Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

7, Luka Hati

[Le Passe – Masa Lalu]

[2008 – Luka yang Lain]

[Paris – Perancis]

.

KATE melewatkan hari bersama Fabian lagi. Jika waktunya lapang, dia akan mendatangi Fabian di rumahnya. Seperti saat ini, dia sedang menikmati cahaya bulan ketika Fabian datang dan menyodorkan segelas kopi. Mengambil gelas tersebut, Kate langsung menyesap untuk menyerap kehangatannya.

Fabian duduk di samping Kate dan langsung menjatuhkan kepalanya ke pangkuan Kate, meringkuk. Kate mengelus rambut halus Fabian.

Terdiam. Berkelana dengan pikiran masing-masing.

“Ada apa denganku?” suara Fabian memecah kesunyian di malam yang sepi itu.

“Tidak ada yang salah. Hanya cinta belum berpihak padamu. Ada wanita yang begitu mencintaimu, tapi kau tidak mencintainya. Itu pilihanmu.”

“Jangan bahas itu lagi, Kate. Itu menyakitkan aku juga. Mana mungkin aku mau meringkuk di pangkuannya jika aku membencinya.”

“Biarkan saja tetap seperti ini.”

“Memang hanya bisa seperti ini.”

“Bagaimana revisimu?” tanya Kate mengalihkan pembicaraan.

“Sudah selesai.”

“Kau akan langsung pulang?”

“Ya.”

“Kapan kau kembali ke sini?”

“Entahlah. Kau saja yang datang ke rumahku. Kutunggu kau di sana,” jawab Fabian dalam senyum.

“Benarkah?”

“Rumahku selalu terbuka untukmu.”

Hatinya merekah. Tapi dia tahu, ada yang tidak bisa Fabian berikan untuknya. Rekahan hati itu terasa sakit. Meski sakit itu tetap terasa indah. Ah, semua yang berhubungan dengan Fabian terasa indah meski tidak menyenangkan.

“Ian.”

“Ya?”

“Kau anggap apa aku ini? Bagaimana perasaanmu padaku?”

Fabian menarik napas untuk menjeda sesaat. Mencari kalimat jujur yang tidak menyakiti hati Kate. Jujur dan tidak menyakiti. Itu dua hal yang sulit bertemu jika berhubungan dengan Kate.

“Kau sahabatku. Kalau kau tidak bisa menjadi kekasihku, aku ingin kau menjadi adikku. Aku sering membayangkan kau sebagai Fadian. Kalau dia masih hidup, dia seusia denganmu. Perasaanku? Apa masih perlu kujelaskan?”

“Masih.”

“Kau selalu menuntut penjelasan lisan.” Jeda lagi sejenak. Fabian duduk menghadap Kate, menegaskan perasaannya. “Aku menyayangimu. Aku mencintaimu. Dengan cinta yang cukup besar. Sebesar cinta yang bisa diberikan oleh seorang sahabat. Sebesar cinta yang bisa seorang kakak lelaki berikan kepada adik perempuannya. Tapi tidak cinta seorang lelaki kepada wanita.”

“Terima kasih. Itu cukup buatku,” ucap Kate sambil menggigit bibir bawahnya.

Sakit. Fabian begitu dekat tapi tak tergapai. Sakit. Tapi hanya itu yang terbaik yang bisa dia dapat dari Fabian.

Rekah di hati menjadi retak.

“Kita sudah menentukan pilihan kita, Kate.”

“Ya. Pilihan itu yang membuat jarak. Sudahlah. Buat apa kita membahas sesuatu yang tidak mungkin berubah.”

Retak itu akhirnya utuh menjadi patah.

Dia patah hati, tapi ini mungkin patah hati terbaik yang bisa dunia berikan padanya.

“Nah, kali ini kau pintar karena cepat sadar,” kata Fabian, tertawa sambil bergerak duduk.

“Siapa nama adik-adikmu, Ian?”

“Kami tiga bersaudara. Aku yang tertua. Yang kedua, perempuan, Fadian Oceania. Yang ketiga laki-laki Febrian Bahari. Fadian meninggal ketika baru dilahirkan. Dia hanya bertahan tiga hari.”

“Maaf. Aku turut berduka cita.”

“Terima kasih.”

“Ayahku sangat menyenangi laut. Rumah kami berada di tepi laut. Rumah kayu berbentuk panggung.” Fabian tersenyum membayangkan rumah yang jauh di pelosok.

“Tidak dingin?”

“Matahari selalu bersinar di negeriku.” Senyumnya makin jelas saat mengingat matahari dan pantai di sana.

“Wow... pantas kau selalu hangat, Fabian.”

“Huhh.... Sekarang aku membeku.” Tidak mau membahas tentang hatinya, Fabian melanjutkan, “Matahari di sana hangat, tidak membakar. Karena ayah sangat mencintai laut, kami anak-anaknya diberi nama tengah yang semua berarti laut.”

“Wow. Jadi samudra berarti laut? Aku baru tahu.”

“Lautan yang luas.”

“Lalu di mana laut yang satu lagi?” Samudra. Lautan luas. Seluas cintaku padamu, bisik hati Kate.

“Aku tinggal menyeberang Selat Channel untuk bertemu Ari, adikku. Tapi karena kesibukanku, aku baru sekali ke sana kemarin ketika aku backpacking. Dia bahkan tidak pernah ke sini.”

Mereka menghabislan malam dengan cerita tentang keluarga, saling terbuka, seakan tak ada batasan…

***

Setelah beberapa minggu mengurung diri di rumah orangtua angkat Kate, akhirnya mereka menyimpulkan Gladys sudah menyerah. Selama di rumah itu Fabian memang tetap pergi ke mana-mana, tapi tidak pernah menyentuh kampus dan sekitarnya. Sampai suatu pagi akhirnya Kate mengizinkan Fabian mengantarnya ke kampus. Ketika mereka sedang berpamitan, terdengar teriakan kencang.

“IIIAANNN…!!!”

Gladys.

“Bye, Kate.” Fabian langsung melarikan motornya, tak peduli orang-orang yang hampir dia serempet.

Gladys tidak berhasil mengejar Fabian. Akhirnya dia memilih mengejar Kate.

“Sudahlah, Gladys. Ian tidak mau bertemu denganmu. Lupakan Ian. Sebentar lagi dia akan pulang ke negaranya.”

“Aku juga akan pergi, ikut dengannya ke mana pun dia pergi.”

“Terserah kau saja. Manusia ada batas kesabarannya. Meski jijik, tapi aat ini Ian masih sabar dengan hanya menghindarimu. Aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan kalau kesabarannya sudah habis.”

“Di mana Ian menginap, Kate?”

“Aku tidak akan memberitahukanmu, dan jangan panggil aku Kate! Hanya Ian yang boleh memanggilku Kate. Aku harus kuliah. Bye.”

Kate langsung melangkah pergi, mengabaikan teriakan Gladys.

***

Malam menjelang. Tesisnya sudah selesai. Tidak ada kesibukan yang berarti. Hanya merenung, kembali ditemani rokok dan teh panas. Ini bungkus kedua untuk hari ini.

Usaha kecil-kecilan yang dia tekuni selama kuliah berjalan lancar. Usaha ini akan dia lanjutkan di Indonesia. Hanya bermodalkan kepercayaan saja, dan orang-orang sudah mengenalnya sebagai pengusaha general trading—agensi penyedia segala macam barang.

Dia melarang Kate datang, Kate harus beristirahat. Dan di sinilah dia sendirian malam ini. Ingatannya melayang pada Gladys tanpa bisa dicegah. Sakit itu masih terasa.

Di saat dia benar-benar ingin serius, datang menemuinya untuk membicarakan masa depan mereka, dia malah harus melihat pemandangan itu.

Mendadak perutnya mual.

Bergegas dia ke wastafel untuk mengeluarkan isi perutnya. Setiap mengingat potongan pemandangan itu, dia langsung mual. Muntah.

Lelaki itu telah mengoyak harga dirinya!

Dia meniduri kekasihku! Seharusnya darah sudah mengalir! Tapi untuk apa? Benak Fabian terus bermonolog, tangannya mengguyur wajahnya dengan air kran.

Dia masih ingin melampiaskan marah itu. Tapi tak tahu bagimana caranya. Selama ini dia tidak pernah merasa semarah ini.

Fabian memutuskan pergi. Dia segera mengambil hoodie dan langsung menaiki motor. Dia berpikir mungkin dinginnya malam bisa menurunkan suhu kepalanya, dan angin bisa membawa pergi marahnya.

Dia berkendara tanpa arah. Berputar-putar menuju pusat kota, lalu ke luar ke arah pinggiran, mencari jalanan sepi. Jalanan semakin lengang, tanpa sadar dia menaikkan kecepatan motornya. Dia menikmatinya. Semakin cepat, semakin cepat, dan semakin cepat!

Lalu…

BRAKK!!!

***

“Ian….” Terdengar suara lembut yang sudah sangat dia kenal.

“Ssa... kitt…” erangnya. Badannya terasa sakit semua.

Ada apa ini? Di mana aku? Fabian bertanya-tanya dalam hati.

“Jangan bergerak, Ian.” Suara itu lagi. Dia bisa merasakan usapan lembut di pipinya.

Kate!

“Kate…?” Fabian berusaha membuka mata. Kate sedang memegang sesuatu lalu dia menekan benda itu.

“Aku di sini. Tenanglah.”

Oke. Aku harus tenang, pikir Fabian. Tapi apa yang terjadi? Aku hanya ingat aku naik motor ke arah selatan kota. Jangan-jangannn…??

“Apa yang terjadi, Kate?” tanya Fabian dengan suara lirih.

Seorang perawat datang dan tersenyum melihat Fabian sudah terbangun.

“Kau kecelakaan. Sekarang kau di rumah sakit.”

“Aahhh…” suara erangan itu memperdengarkan kekecewaan. “Bagaimana bisa?”

“Aku tidak tahu. Kau yang tahu kenapa bisa seperti itu. Saat itu kau sendirian di motor.”

“Siapa yang tahu soal ini?” Tiba-tiba suaranya terdengar panik. “Aku tidak ingin ibuku tahu kalau aku sakit.”

“Hanya kita-kita saja. Teman-teman. Kami belum memberitahukan ibumu karena ketika kau tidak sadar kau mengigau.”

“Apa yang aku katakan?”

“Aku tak mengerti. Menurut Aditya, artinya jangan beritahu ibumu.”

“Adit tahu aku di sini?”

“Tentu saja. Kalau tidak, aku tidak akan tahu apa yang kau igaukan. Sudahlah. Kau tidak boleh terlalu lelah.”

“Ah!” Fabian jengkel. Ingin menggerutu tapi tubuhnya sakit semua, kepalanya berdenyut.

“Istirahatlah. Biar nanti dokter yang menjelaskan kondisimu.”

Perawat datang memeriksa. Kate bangun memberikan ruang pada si perawat.

“Jangan pergi.”

“Tak akan. Tenanglah, Anak Manja. Kau harus istirahat. Kalau kau bangun aku tidak ada, tunggulah sebentar, aku tidak akan lama meninggalkan kau sendirian di sini.”

“Sekarang kau mau ke mana?”

“Aku di luar. Kau harus beristirahat.”

“Kate.”

“Ya?”

“Terima kasih.”

***

Sepeninggalan Kate, Fabian sendirian di ruang sepi ini. Berusaha mengabaikan bunyi bip bip teratur dan dengung yang lain. Berusaha mengalihkan perhatian dari rasa sakitnya. Pikirannya menerawang ke masa pertamanya menjejakan kaki di Benua Biru ini, saat menyewa flat di gedung yang sama dengan Kate—awal pertemuan mereka berdua.

***

Bersambung

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel