5, Marah
FABIAN memasuki flat dengan napas terengah, tidak percaya pada apa yang baru saja dia saksikan.
Kaget!
Shock!
Itu adalah pemandangan paling memuakkan yang pernah dia lihat.
Memuakkan!
Menjijikkan!
Dia menggerakkan tangan, mengibas sebuah vas berukuran besar di atas meja ruang tamu. Vas pemberian Gladys itu jatuh dan hancur menjadi serpihan kecil di lantai! Dia melanjutkan amukannya. Melempar benda apa pun yang ada dalam jangkauan tangannya.
Fabian terkapar di atas sofa, tangannya masih mengepal kencang, dia benar-benar tidak percaya Gladys melakukan hal itu!
Perempuan yang sudah dia tentukan untuk mengungkapkan perasaannya!
Perempuan yang ingin dia ajak pulang untuk diperkenalkan kepada orangtuanya!
Perempuan yang ingin dia jadikan tempat untuk melabuhkan hati lelahnya!
Perempuan yang ingin dia jadikan sebagai seseorang untuk berbagi cerita!
Baru saja dia merencanakan itu semua!
Tetapi dia sudah tidak mungkin menjadi perempuannya lagi!
Tidak sekarang!
Tidak nanti!
Selamanya!
Sedih?
Marah?
Kecewa?
Benci?
Apalagi??
Semua emosi negatif berkumpul, bersatu, dan bergejolak di dadanya yang terasa penuh. Sesak. Dia kesulitan bernapas. Seperti hidup di udara tak beroksigen.
Fabian tidak tahu harus berbuat apa. Dia ingin menangis, tapi perempuan yang tidak setia seperti itu tidak layak ditangisi. Dia ingin marah, tapi kepada siapa.
Detik-detik yang membunuh!
Tiba-tiba dia terhenyak, mendengar gedoran keras di pintu. “Fabian. Buka pintunya. Ini aku, Sayang.”
Perempuan itu!
Matanya menatap nyalang ke arah pintu.
Mau apa dia ke sini? Tidak. Dia tidak boleh menginjakkan kakinya di rumahku. Dia tidak boleh menyentuhku lagi! Dia sudah tidak berarti lagi. Dia sudah mati!!!
“Fabian, buka pintunya. Kumohon, Sayang...!” Gladys terus berteriak dan menggedor pintu.
Fabian hanya diam.
“Fabian, aku tahu kau ada di dalam sana…” Gladys terisak. Menangis “Kumohon, buka pintunya! Aku akan menjelaskan semua…”
“Hey! Apa yang kau lakukan di sana? Membuat keributan? Berhenti atau aku akan memanggil polisi!” Suara lain muncul.
Gedoran di pintu berubah menjadi ketukan. Teriakan berubah menjadi bisikan. Lama-lama ketukan dan bisikan itu pun menghilang.
Tapi Fabian tidak yakin Gladys sudah pergi. Dia wanita yang tidak kenal menyerah. Seperti itulah dulu dia mendekatinya. Dia melihat dari lubang intip, memang tidak ada orang. Tapi perasaannya mengatakan Gladys masih ada di depan pintunya. Dia harus menyingkirkan perempuan yang kini sudah mirip p*l*c*r di matanya.
Dia akhirnya menelepon Kate, deringan pertama suara Kate langsung terdengar.
“Fabian, apa yang terjadi? Kenapa Gladys berteriak-teriak seperti itu?” bisiknya terdengar begitu cemas.
“Nanti kuceritakan. Sekarang, tolong lihat ke luar. Apa dia masih ada di depan pintuku,” pinta Fabian sambil ikut berbisik.
“Sebentar.” Kate bergegas membuka pintu sedikit. “Dia masih ada di sana, Ian. Terduduk dan tergugu di depan pintumu.”
“Biarkan. Aku tidak akan keluar kalau dia masih di sana.”
“Baiklah. Aku akan berusaha membuat dia pergi.”
“Terima kasih, Kate.” Fabian menutup sambungan telepon.
Kate keluar dari flat, bertingkah seakan hendak pergi, memakai handsfree, sampai suara musik nyaring terdengar. “Gladys? Sedang apa kau di sini?” Kate berpura-pura terkejut sambil menatap Gladys dengan dahi berkerut.
“Kate... aku ingin bertemu Fabian. Tolong suruh dia buka pintunya,” kata Gladys perlahan, penampilannya menyedihkan. Make up-nya sekacau rambutnya.
“Fabian tidak ada di dalam.” Bohong.
“Bohong.”
“Terserah.” Kate mengedikkan bahu. “Apa yang terjadi pada kalian? Fabian mengajakku bertemu. Tapi dia bilang tidak boleh bersama siapapun.”
“Tapi motornya ada di tempat parkir.”
“Pegang saja. Pasti motornya dingin. Dari tadi malam tidak dipakai.” Bohong lagi.
“Baiklah Gladys, aku pergi dulu. Silakan menunggu.”
“Aku ikut, Kate!”
“Kau tunggu saja di situ. Ian menyuruhku datang sendiri.”
“Tunggu aku!” Gladys berdiri lalu berlari mengejar Kate.
“Dasar wanita keras kepala.” Kate mengambil teleponnya, berpura-pura menghubungi Fabian. “Fabian, di mana kau mau bertemu? Aku bersama Gladys yang memaksa ikut. Ada apa dengan kalian? Apa? Tidak jadi? Kenapa?” Kate terdiam, seakan sedang mendengar jawaban Fabian. “Baiklah. Nanti kita atur lagi. Bye.” Kate menatap Gladys. “Tidak jadi. Sekarang aku ingin ke perpustakaan saja. Kau masih mau ikut?”
“Tidak. Tapi tolong sampaikan pada Fabian kalau aku ingin bertemu.”
“Tak masalah. Bye.”
Kate berjalan ke arah kampus, setelah dilihatnya Gladys menjauh, dia segera berlari berbalik arah, ke flat Fabian.
“Fabian. Buka pintunya,” panggil Kate dengan suara pelan.
Pintu terbuka. Kate tersentak ketika Fabian langsung menarik tangannya masuk.
“Kau berhasil.”
“Tentu saja. Ternyata aku berbakat berakting. Apa yang terjadi Fabian? Kenapa kau kacau sekali?” Kate memandang sekelilingnya. “Astaga.... Apa yang terjadi di sini? Berantakan sekali.”
Mengalirlah cerita dari bibir Fabian. Kate hanya bisa membekap mulutnya, terkejut, tak percaya.
“Jangan biarkan dia bertemu denganku. Apa yang sudah kulihat tadi, tak bisa aku terima. Tidak sama sekali.” Fabian berkata dengan rahang kaku dan gigi rapat mendesis.
“Baiklah. Aku sangat mengerti.”
Fabian menghela napas kasar. “Aku kacau sekali.” Lalu dia menutup muka dengan kedua tangannya, berharap dengan begitu, bayangan itu akan hilang. Tapi ketika matanya terpejam, bayangan itu justru semakin jelas. Bayangan yang membuat dirinya merasa mual.
Mendadak Fabian bangun dan berlari ke wastafel. “Aku tak tahan.” Dia muntah, mengeluarkan semua isi perutnya.
“Ian...” Kate memijit tengkuknya. Segera dia mengambil air minum dan menyiapkan handuk basah. Fabian menunduk di wastafel membasahi rambutnya.
Hati Kate pilu melihat lelakinya tersakiti. Dia menemani Fabian tanpa kata. Hanya tangannya yang bergerak. Membantu Fabian berkumur. Membersihkan mulutnya. Air menetes dari ujung-ujung rambutnya. Fabian memperhatikan Kate melayaninya.
Sadar ada yang menatapnya, tangan Kate berhenti bergerak. Pandangan mereka bertemu di cermin. Lekat. Saling membaca perasaan lewat pandangan mata.
Tiba-tiba tangan Fabian bergerak memukul kaca di depannya dengan tangan terkepal! Cermin pecah. Darah mengucur dari buku-buku jarinya. Tangannya bergerak menyapu barang-barang di sekitarnya.
“AAARRRGGGHHHH...!” jeritnya pilu.
Mengeluarkan kekesalan yang menggunung di dada.
Mengeluarkan amarah yang memenuhi semua ruang dalam tubuhnya.
“Fabian…” Kate mencengkeram bahu Fabian sambil menariknya agar menghadap ke arahnya. Menggenggam wajah Fabian dengan tangannya, Kate berteriak, “Lihat aku, Fabian!”
Kate memaksa mata Ian agar mau menatapnya. “Dia tidak layak untukmu! Dia tidak layak untuk membuatmu marah seperti ini! Lihat aku! Dia hanya sampah tak berguna!” Dia mencengkeram pipi Fabian kuat-kuat. “Jangan gigit bibirmu seperti itu!”
“Aku sakit Kate.” Fabian masih erat menutup mata.
“Aku mengerti.”
Tiba-tiba Fabian memeluknya. “Peluk aku, Kate. Peluk aku.”
Kate memeluknya. Mengusap punggung Fabian, dia ingin menyalurkan kekuatan, ingin membuat badannya yang kaku karena marah itu menjadi relaks. “Menangislah. Menangislah jika itu membantumu. Walau air matamu tak layak keluar karena dia.”
“Tidak! Aku tidak akan menangis karena dia. Aku tidak bersedih. Aku marah!”
Kate membiarkan Fabian seperti itu hingga beberapa saat, sampai Fabian melepaskan sendiri pelukannya. Mengambil tangan Fabian yang terluka, dia membersihkan tangan itu di bawah aliran air di wastafel. Darah masih mengalir. Dia membasuh tangan terluka itu dengan sangat lembut. Luka itu akan segera sembuh. Tapi luka hatinya pasti butuh waktu lama baru bisa tersembuhkan.
Kate membalut tangan itu dengan handuk kering. Sambil menarik Fabian keluar dari kamar mandi, Kate menyuruh Fabian duduk, sementara dia menyiapkan perban dan iodine untuk lukanya. Semua dilakukan dalam diam. Sama-sama terdiam.
“Terima kasih, Kate.” Hanya itu yang dapat diucapkan walaupun dia tahu ucapan itu tidak perlu.
“Tidurlah. Semoga ketika kau bangun, marahmu bisa sedikit berkurang.”
“Begitu?”
“Mungkin. Aku pun tak tahu. Tapi setidaknya kau bisa beristirahat. Kau kelelahan, Ian. Aku takut kau sakit. Apalagi dengan kejadian ini. Pasti berpengaruh ke fisikmu juga. Tidurlah.”
“Kau akan ke mana? Apa ada yang akan kau kerjakan?”
“Aku akan menemanimu di sini.” Kate tersenyum. “Setelah kau bangun, baru kita pikirkan lagi apa yang harus kau lakukan. Aku akan mencarikan kau tempat tinggal sementara. Aku yakin, kebohonganku hanya akan berlaku sementara. Gladys pasti akan kembali ke sini mencarimu.”
“Kau benar.” Fabian bersiap tidur di sofa.
“Tidurlah di kamarmu.”
Fabian masuk ke kemar. Tiba-tiba Kate mendengar suara benda pecah, dia tahu benda apa itu. Foto Fabian dan Gladys berpelukan di taman kampus.
Kate menghela napas. Gadis bodoh. Kenapa kau sia-siakan lelaki sebaik Ian.
***
Bersambung
