di sini. Jauh sekali dari kampus.Rumah ini kosong karena pemiliknya sedang dinas ke luar kota. Mereka hanya sesekali datang ke sini.
“Anggap saja rumah sendiri. Kau pakai semaumu,” ujar Kate sambil menunjukkan kamar yang akan Fabian pakai.
“Aku belum izin pada orangtuamu.” Dia duduk di tepi calon ranjangnya.
“Tidak perlu.” Kate menyusul duduk di sampingnya.
“Bagaimana kalau mereka pulang dan aku di sini sendirian?”
“Mereka tidak akan pulang dalam waktu dekat ini. Pun mereka pulang mereka akan menghubungiku dulu memintaku menyiapkan rumah ini.” Penjelasan Kate cukup membuat Fabian lega. “Aku pulang sekarang. Kau tidak apa-apa kalau sendirian di sini?”
“Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu kuatir. Aku sudah bisa mengontrol emosiku. Asal aku tidak melihatnya, aku baik.”
“Anak pintar.” Kate mengacak-acak rambut Fabian seperti seorang ibu mengacak rambut anaknya. “Aku tidur di flatmu selama kau di sini.”
“Urusanmu.”
Kate tertawa lepas. “Teruslah merajuk, Anak Manja. Aku pergi dulu. Bye.”
***
Fyuuhh.... Akhirnya aku bisa meluruskan badanku, seru Kate dalam hati. Hari yang sibuk. Semua gara-gara perempuan bodoh itu! rutuk Kate sambil menguap. Hari sudah sangat malam ketika akhirnya dia bisa beristirahat.
Kate akan menginap di flat ini selama Fabian menempati tempat persembunyian sementara. Tiba-tiba bel berbunyi.
Siapa? Ini nyaris tengah malam. Gladys kah? Pemikiran itu membuatnya segera bangun menuju pintu. Mengintip.
Benar.
“Tolong buka pintunya, Sayang….” Suara Gladys terdengar memelas.
Berdecak, Kate membuka pintu. Gadis ini sungguh-sungguh niradab.
“Ian tidak ada di sini,” katanya begitu mata Gladys dalam jangkauannya.
“Bohong,” kata Gladys ketus, lalu menerobos masuk.
“Periksa saja.”
Dan gadis niradab itu sungguh-sungguh mencari Fabian. Dia bahkan memeriksa kolong ranjang dan kamar mandi. Flat ini sangat kecil, tidak sampai dua menit Gladys sudah selesai memeriksa.
“Di mana Fabian?” tanyanya lagi tanpa merasa perlu menurunkan nada suara.
“Aku sudah berjanji untuk tidak memberitahukan di mana Ian berada saat ini kepada siapapun.” Suara Kate tenang dan datar. Dia tidak berminat berkonfrontasi dengan gadis di depannya.
“Aku kekasihnya, Kate.”
“Menurutmu. Menurut Fabian tidak lagi.” Berkata ini, suaranya bergetar. Dia bisa merasakan sakit dan marah Fabian.
“Aku ingin menjelaskan semua,” suara Gladys menjadi panik. Hilang sudah aura mengintimidasi darinya.
“Menurut Fabian tidak perlu. Dia sudah cukup jelas melihat semua. Penjelasanmu tidak diperlukan lagi.” Kate merasa di atas angin.
“Siapa kau hingga bisa berbicara atas nama Fabian?” Tak mau kalah dan menyerah pada Kate, Gladys menaikkan lagi tone suaranya.
“Aku hanya sahabatnya. Tapi aku tidak akan mengkhianatinya.” Suaranya masih datar, tapi tatapannya yang tajam dan menusuk membuat Gladys menelan ludah.
“Tutup mulutmu!” Gladys membentak menutupi gugupnya.
“Tutup kemaluanmu!” bentak Kate tak kalah sengit. Tatapannya makin tajam menusuk Gladys.
Tangan Gladys bergerak ke arah Cattleya.
“Jangan pernah berani menyentuhku.” Kate mendesis dan menatap makin sinis saat dia menahan tangan Gladys, “Fabian terlalu bagus untuk perempuan sepertimu. Saranku, jangan pernah mendekatinya lagi. Dia tidak akan mau kembali kepadamu. Kau sudah dihapus dari hidupnya.”
“Aku tidak percaya.”
“Urusanmu. Aku hanya menyampaikan pesan Fabian.”
“Aku tidak percaya.” Tangannya masih tertahan tangan Kate yang menghalangi mereka berdua. Mereka masih saling beradu pandang sengit.
“Kau pikir Fabian pergi dari sini karena melarikan diri darimu, heh? Jika Fabian sedih atau marah, mungkin kau masih bisa mendekatinya lagi. Tapi Fabian jijik padamu. Itu sudah cukup untuk membuatnya tidak mau melihatmu lagi.” Kate mengehempas tangan Gladys. Tubuh Gladys tersentak, pertahanannya makin rapuh.
“Aku ingin bertemu Fabian,” cicitnya lagi.
“Pergilah. Aku mengantuk.” Tak peduli keinginan Gladys, Kate malah mendorong tubuh Gladys ke arah pintu.
Merasa percuma bertahan tetap di sana jika Fabian tidak ada, akhirnya Gladys melangkah pergi. “Besok aku kembali.”
“Dan kau hanya akan menemuiku lagi.” Kate membanting dan mengunci pintu.
Fyuuuhhh…
Akhirnya dia pergi juga, ucap Kate sambil membuang napas kasar. Melayani Gladys membuatnya semakin lelah. Apalagi tadi mereka nyaris beradu fisik. Jika tangan Gladys sampai menyentuhnya, urusan akan makin panjang. Dia tidak akan membiarkan Gladys lolos dari jerat hukum.
Besok saja kuceritakan soal ini ke Ian. Mungkin sekarang dia sudah tidur. Aku pun mengantuk sekali, pikirnya sebelum menghempaskan lagi tubuhnya ke atas ranjang.
***
Bersambung
