Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

3, Pengalih Hati

[Le Passe – Masa Lalu]

[2008 – Setelah Pernyataan Cinta]

[Paris – Perancis]

.

FABIAN sudah bisa menata hati. Merelakan cinta April dan menghindari cinta Cattleya mengoyak hatinya. Tapi kehadiran Gladys ternyata bisa menyembuhkan kehilangan itu. Fabian mulai merasakan cintanya kembali hidup setelah sekian tahun berhibernasi.

“Sayang, kapan sidang tesismu?” Gladys memberikan Fabian secangkir teh panas. Gladys menemani Fabian mengerjakan pekerjaannya. Fabian semakin sibuk. Kalau tidak begini, mereka akan sulit bertemu.

“Terima kasih tehnya. Kuusahakan bulan depan. Kenapa?” Fabian menghisap rokoknya dalam-dalam.

“Tidak. Kalau sudah sidang, kau tidak akan sesibuk ini kan?”

Menarik napas panjang sambil mematikan rokoknya. “Kemarilah.” Gladys mendekat. Duduk di sampingnya. “Maafkan aku. Aku benar-benar sibuk sehingga waktuku untukmu sedikit sekali.”

“Aku mengerti. Kau ingin cepat selesai. Kau memang gila, kau kuliah dan bekerja. Kalau aku, pasti pecah kepalaku.” Gladys bergerak duduk di pangkuan kekasihnya. Sekarang Fabian membiarkannya bermanja-manja seperti itu. Meletakkan kepalanya di dada Fabian, Gladys mengelus lembut dada kurus Fabian. “Kau terlalu banyak merokok. Dan aku benar-benar kehabisan akal agar kau mau makan lebih banyak. Baru kali ini aku bertemu laki-laki dengan porsi makan sepertimu.”

Fabian hanya tersenyum. “Aku memang dari dulu kurus, Gladys. Tidak ada hubungannya dengan rokok dan porsi makan.” Tangannya mengelus rambut kekasihnya. Membiarkan Gladys terus seperti itu, dia menikmatinya. Tentu saja dia menikmatinya, dia hanya lelaki biasa.

“Tentu saja ada.” Tangan Gladys lebih berani. Mengelus ke leher Ian, berusaha menyentuh langsung kulit lelakinya.

“Biarlah aku kurus. Yang penting kau masih mau padaku.”

“Tentu saja, Ian-ku…. Aku tak peduli soal itu. Walau kurus, badanmu masih keras, masih terbentuk. Aku hanya ingin kau lebih sehat saja. Apalagi dengan kesibukanmu sekarang ini.” Tangannya bergerak masuk mengelus punggung Ian.

“Gladys...” Mendesis.

“Ya...?”

“Jangan bergerak terlalu jauh. Kau memancingku.”

“Hhmm.... Kau harum, Ian. Aku suka baumu. Bau keringatmu.” Napasnya terasa di lekuk lehernya.

“Wanita aneh.” Berusaha menahan gerakan Gladys. “Gladys! Jangan, Sayang. Ahhh....” Ian mendesah ketika tangan Gladys mengelus puncak dadanya. Dia tahu Gladys lebih berpengalaman darinya soal ini. Gladys sudah menceritakan semua padanya. Dia mau menerimanya. Itu masa lalu.

“Jangan buka bajuku, Gladys!”

“Biar bebas, Ian.”

“Ini yang aku tidak suka darimu! Kamu sering memancing gairahku.” Merapikan kembali t-shirt-nya yang sempat diangkat Gladys. “Jangan memancingku! Aku pria normal.”

“Kenapa sih kamu kolot sekali? Kau sudah tahu semuanya. Kau tidak merusakku. Kau bukan yang pertama. “

“Bagaimana kalau kita tidak berjodoh?”

“Ya sudah. Aku tidak akan dapat memintamu bertanggung jawab karena itu. Kita nikmati saja kebersamaan kita, Sayang. Aku butuh dirimu. Butuh sentuhanmu.” Bibirnya bergerak di leher, tangannya di punggung bergerak ke bawah.

“Aku belum siap, Gladys.” Bibir Fabian terkatup rapat. Menoleh ke samping. Menjauh dari serbuan bibir Gladys, tapi itu berarti dia memberikan akses lebih bagi Gladys menjelajah rahang dan lehernya.

“Gladys! S**l*n! Jangan sentuh kejantananku! Br*ngs*k!” Fabian segera berdiri.

Gladys hanya tersenyum. Menarik Fabian agar kembali duduk. “Makianmu membuatku semakin berg*ir*h, Sayang.”

“Kita keluar saja!” Fabian duduk dengan kepala di antara lututnya. Berkacak pinggang. Menahan gairah yang tak tertahankan.

“Ayo. Kita makan siang di luar saja,” ujar Gladys sambil menarik Fabian bangun.

“Tunggu sebentar.”

“Apa lagi?”

“Mana mungkin aku keluar dengan bagian diriku terbangun penuh seperti ini?”

Gladys tergelak lepas dan kembali terduduk. “Kau membuatku berpuasa, Ian. Hampir setahun.” Tangannya menyentuh bahu Fabian yang segera ditepis Fabian dengan kesal.

“Urusanmu.” Fabian meluruskan punggungnya, menutup pahanya dengan bantal. “Kau keluar dulu. Tunggu aku di depan.”

“Tidak mau. Di luar dingin. Di sini hangat. Ada kau.” Gladys senang menggoda Fabian seperti itu. Sesuatu yang aneh dan lucu baginya.

“Aku bilang juga apa. Sekali kau merasakan s*ks, kau akan kecanduan.”

“Kemarin tidak masalah. Dave dan aku bersenang-senang. Tapi kekasihku yang sekarang tidak mau. Terpaksa aku berpuasa,” jawabnya sambil tertawa kecil.

“Kalau begitu kembalilah padanya,” bentaknya. Kali ini dia tidak merajuk, dia benar-benar jengkel mendekati marah.

“Ian!” Gladys merasa kesal sekarang. Benar-benar kesal. “Kenapa kau bicara seperti itu? Aku tidak suka!”

“Kau yang memulainya! Dari awal kau sudah tahu. Aku tidak mau melakukan s*ks sebelum aku siap dan sudah waktunya. Kau bilang tidak masalah. Dan sekarang, kau menyebut nama mantanmu kepadaku seperti itu. Bersenang-senang hahh?! Kalau begitu, lanjutkan saja. Pergilah! Tinggalkan aku.” Ego lelakinya terkoyak. Fabian memang menerima Gladys apa adanya, tapi dia tidak suka dibanding-bandingkan begitu.

“Maafkan aku. Aku hanya bergurau.”

“Sudahlah. Ayo kita pergi.” Gairahnya langsung hilang.

Fabian berdiri sambil menyambar hoodie. Gladys masih merengut. Antara kesal dan merasa bersalah, dia meraih tasnya, dan langsung menggelayut mesra di lengan Fabian. “Jangan marah padaku, Sayang.” Gladys mulai merayu.

“Sudahlah... jangan diulangi lagi...” jawab Fabian sambil menunjukkan wajah masam.

“Ian.” Gladys menarik Fabian agar menghadap wajahnya, “Aku tidak mau meninggalkan rumah kalau kau masih cemberut seperti ini. Give me your smile. Please.”

Fabian tersenyum dan tertawa. “Aku tidak bisa berlama-lama marah padamu.” Dia merangkul bahu kekasihnya. Gladys langsung memeluk pinggangnya, meletakkan kepalanya di dada Fabian.

“Nah, itu baru lelakiku.” Mendongakkan kepalanya, dia mengecup leher kekasihnya. “Aku mencintaimu, Ian.”

Terdiam, Fabian masih tidak bisa membalas dengan kalimat yang sama.

“Ayo kita pergi. Aku sudah lapar.” Tapi Gladys mengabaikan itu. Saat ini, Fabian mau mengakuinya sebagai kekasih itu sudah cukup.

Ketika Fabian membuka pintu, di saat yang sama Kate menutup pintu flat-nya dan langsung bersandar di pintu dengan ekspresi kesal. Ekspresi yang sudah lama tidak dilihat Fabian, sudah lama sekali mereka tidak bertemu walau pintu flat mereka berhadap-hadapan.

Detik-detik dengan rasa yang tak bisa dijelaskan. Fabian yang memulai terlebih dahulu. Sapaannya melenyapkan kebekuan sesaat.

“Hai, Kate. Sepertinya aku tahu kenapa wajahmu seperti itu.” Fabian tertawa kecil.

“Huhh... tentu saja kau tahu.” Pemandangan di dalam menyebalkan, tapi pemandangan di luar menyakitkan, rutuk Kate, kesal.

Fabian tidak melepaskan pelukannya di bahu Gladys. Sama halnya dengan Gladys yang tetap merangkul Fabian. Dia malah semakin mengeratkan pelukannya ditambah sesekali mencium bagian apa pun dari tubuh Fabian yang ada di dekatnya dan dalam jangkauan bibirnya.

Cattleya masih merengut. Berharap Gladys mengira dia jengkel atas apa yang terjadi di kamarnya. Bukan apa yang dia lihat sekarang di depannya. Namun Kate yakin, Fabian pasti tahu apa yang dia rasakan sekarang.

Fabian benar-benar tertawa. “Ini. Kau di kamarku saja,’” ujar Fabian sabil menyerahkan kuncinya.

Kate mengambil kunci dari tangan Fabian, tapi dia merasa ada yang aneh dari kunci itu. “Kenapa ada dua kunci?”

“Itu kunci flat-ku.” Gladys yang menjawab.

“Oh... untung hanya dua kunci. Jadi tak banyak kunci yang harus kucoba.” Jawaban yang cerdas.

“Baiklah, Kate, kami keluar dulu. Masuklah, anggap saja rumah sendiri.”

“Terima kasih.”

“Mungkin aku pulang agak malam. Nyalakan ponselmu. Aku akan menelepon kalau kau sudah tidur.”

“Menginaplah bersamaku, Ian,” pinta Gladys.

“Tentu tidak.” Fabian mengerutkan kening. “Ayo, aku benar-benar kelaparan sekarang. Bye, Kate.”

“Bye.”

Fabian dan Gladys berjalan berpelukan, menjauh darinya. Kate menarik napas panjang. Cemburu. Dia sangat ingin berada di posisi Gladys.

Ketika mereka sudah tidak terlihat, Kate segera masuk. Dia rindu ruangan ini. Meja penuh buku dan kertas. Selain itu, semua rapi. Sambil merapikan meja, Kate duduk di sofa, menikmati nuansa Fabian di sana. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Tergesa dia masuk ke kamar Fabian.

Di meja itu sekarang ada foto Gladys. Tapi fotonya masih ada di sana.

***

Bersambung

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel