Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

4, Jijik

BAGAI buah simalakama. Dimakan ibu mati, tak dimakan ayah yang mati. Kalau aku lepaskan pelukanku ke Gladys, pasti Gladys tersinggung. Tapi kalau tak dilepaskan, Kate sedih. Kate pasti mengerti, buat apa berpura-pura lagi, batinnya dalam hati.

“Aku ingin menjadi seperti Kate. Bisa bermalam di flat-mu. Bahkan tidur di ranjangmu.”

“Kate juga pasti berpikiran seperti itu. Ingin kupeluk seperti ini. Sudahlah, Gladys. Aku mengerti kalau kau cemburu pada Cattleya. Tapi ingatlah, kalau memang aku ingin bersama Kate, sudah tentu kita tidak akan bersama seperti sekarang. Ingat itu,” katanya sabar meredakan api cemburu yang mulai membakar kekasihnya

“Aku hanya takut kehilanganmu, Sayang.” Gladys mempererat pelukannya.

Senyap.

“Oh iya. Aku berpapasan dengan Dave di perpustakaan, kemarin. Dia sudah kembali ternyata. Sepertinya dia ingin membunuhku dengan tatapannya,” kata Fabian, teringat kejadian kemarin.

“Lalu apa yang terjadi?”

“Tidak ada. Aku hanya tersenyum. Sekadar basa-basi orang yang berpapasan jalan saja. Toh aku tidak pernah kenal dengan dia sebelumnya. Aku hanya tahu dia mantanmu. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Aku tidak mengambil gadisnya.”

“Dia memang seperti itu.”

“Kukira cerita kalian telah selesai?” tanya Fabian memastikan.

“Memang. Aku yang menyelesaikannya.”

“Dia tidak mau?” Sebelumnya Fabian tidak pernah bertanya tentang penyebab cerita mereka selesai. Itu privacy mereka.

“Dia marah ketika kuputuskan. Beberapa kali dia ingin kembali. Aku tidak mau. Aku lelah dengan sifat posesif dan dominannya. Dia mau tahu semua yang kulakukan. Siapa temanku, apa yang kukerjakan. Hal-hal seperti itulah.”

“Aku posesif dan dominan, Gladys.”

“Betulkah? Aku tidak merasakannya.”

“Karena aku berusaha menahannya, paling tidak menguranginya.”

“Kenapa?”

“Aku sering gagal dalam percintaan karena sifatku itu. Aku sangat-sangat posesif dan dominan.”

Gladys hanya tersenyum memaklumi lelakinya. “Kadang di-posesif-i itu menyenangkan, asal jangan terlalu.”

“Semua yang berlebihan memang tidak baik.”

Mereka saling melempar senyum.

“Ian.”

“Ya?”

“Beberapa hari yang lalu Dave datang ke flat-ku. Dia ingin kembali.”

“Lalu?” Fabian bertanya sambil berkerut kening.

“Aku tidak mau. Aku lebih memilihmu.”

“Terima kasih.” Fabian tersenyum. “Pantas saja kemarin tatapannya seperti itu kepadaku.” Gladys meringis. “Ayo kuantar kau pulang,” lanjutnya

“Kau benar-benar hanya mengantarku atau akan masuk?”

“Kenapa?”

“Kalau kau hanya mengantarku, lebih baik kita di sini dulu. Aku masih ingin bersamamu.”

“Pekerjaanku menumpuk, Gladys.” Dia menarik napas panjang.

“Sebentar saja, Ian.... Aku tak ingin kau berlama-lama dengan Kate.”

Fabian hanya tersenyum mengerti perasaan dan keinginan Gladys.

***

Hampir pukul sebelas malam ketika Fabian tiba di gedung flat-nya sendiri. Dia merasa begitu lelah dan mengantuk. Tugas menumpuk, pekerjaan menggunung. Dia berjalan gontai menaiki tangga. Dia ingin tidur sebentar sesudah mandi nanti.

Tiba-tiba dia teringat kalau ada Kate di flat-nya. Artinya dia akan tidur di sofa. Tapi itu sudah cukup. Dia hanya ingin meluruskan punggung. Fabian mengambil ponsel dari saku hoodie, bersiap menelepon Kate agar membukakan pintu. Tapi belum sempat dia menelepon, pintu sudah terbuka.

“Hai.... Sejak kapan kau menjadi cenayang?” Fabian langsung masuk dan menjatuhkan tubuh di sofa.

“Aku mengintip lewat jendela, melihatmu pulang. Kau sepertinya kacau sekali. Kenapa?”

“Lelah. Mengantuk.” Sambil merebahkan punggung.

“Kalau begitu tidurlah.” Ternyata Fabian memang sudah tidur. Kate tertawa melihat Fabian yang langsung terlelap. Dia merapikan posisi tubuh Fabian, lalu menyelimutinya. Pekerjaan yang menyenangkan. Dia akan senang melakukannya setiap hari.

***

Jam di dinding menunjukkan hampir pukul satu. Fabian terbangun dengan tangan di antara pahanya. Ugh... Keras. Dia ingin mandi, mandi air hangat. Rencananya yang tertunda karena kelelahan. Tapi dia lupa menyiapkan baju ganti. Mencium lengan bajunya, dia sadar, ini sudah tidak mungkin dipakai lagi. Tiba-tiba pandangannya tertumbuk pada setumpuk baju. T-shirt, celana jogging, boxer, dan handuk. Pasti Kate yang menyiakan. Siapa lagi? Mejanya pun sudah rapi.

Terima kasih, Kate, ujarnya dalam hati.

Segera disambarnya handuk tersebut. Dia sangat ingin mandi dan mengeluarkan muatan di scrotum-nya.

***

Kate terbangun mendengar suara air dari kamar mandi. Ah, Ian sudah bangun. Dia ingin membuatkan teh panas kesukaan Fabian. Tapi Kate tahu, Fabian sering berlama-lama di kamar mandi. Nanti sajalah.

***

Dibawah guyuran shower, Fabian terduduk. Menikmati siraman air hangat di punggungnya. Seperti dipijat. Banyak pikiran yang berkecamuk di benaknya. Perasaannya pada Gladys berkembang lambat sekali. Apa trauma itu masih tersisa? Kenapa dia tidak bisa membalas ungkapan cinta Gladys? Apa dia tidak mencintainya? Lalu, apa arti Gladys buatnya? Apa benar sifat posesif dan dominannya menghilang karena dia tekan? Bukan karena Gladys belum membekas di hatinya? Kenapa dua bulan perjalanan backpack tidak menghadirkan rasa rindu pada Gladys?

Perasaannya sendiri pada Kate pun semakin tak jelas. Benarkah sayang ini sayang sahabat? Bahkan kadang dia berusaha menganggap Kate seperti adik perempuan yang tidak pernah dilihatnya. Tembok ini begitu tebal dan tinggi menjulang. Dia tidak bisa melewatinya. Dia sangat yakin, jika tidak ada tembok itu, akan sangat mudah untuknya mencintai Kate sebagai wanita. Ah, wanita, makhluk ini sering membuatnya bingung.

Tanpa sadar tangannya mengelus kejantanannya. Ini pasti karena Gladys. Ternyata, badan dan perasaannya tidak sejalan. Fabian tersenyum, lelaki mudah terpengaruh fisik perempuan. Dia melanjutkan menggoda kejantanannya, ritual yang dianggap biasa saja olehnya.

Selesai.

Kenapa orang-orang itu sangat tergila-gila pada s*ks? Ah, mungkin karena aku tidak pernah merasakan s*ks yang sebenarnya, hanya sekadar mengosongkan kantung. Mungkin kalau aku seperti mereka, aku pun akan seperti itu.

Entahlah.

***

Selesai mandi, Fabian hanya melilitkan handuk di pinggangnya saja. Badannya tidak dikeringkan. Air menetes-netes dari rambutnya ketika dia keluar dari kamar mandi.

“Astaga, kau mengagetkanku,” desisnya ketika dia melihat Kate berdiri dalam gelap. “Apa yang kau lakukan di situ?”

“Tidak. Hanya terbangun.”

“Maaf kalau mandiku membangunkanmu.”

“Tidak masalah.” Kate mencuri pandang ke arah Fabian.

Tuhan, lelaki ini sungguh menarik hati. Apalagi jika ia hanya memakai handuk seperti itu, Fabian tidak sekurus jika memakai baju. Badannya cukup berotot. Tentu saja. Fabian suka berenang dan berlari. Kate dapat merasakan dirinya berg*ir*h melihat Fabian seperti itu.

“Kau ingin kubuatkan teh panas?’ ujarnya hanya untuk mengalihkan pikirannya yang sempat tidak terkontrol.

“Tentu saja. Kau memang malaikatku, Kate.” Fabian bergegas berpakaian. Dia tidak ingin Kate melihatnya tidak berbaju seperti itu. “Kau sudah makan?”

“Ini hamper jam dua pagi. Tentu saja aku sudah makan.”

“Aku lupa kalau kau ada di sini. Jadi aku tidak memesankan makan buatmu.”

“Tentu saja kau lupa padaku, kau sedang berasyik masyuk dengan kekasihmu.”

“Jadi begitu menurutmu? Aku kira aku lupa karena kau lama sekali tidak ke sini.”

“Aku hanya menjaga perasaan Gladys saja.” Dan tentu perasaanku juga, lanjutnya dalam hati.

“Asal kau tidak menjadi gadis tuli saja.” Dia menyalakan laptop. “Auch...” Fabian mengaduh ketika Kate melempar bantal ke arahnya.

“Diam kau.” Kate meletakkan teh panas di meja.

Fabian tergelak. “Terima kasih.”

“Kau ingin bekerja?”

“Harus. Kalau tidak, aku tidak bisa pulang.”

“Jaga kesehatanmu, Ian. Lihatlah dirimu. Kau tambah kurus. Lingkaran hitam di matamu jelas sekali.”

“Ah, kalian wanita. Ada masalah apa jika aku kurus. Tapi terima kasih. Aku sudah cukup beristirahat tadi. Lanjutkan tidurmu, Kate.”

Sebenarnya Kate ingin menemani Fabian. Seperti dulu, tapi hubungan mereka sudah tidak seperti dulu. Fabian benar dengan menolak b*rcint* dengannya. Pasti aura di sekitar mereka akan lebih aneh lagi jika itu terjadi.

“Nite, Ian.”

“Nite, Kate. Nice dream.”

***

Sidang Fabian berjalan lancar. Sekarang dia sedang menyelesaikan revisi tesisnya. Satu janji hampir terpenuhi. Dia ingin segera melengkapi janjinya itu. Janji tak terucap kepada kedua orangtuanya kalau ia akan secepatnya menyelesaikan S2-nya, lalu pulang ke Indonesia.

Bagaimana dengan Gladys? Bagaimana dengan hubungan ini? Mungkin perasaannya belum sekuat saat berhubungan dengan April dulu, tapi dia senang menghabiskan waktunya dengan gadis itu. Dia bahagia bisa bermanja-manja pada Gladys

Tiba-tiba Fabian merasa ingin bertemu Gladys. Rindu. Padahal semalam mereka baru bertemu. Fabian tersenyum, perasaannya ke Gladys akhirnya bergerak. Dia benar-benar bahagia. Bahagia karena itu berarti kenangan itu mulai sembuh.

Fabian berharap Gladys menjadi tempatnya bersandar. Dia sudah cukup lelah untuk memulai suatu hubungan yang baru lagi. Rasa rindu mengarahkan langkahnya menuju flat Gladys.

Jantungnya berderap. Dia ingin mengungkapkan perasaannya.

Gladys pasti ada di flat-nya. Dia sedang sibuk membuat proposal skripsi.

Dia membuka pintu flat dengan kunci yang Gladys berikan.

Ada suara. Berarti ada Gladys. Suara apa itu. Geraman? Lenguhan? Teriakan tertahan? Aneh… pikir Fabian.

“Gladys?” Fabian berbisik sambil terus melangkah berjingkat mengendap.

Tidak ada jawaban. Dia membuka pintu kamar perlahan.

“Glad—” Nama itu tidak terucap lengkap.

Fabian terpana dengan pemandangan di depan matanya!

Pemandangan yang sangat menjijikkan.

Dan semakin menjijikkan ketika Dave datang di mulutnya!

Dia muntab.

Menutup mulutnya.

Terpana.

Terpaku.

Pada saat itulah Gladys sadar akan kehadirannya.

“Ian…”

Fabian akhirnya berhasil menggerakkan kakinya yang terpaku, terpana, dan terkejut setelah detik demi detik yang berlalu memuakkan. Dia berbalik dan langsung berlari menjauh. Dia ingin segera keluar dari sana. Tak peduli teriakan panik Gladys.

“IANNN...!!!”

“FABIANNN...!!!”

***

Bersambung

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel