
Ringkasan
“Fabian…” Mami menatapku. “Yakin, Ian mau kalau dijodohin?” “Kalau semua ikhas, aku yakin, Mi.” Aku terus menatap mata ibuku. “Sayang, kamu sudah dijodohkan sejak sebelum kamu lahir.” Aku tersentak. Tergugu tanpa kata. Tanpa bisa kucegah, aku memasang wajah bodoh. “Cerita singkatnya, jodoh Ian ini cucu teman Opa.” “Gimana bisa?” Aku masih memasang wajah bodoh itu. “Waktu Opa dan temannya Long March Divisi Siliwangi, mereka berdua terpisah dari rombongan, lalu kena ranjau darat. Pas masa kritis kayak gitu, mereka sepakat mau ngejodohin anak-anaknya atau cucu-cucunya.” Mami membuka tasnya. Mengambil selembar amplop lalu menyodorkan amplop tersebut ke arahku. “Ini foto calonnya.” “Aku setuju, Mi.” Aku tetap menatap wajah Mami. “Ian nggak lihat dulu anaknya?” “Aku yakin sama pilihan Mami. Apalagi ini kesepakatan semua.” “Ian lihat dulu deh…” Meski merasa tak butuh melihat wajah yang tersembunyi di balik itu, tetap saja akhirnya kubuka amplop tersebut. Haahhh??? “Mami…??” Kupandang wajah Mami dengan wajah bodohku yang terbaik, yang terbodoh. “Nggak salah nih, Mi…?” “Kenapa? Ian berubah pikiran?” “Masih ABG beginiii...!!!” “Oh… itu foto dia masih kelas X.” “Sekarang?” “Balik foto itu,” perintah Mami tegas. Perlahan kubalik foto itu. Kembali aku terkesiap. “Mami…?” Kupasang wajah bodohku sekali lagi. “Ini beneran?” “Ya benar lah.” “Ini mahasiswa aku, Mi…. Sekarang tingkat satu. Tahun depan pasti masuk kelas aku.” “Sepertinya begitu,” jawab Mami maklum. “Ada masalah dengan itu?” Aku tergugu. Namun aku merasa harus bertanya. “Mi, dia mau sama aku? Dia mau dijodohin sama dosennya?” “Nah, pertanyaan bagus.” Mami menepuk bahuku. “Dia sama sekali tidak tahu soal perjodohan ini. Jadi sekarang bola di tangan Ian. Kamu mau bawa ke mana bolanya. Terserah.” Haaahhh??? ***
1, Mademoiselle Cattleya
[Le Passe – Masa Lalu]
[2007 – Sewindu Lalu]
[Paris – Perancis]
.
“APA ada wanita lain, Ian?” Suara Kate terdengar teriris.
“Kau sudah tahu jawabannya,” jawab Fabian dengan ekspresi yang sama sakitnya.
“Aku butuh penegasan.”
“Tidak.” Singkat. Tegas. Dengan mata menyala, tapi pedih itu masih terlihat jelas.
“Lalu kenapa, Fabian...?” Sepertinya air mata ini tidak bisa diajak berkompromi, keluh Kate dalam hati.
“Kau sudah tahu jawabannya.” Terdengar putus asa di suara itu.
“Yakinkan aku sekali lagi.” Sekarang suaranya terdengar bergetar.
Jawaban yang sudah dia ketahui, kenapa dia mau menyakiti hatinya sendiri?
“Aahhhh….” Fabian meremas rambutnya untuk meredakan marah yang menghampiri. Sambil bangkit berdiri, masih memegang rambutnya kasar dia berkata, “Kenapa kau tanyakan ini kalau hanya menambah luka hatimu? Tak tahukah kau, kalau aku juga sama terluka? Semakin kau luka, aku semakin sakit, semakin hancur. Tolong jangan sakiti diri kita berdua...”
“Ian, please...”
Fabian menarik napas panjang, seperti ingin menambah kekuatan dari banyaknya udara yang dia hidu. “Kate, mana mungkin perahu bisa menuju arah yang sama jika ada dua kemudi dengan dua nahkoda dan dua kompas. Sadarlah, Kate.”
“Ian, aku hanya memintamu untuk jadi kekasihku. Tidak lebih.”
“Lalu setelah itu, ke mana arah kita? Hidup tak berhenti di sini.”
“Carpe diem, Ian.”
“Oh, seandainya bisa selalu seperti itu.” Fabian mengentak badannya. “Aku ingin menghentikan waktu, agar tidak ada rasa sakit ini.” Kesal, putus asa, sakit hati, dan patah hati. Semua bercampur meluluhlantakkan dunianya.
“Kalau begitu, kenapa kau tidak mau?”
“Kate, pembicaraan ini sungguh menyakitkan buat aku, ini bukan déjà vu, ini nyata. Seandainya aku boleh memilih, aku tidak ingin melanjutkan.”
“Aku hanya ingin bersamamu.”
“Sampai kapan?”
“Sekarang... dan selamanya...”
“Itu yang aku tidak bisa, Kate. Sadarlah.” Suaranya makin merana.
“Kenapa? Apa demikian susahnya mencintaiku?”
Fabian diam. Menjeda sejenak mengatur napas dan kalimat. “Kate, mencintaimu adalah hal yang mudah. Mungkin semudah membalikkan telapak tangan. Yang sulit justru bertahan untuk tidak mencintaimu pada akhirnya nanti.” Fabian bersandar di tiang taman dengan pandangan menatap langit. Tidak tahukah gadis itu kalau menolaknya seperti ini membuatnya merana.
Ketika terdengar isakan di belakangnya, Fabian segera menoleh ke arah itu.
“Cattleya, please…. Aku tak tahan mendengar wanita menangis, terlebih wanita itu kau, Sayang.” Fabian bergegas menghampiri dan duduk di sebelahnya, menyediakan bahunya untuk tempat Kate menangis. Fabian mengelus rambut pirang lembut milik Kate, sementara sebelah tangan yang lain memeluk bahunya.
Isakan itu berubah menjadi tangis yang tertahan, lengan Kate balas memeluk Fabian, sementara yang satunya dia letakkan di dada Fabian, tepat di jantungnya. Merasakan denyut jantungnya. Jantung yang tak bisa dia miliki.
Sunyi.
Sepi
Kesunyian yang menyesakkan dada. Hanya ditemani desau angin. Suara embun yang jatuh dari ujung daun pun seakan terdengar pilu. Matahari yang menyapa dunia pun meredup bersembunyi di balik awan.
“Kate, kau terlalu sempurna untuk hanya dijadikan kekasih. Aku ingin memilikimu seutuhnya. Aku ingin menjadi suamimu. Lelakimu. Berbagi cerita setiap saat. Menikmati detik demi detik berdua....” Fabian meletakkan dagunya di kepala Kate, tangannya turun mengelus punggung gadis itu. “Tapi kau tidak bisa mengikutiku, sedangkan aku pun tidak bisa meninggalkan kepercayaan yang seumur hidup aku yakini. Aku memang bukan orang yang religius, tapi aku takut kalau aku tidak bisa menjagamu sesuai kepercayaanku. Jika sekarang kita menjadi sepasang kekasih, kita nanti akan selalu membentur tembok yang sama. Tidak bisa dipanjat, tidak bisa diterobos, tidak bisa dihancurkan....” Fabian terdiam. Kate pun diam. Alam kembali sunyi.
“Sebut aku pengecut, penakut, atau pecundang, atau apalah. Tapi aku tahu kekuatanku. Aku lebih memilih sakit sekarang dari pada nanti. Maafkan aku. Maafkan atas kepengecutanku....” Fabian mencium lembut puncak kepala Kate sambil menghirup aroma rambutnya. Aroma lembut yang menenangkan.
“Fabian....” Suara Kate terdengar lemah.
“Mungkin tahun depan aku sudah harus kembali ke negeriku. Saat itu pasti datang, dan kita akan terpisah. Untuk apa kita melangkah jika kita tahu bahwa di depan sana akan ada rasa sakit?”
“Fabian... aku—”
“Sudahlah, Kate, pembicaraan ini hanya akan berputar-putar di tempat saja. Tidak akan ada pemecahan. Kita sudah tahu tembok apa yang sesungguhnya kita hadapi. Aku sangat menghargai kepercayaanmu. Tapi tolong hargai juga keyakinanku.”
Kate menjatuhkan kepalanya ke dada Fabian. Terisak di sana ditemani debar jantung Fabian yang kini bergemuruh. Jantung yang sekarang merasa sangat sakit.
Pagi yang dingin. Menambah dinginnya suasana yang membeku dibekap kesunyian.
Kate menciumi dada lelaki itu. Lelaki yang telah mematahkan sayap cintanya. Sakit. Tapi dia tahu bahwa dia tidak akan bisa membenci lelakinya itu.
“Kau pasti akan mendapatkan penggantiku dengan mudah, Kate. Percayalah.” Ada senyum di suara itu. “Segera. Setelah aku pergi, pulang ke negaraku, kau akan melupakanku. Saat itu kau mungkin sudah bersama lelaki lain.”
Kate tahu itu tidak benar. Mungkin itu tidak akan terjadi. Cintanya kepada Fabian demikian besar. Butuh bertahun-tahun untuk melupakannya. Bahkan mungkin dia tidak akan melupakannya, walau sudah ada lelaki lain di sampingnya. Pemikiran itu menyesakkan dadanya. Seperti berselingkuh dengan hati.
Ah, haruskah seperti itu?
Tiba-tiba Kate mendongakkan wajah. Mengambil wajah Fabian, menghadapkan wajahnya sehingga mata hijaunya bisa menatap langsung ke mata cokelat gelap milik Fabian. “B*rcint*lah denganku, Fabian...” pintanya tiba-tiba.
Sunyi.
Ekspresi sang lelaki tak terbaca oleh matanya.
Ketika Fabian sadar makna kaliat itu, dia melepas pelukannya. Sambil memegang bahu Kate dia berkata singkat, “Kau gila.”
“Ya Fabian, aku gila. Aku gila karena kau. Aku tergila-gila padamu.”
Fabian melepaskan tangannya dari bahu Kate. Menjauh. “Jangan menyodorkan ikan ke depan hidung seekor kucing, Kate. Hanya kucing sekarat yang tidak akan menyambar ikan itu.”
“Aku ikan itu. Dan kau sang kucing. Sambarlah. Itu yang kuinginkan.”
“Kenapa permintaanmu selalu aneh? Aku tidak bisa, Kate.”
“Kenapa?”
“Ini caraku menghargaimu.”
“Caramu mencintaiku?”
“Itu adalah rasa yang kutahan agar tak tumbuh.”
“Kalau kau memang tidak mau menjadi kekasihku, biarkan aku menikmati kebersamaan ini walau hanya satu kali.”
Fabian tergelak. “Aku tak tahu harus menjawab apa.”
“Tak perlu dijawab, karena memang tidak ada pertanyaan. Lakukan saja.”
“Kate, aku tidak pernah menyentuh wanita. Aku tidak tahu caranya.”
“Lelaki bodoh.”
“Itulah aku.”
“Apa itu benar, Ian?”
“Tak ada yang kusembunyikan darimu.”
“Aku semakin mencintaimu.”
“Wanita bodoh.”
“Itulah aku.”
“Aku ingin kau menjadi lelaki pertamaku, Ian.”
“Apaa...?” Lelaki itu terbelalak kaget. “Kamu…??”
“Ya. Aku belum pernah melakukannya.”
“Aku semakin tak mau menyentuhmu.”
“Sentuh aku, Ian.” Kate mendekat, meletakkan tangannya di dada Fabian. “Aku hanya ingin kau.”
“Sabarlah, Kate, nanti akan ada lelaki lain yang berhak untuk itu.” Tangan Fabian mengepal di kedua sisi badan. Menahan rasa yang kian menggelora, gairahnya mendadak ikut membuncah.
“Takkan ada lelaki lain, Ian.” Tangannya mulai mengelus dada Fabian. “Kau, atau tidak sama sekali.”
“Kau gila.”
“Pernyataan itu sudah aku tanggapi.” Merambat naik ke atas. Mengelus rahang yang terkatup rapat itu. “Kau normal kan?”
“Br*ngs*k! Aku tidak ingin membuktikan kenormalanku padamu.” Matanya terpejam sambil menahan desis, menikmati sentuhan lembut itu.
“Oh oh oh... aku tidak pernah mendengar kau memaki.” Tersenyum. “Tapi aku suka mendengar kau memaki.”
“Kau membangunkan semua setan di tubuhku.” Tubuh Fabian bergetar menahan rasa.
“Fabian Samudra.” Desahan lembut keluar dari bibirnya. Terasa khidmat.
“Lepaskan aku, Kate….” Tangannya bergerak mendorong bahu Kate. Menjauh.
Tangan Kate justru merayap masuk menyentuh langsung punggungnya.
“Kate...” desahnya terdengar dalam dan parau.
“Ya...?”
“Aku tak pernah membawa pelindung.” Kate bisa merasakan sesuatu mengeras di perutnya.
“Beri aku kenang-kenangan terindah, Fabian...”
“Maksudmu?”
“Aku akan sangat tersanjung jika mengandung anakmu.”
“Lepaskan aku, Kate!” Agak keras dia menarik tubuhnya menjauh dari Kate.
Lelaki itu terduduk. Merunduk. Menyembunyikan kepalanya di antara kedua lutut. Meringis. Kesakitan…
“Sialan...” gerutu Fabian.
“Kau kenapa?” tanya Kate heran.
“Sakit.” Dia mendesis.
“Kenapa?” Cemas.
“Sebentar. Beri aku waktu.”
Kate mendekat, memegang bahunya. “Please, Cattleya, jangan sentuh aku.”
“Kenapa?”
“Ugh, apa semua harus aku jelaskan dengan lisan? Kalian wanita, berbeda dengan kami lelaki.” Terdengar kesal. “Sudahlah, lebih baik kita pulang.”
“Fabian.”
“Cattleya, please... jangan membuatku memaksamu. Baik itu memaksamu pulang, apalagi memaksamu mengikuti jalanku.”
“Satu kali ini saja, Ian. Biarkan aku menikmatimu. Biar itu menjadi kenanganku. Kenangan yang akan kuingat ketika aku merindukanmu.”
“Maaf, Sayang. Aku tak bisa. Aku tak mau. Sungguh aku tak mau.” Berjalan ke arah motornya. “Ayo kita pulang. Kita perlu beristirahat.”
Dengan berat hati Kate berjalan menuju ke arah motor. Badannya menggigil.
“Kau dingin?” Fabian bertanya sambil melepaskan jaketnya. Dia membantu Kate memakai jaket itu, lalu membantu Kate menaiki motor.
Bukan badanku yang kedinginan. Hatiku yang dingin, batin Kate.
Tapi Kate tetap memakai jaket itu. Ada aroma lelakinya di situ. Tak tahu aroma apa. Mungkin bau keringatnya. Tapi Kate menyukainya. Jaket itu terasa hangat. Hangat tubuh Fabian. Kate menikmatinya. Seperti Fabian yang memeluknya. Fabian jarang memeluknya. Baru tadi Fabian memeluk dengan intim. Sebelumnya, Fabian hanya memeluk sebagai teman. Sekadar melindungi dari hujan.
Tanpa terasa, air matanya menetes. Dia mengeratkan pelukannya sambil menyandarkan kepala di punggung Fabian. Kate cukup senang, karena Fabian membiarkannya seperti itu. Ahh... Kate tidak ingin sampai ke flat. Dia ingin selamanya bisa memeluk Fabian.
Yang Kate tidak tahu, air mata Fabian menetes juga.
Kenapa, Tuhan…? Tidak cukupkah satu kali aku merasakan seperti ini? keluhnya.
Rasa yang membuatnya melarikan diri. Menjauh dari kenangan itu. Tapi kenapa dia harus kembali menyakiti hati seorang wanita yang dia cintai.
Maafkan aku, Cattleya. Aku benar-benar seorang bajingan jika mengambil kesempatan tadi. Jika aku menuruti nafsuku, aku tak tahu, bagaimana nasib persahabatan kita. Bisakah aku memandangmu tetap sebagai sahabat? Aku takut nanti nafsuku yang menguasai badan dan pikiranku, katanya lagi, lirih dalam hati
Dia tahu, Cattleya terisak di punggungnya. Tangannya erat memeluk pinggang Fabian. Fabian mengelus lengan itu. Tangannya menggenggam jemari lembut Kate. Genggamannya seakan ingin memberitahukan bahwa dia mengerti perasaannya.
Ya... dia sangat mengerti.
Dingin.
Beku.
Dia terus melarikan motornya. Angin pagi meniup hilang air matanya.
***
Bersambung
